Ekspedisi Pekerja Kreatif ke Taman Nasional Kepulauan Waktobi

Mari mendaftar!

Tenggat 30 Juli 2014.

poster liwuto pasi landscape besar-1

Posted in Arts, Language and Culture, Nature and Environment | Leave a comment

Korupsi dalam Tata Ruang

Ini adalah slides berisi pointers diskusi pada konferensi yang diselenggarakan oleh UNODC pada tanggal 11 Juli 2014. Karena pointers, maka tidak memuat penjelasan lengkap yang banyak disampaikan secara lisan. Karena itu sebaiknya tidak dikutip. Bila ingin berdiskusi, silakan menghubungi saya.

UNoDC_Marco_Korupsi_11Juli2014

Posted in governance, Urban Development, Urban Planning | Leave a comment

Mas Slamet Abdul Sjukur dan Kebisingan Kota

Saya mengenal beliau dalam hubungan yang mulainya “agak resmi,” yaitu beliau sebagai anggota Akademi Jakarta dan saya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 2006-2010). Beliau bersama-sama dengan sebagian anggota Akademi Jakarta juga mewawancarai para calon anggota DKJ ketika itu.
Di kemudian hari baru hubungan kami mengunci pada satu kegiatan bersama. Kami dan beberapa teman lain yang beliau ajak ke DKJ ketika itu — antara lain saya ingat Dr. Soe Tjen Marching, Dr. Bulantrisna Djelantik– membentuk “Masyarakat Bebas Bising.”
Beliau mulai dengan memaparkan berbagai fakta ilmiah tentang telinga dan bunyi. Saya sangat tidak menyangka bahwa beliau menyiapkan semua data itu dengan rapi. Saya tidak menyangka hal itu, karena bagi saya sebelumnya Mas Slamet adalah (hanya) seorang seniman musik kontemporer. Saya sempat menonton pertunjukannya yang menyajikan “hanya” tiga nada piano di rumah duta besar Perancis pada kesempatan pemberian penghargaan kepada Goenawan Mohammad.
Tapi tentu saja musik adalah seni yang sangat dekat dengan matematika. Nada-nada dapat dihitung, diukur dan dipatok dengan sangat tepat secara matematis. Adalah suatu keajaiban bahwa ketepatan itu dengan mudah dapat dirasakan oleh indera manusia secara langsung. Ketepatan itu juga dapat dibayangkannya dan, karena itu, nada-nada dapat dikomposisikan.
Tentu saja itu mengandaikan telinga yang sehat dan peka, yang tergantung pada keadaan fisiologis di dalam indera itu, dan kehadiran suara-suara di sekelilingnya, yang juga dapat menyebabkan kerusakan fisiologis di dalamnya. Kebisingan dapat merusak kesehatan dan kepekaan indera pendengaran.
Mas Slamet ketika itu mengajak membuat suatu gerakan agar masyarakat Indonesia sadar akan kualitas bunyi, sadar tentang betapa penting indera pendengaran (antara lain sebenarnya sebagai alat peringatan dini pertama akan bahaya bagi manusia), tentang betapa bahaya kebisingan terhadap bukan saja kesehatan jiwa kita (melalui gangguan tekanan pada indera pendengaran), tetapi juga terhadap kehilangan suatu karunia kita yang penting, yaitu kemampuan merasakan keindahan suara. Tentu saja yang dilawan mendasar ada dua: volume suara yang tidak tepat dan kualitas suara yang buruk,
Kota-kota kita makin penuh sesak dengan keduanya. Suara-suara mesin makin banyak dan dominan, tak henti-henti. Di dalam ruangan, karena banyak yang tidak dirancang dengan baik, suara-suara bergema dan sulit dipahami. Di bangunan-bangunan umum pengumuman yang terus-menerus pun demikian. Bagi yang pernah mengalami bandar udara Hasanuddin di Makassar, dapat membayangkan yang saya maksud. Namun di bandar udara Juanda Surabaya ada perkembangan menarik. Mulai tanggal 1 Juni 2014, tidak akan ada lagi pengumuman yang bersifat umum ke seluruh bandara tentang keberangkatan/kedatangan dan panggilan masuk ruang tunggu. Pengumuman hanya ada di masing-masing ruang tunggu. Ini persis yang sudah diterapkan di banyak bandara internasional di luar negeri. Pengumuman hanya akan diberikan secara visual. Dan, tentu saja: bacalah boarding pass Anda!
Salah satu soal kontroversial tentang bising di kota-kota kita tentu saja menyangkut suara dari mesjid. Kita pernah mendengar suara adzan yang bagus, dengan volume yang pas. Tapi banyak yang tidak bagus dengan volume yang sangat besar, dan yang menjadi tidak fungsional karena saling tindih antara suara yang berasal dari satu mesjid dan yang lainnya. Adzan adalah untuk memanggil orang menjalankan ibadat, jadi sejauh satu terdengar, maka tidak perlu ada dua suara yang bersaing memperdengarkan diri kepada ruang yang sama. Di beberapa negara, pelantun adzan itu bersertifikat, dan ada yang digaji oleh negara agar terjamin suaranya bagus, indah, dan tidak terlalu keras. Di Indonesia ada tradisi perlombaan melantunkan Al Quran. Bagus kalau hasilnya diteruskan kepada peningkatan kualitas pelantun adzan di mesjid-mesjid.
Kebisingan manusia, dan sebenarnya juga cahaya yang dihasilkan manusia, juga telah mengganggu spesies-spesies lain. Di beberapa tempat di dunia, kalau tidak salah di Canada misalnya, cahaya yang keluar rumah dibatasi agar serangga dan spesies lain tidak terganggu orientasinya. Pada dasarnya kebisingan adalah antitesis kesunyian yang diperlukan untuk kita menjadi pendengar yang baik, yang peka. Pendengar yang baik adalah pelengkap bagi pengujar yang baik dalam proses komunikasi yang bebas dari kesalah-pahaman, yang mendalam serta memperkaya saling memahami.
Bagi Mas Slamet, kepekaan pendengaran itu suatu karunia. Karena itu manusia bermusik. Kebisingan yang ngawur adalah musuh Nomor Satu bagi perkembangan musik, yang bukan saja dalam pengertian para profesional (pencipta musik), tapi bagi siapa saja, dalam pengertian seluas-luas dan semendasar-dasarnya.
Hal pentingnya adalah: kebisingan itu bukan saja buruk, tapi sebenarnya tidak diperlukan dan dapat dicegah dengan berbagai upaya. Para arsitek dapat merancang ruangan dengan pantulan suara yang sesuai. Perencana kota dapat mengatur jarak-jarak sumber suara, atau mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Para pemuka agama dapat menyadarkan umatnya, bahwa keindahan (suara) adalah bagian dari karunia Tuhannya juga. Mengupayakan keindahan suara melalui volume yang tepat serta nada yang bagus adalah suatu upaya menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam kisah Gilgamesh (Persia kuno) para dewa mengirimkan air bah karena mereka terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh manusia di kota-kota besarnya. Kebisingan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas dan jumawa. Kalau kita membanding-bandingkan beberapa kebudayaan, kesenyapan di ruang khalayak menjadi salah satu ukuran yang sangat penting. Budaya Jawa sangat menghargai kesenyapan, hampir serupa dengan di Jepang. Tapi belakangan ini di mana-mana kita mendapatkan ruang khalayak yang penuh dengan kebisingan yang tidak perlu, over-acting, dan dapat dicegah dengan upaya-upaya teknis, selain kesadaran untuk menghargai kesenyapan.
Masayarakat Bebas Bising belum selesai berkarya. Dan selayaknya dilanjutkan dengan antusiasme setinggi-tingginya. Mari kita mulai lagi pada hari baik ulang tahun Mas Slamet ini?
Selamat ulang tahun yang ke-79, Mas Slamet!
Posted in Arts, Language and Culture, Urban Life | Tagged , , | Leave a comment

Desa Menurut Jokowi

Dari debat capres+cawapres semalam ada beberapa catatan penting tentang desa.

Tapi disclaimer dulu ya: Ini catatan seorang ahli kota, bukan desa, yang baru belajar tentang desa satu tahun saja, dari a.l. Lilik Rohmad Ahmadi dan Yuli Kusworo

Pertama, tidak benar orang Solo itu “ndeso”, sebab tidak benar Solo itu “desa” (dalam tanda petik sekalipun), bahkan dibandingkan Jakarta sekalipun. Ia salah satu kota terpadat di Indonesia. No. 8, karena Jakarta dianggap terdiri dari 5 kota. Ia bahkan lebih padat daripada “Jakarta Utara”.

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kota_di_Indonesia_menurut_kepadatan_penduduk

Dulu saya pernah menghitung tanpa menyertakan kawasan pinggirannya, Solo malah kota terpadat di Indonesia.

Kota Solo juga unik karena penduduk siangnya lebih dari dua kali lipat penduduk malamnya, karena penduduk kabupaten (pertanian) sekelilingnya sangat tergantung padanya. Dalam hubungan inilah Jokowi dibesarkan. Tidak jauh berbeda antara hubungan Kota Makassar dan Kabupaten Maros sebagai koteks JK dibesarkan.

Ia juga salah satu kota tertua yang memiliki kesinambungan eksistensial. Interupsi-interupsi yang ia alami tidak memunahkan jejak-jejak lama, seperti halnya Palembang, Mojokerto, dan lain-lain.

Desa tentu saja pertanian. Jokowi mengemukakan apa yang kini sedang “hot” di kalangan ahli lingkungan: pertanian dengan metabolisme sirkular. Bercocok tanam terpadu dengan beternak. Bukan hal baru kedengarannya. Kan di dalam Kementerian Pertanian juga terkandung urusan peternakan. Beternak adalah bertani (dalam arti memelihara dan memetik hasilnya, bukan “hunt-and-gather”). Yang baru: hal itu sekarang di-revitalisasi dengan hitungan-hitungan, pengetahuan yang lama dan baru, serta secara lebih terorganisasikan. Di samping itu, dihubungkannya dengan penyediaan energi. Ternak (yang makan tanaman) menghasilkan pupuk organik dan sekaligus energi (biogas). Intensifikasi dimungkinkan dengan menambah atau mengembalikan sesuatu yang hilang dalam maa rantai itu. Misalnya unggas yang makan cacing dari kotoran sapi.

Maka, kemandirian yang dimaksud Jokowi menyangkut pangan dan energi sekaligus! Sayangnya, potensi pupuk organik tidak disinggung mendalam, dan malah kembali kedua capres mengandalkan pupuk kimiawi yang telah menyebabkan ketergantungan yang kronis dan merusak tanah dan air. (Subak di Bali telah memisahkan air pertanian dari air rumah-tangga antara lain karena persoalan ini).

Tentu kita paham bahwa tidak serta merta secara sekaligus kita dapat berhenti menggunakan pupuk kimiawi. Namun, jelaslah (dari pengalaman-pengalaman kasus di berbagai tempat, yang makin banyak) suatu proses peralihan KEMBALI ke pupuk organik dapat diprogramkan secara sistematis. Ini bukan kembali ke masa lalu begitu saja, sebab ada pengetahuan-pengetahuan dan teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas dan, lebih penting lagi, keragaman produk pertanian pada tiap-tiap lahan.
(Ide tentang satu desa satu produk unggulan yang dikemukakan timses Prahara di diskusi pra-dan pasca-debat di Metro TV, bertentangan dengan kebaikan keragaman itu).

Saya berharap, ketika JK menyebutkan teknologi sebagai input untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan, ia juga memaksudkan teknologi yang tepat guna (suatu istilah lama pula: appropriate technology, small is beautiful, Schoemaker), bukan sekedar “asal teknologi” (yang, paradoksnya, mungkin memerlukan lebih banyak energi fosil).

Hal ketiga yang menarik dari Jokowi semalam adalah pemikiran tentang penguatan kelembagaan usaha pertanian desa. Di sinilah kelebihannya dibandingkan Prahara. Jokowi meletakkan koperasi dalam konteks upaya lebih mendasar, yaitu badan usaha milik desa, yang dapat dimodali dengan dana yang diperintahkan oleh UU Desa. Di sini memang ada persoalan teknis, misalnya: apakah benar dana dari UU Desa dapat dijadikan modal anggota koperasi? (Dana UU Desa disetorkan sebagai modal koperasi, dan diakui sebagai setoran anggota secara sama-rata). Tapi poin-nya adalah Jokowi (dan JK tentu saja) sudah memikirkan penguatan desa juga dari sisi pengorganisasian melalui usaha tani.

Di bagian lain, mereka juga menyebutkan “pengolahan” sebagai cara meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Pengolahan dalam jumlah yang efisin (economies of scale) mengandalkan pngorganisasian yang dikukuhkan dengan struktur permodalan, entah koperasi atau apapun bentuk-bentuk lainnya. (Jokowi mengatakan, tetap koperasi lebih baik)

Nah, di situ lah letak soal mengapa debat semalam seperti ada yang “gak nyambung”, ialah ketika Prabowo berkali-kali menegaskan pertanyaannya, “Apakah Pak Jokowi setuju cetak sawah baru, 1 atau 2 juta ha?” Sebab, sementara Prabowo mementingkan angka-angka itu, Jokowi dan JK sudah (atau sedang) memikirkan “how-to”nya, dan keluarlah masalah-masalah implementasi yang mereka sudah identifikasi dan perlu dipecahkan. Angka besar, ide besar, tanpa pengetahuan detail tentang masalah lapangan dan “how-to” akan menjadi bencana besar. Inilah kelebihan Jokowi dan JK. Mereka pengusaha, tetapi pengusaha yang mulai dari bawah. Inilah gunanya blusukan. Pak JK memang tidak blusukan, tapi, yang saya dengar, selalu mencari informasi langsung ke bawah (hilir) menurut caranya. Emmy Hafild punya cerita soal ini.

Kesimpulan: Saya memilih lebih mempercayakan nasib anak saya, para petani kita, dan masa depan ketahanan pangan kita kepada Pasangan Jokowi-JK (demikian meminjam istilah moderator semalam).
Dengan harapan, tentu saja: perlunya program sistematik memperbaharui pertanian kita dengan 100% pupuk organik, yang justru dasar-dasarnya sudah terkandung pada pertanian metabolisme sirkuler itu yang sudah disinggung, tapi mungkin masih belum disadari potensi lengkapnya.

Posted in Communities, governance, Nature and Environment | Tagged , , | Leave a comment

Liwuto Pasi: Ekspedisi Seniman ke Taman Nasional Kepulauan Wakatobi

poster liwuto pasi landscape kecil

Mohon bantuan SHARE dan sebarkan. Terima kasih.

Open Call:
Ekspedisi Seniman “Liwuto Pasi” ke Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, 15-30 November 2014, dengan kapal WWF.
Tengat waktu pendaftaran: 30 Juli 2014. Selengkapnya di bawah ini:

Informasi lengkap dan formulir pendaftaran dapat diunduh di sini:
http://www.scribd.com/doc/232097790/X-Liwuto-Pasi-Info-Lengkap
http://www.scribd.com/doc/232097711/X-Liwuto-Pasi-formulir

X Liwuto Pasi_Kapal MenamiX Liwuto Pasi_Map_Wakatobi

 

Aside | Posted on by | Leave a comment

Apakah Tata Kota Dapat Bantu Kurangi Kejahatan Seksual?

Sejauh menyangkut ruang-ruang publik, dapat! Dan, seharusnya memang demikian. Dengan catatan: tentu saja ada banyak hal lain harus dlakukan serempak.

Tiga kata kunci untuk perancangan fasilitas umum terkait hal ini adalah: penerangan, keterlihatan, dan kedekatan (dengan keramaian).

Membaca kalimat di atas, serta merta kita sudah dapat membayangkan keadaan kota-kota kita yang jauh dari memadai: jembatan penyeberangan yang tidak berlampu, atau ada tapi mati, pojok-pojok bangunan dan halaman yang gelap dan tidak terlihat dari tempat orang lalu-lalang, dan lain-lain.

O ya, juga toilet di mall yang kadang blusuk berbelit-belit ke bagian belakang atau tersembunyi, jauh dari lalu-lalang orang. Taman-taman juga banyak yang jauh dari keramaian dan gelap, sehingga hampir tidak berguna di malam hari, bahkan kadang di siang hari sekalipun. Toilet, bila dirancang dengan baik, bukanlah sesuatu yang jorok. Karena itu tidak perlu disembunyikan jauh-jauh.

Para arsitek biasanya sudah tahu, betapa standar penerangan ruang-ruang umum kita rendah sekali. Misalnya ruang tangga di bangunan, sejak terjadinya hegemoni lift, menjadi gelap, tersembunyi. Kadang-kadang orang tidak menemukan tombol penyala lampu. Standar tertinggi yang pernah saya temukan ada di Tokyo dan kota-kota Jepang lainnya. Lampu di ruang tangga akan otomatis menyala ketika orang memasukinya atau membuka pintu. Terang sekali. Ini penting, karena tangga juga berfungsi sebagai sarana utama penyelamatan diri ketika sedang terjadi bencana dan karenanya lift tidak boleh digunakan.

Trotoar juga seringkali gelap karena letak tiang lampu yang terhalang oleh pepohonan. Hal-hal begini sebenarnya menjadi bagian dari “urban design” dan “landscape design”. Disamping, tentu saja, ketekunan memelihara (memangkas) pepohonan pada waktunya dengan baik. Begitulah lagi-lagi soal ini mencerminkan kemampuan kita “merancang” dan membangun kota serta sikap dalam memelihara.

Keterlihatan berarti “pengawasan” tidak-langsung oleh warga yang lalu lalang itu sendiri. Ini memerlukan lay-out yang cermat sehingga tidak ada sudut bangunan/ruangan/halaman yang tersembunyi dari pandangan para pelalu-lalang. Jarak juga penting. Toilet sebaiknya tidak boleh terlalu jauh dari tempat lalu-lalang orang, dan sebisanya terlihat dari banyak arah. Jembatan penyeberangan seharusnya tidak tertutup oleh bentangan iklan. Halte angkutan umum tidak tertutup oleh dinding masif/tidak-tembus-pandang agar dari jauh orang dapat melihat isinya.

Bangunan yang langsung menempel ke trotoar, dengan lantai bawah yang berkegiatan dan cukup transparan sehingga orang dari dalam dapat melihat ke trotoar, dapat membantu juga pengawasan itu.

Nah, mudah bukan?

Pemerinta perlu, dapat dan wajib memiliki “inspektur” yang memeriksa agar semua persyaratan yang digambarkan di atas terpenuhi. Para arsitek sebaiknya menyadari itu juga dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari profesionalitasnya.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Behind the Green Door

A way of exhibiting.

Image

 

photo 1-1 photo 2-1 photo 3-1 photo 4-1 photo 5-1

 

Posted in Architecture, Nature and Environment | Leave a comment