Urbanisme Warga

Formulir:

https://www.dropbox.com/sh/8va03vntzpixgcp/AABHgpHCE2_1TrSMldi-XBsMa?dl=0

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar Kria Bambu Bersama Takayuki Shimizu

1-2 Mei 2015.  

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pasar Santa 22 Maret 2015

http://prezi.com/xcey8ffq9op7/?utm_campaign=share&utm_medium=copy

Posted in Uncategorized | 1 Comment

APBD PARTISIPATIF: SOLUSI YANG SEHARUSNYA. 

Tiba-tiba rakyat disuruh bela itu bela ini karena tuduhan Ahok bahwa DPRD korup melalui penitipan mata anggaran ke dalam RAPBD, sementara sebaliknya DPRD menuduh Ahok tidak konstitusional karena mengajukan RAPBD versi-nya sendiri ke Kemendagri. (Nyata-nya memang lalu ditolak Kemendagri).

Lalu muncul kabar baru, Ahok melaporkan korupsi ke KPK, yang kemudian muncul kabar simpang siur lagi: Kalau yang dilaporkan itu yang 2014, kenapa baru sekarang? Sedangkan kalau yang 2015, kan baru rencana, mana bisa dilaporkan ke KPK?
Lagipula, bagaimana dengan peran birokrasi pada pihak eksekutif? Emangnya DPRD bisa manipulasi RAPBD tanpa kerjasama dengan birokrasi? 

APBD adalah suatu barang yang harus disepakati bersama oleh cabang eksekutif maupun legislatif sistem pemerintahan kita. Apa yang ada di situ tidak bisa dituduhkan “hanya” usulan salah satu pihak. Yang satu tidak bisa mengaku “tidak tahu” ada mata anggaran tertentu.

Kenyataannya itu terjadi: Ahok bilang dia tidak tahu ada anggaran bikin buku triologi dirinya. DPRD bilang tidak tahu mata anggaran lainnya.
Tapi ini semua tidak bisa diterima. Kalau eksekutif dan legislatif TIDAK BENAR-BENAR TAHU apa isi RAPBD, cilaka kota dan negeri ini.

Mungkin juga masalahnya manusiawi: RAPBD itu banyak sekali, ribuan, mata anggarannya. Tak seorang Ahok maupun 100an anggota DPRD dapat memahami semuanya. Karena itu justru perlu dipelototi bersama-sama. Ada dua pendekatan: pelototi anggaran yang menyangkut wilayah Anda (RT/RW/Kelurahan dst…) dan anggaran yang sektornya terkait Anda (pendidikan, kesenian,…dst.)

Saya tidak mau disuruh bela ini bela itu tanpa tahu proses dan isi dari awalnya uang kita bersama itu. Saya mau penyusunan RAPBD transparan dari awal, rakyat bisa ikut mengusulkan dan menelisik apa yang diusulkan eksekutif maupun legislatif dari awal sampai akhir. Dengan demikian kita bisa ikut “memiliki” dan tahu persis, dan yang kita bela lalu adalah yang kita tahu: RAPBD itu sendiri, kota itu sendiri.

APBD partisipatif bukanlah hal baru. Sudah lama diusulkan. Sudah diterapkan di berbagai negara. Yang penting partisipasi itu bukan hanya diminta kalau sudah terjadi krisis, apalagi hanya untuk minta bela ini bela itu.

Apakah rakyat mampu terlibat dalam partisipasi yang lebih sehari-hari dan dari awal sampai akhir? Tanya para ahli. Ada juga organisasi penelitian maupun LSM yang sudah lama memperjuangkan ini. Sekarang, dengan kemajuan teknologi informasi, saya yakin hal itu makin dimudahkan dan dimungkinkan.

Saya ingat, bahkan pada tahun 2001 (atau 2002), Urban Poor Consortium pernah memamerkan sebagian APBD Jakarta di sebuah banner raksasa di sudut Wisma Nusantara di Bunderan HI. Itulah awal dari gerakan penganggaran partisipatif. Tapi belum dilanjutkan lagi.

Mungkin sekarang baik dilanjutkan lagi? Mari kita bikin rame. smile emoticon tapi bukan untuk sesaat, namun untuk perbaikan jangka panjang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rujak Center for Urban Studies and Its Works

https://www.facebook.com/RujakRCUS/photos/a.403990569478.180359.92175674478/10153096586634479/?type=1&theater

Print

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Peluang pendanaan bagi yang ingin berkesenian dengan isu-isu lingkungan, silakan klik  Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan poster horizontal

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KAMPUNG: Dapatkah menjadi kritik terhadap kota (dan lain-lain)?

Pengantar diskusi 29-30 Januari 2015 di Bumi Pemuda Rahayu bersama para peneliti Kampung.

Kampung kelihatannya dapat menawarkan pengetahuan dan praktik bagi kehidupan berkota pada umumnya. Ia dapat juga ditawarkan sebagai kritik. Benarkah? Bagaimana?

Sudah sejak lama kampung diteliti, dipuji, diperbaiki[1], diciptakan kembali dengan berbagai tingkat tiruan (oleh T.Karsten di awal abad ke-20 di Semarang, misalnya Mlaten dll), dihancurkan, disingkirkan, difoto-foto (dengan selfie sekarang). Ada campur aduk nostalgia, kekhawatiran (bahkan keputusasaan), romantisme, serta kekaguman estetik dan etik.

Kini kenyataannya makin pahit dan nyata: kampung-kampung makin deras tergusur oleh berbagai hal: pabrik, mall, real estate, infrastruktur, ….Terlebih lagi sebenarnya oleh pikiran yang ingin menggantinya dengan sesuatu yang seolah lebih baik, pasti, abadi dan yang terakhir (the ultimate), tapi sebenarnya wayang saja (mirage) yang cair, bergerak-gerak dan ilusif: Modernitas. Pikiran itu mewujud dalam cara-cara membangun kota yang menjadi “kebijakan yang tanpa kesadaran,” karena tidak ada wacana kritis dari yang sudah ada menyejarah seperti kampung.

Ketergantungan pada modal swasta untuk membangun kehidupan bersama telah dibenarkan atas dasar percepatan pembangunan dan kekurangan dana pada pihak publik/negara. Dana seolah-olah hanya satu-satunya “modal”. Tetapi asumsi pemerataan tidak terjadi. Makin sedikit prosentase orang yang menguasai makin banyak prosentase kekayaan seluruh bangsa. (Ada data yang banyak beredar, baik untuk dunia maupun untuk Indonesia). Ini menjadi wahana neoliberalisme yang sudah dimulai pada pertengahan tahun 1980an dengan pola PPP (Public-Private Partnership). Dan ini bukan tanpa harga. Kampung-kampung makin cepat tergusur. Sekarang, meskipun telah diketahui kesalahan dan kelemahannya, ketergantungan itu tidak disadari untuk dilawan, tapi malah dianggap suatu sistem yang lazim, dan kepentingan akumulasi keuntungan dianggap harus diakomodasi sebaik-baiknya dalam suatu “keseimbangan” pembangunan. Tentu saja neo-liberalisme bukan saja menggusur kampung, tapi juga mengubah banyak dimensi kehidupan perkotaan lainnya. Tapi, mungkin kampung, apabila dapat dilihat sebagai suatu entitas yang cukup berintegritas/utuh (relatif), geografis sekaligus sosial-kultural dan historis, dapat menjadi suatu kritik yang lebih koheren?

Ide-ide pesaing bukan tidak ada. Bukankah “neo-urbanism” antara lain ingin menekankan keguyuban ketetanggaan, misalnya?

Namun kitapun tak dapat menutup perasaan, bahwa sambil menyusuri jalan kembali kepada kampung itu, ada semacam keraguan. Keraguan pertama adalah suatu ketakutan, bahwa jangan-jangan kampung yang kita hendak kembali itu ternyata telah meninggalkan apa yang kita kenang tentangnya. Ia mungkin telah menjadi lain yang kita tidak sukai. Keraguan kedua adalah tentang kemungkinan kita tersesat di dalamnya, dan tidak dapat kembali ke masa depan yang, katakanlah, “maju” dengan modernitas itu.

Kita perlu melihat kembali kenyataan mutakhir dengan kepala dingin dan empati. Sekaligus dengan analisis segar dan lebih tajam: Adakah kemungkinan-kemungkinan baru dalam/untuk ruang dan waktu sekarang?

Pertemuan kita ini didorong sangat oleh kenyataan bahwa, entah kebetulan atau tidak, akhir-akhir ini secara bersamaan ada cukup riset dan cara-cara penghampiran kepada kampung yang menarik. Juga ada banyak masalah yang mulai merisaukan.

Pada pertemuan ini terdapat berbagai upaya mengungkap kampung.

Akhmad Ramdhon, sosiolog dari UNS mengajarkan sosiologi kampung sebagai bagian dari sosiologi perkotaan (urban sociology) dan mengajak para mahasiswanya mendokumentasikan kampung-kampung tempat mereka bermukim lalu menyiarkannya melalui kampungnesia.org.

Rully Kusumaningdyah, dosen arsitektur UNS, membangun mata kuliah (sementara ini masih “pilihan”/elektif) “arsitektur kampung”.

Mereka berdua sedang merencanakan kegiatan tentang kampung di Solo pada bulan Mei mendatang.

Fredian Bentar dari Semarang, rekan dari komunitas Hysteria, dan warga Kampung Bustaman, Yulia yang melibatkan kegiatan kesenian dengan pelaku utama kaum muda dalam menggali kenyataan historis, sosial, budaya dan ekonomi Kampung Bustaman. Belakangan ini mereka mulai melihat peluang untuk membuat kampung tersebut tempat tinggal yang lebih asyik lagi.

Adil Albatati dari Surabaya meneliti Kampung Arab di kota itu. Ia berafiliasi dengan komunitas Perpustakaan C2O yang selama setahun lebih ini membangun website ayorek.org yang berperan juga sebagai alat penggerak kegiatan-kegiatan offline antara lain dengan beberapa kampung di Surabaya.

Datang dari tempat paling jauh, teman-teman Pontianak yang akan mengungkapkan realita kampung melayu Pontianak.

Mira Lubis adalah dosen di jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.

Indah Kartka Sari adalah dosen di jurusan arsitektur. Keduanya dari niversitas Tanjungpura di kota itu. Kemungkinan akan datang juga Julia dari sebuah LSM yang tertarik pada soal kampung ini.

Yuli Kusworo dan teman-teman ARKOM Yogya bukannya bertujuan meneliti per se, melainkan mengajak komunitas membangun kampung mereka bersama-sama. Dengan sendirinya proses itu menghasilkan banyak pengetahuan akan rahasia kampung.

Antariksa bersama Kunci Cultural Studies Center, juga dari Yogya, sudah lama sekali mengajak warga kampung mengenali sejarah, rahasia dan masalah kampungnya secara partisipatif. Mereka bahkan berupaya memperkuat kampung sebagai suatu entitas geo-kultural, antara lain dengan membangun “pusat” arsip yang menyerupai museum.

Elanto Wijoyono dari Combine, Yogyakarta, bekerja dengan desa-desa non-perkotaan, terutama di bidang konsolidasi informasi dan kerjasama desa-kota. Selain itu ia terlibat dalam pengorganisasian gerakan masyarakat yang menyuarakan keringnya sumur-sumur kampung-kampung karena airnya tersedot hotel-hotel, disamping berbagai gerakan lainnya seperti anti-rokok, sepeda, “Mencari Hariyadi”, dan lain-lain.

Dian Tri Irawaty dari Rujak Center for Urban Studies punya pengalaman menata kampung secara partisipatif di Labuanbajo dan Pulau Komodo (Manggarai Barat, NTT), selain suatu proses visioning di Jatisura, Jatiwangi, Majalengka.

Pertanyaan-pertanyaan minimal ini mungkin dapat mendorong perhatian kita kepada sesi-sesi selama dua hari diskusi:

  • Apa yang membuat kampung perlu dan penting?
  • Sejauh apa kampung adalah komunitas yang utuh atau terbelah?
  • Apa rahasia dan tawaran kampung bagi kehidupan (perkotaan) masa kini? Mungkin relasi-relasi sosial alternatif? Mungkin tatanan ruangnya?
  • Apa yang dapat ditawarkan sebagai kritik terhadap kota (dan lain-lain)?
  • Bagaimana memperkuat kampung-kampung pada dirinya, dan ia sebagai wacana kritik?
  • Perlukah dan bagaimana menggiatkan riset dan pewacanaan kampung dalam kajian budaya, kajian perkotaan, kajian sosial dan lainnya?
  • Apalagi ya?

[1] Sejarah “perbaikan kampung” sudah dimulai di awal abad ke-20 dengan “Kampong verbetering program” sebagai bagian dari politik etis. Di jaman Ali Sadikin Jakarta mengulangnya dengan dana World Bank menjadi “Kampong Improvement Program”. Salah satu obyek program tersebut kini telah menjadi SCBD di pusat Jakarta.

Posted in Uncategorized | Leave a comment