January 9, 2012
(For English translation, please scroll down)
Pengantar kuratorial pameran senirupa di Galeri Salihara, 14 – 30 Januari 2012.
Kita hidup di dalam dunia yang, melalui kota, makin tidak pernah puas dan henti mengkonsumsi apa saja. Makin menuntut banyak dan beragam pula.
Sementara konsumsi memberikan kita satu cara “menikmati hidup”—bukan hanya sekedar untuk hidup—ia bukan satu-satunya cara. Kita juga menjadi sadar, bahwa senyampang makin besar keragaman dan jumlah konsumsi yang kini dapat kita nikmati, semakin besar dan menekan pula pertanyaan-pertanyaan etis yang menghantui kita. Belakangan ini, pertanyaan-pertanyaan itu bertambah kuantitas maupun kualitasnya antara lain karena kesadaran yang meningkat tentang pemanasan global dan keterbatasan sumber daya alam.
Sebagai “yang sadar”, manusia juga terkutuk untuk terus menerus mempertanyakan tindakannya. Karena itu ia juga terus menerus membutuhkan kritik-diri.
Desain dalam artinya yang sempit adalah rancangan benda-benda yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam arti ini ia berbeda dengan seni, yang tak harus berpikir tentang guna dalam arti tersebut. Dalam arti ini pula desain terkait sangat erat dengan (benda-benda) konsumsi dan, melalui itu, dengan gaya hidup. Gaya hidup adalah lapisan peradaban yang diidentifikasikan dengan pola konsumsi. “Siapa seseorang” ditentukan oleh “apa” yang dikonsumsinya.
read more »
Posted in Arts, Language and Culture, Urban Life |
1 Comment »
December 16, 2011

Coupling community group-saving and housing delivery in ACHR/IIED-ACCA process is a strategic element in global transition towards sustainability, towards ecological age.
Why?
First of all it is about what that coupling means. Secondly, it is about a fundamental problem in ecology.
The coupling means formation and consolidation of finance (through saving) and space (through housing/settlement) as common resources at very real scale: community.
Being real (not imagined as in many new nation-states that emerged after World War II) means that in it there are real, direct relationships, where trust is possible and risky at the very same time, and working on a project (such as housing delivery) is a direct exercise of those relationships and trusts, testing and strengthening them, while at the same time exposing them to equally devastating risks of destroying them. But, this later end of the balance is well worth a chance because it is hardly any bit more troublesome than what the urban poor have been experiencing. read more »
Posted in Communities, governance, Nature and Environment |
Leave a Comment »
November 17, 2011
Dari “Taring Padi, Seni Membongkar Tirani“, Lumbung Press, Juni 2011, hal. 297-316

Dengan popularitas perubahan iklim bersamaan dengan figur Al Gore, orang mudah melupakan bahwa ada banyak masalah lingkungan lain yang tidak berkaitan dengan perubahan iklim. Misalnya: terancamnya dan menurunnya keanekaragaman-hayati, kelangkaan air, dan sebagainya. Masalah-masalah ini memang diperburuk oleh perubahan iklim, tetapi telah ada relatif tanpa disebabkan atau menyebabkan secara langsung perubahan iklim.
Sementara itu, dalam pengertian “kelestarian” (sustainability) sendiri tercakup bukan hanya kelestarian dalam hal lingkungan, tetapi juga dalam hal sosial dan ekonomi. Kini kita menyadari bahwa masalah lingkungan sangat terkait dengan masalah ketidakadilan sosial dan ekonomi. read more »
Posted in Arts, Language and Culture, Nature and Environment |
2 Comments »
November 14, 2011

Mana lebih mudah: Mengurangi, atau mengganti konsumsi Anda?
Keduanya punya insentif: jalan menuju ke hidup sehat. Dan perlu, meskipun merupakan pilihan sulit yang harus kita hadapi sehari-hari sejak belakangan ini. Sebab, masalah yang kita hadapi sebenarnya bukan hanya pemanasan bumi, tetapi juga menipisnya persedian sumber daya alam yang tak terbarukan, misalnya mineral dan bahan bakar fosil.
Memang ada tanda decoupling antara pertumbuhan ekonomi dan pemakaian sumber daya alam dan dampak lingkungan. Tingkat pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat pemakaian sumber daya alam dan kerusakan lingkungan. Di beberapa negara, produksi tiap satuan barang terbukti menggunakan makin sedikit bahan alam dan makin sedikit berdampak pada lingkungan.
Namun, bagaimana pun juga total penggunaan sumber daya alam tak terbarukan makin besar karena pertumbuhan penduduk, sehingga persedian yang terbatas tetap terus terkuras. read more »
Posted in Nature and Environment, Urban Life |
Leave a Comment »
November 12, 2011
Oleh Marco Kusumawijaya dan Mujtaba Hamdi.
Disampaikan untuk diskusi bertajuk “Masyarakat Terbuka” (Yayasan Tifa, Jakarta).
Diterbitkan juga di Majalah Prisma.
Hingga hari ini, kita masih terus melihat kebebasan berekspresi di masyarakat kita belum mencapai gambaran yang kita cita-citakan. Catatan-catatan empiris memperlihatkan betapa hak individu dan kelompok untuk mengungkapkan jatidiri, keyakinan maupun daya kesenian mereka ke ruang khalayak masih menghadapi hambatan dari aktor negara maupun nonnegara.
Kemerdekaan menikmati ruang khalayak yang diidealkan sebagai ‘ruang bersama’ sering terhalang oleh tindakan kelompok tertentu yang kerap didiamkan dan bahkan didukung institusi negara. Kian terbukanya kran kebebasan tampaknya tak dinikmati masyarakat secara seimbang dan merata. Kelompok tertentu yang gencar menuangkan ekspresi di ruang khalayak sering, langsung maupun tak langsung, menghalangi ruang dan hak ekspresi kelompok yang lain. Penggunaan kekerasan merupakan salah satu masalah utama.
Kebebasan berekspresi juga menghadapi tantangan lain yang tak kalah menggelisahkan. Terutama dalam ranah seni, kebebasan berekspresi kerap hanya berhenti pada ruang-ruang privat. Seorang seniman menciptakan karya dalam ranah yang mungkin memang sangat personal. Namun, ia sebenarnya selalu memaksudkan karya-karyanya untuk read more »
Posted in Communities, governance |
Leave a Comment »
November 7, 2011

Keynote Speech for The Future Sketch Conference, Tokyo, October 29th , 2011, organized by The Culture Creation Project, Tokyo Metropolitan Government.
Introduction
10.29. Seven months and eighteen days after 3.11, many have been said.
It is therefore difficult to think of something to add, even by someone who worked in Aceh after the tsunami 12.26, 2004.
But, quoting a german expression, “all has been said, but unfortunately not by all.”
So perhaps I could add something. And, what I would like to add is not about tsunami or nuclear disasters. I would like to add about the other disasters, those that are related to climate change and use of finite natural resource.
On these, too, many have been said, but never too much. So, I thought I should still say something about it here in Tokyo, Japan, which is the right place to do so for reasons that will be made clear in the course of my talk. read more »
Posted in Arts, Language and Culture, governance, Nature and Environment, Urban Development |
Leave a Comment »
September 4, 2011
Di Yahoo! Indonesia

Sebenarnya, ucapan Walikota Bogor yang melarang gereja dibangun di jalan yang menyandang nama tokoh Islam setempat tidak layak mendapatkan perhatian. Terlalu tidak masuk akal.
Tetapi yang kemudian menjadi menarik adalah time-line akun twitter saya yang sepanjang jumat malam hingga Sabtu dinihari dipenuhi berpuluh-puluh tweets berisi informasi tentang keberadaan bersama mesjid, pura, klenteng, dan gereja di berbagai kota di seluruh Indonesia. Ini kali saya retweet (RT) terbanyak, dan mendapat tambahan 48 followers dalam beberapa jam.
Selama puluhan, bahkan ratusan tahun, rumah ibadah di kota-kota Indonesia selalu berada dekat satu sama lain, sebagaimana juga sarana-sarana lainnya. Di negeri lain, hal itu sudah ribuan tahun. Sebab, demikianlah fitrah kehidupan kota: bertumpu pada kepadatan yang beragam. Orang ke kota untuk mengalami dan memperoleh manfaat dari itu.
Inilah sebagian informasi dari timeline Twitter saya. Mesjid Istiqlal beralamat, berada pada “Jalan Kathedral,” karena Gereja Kathedral Katolik yang lebih dulu berada pada jalan itu, yang kemudian diberi nama demikian. Tentu saja kita juga punya read more »
Posted in Architecture, Communities, governance, Urban Life |
3 Comments »
September 4, 2011
Di Yahoo! Indonesia

Jayapura itu berbukit- bukit. Bagian bagiannya terpisah-pisah di lembah-lembah. Karena itu, setiap saat bagian-bagian kota yang berbangunan dapat terlihat dari dari ketinggian 50an, 100an atau 300an meter. Dan, itu indah, sebab terasa mereka menyerahkan diri kepada alam. Manusia, bahkan pada ciptaan kolektif terbesarnya, kota, tunduk mengikuti arahan alam. Kota, laut, pantai, danau, lembah, bukit, membentuk kesatuan bentang-alam harmonis.
Tetapi, seketika juga Jayapura mengingatkan saya akan kata-kata penulis Linda Christanty di Aceh, “Saya tidak mau melihat kota dari mata burung.” Maksud dia, kehidupan sehari-hari yang sejati lah yang dia ingin alami, yang hanya mungkin bila orang memandang kota dari dalam, dari ketinggian pejalan kaki biasa di dalamnya, dari ketinggian 1.55 m. read more »
Posted in Architecture, governance, Nature and Environment, Urban Planning |
Leave a Comment »
August 21, 2011
Di Yahoo! Indonesia.
Apa konsumsi yang Anda rasakan paling menentukan gaya-hidup Anda di kota Anda? Apakah ada beda bila Anda tinggal di Makassar, Surabaya, Medan, Menado atau Jakarta?
Anda adalah apa yang Anda makan. Ini pepatah lama asal bahasa Inggeris: You are what you eat. Di Amerika Serikat memang ada penelitian bahwa, misalnya, kaum miskin perkotaan di sana memakan lebih sedikit sayuran dan buah segar, serta lebih banyak makan junkfood seperti burger atau ayam goreng siap saji yang sayangnya di sini (masih?) dianggap makanan kelas menengah atas.
Tetapi kini kemakmuran sudah berkembang. Selain makanan, banyak hal lain “menentukan” siapa Anda. Pakaian bergaya apa yang Anda pakai? Model mobil Anda? Ataukah Anda cuma naik bus? Atau sepeda? Di mana Anda tinggal? Gaya rancangan rumah Anda? Gadget yang Anda gunakan? Anda pakai smartphone apa? Merek sepatu dan tas Anda? Semua ini dipilih-pilih dan dikombinasikan tiap orang kota untuk membentuk “gaya-hidup” pribadi sekaligus penghubung identitas dengan kelompok sosial-ekonomi tertentu. read more »
Posted in Nature and Environment, Urban Life |
Leave a Comment »
August 21, 2011
Di Yahoo! Indonesis
Apa arti taman bagi Anda? Apakah akhir-pekan lalu Anda sempat ke taman kota, memanfaatkannya untuk segarkan jiwa dan raga sebelum memulai hari kerja lagi?
Seorang pesepeda, bendahara B2W Jakarta Barat, Andy Fusri, minggu sore lalu menunjukkan suatu harta karun Jakarta kepada saya: Taman Tomang. Sebagian orang menyebutnya Taman Kampung Sawah. Letaknya di pojok barat-daya perempatan Tomang. Sepertiga taman ini berlantai keras tersusun dari konblok. Mungkin maksudnya untuk parkir kendaraan, tetapi sebagian terbesarnya digunakan untuk main bola oleh anak-anak. Dua pertiganya terdiri dari ruang terbuka hijau dengan alas rumput dan ditanami banyak pohon. Ada jalur beralas konblok juga untuk pejalan-kaki. Ada juga danau buatan dengan pulau di tengah-tengahnya. Kelihatannya air ini tidak mengalir. Pulau itu lebih tinggi, dan tidak dapat dicapai, karena tidak ada jembatan. Sampah banyak terdapat di air ini. Sedangkan di lapangan rumput relatif sampahnya sedikit, jadi secara umum terkesan bersih.
Seorang ibu berusia 71 tahun merasa senang sekali akhirnya menemukan taman ini, karena anaknya mengajak dia bertemu kami di taman ini. Dia dari Pluit. Selama ini dia cuma tahu ada taman cantik ini, terlihat dari jalan layang, tapi tidak tahu masuknya dari mana.
read more »
Posted in Architecture, Communities, Jakarta, Nature and Environment, Urban Life |
Leave a Comment »