Author Archives: Marco Kusumawijaya

SEMARANG KOTA KARSTEN

Kebakaran Pasar Johar, Semarang, mungkin bisa jadi wanci untuk memikirkan pemeliharaan karya-karya Thomas Karsten di seluruh Semarang, dari Mlaten sampai Candi Baru. Semarang memang kota Karsten. Ini kota tempat ia mulai, yang memiliki paling banyak karyanya. Bukan hanya banyak, tapi … Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KAMPUNG KOTA MASA DEPAN ITU BAGAIMANA?

Saya baru belajar bahwa WALHI punya konsep “Wilayah Kelola Rakyat”  (WKR) baik untuk kawasan hutan, non hutan, maupun di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Saya pun lalu berspekulasi, bagaimana kalau kampung-kampung kota juga punya konsep “wilayah kelola rakyat” ? Yaya … Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PASKAH 2016: PETA PENGGUSURAN 2016

Menjelang Minggu Paskah 2016, sejatinya pada hari Kamis Putih 13 April 2017, LBH Jakarta menerbitkan laporan penggusuran 2016. Sesudah itu LBH juga mengumumkan akan mendampingi siapa saja yang dikenakan pasal penistaan agama. Pada hari kamis yang sama makian yang keji … Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MUNGKINKAH MEMENUHI KEBUTUHAN HUNIAN LAYAK PARA MILENIAL?

(Dari diskusi publik “Hunian Layak adalah Hak Asasi” di Goethe Haus, 11 April 2018, yang diselenggarakan oleh Ruang Jakarta dan LBH Jakarta) “Seberapapun kecepatan kita meningkatkan penghasilan, tidak akan bisa mengejar kenaikan harga properti, rumah dan tanah, yang tersedia di pasar.” Demikian kata … Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

UNTUK #2019, BAGAIMANA PIKIRAN TEMAN-TEMAN?

Ini pikiran saya: Masyarakat sipil perlu mendorong agenda-agenda dengan tegas, agar #2019 produktif. Tidak apa-apa orang berambisi berebut kekuasaan. Tapi sepenuhnya tergantung kita bagaimana membuat kekuasaan itu bermanfaat untuk kita. Keadilan sosial adalah salah satu isu terpenting menurut saya. (Argumen-argumen … Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Ini masalah semantik, semiotik, atau ontologis?

Ketika menyebut monyet disangka merujuk manusia, maka saya mesti memakai kata apa agar benar-benar dimengerti sebagai monyet sungguhan? Mungkin “macaca” atau “saya”? Apakah ini karena kita telah begitu jauh dari alam, sehingga tidak dapat menerima bahwa ada yang sungguh-sungguh merujuk … Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

A Linggering Dream

A very clear fair face A true gesture of loving care Would something happen today or soon?

Posted in Uncategorized | Leave a comment