By-Products

Besides the well intended products, our cultures have produced by-products that are harmful to the environment and perhaps to the whole idea of life.

That is why it is important to focus on process, because when we focus on process we will be able to see the by-products more clearly, hence we will be critical in practicing our respective cultures.

Examples of bad by-products are: subjugation of women, plastics, colonialism, obesity, …

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

INTOLERANSI YANG ABSURD TERHADAP BECAK

Baru sadar akan angka-angka mobil vs. becak di Jakarta. Mempesona.

Ada sekitar 2,500,000 mobil penumpang pribadi.
Hanya ada 1,700an becak.

Mobil-mobil itu memakai 25,000,000 m2 lahan jalan kalau diam tak bergerak. Kalau bergerak bisa 50,000,000 hingga 60,000,000 m2 (Belum lagi parkirnya di jalan milik sabarataan, tempat isi bensin, bengkel dll).

Becak total hanya memakai 3,500 m2 lahan jalan. Itupun di ruang-ruang yang jarang dilewati mayoritas mobil-mobil itu.

Bagaimana mungkin pemilik yang 2,500,000 itu tak mau toleransi sama yang punya cuma 1,700an itu? Lagipula yang 1,700 itu benar-benar untuk kebutuhan hidup minimal; sementara yang 2,500,000 itu untuk banyak hal melampaui minimal?

Sementara itu, minimal 250,000 ojek online beroperasi MELANGGAR UNDANG-UNDANG No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Roda dua tak boleh menjadi angkutan umum, minimal roda-tiga baru boleh)

MISTERI NALAR: Mengapa Kota Jakarta dapat mentoleransi 2,500,000 mobil penyebab polusi serta minimal 250,000 ojek (online maupun tidak) yang melanggar undang-undang, tetapi tidak sanggup mentoleransi hanya 1,700 roda-tiga ramah lingkungan? Di mana salah nalar kita?

Masalah mendasar kita lebih mendalam. Ada kesalahan paradigma. Diperlukan paradigm shift. Regulasi kita sudah secara salah mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang sempit serta tidak inklusif. Solusi kita bukan pilihan hanya A atau B atau C, tapi bisa A+B+C+…masing-masing pada tempatnya. Jangan kita berkelahi memaksakan hanya A atau B atau C. Kita perlu bersatu dan kreatif mencari solusi yang inklusif. Jangan mau dipecah belah! Tidak maju-maju nanti.

Namun, benar juga kata orang, mengurangi ketimpangan dengan menolong yang lemah dan miskin itu tak sukar. Mereka hanya perlu sedikit. Yang sukar itu meladeni intoleransi yang kaya.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Mengapa Reklamasi Jakarta Dapat Dibatalkan?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengapa Generasi Sekarang Biasa Mencampurkan Bahasa Inggeris dan Indonesia?

Saya gunakan kata “biasa”, bukan “suka”. Sebab kelihatannya ini bukan soal mereka suka, melainkan karena terbiasakan.

Kemungkinsn sebab-sebab yang sejauh ini dapat saya amati adalah:

  • Penggeseran Bahasa Indonesia dari bahasa kedua menjadi bahasa pertama, lalu masuknya Bahasa Inggeris sebagai bahasa kedua. (Bahasa Indonesia di generasi terdahulu masih banyak berperan sebagai bahasa kedua, bukan bahasa ibu yang adalah Bahasa Jawa, Makassar, Batak, Minang, dan lain-lain bangsa di wilayah RI.
  • Bahasa Inggeris (makin) dominan dalam kehidupan sehari-hari melalui budaya pop, antara lain musik dan filem. Ketika orang bergaul, tak mungkin tak membahas musik dan filem pop, yang umumnya berbahasa Inggeris.
  • Bahasa internet adalah juga dikuasai Bahasa Inggeris.
  • Internasionalisasi pasar lapangan pekerjaan. Setidaknya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, …persentuhan dengan Bahasa Inggeris makin kerap dan luas di lingkungan pekerjaan.
  • Bahasa Inggeris dipelajari dan dikuasai lebih dini sekarang dibandingkan dengan generasi terdahulu. (Pada saat yang sama bahasa ibu tak lagi digunakan di rumah-rumah, digantikan Bahasa Indonesia)
  • Bahasa Indonesia sendiri tidak diajarkan cukup baik sehingga penguasaan Bahasa Indonesia tidak cukup kuat untuk menampilkan efektivitas terkuatnya dan keindahannya terdalamnya.
  • Makin banyak juga warga Indonesia yang sekolah dan kembali dari negeri-negeri berbahasa Inggeris, utamanya Amerika Serikat.

Hal-hal di atas perlu dipelajari. Mungkin suatu survei kuantitatif akan membantu.

Kesimpulan sementara: Generasi sekarang mencampurkan atau menyelipkan banyak Bahasa Inggeris ke dalam tuturan mereka bukan karena ingin atau merasa keren. Bahasa Inggeris sudah justru menjadi sangat lazim sekarang, sehingga tidak lagi ada efek “keren”.  Kemungkinan bisa dimunculkan sikap “keren itu adalah berbahasa Indonesia yang bagus” (Justru! Karena makin langka! Justru karena kehilangan keharusannya. Justru karena keterpinggirkannya yang semakin menjadi).

Generasi lama juga ada menyelipkan Bahasa Inggeris ke dalam tuturan Bahasa Indonesia-nya. Ini yang mungkin karena disadari efek keren atau oratorisnya. Generasi yang sekolah ke luar negeri sebelum tahun 1990an, terutama sebelum 1980an, masih banyak yang ke Eropa. Mereka juga kadang-kadang menyelipkan Bahasa Jerman, Perancis, Belanda, dan lain-lain. Tapi karena tak banyak yang paham ketika mereka kembali ke Indonesia, biasanya juga mereka terjemahkan sesudah menyadarinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MARHAEN KOTA YANG SEHARUSNYA MENDAPAT TEMPAT LEBIH

Image may contain: 1 person, food
Image may contain: 1 person, outdoor
Marco Kusumawijaya

Published by Marco Kusumawijaya · September 8, 2016 · 

MARHAEN KOTA ADALAH SOLUSI

Di kampung aset tanah tak lagi ada. (Industrialisasi penyebabnya, tapi tak perlu disalahkan, kecuali proses yang tidak adil).
Pergi ke kota membangun aset dan alat produksi sendiri, dengan sedikit bantuan negara, apa salahnya?

Gerobak bakso sebelah kiri adalah milik teman anak saya. Lulus SMP hijrah dari Kuningan ke Jakarta. Sesudah 7 tahun ia kini punya 3 gerobak di tiga lokasi, mempekerjakan 5 orang teman sekampung (yang juga tergusur dari tanah di kampung). Tiap lokasi dijaga 2 orang, bergiliran lokasi. Ia juga menyekolahkan adik-adiknya. Ia tergusur dari lokasi awalnya, depan sekolah anak saya (yang menyebabkan ia berteman dengan anak saya). Tapi malah pindah ke dekat kantor saya.

“Meskipun sedikit tapi kan punya sendiri ya, Pak! Kami mintanya juga gak banyak, asal diijinkan berdagang saja. Siap lah kalau ada penataan agar rapi. Kami juga mau jadi rapi, kalau diajarin.”

Pengusaha di sebelah kanan, Bapak Ketupat Sayur, sudah setidaknya 20 tahun jualan di tempat yang sama, sejak sebelum “gedung tinggi di depan itu ada.” Dia mulai ketika berumur awal duapuluhan. Hidupnya “di situ dan dari situ”. Sekarang dia sedang menyiapkan generasi kedua untuk menangani bisnis Ketupat Tahunya itu.

Bukankah rakyat yang kuat mandiri seperti itu yang kita kehendaki? Mereka banyak, masing-masing tuan atas dirinya sendiri, setara dalam perundingan menentukan harga dalam pasar bersama pembeli. Mereka tidak harus menjadi buruh, mereka tidak perlu menjadi pegawai gerai berantai, perusahaan besar ataupun negara. Mereka merdeka!

Masyarakat yang kuat adalah yang sebanyak-banyaknya masing-masing warganya mandiri, merdeka, tidak mengerucut tergantung kepada sejumlah kecil pemilik modal saja. Mereka merdeka! Merekalah sumber daya politik yang luar biasa, justru karena kemerdekaannya. Kemandirian masing-masing membuat kolaborasi kolektif lebih sejati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SARA atau EKO(NOMI)? It’s the economy!

Dalam sepekan ini menemukan tiga naskah menarik tentang hubungan antara ekonomi dan konflik SARA.

Ini dapat menerangkan persepsi tentang PILKADA 2017 (dan mungkin PILPRES 2019 nanti).

Within last week I found three research-based papers on impacts of economic inequality on politics in Jakarta’s last election (2017) and conflicts at large.

It is not (possible) just religious radicalism. It is the economy, stupid! (old truth, not post-truth).

Answering Jakarta: My step to move on

NASKAH RINGKAS DISEMINASI PENELITIAN

Islamic Morality and Challenges to Democracy: A Study of Urban Lower and Middle Class Responses

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MEDIA SOSIAL = RUANG KHALAYAK

Judul di atas tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian media sosial yang bersifat seperti ruang khalayak. Sebagian bersifat “potensial” saja, dan baru menjadi benar-benar khalayak ketika disaling-hubungkan. (Lihat status saya sebelumnya). Atau, dapat juga dikatakan bahwa hanya sebagian sifat ruang khalayak yang melekat pada media sosial.

Namun, pada media sosial itu dapat melekat berbagai sifat buruk ruang khalayak: kekerasan, ketidak-adilan, voyeurism, dominasi kejantanan, penghakiman sepihak, ketenaran seketika (dalam dua arti: cepat dan singkat), dan lain-lain.

Sifat-sifat baik tentu ada. Tapi sebaiknya sadar akan yang buruk di atas. Pandangan ideal tentang ruang khalayak ada, dan mungkin layak menjadi cita-cita. Namun ini topik tersendiri.

O ya, yang paling penting peringatan ini: Sejak dulu ruang khalayak itu menuntut perilaku tertentu. Anak kecil sebaiknya ditemani orang dewasa. Kalau belum dewasa, harap hati-hati saja belajar menjadi dewasa di dalamnya, tanpa harus menjadi agorafobik.

Posted in Uncategorized | Leave a comment