SEBELUM BAHAGIA

Sebelum bangsa Indonesia bahagia, kritiklah diri sendiri sebanyak-banyaknya, sedasar-dasarnya,setuntas-tuntasnya.

Kalau tidak salah, sebentar lagi kita akan bahagia, karena kemakmuran yang merata akan tercapai di bawah pemerintahan Jokowi-JK dengan Kabinet Kerja yang Hebat. Lagipula semangat kelas menengah dan kaum muda begitu tinggi. Kaum kreatif merasa dapat membuat produk apa saja yang unggulan. Hanya soal mau atau tidak saja. Hasrat akan kemakmuran menggebu-gebu. Tersembur juga cita-cita menjadi bangsa dan negara yang kompetitif, menjadi Indonesia Ichiban, meskipun mungkin hanya se-Asia Tenggara.

Karena itu, beberapa tahun ke depan adalah kesempatan terakhir untuk kritis pada diri sendiri. Manfaatkanlah ini sebaik-baiknya, sebelum terlambat, karena ia mungkin tidak akan kembali. Sebab, ketika kita sudah bahagia, kita tidak lagi akan sanggup menjadi kritis.

Para budayawan, cerdik-dendekia dan seniman perlu kerja keras mengingatkan. Lebih menantang lagi: bagaimana caranya supaya seluruh bangsa sanggup melakukan secara bersama-sama?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ekspedisi Liwuto Pasi

poster liwuto pasi landscape kecil-1

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membaca Arah Pengembangan Seni Budaya di Indonesia

Catatan percikan pikiran untuk diskusi yang diselenggarakan oleh Koalisi Seni Indonesia + Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 15 Oktober 2014

1. Kelas menengah muda kota akan menjadi konsumen utama kesenian.

Sekarang pun sudah. Dan mereka mengoleksi karcis, bukan karya. Maksudnya, mereka mampu menikmati kesenian secara bersama-sama, tidak secara sendiri-sendiri, atau memiliki suatu karya seni. Sebab itu seni pertunjukan memiliki kemungkinan lebih besar. Kalaupun senirupa dinikmati, itu melalui pameran, bukan melalui kepemilikan/mengoleksi. Continue reading

Posted in Arts, Language and Culture, Communities, governance, Jakarta, Urban Life | Tagged , , | 2 Comments

Dewan Kesenian Jakarta di Mata Didier Kusumawijaya

Dewan Kesenian Jakarta (proxy: Galeri Cipta) di mata Didier Kusumawijaya yang berumur 11 tahun pada tahun 2006.

6 5 4 3 2 1

Posted in Arts, Language and Culture | Leave a comment

PILKADA LANGSUNG

Ini sekedar nostalgia. Saya dan Mbak Nursyahbani Katjasungkana ternyata adalah salah satu pasangan cagub-cawagub pertama dari jalur independen-langsung di Jakarta pada tahun 2001. Azas Tigor Nainggolan tadi di twitter mengingatkan hal ini. Selain kami, ada pasangan-pasangan lain juga.

Tentu saja, ketika itu UU belum mengijinkan pilkada langsung, apalagi dari jalur independen. Itulah sebabnya saya mau saja dicalonkan oleh teman-teman LSM ketika itu. Kan pasti tidak akan menang, jadi tidak ada beban.

Lawannya ketika itu adalah petahana Jenderal Sutyoso.

Karena perlawanan rakyat, beliau ketika mau menghadiri sidang paripurna DPRD harus naik helikopter untuk menghindari masyarakat yang mengepung gedung DPRD di Jalan Kebonsirih. Banyak teman-teman yang mengepung itu basah kuyub dengan mata merah karena polisi menggunakan meriam air dan gas air mata.

Meskipun tahu tidak akan punya peluang, kami waktu itu “bermain” serius. Saya dan Mbak Nursyahbani benar-benar mendaftar. Saya ingat diberi kesempatan presentasi dan berdialog dengan Fraksi Golkar. Kami mendekati semua fraksi dan parpol, sebenarnya, tapi hanya Golkar yang memberi kesempatan.
Kami juga serius bertemu dengan berbagai komponen masyarakat di tempat-tempat mereka. Ini yang mungkin sekarang disebut “blusukan”. Proses ini yang bagi saya paling berharga: menghimpun tenaga dan aspirasi rakyat untuk hak demokrasi memilih pemimpin secara langsung, dan untuk memahami bahwa kota yang lebih baik itu mungkin!

Yang asyik, pada masa-masa sulit yang disebut “perjuangan” itu, saya lalu kehilangan mobil (!) dan segala isinya, karena sopir baru belum sempat saya mintai fotokopi KTP, tersebab terlalu sibuk. Isi yang paling berharga adalah dokumen tata ruang Jakarta 1985-2005, yang kini tentu saja sangat bersejarah, karena padanya kita sekarang dapat melihat apa yang “hilang” dan “berubah”.

Pada waktu itu jelas skali: Pilkada harus langsung DONK! Dan calon independen harus BOLEH!

Beberapa tahun kemudian wacana itu bergulir dan dijadikan UU. Dan rakyat telah menikmati hasilnya.

Sekarang mereka mau membalikkannya menjadi “tidak langsung” dan mungkin nanti calon independen tidak boleh? TIDAK RELA.

#PERTAHANKAN-PILKADA-LANGSUNG.

Posted in governance, Jakarta, Urban Life | Leave a comment

MEDIA SOSIAL = RUANG KHALAYAK

Judul di atas tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian media sosial yang bersifat seperti ruang khalayak. Sebagian bersifat “potensial” saja, dan baru menjadi benar-benar khalayak ketika disaling-hubungkan. (Lihat blog saya sebelumnya). Atau, dapat juga dikatakan bahwa hanya sebagian sifat ruang khalayak yang melekat pada media sosial.

Namun, pada media sosial itu dapat melekat berbagai sifat buruk ruang khalayak: kekerasan, ketidak-adilan, voyeurism, dominasi kejantanan, penghakiman sepihak, ketenaran seketika (dalam dua arti: cepat dan singkat), dan lain-lain.

Sifat-sifat baik tentu ada. Tapi sebaiknya sadar akan yang buruk di atas. Pandangan ideal tentang ruang khalayak ada, dan mungkin layak menjadi cita-cita. Namun ini topik tersendiri.

O ya, yang paling penting peringatan ini: Sejak dulu ruang khalayak itu menuntut perilaku tertentu. Anak kecil sebaiknya ditemani orang dewasa. Kalau belum dewasa, harap hati-hati saja belajar menjadi dewasa di dalamnya, tanpa harus menjadi agorafobik.

Posted in Urban Life | Leave a comment

DI ANTARA RUANG PRIBADI DAN RUANG KHALAYAK: DARI FLO UNTUK KOTA

Dari https://www.facebook.com/marco.kusumawijaya/posts/10152715804813708

Tiap hari kita menjelek-jelekkan menertawakan bangsa atau orang apa saja: Cina, Batak, Minang, Bugis, Papua, Jawa, Sunda, Jerman, Perancis,….Bahkan keluarga mertua, menantu, tetangga, …Dan tentu saja orang kota mana saja: arek Suroboyo, wong Solo, orang Medan, Bandung…

Tapi biasanya itu terjadi di ruang gosip di dalam lingkaran ruang kecil teman-teman. Paling-paling radiusnya cuma tiga meter, dan yang memukiminya cuma selusin orang yang saling kenal dengan baik.

Namun kini ruang kecil setengah pribadi itu dengan serta merta berhubungan dengan ruang besar khalayak melalui suatu lubang-cacing ruang-waktu bernama media-sosial. Tiap medium sosial merupakan lubang-cacing yang menghubungkan ruang-waktu pribadi dengan ruang-waktu khalayak dengan seketika dan ke mana saja.

Kecerdasan yang dituntut sekarang tidak berbeda dengan yang sejak jaman dulu: sebaiknya ada pintu yang dapat dibuka dan ditutup di di antara yang pribadi dan yang khalayak itu. Lubang-cacing itu punya “setting”. Dan itu tidak dapat sepenuhnya otomatis, melainkan perlu campur tangan manusia yang sadar tentang apa yang sebaiknya dibiarkan di ruang kecil dan apa yang di ruang besar.

Yang jadi masalah bukanlah “what is said”, tetapi “what is leaked out”. Yang membuatnya jadi masalah bukanlah yang mengatakan, tetapi yang membocorkan. Sejauh menyangkut konteks ruang pribadi dan ruang khalayak ini, tentu saja.

Dan sebelum itu lagi: kesadaran membedakan apa yang mau disampaikan di ruang pribadi dari apa yang untuk ruang khalayak.

Percaya deh, tanpa pembedaan-pembedaan itu, seberapapun besarnya godaan menjadi tenar dan sohor, hidup di kota akan menjadi tidak tertanggungkan, bukan karena terlalu berat, tetapi karena terlalu enteng.

Saya tahu status saya ini berpotensi dibaca oleh 5,000 sahabat, yang terus terang tidak mungkin saya ingat wajah dan namanya satu demi satu. Apakah 5,000 itu ruang besar atau ruang kecil, khalayak, komunitas, atau pribadi? Ini persoalan tersendiri. Tiap medium sosial mungkin memiliki sifat yang berbeda dalam perspektif yang saya tawarkan di atas. Yang jelas, status saya ini dapat menjadi lebih besar dan bersifat lebih khalayak sepenuhnya tergantung pada sahabat-sahabat sekalian, bukan pada saya.

Posted in Arts, Language and Culture, Communities, Urban Life | Leave a comment