TIDAK ADA GIANT SEA WALL DIREKOMENDASI LAPORAN KONSULTAN BELANDA INI (January 2015)

Jadi dari mana datangnnya ide gsw dan garuda itu? Ada yang punya penjelasan? Terima kasih.

https://www.deltares.nl/…/uploads/2015/09/Sinking-cities.pdf

Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

MARI REBUT KEMBALI JAKARTA

Mari memiliki Jakarta dengan pertama-tama menguasai imajinasi tentang masa depannya, secara bersama-sama.

 

PENINJAUAN KEMBALI (PK) RENCANA TATA RUANG JAKARTA:

Jumat lalu (13 Mei 2016) pemprov Jakarta umumkan Peninjuan Kembali Rencana Tata Ruang Provinsi Jakarta.
Gubernur menekankan tujuan untuk Jakarta yang lebih baik. Deputy-nya menerangkan bahwa PK ini diperlukan untuk meng-akomodasi proyek-proyek besar seperti kereta api cepat.

Kita setuju Jakarta bisa lebih baik kalau tata ruangnya diperbaiki, bahkan menjadi kunci. Dan sejatinya ini harus terjadi pada dua tingkatan: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jakarta dan Rencana Detail Tata Ruang per Kecamatan (RDTR) di seluruh 44 Kecamatan Jakarta. Tapi untuk ini ada tiga syarat:

1. Waktu untuk warga memberikan masukan diperpanjang (di pengumuman hanya dibatasi hingga Juni 2016) minimal hingga akhir September 2016 (Ingat: Juni-Juli: puasa dan lebaran serta liburan sekolah)

2. PK harus menyeluruh, bukan hanya untuk akomodasi proyek pemerintah dan sawasta. Ini sesuai dengan tuntutan undang-undang, bahwa setiap PK seharusnya menyeluruh.

3. Proses masukan dari warga harus terkelola dengan baik. Warga harus berhimpun membahas keadaan di wilayah masing-masing dan keadaan masing-masing, dengan didasari informasi yang cukup yang mudah diperoleh.

Saya merasa seluruh warga Jakarta perlu menuntut tiga syarat/kondisi/proses tersebut. Demi kebaikan kita semua. Pada dasarnya kita memiliki kota kita melalui pertama-tama memiliki imajinasi tentang masa depannya bersama-sama, tidak dikuasai hanya oleh pemerintah dan swasta. Bagaimana menurut Anda?

Marco Kusumawijaya's photo.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

HAN AWAL, SANG MODERNIST TERAKHIR, TELAH PERGI DENGAN BERCAHAYA

Tentang Pak Han Awal, saya menulis di bawah ini pada ulang tahun ke 72 beliau, tahun 2002. (Dari buku “Kota Rumah Kita”).

Selain itu, mengantar kepergian beliau yang cemerlang, satu hal yang sangat ingin saya ingat pada bulan Mei reformasi ini adalah demikian:
Beberapa bulan (mungkin tahun, saya tak ingat betul persisnya) setelah Suharto lengser, kami bertemu. Beliau berbisik kepada saya, kira-kira begini: “Marco, itu ada teman-teman lama yang mengajak kembali berpolitik berdasarkan identitas Tionghoa, memanfaatkan perubahan dan kebebasan yang kini dimiliki orang Tionghoa, untuk menuntut apa-apa yang dulu kita ditekan.” Belum sempat saya tanya tentang jawaban beliau, beliau memegang lengan saya dan berbisik lebih halus lagi, “Saya bilang, ah, kita dan politik seperti itu sudah masa lalu, lihat anak-anak kita sekarang (sambil matanya mengarah ke Yori di kejauhan)…saya tak merasa mereka perlu dan perduli tentang identitas Tionghoa itu dibangun-bangunkan lagi. Biarlah mereka menjadi orang Indonesia baru secara alamiah, apa adanya.”
Saya belum pernah menceritakan itu kepada Yori.
***
72 Tahun Arsitek Han Awal:
Menuakah Modernisme?

Han Awal membuat pertanyaan di atas menjadi tidak relevan. Sebab ia sendiri terus relevan.

Han Awal merupakan produk pendidikan modern dengan dasar klasik, yang membuatnya mampu secara tepat memberi nilai pada kebaikan-kebaikan yang berbeda dalam banyak lingkungan dan masa, diluar gaya dan keterampilannya sendiri. Keseluruhan praktek profesional Han Awal menunjukkan dirinya seorang modernis yang sangat menghargai dan mencintai warisan masa lampau. Ia bahkan telah menunjukkan prestasi dalam melestarikan Gereja Katedral Jakarta di Lapangan Banteng dan Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada.

Memang kasus Kampus Universitas Katolik Atmajaya bukan saja tragis di akhir tahun 1980an — ketika menara baru dibangun dengan balutan postmodernist yang dangkal; tetapi juga tragis beberapa tahun belakangan ini, ketika Han Awal sudah “tidak dipakai” lagi untuk bangunan terbarunya. Bukan hanya estetika dari bangunan terakhir ini yang mencerminkan jaman baru, tetapi juga cara pengadaannya. Kampus Atmajaya mulai dibangun dengan modus ekonomi mutakhir: kerjasama dengan “pihak swasta”.

Namun ada paradoks yang menghibur modernisme belakangan ini. Anehnya, pada saat-saat ini, ketika Han Awal makin menjadi the last modernist yang masih aktif dalam profesinya, justru modernisme dibicarakan lagi, menjadi relevan lagi. Ini mengherankan bukan karena modernisme telah gagal, tetapi karena memang tidak banyak modernis yang lebih berhasil dari Han Awal di Indonesia. Namun mungkin tidak pula mengherankan, mengingat tidak juga ada non-modernis yang sungguh berhasil. Kenyataannya adalah justru post-modernisme telah memproduksi apa yang dicurigai dihasilkan oleh modernisme dan oleh Paul Ricoeur dikhawatirkan akan dihasilkan oleh “universalisation”, yaitu “mediocre civilisation”. Maka pada titik ini, mudah-mudahan pencarian kembali modernisme akan membawa kita menemukan nucleus kreativitas yang sesungguhnya dari peradaban, yaitu etika — hal yang telah ditemukan oleh Han Awal dalam karya dan prakteknya.

Saya meragukan di Indonesia ada karya arsitektur yang cemerlang –modern atau bukan– belakangan ini, terutama bila membandingkannya dengan pencapaian-pencapaian di negeri lain dan dengan apa yang seharusnya dapat dicapai. Saya juga makin percaya, bahwa salah satu letak masalah (dan karena itu: harapan) adalah pada pendidikan arsitektur itu sendiri.

Ketika rumah Han Awal di Jalan Tulodong sedang ditinggalkan (catatan: kini menjadi SCBD, contoh peminggiran pada awal tahun 1990an), suatu pertemuan terakhir di rumah itu diadakan oleh generasi berikutnya (yaitu yang kemudian dikenal sebagai AMI: Arsitek Muda Indonesia). Seisi rumah telah dikosongkan, demikian maksudnya. Tetapi saya menemukan sebuah buku oleh J. Huizinga, yaitu Homo Ludens (Manusia Bermain). Pada halaman judulnya yang di dalam, tertanda Han Ho Tjwan, Delft, Oct. ’52, yaitu tahun terbit cetakan ke empat buku tersebut, ketika Han Awal berusia 22 tahun. Han Awal memang tidak berkembang menjadi intelektual seperti beberapa sejawat seangkatan –misalnya Prof. Suwondo dan Prof. Bianpoen–, tetapi teranglah ia cukup intelektual sebagai seorang arsitek, jauh di atas rata-rata para arsitek sekarang. Bukankah ini ada urusannya dengan pendidikan? Mungkin menarik untuk mengetahui apa yang dibaca oleh mahasiswa arsitektur kita sekarang pada usianya yang ke-22.

Memang modernisme Han Awal bukanlah modernisme spektakular atau maha bintang. Secara umum tidak dapat ditunjukkan ciri-ciri yang membedakannya secara dramatis dari kaum modernis pada umumnya, kecuali adaptasi terhadap alam tropis dan kehematan negeri miskin. Modernisme Han Awal pada dasarnya adalah modernisme rata-rata yang dipraktekkan dengan baik, dengan keterampilan yang terlatih lengkap dengan perangkat etika-profesionalnya yang mendarah daging. Dapat dikatakan sikap esensial modernisme –yang justru utama dan relevan untuk keadaan negara-bangsa sedang berkembang — menonjol dengan kuatnya: kejujuran dan kesederhanaan. Kedua ciri semangat modernisme tersebut mendapat kesempatan besar dalam ortodoksi lembaga-lembaga katolik yang menjadi klien utama Han Awal di masa lalu. Di masa kini, rupa-rupanya Han Awal mulai tergeser oleh cara-cara yang lebih ‘protestan’ atau katolikisme yang telah mengambil jalan neo-konservativ sebagaimana terlihat dalam pembangunan gedung terbaru Universitas Katolik Atmajaya. Ataukah tergesernya Han Awal ini karena perubahan kantornya –meskipun bukan Han Awal sendiri– yang memang telah terlebih dahulu meninggalkan modernisme?

Karya-karya Han Awal sebenarnya cukup menunjukkan humanisme modernisme –meskipun tidak secara spektakuler– dan jauh dari “citra buruk” modernisme yang secara tidak seimbang telah digambarkan oleh para penyerangnya. Rancangannya untuk revitalisasi Kota Inti di Jl.Perniagaan-Petongkangan pada tahun 62-63, misalnya memberitahukan kita pemahaman mengenai mixed use yang sepuluh tahun terakhir ditawarkan sebagai obat mujarab untuk penyakit “monofungsionalisasi” yang dituduh diakibatkan oleh modernisme-fungsionalis. Cara Han Awal melapis-lapiskan fungsi komersial dan hunian sepenuhnya kontekstual. Ia menunjukkan bukan modernisme arsitektur yang mengingkari kebenaran mixed use, melainkan kooptasi kapitalisme atas perencanaan kota yang tidak memiliki imajinasi tiga-dimensi. Sedangkan komposisi Han Awal dengan blok perimeter dan menara-menara berketinggian sedang menciptakan variasi ruang-ruang yang kaya beragam, termasuk perspektif yang berbeda-beda terhadap bentuk detail dari berbagai arah. Ini suatu skala komunitas yang menawarkan kemungkinan interaksi sosial demokratis. Ini suatu bahasa yang dapat dilacak pada sisa-sisa idealisme modernisme di Eropah sesudah PD II, misalnya pada Bakema dan Van den Broek yang bekerja di Belanda, sebuah negeri “yang paling segera dengan mudah menyerap kecenderungan modern ke dalam praktek-praktek lembaga-lembaga publik, serta mengembangkan kecenderungan-kecenderungan ini dengan tingkat kesinambungan terbesar, dengan segala konsekuensi teknisnya”, tulis Leonardo Benevolo dalam A History of Modern Architecture.

Han Awal adalah kesempatan dalam bentuk “darah dan daging” bagi para arsitek dari generasi berikut untuk belajar mengenai modernisme yang benar — termasuki inti etikanya, bukan hanya prinsip estetikanya — ketika modernisme sedang ditilik kembali dan disadari relevansi kekal dan universalnya. Mereka perlu bergegas. Sebab hari makin senja. Sebab kearifan dari pengalaman tidak menanti dan tidak menjual dirinya. Ia juga tidak mengakui keturunan ragawi, yang terkadang mengkhianatinya.

Marco Kusumawijaya's photo.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

REKLAMASI DAN MENTALITAS KOLONIAL

Membaca berita-berita tentang kunjungan 3 menteri ke pulau reklamasi sejak kemarin, saya terutama tertarik pada betapa banyak kebohongan gubernur yang “dibuktikan” Rizal Ramli: ikan ada, nelayan ada 28 ribu, bangunan/ruko ada, ijin yang tak ada.

Saya beri tanda kutip pada “dibuktikan” karena sebenarnya teman-teman yang langsung bekerja dengan para nelayan sudah tahu hal itu dan mungkin merasa lucu bahwa hal itu masih harus dibuktikan dan di”klarifikasi” (istilah Rizal Ramli). Lagipula, para nelayan sedang berperkara di pengadilan melawan reklamasi. Kalau diakui pengadilan bahwa mereka “ada”, apa masih perlu dibuktikan?

Meskipun terasa lucu, bahkan komik, bagaimanapun kita syukuri bahwa skandal reklamasi terbuka selapis demi selapis. Dan ini berkat demokrasi yang memungkinkan antara lain para nelayan dan aktivis memberikan dorongan terus menerus selama enam bulan terakhir.

Saya berharap agar kita sampai pada kesadaran tentang hadirnya mentalitas kolonial pada perkara ini. Mengapa? Karena ia hadir juga di banyak kasus lain: Kendeng dan Luar Batang misalnya.

Mentalitas kolonial yang saya maksud adalah mentalitas yang seenaknya merasa berhak menduduki ruang hidup orang lain atau, dalam bentuk lain, merasa berhak merencanakan masa depan bagi suatu ruang untuk jadi ini-itu tanpa merasa perlu bertanya kepada penghuni ruang itu mau atau tidak.

Sementara itu gagal-pahamnya sebagian orang tentang perbedaan antara negara “menguasai” dan “memiliki” tanah perlu diwaspadai juga menunjukkan mentalitas kolonial di sebagain kalangan terpelajar kita. Kita semua perlu waspada supaya penjajahan negara otoriter tidak berulang oleh justru saudara sebangsa dan setanah air, bukan oleh bangsa lain. Bukankah warga Aceh dan Papua sudah berulang kali mengingatkan itu?

 

Solusi-nya sederhana, dan sudah lama (40 tahun) ada dan sudah dipraktekkan di banyak tempat:
Perbaikan tanpa penggusuran, melalui proses musyawarah (istilah Pancasila untuk “partisipasi” yang aktif, bukan cuma nonton).
Baik itu perbaikan alam-lingkungan maupun kehidupan sosial-ekonomi-budaya komunitasnya dapat dilakukan bersama-sama. Gagasan-gagasan bagus boleh datang dari mana saja (termasuk pemerintah) tapi dibahas bersama dengan tujuan yang sesuai dengan tujuan bernegara: jangan ada yang jadi korban, seharusnya semua orang meningkat kehidupannya, bukan malah makin dimiskinkan.
Bagi yang tahu, proses itu tidak sulit meskipun repot.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

“Apakah Warga Jakarta Inginkan Jakarta Lebih Lagi daripada Sekarang?”

Pertanyaan di atas saya dapat dari pertemuan dari Kang Yoto (Bupati Bojonegoro yang dikabarkan akan maju juga sebagai bacagub Jakarta) kemarin.

Pertanyaan itu sangat menarik bagi saya, karena kalau kita terbuka maka ia membawa kita kepada perbincangan substansial yang harus mendahului pilihan tentang siapa. Pertanyaan itu juga semestinya dikumandangkan terus kepada kita semua, setiap saat, dalam suatu demokrasi.

Bang Faisal Basri , juga dalam pertemuan itu, mengungkapkan optimismenya pada demokrasi. Demokrasi yang dimanfaatkan dengan cerdas selalu dapat menghasilkan pemimpin yang lebih baik, atau setidaknya yang terbaik dari yang ada, untuk memikul mandat mewujudkan keinginan akan keadaan “yang lebih baik daripada sekarang”.

Saya kira pilkada Jakarta mendatang akan sip banget kalau kita mulai bahas pertanyaan di atas, kita mulai dengan substansi, bukan personalisasi politik kota.

Selamat Hari Buruh! Jangan lupa saudara-saudara kita yang belum punya pekerjaan, atau sudah tapi tak beruntung berstatus buruh berserikat, termasuk yang di luar negeri sebagai TKI. Mari perjuangkan kesejahteraan untuk semua!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Video Informatif Tata Ruang untuk Kita

Jargon-jargon dalam penataan kota seringkali ekslusif tak dimengerti awam. Ini salah satu upaya Rujak Center for Urban Studies untuk membantu masyarakat memahami sebagian jargon-jargon itu.

KLB (Koefisien Lantai Bangunan) misalnya jauh lebih menentukan daripada luas lahan itu sendiri. Sesungguhnya pada kota kita bicara KLB. (FAR – Floor Area Ratio). Pada wilayah pedesaan kita bicara luas lahan.

Pengembang sering minta tambahan KLB. Wewenang atas hal ini masih sepenuhnya di keputusan gubernur, atas dasar sesuatu yang disebut “discretionary power” eksekutif. Dan umumnya dibahas di dalam ruang tertutup (dan tidak disiarkan melalui youtube). Meskipun ada biaya-biaya resmi yang harus dibayar, tetapi siapa tahu…..?

Semoga bermanfaat

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KORUPSI TATA RUANG

Salah satu peluang korupsi dalam pengembangan lahan adalah pada permainan KLB (Koefisien Lantai Bangunan), yaitu koefisien antara jumlah luas lantai yang boleh dibangun terhadap luas lahannya. Kalau KLB 5, itu artinya pada lahan itu boleh dibangun jumlah lantai seluas 5 X luas lahannya. Inilah yang disebut kepadatan terbangun.

Daftar terlampir dari Suryono Herlambang. Tidak berarti semua proyek ini korupsi. Ini hanya ilustrasi tentang potensi korupsi.

Pada beberapa lahan lihat bagaimana KLB yang dijinkan di RTRRW2005 malah diturunkan di RTRW 2010, tapi kemudian melonjak tinggi di kenyataan di lapangan (sesudah melalui proses “perijinan” tentunya).

Otoritas mengabulkan permohonan tambahan KLB itu ada pada Gubernur. Ini disebut “discretionary power”. Dan umumnya tidak terbuka. Bisa dibayangkan, bukan?

Dengan sendirinya, untuk mencegah korupsi, sistem “dicretion” ini yang harus dihapus atau diubah.

Pada kota, lebih penting KLB atau FAR (Floor Area Ratio) ini, daripada luas tanah itu sendiri. KLB Jakarta rata-rata masih sangat rendah, yaitu 2, padahal penduduknya banyak. Sedang kota-kota dunia lain sudah sampai 12 KLB-nya, misalnya Hongkong. Artinya bukan jumlah penduduk yang jadi masalah, tapi jumlah KLB yang tak cukup, juga tak didukung infrastruktur yang cukup. Jadi ini berbeda dengan cara pikir sesat yang menarik garis lurus antara peningkatan jumlah penduduk dengan peningkatan jumlah tanah. (Yang menjadi salah satu argumen salah pendukung Reklamasi). Yang harus ditingkatkan adalah KLB, bukan luas tanah.

Dengan mengelola dan lebih memeratakan KLB, maka banyak masalah ketidakadilan ruang dan infrastruktur juga dapat diselesaikan, bila dilengkapi juga dengan pengaturan-pengaturan lainnya, tergantung konteks.

profil super developments di jakarta v1.jpg

Posted in Uncategorized | Leave a comment