Saran kepada anak orang lain, yang tidak bisa disampaikan kepada anak sendiri:

Jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada orang tuamu. Mereka merawatmu bukan sekadar karena kewajibannya, tetapi karena mencintaimu dalam cara yang sederhana yang belum pernah kalian ketahui, sampai kalian sendiri punya anak sendiri nanti. Jangan remehkan hal ini. Mereka mendoakanmu tanpa kamu ketahui. Mereka menabung untuk mu tanpa memintamu berhemat. Mereka menunggumu pulang tanpa kamu merasa dirisaukan. Mereka menangis ketika kamu bersedih, di belakangmu. Mereka bahagia ketika kamu gembira, meskipun meninggalkan mereka. Mereka mengikutimu dengan hatinya, tanpa menahanmu.

Dan jangan heran, bahwa mereka akan heran sekali dengan terima kasih-mu; karena mereka tidak pernah memikirkannya, apalagi mengharapkannya.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

RUANG PUBLIK DAN AGAMA

Posting lama dari FB:

Tentang peristiwa pembubaran ibadah di Bandung saya tak dapat memberikan komentar dari sudut pandang agama, karena selamanya saya merasa pengetahuan saya tentang agama selalu kurang. Saya masih terus belajar mengikuti saran Ashoka: wajib bagimu mempelajari kebajikan-kebajikan dari agama-agama lain yang bukan agama yang kau anut.

Tapi ada cerita dari sudut pandang kekotaan (dan arsitektur).

Bangunan ibadah sewajarnya memang tidak dirancang untuk kapasitas puncak ketika ada peristiwa-peristiwa besar keagamaan. Kalau itu dilakukan maka akan tidak efisien, yaitu akan cukup kosong di hari-hari ibadah biasa. Karena itu, misalnya selalu ada halaman yang cukup besar pada kebanyakan rumah ibadah untuk menampung luapan peserta ibadah pada hari-hari istimewa. Cara lain: Memanfaatkan ruang publik, ruang bersama, secara bergiliran. Sebaliknya juga dapat dikatakan: Halaman-halaman rumah ibadah juga menjadi ruang publik di hari-hari biasa.

Apakah pemanfaatan ruang publik bagi kegiatan keagamaan tidak mengganggu netralitas ruang publik?

Menurut hemat saya: Tidak! Saya percaya ruang publik adalah ruang orang bergaul, saling menawarkan nilai-nilai yang baik. Netralitas ruang publik tidak berarti steril. Sterilitas ruang publik justru mengingkari hakekat ruang publik itu sendiri. Ruang publik adalah tempat kita mempraktikkan keadaban masyarakat sipil dalam terus menerus mencari kebajikan bersama. Karena itu ekspresi keagamaan di ruang publik baik-baik saja. Hanyalah tentu perlu syarat: Toleransi dari pihak yang sedang berekspresi maupun yang sedang tidak, dan kesediaan juga untuk mengalami kritik.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Maria Sri Astuti Kusumawijaya

Maria Sri Astuti Kusumawijaya, teman terdekatku di masa remaja, telah pergi. Mungkin masih menyimpan marah kepadaku, karena aku tidak hadir pada makan malam lamaran anak laki-lakinya, sepuluh hari lalu. Sedang aku terus merencanakan kata-kata untuk disampaikan nanti ketika bertemu pada hari pernikahan anaknya, minggu depan.

Tapi dia tidak menunggu pertemuan itu.

Maria Sri Astuti Kusumawijaya adalah makhluk yang paling tidak punya kepentingan sendiri. Semua hidupnya dijalani menuruti kehendak dan arahan ayah, menyejukkan hati ibu, merawat adik-adiknya, lalu suami dan anak-anaknya.

Aku tidak mengenalnya di masa kanak-kanakku. Dia pergi meninggalkan kampung halaman kami ketika aku belum sempat memanggilnya kakak.  Namun, di masa remajaku ia membentukku dengan empati-nya yang merupakan bakatnya. Dia mengetahui tanpa bertanya. Dia memberi nasehat tanpa kata-kata. Dia melihat tanpa memandang. Dia mengikhlaskan kehidupan pribadinya demi ayah, ibu, kakak-kakak dan adik-adiknya. Bukan anak terbesar apalagi terkecil, dia menjadi bejana yang kepadanya mereka semua mengalir, bulan purnama yang menerangi malam setiap orang, alunan yang mendamaikan semua jiwa. Aku tak tahu bagaimana dulu melewati masa remaja yang sulit apabila dia tidak menjadi teman terdekatku.

Bagaimanapun, tidak pernah terlambat menirunya. Itulah penghiburanku di tengah duka kepergiannya. Aku telah diwarisi tauladan dan kasih yang ikhlas, tuntunan abadi. Pusaka yang tak nampak, yang semoga terpateri di jiwaku.

Terima kasih, Kakak, pergilah tanpa ragu, sebab engkau akan mendapatkan tempat yang baik di alam semesta dan di dalam hati semua orang yang mengetahuimu.

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MISSING LINK ARSITEKTUR

Meskipun pernah muncul sedikit pada beberapa episod, permukiman kepadatan dan ketinggian menengah 4-6 lantai umumnya menjadi missing link. Terjadi lompatan jauh dari 1-2 lantai menjadi belasan lantai ke atas.

Padahal kepadatan dan ketinggian menengah itu, 250-350 jiwa per ha, 4-6 lantai, bisa lebih kreatif fleksibel dalam hal bentuk yang akomodatif terhadap berbagai budaya hidup, lingkungan setempat, dan prinsip kelestarian seperti hemat energi dan lain-lain.

Mengapa? Harga tanah mahal? Bukankah sebaliknya: harga tanah makin mahal karena bangunan di atasnya (dapat) semakin tinggi, banyak lantainya, besar KLB (Koefisien Lantai Bangunan, FAR: Floor Area Ratio)nya?

Apakah bangunan tinggi otomatis menampung lebih banyak orang per ha luas lahan? Tidak, karena ada persyaratan teknis bahwa makin tinggi bangunan harus makin besar juga jarak satu sama lainnya.

Paris dengan kepadatan sekitar 450 jiwa/ha luas lahan rata-rata berketinggian 5-7 lantai. Demikian juga Copenhagen dengan kepadatan 600 jiwa/ha luas lahan. Namun tetap harus dicatat, faktor iklim tidak memungkinkan Jakarta meniru persis. Tak pernah perbandingan menganjurkan peniruan, hanya pelajaran kritis.

Hunian berlantai 4-6 itu memberikan bayangan kehidupan yang guyub, yang menyesuaikan kehidupan sosial ke kebutuhan perkotaan masa depan.

Bangunan setinggi mungkin itu kehendak kapital yang banal, secara grafis menunjukkan ambisi penumpukan keuntungan.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Space

should be present enought to be felt, yet empty enough to be filled.

Architecturally speaking.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

By-Products

Besides the well intended products, our cultures have produced by-products that are harmful to the environment and perhaps to the whole idea of life.

That is why it is important to focus on process, because when we focus on process we will be able to see the by-products more clearly, hence we will be critical in practicing our respective cultures.

Examples of bad by-products are: subjugation of women, plastics, colonialism, obesity, …

Posted in Uncategorized | Leave a comment

INTOLERANSI YANG ABSURD TERHADAP BECAK

Baru sadar akan angka-angka mobil vs. becak di Jakarta. Mempesona.

Ada sekitar 2,500,000 mobil penumpang pribadi.
Hanya ada 1,700an becak.

Mobil-mobil itu memakai 25,000,000 m2 lahan jalan kalau diam tak bergerak. Kalau bergerak bisa 50,000,000 hingga 60,000,000 m2 (Belum lagi parkirnya di jalan milik sabarataan, tempat isi bensin, bengkel dll).

Becak total hanya memakai 3,500 m2 lahan jalan. Itupun di ruang-ruang yang jarang dilewati mayoritas mobil-mobil itu.

Bagaimana mungkin pemilik yang 2,500,000 itu tak mau toleransi sama yang punya cuma 1,700an itu? Lagipula yang 1,700 itu benar-benar untuk kebutuhan hidup minimal; sementara yang 2,500,000 itu untuk banyak hal melampaui minimal?

Sementara itu, minimal 250,000 ojek online beroperasi MELANGGAR UNDANG-UNDANG No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Roda dua tak boleh menjadi angkutan umum, minimal roda-tiga baru boleh)

MISTERI NALAR: Mengapa Kota Jakarta dapat mentoleransi 2,500,000 mobil penyebab polusi serta minimal 250,000 ojek (online maupun tidak) yang melanggar undang-undang, tetapi tidak sanggup mentoleransi hanya 1,700 roda-tiga ramah lingkungan? Di mana salah nalar kita?

Masalah mendasar kita lebih mendalam. Ada kesalahan paradigma. Diperlukan paradigm shift. Regulasi kita sudah secara salah mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang sempit serta tidak inklusif. Solusi kita bukan pilihan hanya A atau B atau C, tapi bisa A+B+C+…masing-masing pada tempatnya. Jangan kita berkelahi memaksakan hanya A atau B atau C. Kita perlu bersatu dan kreatif mencari solusi yang inklusif. Jangan mau dipecah belah! Tidak maju-maju nanti.

Namun, benar juga kata orang, mengurangi ketimpangan dengan menolong yang lemah dan miskin itu tak sukar. Mereka hanya perlu sedikit. Yang sukar itu meladeni intoleransi yang kaya.

Posted in Uncategorized | 1 Comment