Notes on the Consumption of Palm Cooking Oil

Consumption of industrial products and scale not only introduces  many bad things, but also destroys many good things. Most fundamentally it destroys good taste and dignity.

Palm cooking oil destroys the taste of natural freshness and rich flavours of food. In the final destruction it changes our tongues  to be no longer sensitive and appreciative of thousands of fine flavours. Think, for example, of the fried bananas.

In traditional cultures it destroys their dignity in serving good fresh food. In some villages it is said that it is considered rude to serve fresh bananas in bunches without frying them, as if the hosts were lazy and poor. The new norm is fried bananas.

Many other ways of preparing food — such as baking, grilling, steaming and boiling —  got dis-appreciated. Those are often the best ways to bring out the real, uniquely distinct, natural flavours of various fresh materials, which I believe is the fundamental of the art of cooking.

Palm cooking oil caters to a modern desire for quick and decisive taste, but in acquiring so it homogenizes and impersonalizes our taste. It coopts our tongue to belong no longer to our unique selves, but to a system that remote-controlly dictates what is approved and not.   It alienates our tongues from ourselves and from nature. It destroys our relationship with other species.

In urban context this distancing of our bodies from nature corresponds perfectly with the general setting that there is. Outside the city it creates a powerful sense of discomforting contradiction as one feels being in nature while it is slowly creeping out from the inside of kitchens into many common and public spaces.

Posted in Communities, Nature and Environment, Urban Life | Tagged | Leave a comment

UNDANGAN

IMG_1914.JPG

Image | Posted on by | Leave a comment

SEBELUM BAHAGIA

Sebelum bangsa Indonesia bahagia, kritiklah diri sendiri sebanyak-banyaknya, sedasar-dasarnya,setuntas-tuntasnya.

Kalau tidak salah, sebentar lagi kita akan bahagia, karena kemakmuran yang merata akan tercapai di bawah pemerintahan Jokowi-JK dengan Kabinet Kerja yang Hebat. Lagipula semangat kelas menengah dan kaum muda begitu tinggi. Kaum kreatif merasa dapat membuat produk apa saja yang unggulan. Hanya soal mau atau tidak saja. Hasrat akan kemakmuran menggebu-gebu. Tersembur juga cita-cita menjadi bangsa dan negara yang kompetitif, menjadi Indonesia Ichiban, meskipun mungkin hanya se-Asia Tenggara.

Karena itu, beberapa tahun ke depan adalah kesempatan terakhir untuk kritis pada diri sendiri. Manfaatkanlah ini sebaik-baiknya, sebelum terlambat, karena ia mungkin tidak akan kembali. Sebab, ketika kita sudah bahagia, kita tidak lagi akan sanggup menjadi kritis.

Para budayawan, cerdik-dendekia dan seniman perlu kerja keras mengingatkan. Lebih menantang lagi: bagaimana caranya supaya seluruh bangsa sanggup melakukan secara bersama-sama?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ekspedisi Liwuto Pasi

poster liwuto pasi landscape kecil-1

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membaca Arah Pengembangan Seni Budaya di Indonesia

Catatan percikan pikiran untuk diskusi yang diselenggarakan oleh Koalisi Seni Indonesia + Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 15 Oktober 2014

1. Kelas menengah muda kota akan menjadi konsumen utama kesenian.

Sekarang pun sudah. Dan mereka mengoleksi karcis, bukan karya. Maksudnya, mereka mampu menikmati kesenian secara bersama-sama, tidak secara sendiri-sendiri, atau memiliki suatu karya seni. Sebab itu seni pertunjukan memiliki kemungkinan lebih besar. Kalaupun senirupa dinikmati, itu melalui pameran, bukan melalui kepemilikan/mengoleksi. Continue reading

Posted in Arts, Language and Culture, Communities, governance, Jakarta, Urban Life | Tagged , , | 2 Comments

Dewan Kesenian Jakarta di Mata Didier Kusumawijaya

Dewan Kesenian Jakarta (proxy: Galeri Cipta) di mata Didier Kusumawijaya yang berumur 11 tahun pada tahun 2006.

6 5 4 3 2 1

Posted in Arts, Language and Culture | Leave a comment

PILKADA LANGSUNG

Ini sekedar nostalgia. Saya dan Mbak Nursyahbani Katjasungkana ternyata adalah salah satu pasangan cagub-cawagub pertama dari jalur independen-langsung di Jakarta pada tahun 2001. Azas Tigor Nainggolan tadi di twitter mengingatkan hal ini. Selain kami, ada pasangan-pasangan lain juga.

Tentu saja, ketika itu UU belum mengijinkan pilkada langsung, apalagi dari jalur independen. Itulah sebabnya saya mau saja dicalonkan oleh teman-teman LSM ketika itu. Kan pasti tidak akan menang, jadi tidak ada beban.

Lawannya ketika itu adalah petahana Jenderal Sutyoso.

Karena perlawanan rakyat, beliau ketika mau menghadiri sidang paripurna DPRD harus naik helikopter untuk menghindari masyarakat yang mengepung gedung DPRD di Jalan Kebonsirih. Banyak teman-teman yang mengepung itu basah kuyub dengan mata merah karena polisi menggunakan meriam air dan gas air mata.

Meskipun tahu tidak akan punya peluang, kami waktu itu “bermain” serius. Saya dan Mbak Nursyahbani benar-benar mendaftar. Saya ingat diberi kesempatan presentasi dan berdialog dengan Fraksi Golkar. Kami mendekati semua fraksi dan parpol, sebenarnya, tapi hanya Golkar yang memberi kesempatan.
Kami juga serius bertemu dengan berbagai komponen masyarakat di tempat-tempat mereka. Ini yang mungkin sekarang disebut “blusukan”. Proses ini yang bagi saya paling berharga: menghimpun tenaga dan aspirasi rakyat untuk hak demokrasi memilih pemimpin secara langsung, dan untuk memahami bahwa kota yang lebih baik itu mungkin!

Yang asyik, pada masa-masa sulit yang disebut “perjuangan” itu, saya lalu kehilangan mobil (!) dan segala isinya, karena sopir baru belum sempat saya mintai fotokopi KTP, tersebab terlalu sibuk. Isi yang paling berharga adalah dokumen tata ruang Jakarta 1985-2005, yang kini tentu saja sangat bersejarah, karena padanya kita sekarang dapat melihat apa yang “hilang” dan “berubah”.

Pada waktu itu jelas skali: Pilkada harus langsung DONK! Dan calon independen harus BOLEH!

Beberapa tahun kemudian wacana itu bergulir dan dijadikan UU. Dan rakyat telah menikmati hasilnya.

Sekarang mereka mau membalikkannya menjadi “tidak langsung” dan mungkin nanti calon independen tidak boleh? TIDAK RELA.

#PERTAHANKAN-PILKADA-LANGSUNG.

Posted in governance, Jakarta, Urban Life | Leave a comment