Membangun Krama

Krama = komunitas

Community-based development itu suatu keniscayaan yang usang.

Kenyataan dari pengalaman: membangun itu harus selalu menciptakan krama! Dan itu dengan sendirinya berarti membangun makin banyak kekayaan bersama (commons), termasuk mengubah sebagian yang cukup dari kepemilikan individual menjadi kepemilikan bersama (!).

Jadi pembangunan tidak bisa hanya “berdasarkan/bertumpu pada krama” semata.

Kramanya sendiri harus terus menerus diciptakan ulang dan ulang, lagi dan lagi, lebih dan lebih.

Lawan dari pembangunan yang merusak bukanlah pembangunan yang kurang atau tidak merusak, melainkan “pembangunan yang menciptkan kapasitas baru”.

Kapasitas baru itu pada manusia dan pada lingkungan; keduanya–krama budaya dan krama alamiah–harus dianggap satu, sehingga kata “krama” harus selalu menimbulkan visi akan kesatuan manusia, alam dan nilai-nilai serta nalar yang menyatukannya.

Jadi menciptakan krama, atau menghasilkan krama, harus dijadikan tujuan dari pembangunan, bukan tumpuan semata. Karena hanya dengan mengubah “tujuan”nya kita dapat efektif mengubah penjabarannya menjadi metoda, peta jalan dan tata kelola pembangunan

Sama dengan melestarikan alam harus dijadikan tujuan, bukan sebagai dampak yang diupayakan sebisanya. Denga makna itu, melestarikan menjadi kata aktif, programatik.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s