SOLUSI MASALAH SAMPAH JAKARTA: 3 K (KURANGI, KURANGI, KURANGI)

FB_IMG_14703045773384194Tumpukan sampah setinggi 8 m di Kapuk, Jakarta Barat, 10 September 2015 (Foto oleh Saepudin Budi Wiharja)

Hampir tiap tahun Jakarta mengalami insiden sampah. Kabar terakhir: Truk sampah Jakarta ditolak masuk Bantargebang karena melampaui kuota. Ternyata ada kewajiban Jakarta mengurangi sampah.

Sampah yang tidak dikurangi dan terus menerus bertambah tidak dapat diselesaikan secara lestari. Konflik selalu akan muncul, sebab sampah yang cuma dipindahkan pada dasarnya menzalimi orang dan species di lingkungan lain.

Satu-satunya jalan yang lestari adalah pendekatan 3 K: Kurangi, Kurangi, Kurangi. Kita semua pelaku perubahan. Namun pemerintah harus berubah drastis untuk mendukung perubahan yang terjadi di masyarakat pada berbagai tingkatan.

Prinsipnya adalah sampah harus dikurangi dan dikelola maksimal di tempat asalnya, yaitu perorangan, rumah tangga, distributor dan industri. Ini akan mengurangi biaya pengangkutan sampah, selain pencemaran dan dampak lainnya.

  • Tiap rumah tangga kita ajak melakukan pendekatan Tiga Pintu: Rumah tangga mengurangi sampah yang masuk ke dalam rumah melalui pintu depannya. Seleksi sudah dimulai ketika belanja. Di dalam rumah, warga belajar cara-cara konsumsi yang mengurangi sampah. Sisa yang masih harus dibuang melalui pintu ketiga, pintu belakang, dipilah. Yang organik dikompost, yang dan bila masih ada yang non organik, digunakan kembali atau didaur ulang.
  • Pihak distributor diwajibkan mengemas produk secara minimal atau menggunakan bahan organik secara maksimal.
  • Pihak industri diberi didorong untuk berproduksi tanpa menghasilkan bahan yang tidak terurai, dan by-products yang masih dihasilkan maksimal masuk kembali ke dalam siklus produksi yang lain.
  • Pemerintah memberikan bantuan alat komposting inovatif yang memudahkan warga. Kebiasaan baru dibangun. Perda baru disusun untuk mendukung dan melaksanakan. Pemerintah mendorong produksi alat-alat kompostinng inovatif dan industri daur ulang dengan insentif.
  • Perda baru dibuat untuk memadukan pengolahan sampah dan pencegahan pencemaran air, udara, dan tanah. Tujuannya tegas: membuat murah dan mudah kehidupan ramah-lingkungan dan membuat mahal kehidupan yang mencemari.

Untuk itu pemerintah memang harus berubah drastis, mengubah tata kerjanya, misalnya dari kebiasaan membayar kontraktor pengangkut sampah dan pasukan oranye berangsur menjadi penyedia alat kompost inovatif, memberikan penyuluhan yang sungguh-sungguh, menciptakan insentif dan disinsentif mendorong industri bersih dan industri daur ulang serta pemantauan yang obyektif.

Banyak teknologi dan contoh sudah tersedia untuk keperluan ini, yang makin menjadi trend di kota-kota maju yang ekologis. Jakarta akan menjadi maju dengan secepat mungkin melakukan perubahan mendasar ini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SOLUSI MASALAH AIR JAKARTA

Andesha Hermintomo 07:23:2016

Foto oleh Andesha Hermintomo, 23 Juli 2016

Banjir bukan satu-satunya masalah air Jakarta.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah keterbatasan air bersih dalam pipa. Hanya sekitar 50% penduduk Jakarta yang terlayani air bersih dalam pipa. Akibatnya warga miskin, di kampung-kampung yang tidak mendapatkan pelayanan air bersih terpipa, justru membayar mahal untuk membeli air secara eceran, sampai mencapai Rp. 20,000 per hari. Sedangkan seorang bujangan di apartemen mewah di pusat Jakarta hanya membayar 120,000 per bulan untuk air bersih terpipa.

Kesulitan meningkatkan jumlah air bersih terpipa ini ada pada ketidakpastian ketersedian air baku yang datang antara lain dari Bendungan Jatiluhur, yang diantar ke Jakarta melalui Kali Malang.

Hal tersebut menyebabkan penyedotan air tanah besar-besaran yang pada gilirannya menyebabkan penurunan muka tanah di sebagian kawasan Jakarta. Turunnya muka tanah secara tidak merata di beberapa tempat ini merupakan faktor penambah titik banjir dan dapat merusak berbagai prasarana bawah tanah. Maka ada kaitan antara masalah banjir dan terbatasnya pelayanan air bersih terpipa. Selain itu Jakarta memiliki masalah yang makin buruk dalam hal pencemaran air bawah tanah, sungai dan badan-badan air lainnya.

Karena itu kita membutuhkan solusi yang memecahkan berbagai masalah itu sekaligus. Kita harus melakukan pendekatan yang disebut Konservasi Air.

Di kawasan hulu kita perlu bekerja sama dengan Jawa Barat untuk menghijaukan kembali hutan. Tujuannya adalah menyerapkan makin banyak air ke dalam tanah. Ini akan meningkatkan cadangan air baku di Jatiluhur dan lain-lain, sambil sekaligus mengurangi debet/jumlah air permukaan yang sampai ke Jakarta menjadi banjir.

Di kawasan hilir, ialah di dalam kota Jakarta sendiri, kita menerapkan kebijakan zero run-off.

  • Semua air yang jatuh di tiap lahan harus dimasukkan ke dalam tanah, bukan dialirkan ke saluran. Teknologi sederhana seperti sumur resapan dapat disempurnakan dan disesuaikan dengan data yang makin rinci tentang geologi Jakarta yang kini kita miliki, misalnya mengenai dalamnya lapisan pasir yang harus dicapai oleh air serapan itu di kawasan-kawasan berbeda.
  • Air hujan yang jatuh di ruang-ruang publik seperti jalan, taman, dan lain-lain, oleh pemerintah ditampung untuk kemudian diserapkan ke dalam tanah. Ini secara perlahan tapi pasti akan mengisi kembali air tanah Jakarta untuk pertama-tama menghentikan pernurunan muka tanah di sejumlah kawasan, dan kemudian menangkal intrusi air laut.
  • Air limbah yang keluar dari kegiatan manusia dan industri harus diolah di dalam masing-masing lahan, sehingga air yang akhirnya keluar dari sistem ini menjadi cukup bersih dan layak untuk juga diseapkan ke dalam tanah atau digunakan kembali.

Dengan demikian pendekatan konservasi air sekaligus menyelesaikan tiga masalah air Jakarta: banjir, pasokan air baku, dan pencemaran air tanah maupun air permukaan.

Solusi ini memang perlu perombakan dan peningkatan kapasitas birokrasi dan seluruh warga Jakarta. Namun semua teknologi telah tersedia. Anggaran ada. Hanya perlu kerja keras menyusun dan mengawasi pelaksanaan peraturan dan termasuk mengubah kebiasaan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SOLUSI TEMPAT TINGGAL JAKARTA.

Jakarta

Salah satu masalah utama Jakarta adalah harga hunian di pusat-pusat kota yang makin tidak terjangkau oleh mayoritas pekerja. Dampaknya meluas ke berbagai sektor lain.

  • Mayoritas pekerja terpaksa harus tinggal di pinggir-pinggir kota, makin jauh dan makin jauh dari pusat-pusat kota tempat mereka bekerja.
  • Akibatnya biaya transportasi rutin (dari tempat tinggal ke tempat kerja) menjadi sangat tinggi, yaitu mencapai antara 15% hingga 35% dari penghasilan. Seharusnya maksimum 10 % saja sehingga masih ada kemungkinan menabung.
  • Masih banyak hunian yang menjadi kumuh karena tidak terlayani oleh kepadatan sarana dan prasarana serta luas lantai terbangun (bukan lahan) yang cukup, karena investasi yang menjauh ke pusat-pusat kota pula, menghasilkan urban sprawl

Solusi utamanya adalah sebagai berikut:

  • Tingkatkan pasokan tempat tinggal yang terjangkau untuk mayoritas pekerja Jakarta di berbagai kawasan di pusat-pusat kota Jakarta.
  • Ini dapat dilakukan dengan meningkatkan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di kawasan-kawasan di antara jalan-jalan arteri menjadi 3 atau 4 maksimum.
    KLB = perbandingan antara luas lantai terbangun dengan luas lahan tempat luasan lantai itu dibangun.
  • Ini akan secara masif menambah pasokan tempat tinggal di dalam Jakarta, dan mengerem, bilapun tidak menghentikan, kenaikan harga spekulatif yang sekarang berlebihan.
  • Pada saat bersamaan, dengan memanfaatkan nilai tambah yang terjadi, kawasan-kawasan ini dapat ditata dan diberi sarana dan prasarana yang mencukupi, termasuk jalan-jalan kolektor (untuk digunakan angkutan umum), air bersih terpipa dan pelayanan perkotaan lainnya.
  • Pemberian ijin penambahan koefisien lantai bangunan ini tak boleh melebihi 4, karena bila lebih akan menyebabkan pengambil-alihan kawasan oleh pengembang besar dan mayoritas pekerja akan tergusur lagi. Penambahan KLB ini juga dibatasi khusus untuk fungsi hunian terjangkau saja sampai setidak-tidaknya lima tahun mendatang.

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SOLUSI MOBILITAS JAKARTA

1503245_10152173292608708_1328298370_n.jpg

Ada tiga program solusi masalah mobilitas Jakarta:

1. Perbaikan rekayasa dan manajemen semua sistem transportasi yang ada. Tujuannya: meningkatkan kapasitas yang ada dengan memperbaiki hal-hal detail.

2. Bangun sistem angkutan umum besar-besaran. Mulai dengan angkutan berbasis bus. TransJakarta harus ditingkatkan menjadi tiga kali kapasitasnya yang sekarang. Selanjutnya bangun sistem berbasis rel. (Jakarta hanya memiliki sekitar 200 km rel; sementara Tokyo pada luasan dan jumlah penduduk yang serupa memiliki 2,500 km rel).

3. Perombakan tata ruang dengan dua tujuan:
– Integrasi antara sistem kepadatan kota dengan sistem angkutan umum. Ini mencakup “Transit Oriented Development” pada kawasan-kawasan sepanjang jalur utama angkutan umum yang sedang dibangun. Tetapi, yang saya maksud dengan integrasi harus lebih menyeluruh, mencakup juga misalnya keterjangkauan seluruh wilayah secara adil, perhatian khusus pada rute yang menyatukan berbagai kegiatan khusus seperti kesenian/kebudayaan, ekonomi kreatif, dan permukiman kaum miskin kota.
– Meningkatkan supply hunian untuk mayoritas pekerja di pusat-pusat kota hingga dua kali persediaan yang ada sekarang. Dengan ini maka kita meningkatkan mobilitas sosial ekonomi mayoritas pekerja Jakarta sambil menekan panjang perjalanan mobilitas fisik.

Perombakan tata ruang tersebut sebenarnya merupakan kunci dari keberhasilan semua kota dunia yang berhasil dalam mobilitas penduduknya. Tetapi di Indonesia selama ini tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, karena memang paling sulit dan politis. Tetapi, mengapa tidak? Sudah waktunya, dan harus, karena hal itu merupakan kunci.

Sebagai tambahan, tentu saja segala upaya harus dilakukan untuk meningkatkan biaya penggunaan mobil. Ini tetap perlu dilakukan untuk mendorong warga beralih ke sistem angkutan umum yang sudah diperbaiki.

Target kuantitatif yang harus dicapai adalah: menekan biaya transportasi mayoritas pekerja menjadi 10% dari penghasilan dari sekarang yang mencapai antara 15% hingga 30%.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jaringan URBANISME WARGA

10401040_10153884408729479_1634714252599124842_n.jpg

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DAMPAK PULAU PALSU.

Sedimentasi meningkat karena aliran dari Cengkareng Drain terhambat. 

Foto: Istimewa, 23/07/16 siang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KETAHANAN KOTA JAKARTA DIPERTARUHKAN

Masa depan kehidupan banyak orang dan species dipertaruhkan dengan terlalu mudah dan sembarangan!

Ketahanan kota adalah masalah besar, strategis, dan mengena kita semua. Kegentingannya bukan saja terhadap perubahan iklim global, dengan akibat misalnya naiknya permukaan air laut +/-5 mm/tahun, tetapi juga perubahanperubahan lokal semacam turunnya permukaan tanah dan berkurangnya pasokan air baku untuk air bersih.

Kesadaran itulah yang membuat kita kaget dengan munculnya tiba-tiba gambar burung garuda sebagai tanggul raksasa yang katanya untuk mengatasi masalah-masalah maha genting di atas.

Masalahnya dua lapis:
1. Apa yang dianggap solusi oleh pemerintah dan konsultannya itu ternyata dianggap bukan solusi, bahkan konyol, oleh banyak ahli.
2. Bagaimana hal yang genting itu sama sekali tidak dikomunikasikan dengan luas kepada masyarakat, dan malah menghasilkan “solusi” yang konyol tersebut?

Krisis dan skandal yang muncul kini meluas, menyangkut:
1. Kepercayaan kepada kemampuan pemerintah menolong kita dari bencana besar dengan cara yang benar.
2. Kerjasama dengan luar negeri yang penuh vested-interest, yaitu terutama Belanda yng konsultannya didukung oleh pemerintahnya.
3. Dominasi kepentingan swasta dalam pembentukan (bukan hanya pembangunan) kota kita.

Namun, masalah yang dihadapi tetap dan memang nyata, yang sebenarnya akan fatal dalam waktu yng mungkin lebih singkat daripada yang kita ingin anggap.

Karena itu, bukannkah solusi yang sesungguhnya harus tetap diupayakan? Pertama-tama kita harus punya komunikasi agar semua orang tahu, menyadari dan ikut berpikir. Hanya dengan begitu solusinya akan akomodatif terhadap kepentingan-kepentingan bersama yang sah, bukan malah dibajak kepentingan-kepentingan sempit yang malah berbahaya kontra-produktif.

Seharusnya kita bergantung kepada banyak pihak, dan melepaskan ketergantungan hanya pada pihak-pihak tertentu yang punya kepentingan sempit. Ada banyak keahlian beredar sekarang, mulai dari lembaga-lembaga ilmupengetahuan/universitas kita sendiri, hingga program-program donor yang lebih tulus.

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment