Why do we need to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process?

February 6, 2010

Also published in different editions in www.rujak.org and  the Jakarta Post.

Jakarta needs its people. That is the simple but fundamental argument to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process. Jakarta needs its people to own the plan so that they will participate in implementing it willingly. Participation builds a strong link called “ownership” between making and implementing a plan. They can only do so if they participate in the making of basic strategic options and decisions. This means deployment of a true participatory process that goes beyond passive “consultative participation” where people are merely asked their opinions about options and decisions that have been made or predetermined by others, usually the bureaucrats and their consultants.

Read the rest of this entry »


Undangan Seminar “Sustainable Urbanism and Its Challenges to Civil Society.”

January 19, 2010

Jumat, 5 Februari 2010
Pukul : 14:00
Tempat : Aula The Japan Foundation Jakarta

The Japan Foundation mengundang anda untuk hadir dalam acara Ceramah Kebudayaan yang akan diberikan oleh mantan ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, bapak Marco Kusumawidjaya.

Beliau baru saja kembali pada bulan Desember 2009, dari kunjungan dua bulannya ke Jepang atas undangan the Japan Foundation dan International House of Japan. Dari hasil kunjungan tersebut, beliau mendapatkan banyak tambahan pengetahuan dan wawasan yang menarik dalam bidang kebudayaan dan kesenian, yang hendak ia bagi kepada orang-orang di Indonesia. Acara Ceramah Kebudayaan ini adalah untuk membagi hal-hal yang ia lihat dan dapatkan di Jepang, yang ia harapkan dapat menambah kaya wawasan kebudayaan di Indonesia. Read the rest of this entry »


Bahasa Sang Pemimpi

January 16, 2010

Terbit sebelumnya di Kolom Bahasa! Majalah TEMPO, 11-17 Januari 2010

Bahasa Sang Pemimpi bukan film pertama yang membuat kita merenungkan kembali bahasa setempat. Sebelumnya, salah satu film dalam Perempuan Punya Cerita oleh Nia Dinata berbahasa Sunda hampir menyeluruh di dalamnya, sesuai dengan lingkungan ceritanya. Sarah Sechan dan Anisa Nurul Shanty, dua pemeran tokoh utama dalam film itu, kebetulan memiliki Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu-nya. Maka Bahasa Sunda di dalam film itu sangat berhasil. Read the rest of this entry »


Jakarta Gagal Karena Perencanaan yang Gagal

January 14, 2010

Menuntut supaya tata ruang Jakarta direncanakan dengan benar, dukung petisi :

http://tentukan.com/petisi/kita_ingin_rtrw_jakarta_2030_disusun_secara_benar

Jakarta gagal karena perencanaannya gagal.

Sering disalahkan implementasinya.

Tetapi, rencana yang baik seharusnya telah mencakup rencana implementasi yang baik. Ini berarti memiliki strategi (pilihan-lihan pendekatan/metoda dan rangkaian tindakan), target (kuantitas, kualitas, dan waktu) yang spesifik dan terukur. Read the rest of this entry »


Comment on Jakarta Metropolis Tunggang-langgang by Andy Fuller

January 3, 2010

ckick here


Jakarta dari 2009 menuju 2010

December 30, 2009

Metro TV, 30 Desember 2009, Jam 19:00-20:30, “Suara Anda”


Lestari dan Berkelanjutan

December 25, 2009

Tulisan ini terbit sebelumnya di kolom Bahasa!, Majalah TEMPO, 14-20 Desember 2009.

Dengan demam pemanasan buana sekarang, makin banyak kata-kata terkait lingkungan bertaburan dalam Bahasa Indonesia. Sebagian darinya sudah diterjemahkan dari bahasa lain ke dalam Bahasa Indonesia, meskipun penggunaan yang terakhir ini masih setengah-setengah.

Salah satu yang bermasalah adalah kata “berkelanjutan” yang dianggap sebagai pengganti kata sustainable. Tetapi, dalam banyak dokumen resmi masih sering digunakan kata sustainable, dengan huruf miring ataupun tidak. Read the rest of this entry »


Arts and Transition towards Sustainability of Cities[1]

December 25, 2009

My interest in both arts and environment stems from the source of my curiosity: cities. I started studying cities from architectural discipline, and ending up looking at architecture from the city’s perspective.  The issue on sustainability of cities is appealing not only because of its urgency with regards to climate change, but also because it offers an opportunity to think of, and search for, new ways to live wholly sustainably by also taking care of other problems pre-existing in cities. This opportunity challenges societies to be humane again, to take care of other ecological and non-ecological problems that have been outstanding in cities, such as poverty, social justice, and migrant workers. Confronted with the predominant, yet ineffective, urban planning approach that failed to make our cities a better place for all, I have for the last ten years turned to arts and other disciplines to search for alternative ways to engage urban societies. Read the rest of this entry »


Marco’s interview with NHK.

November 22, 2009

http://www.nhk.or.jp/nhkworld/indonesian/radio/asx/saturday.asx


Tokyo Pocket Notes

November 10, 2009

IMG_5042


1. A Stranger

A staring stranger in a crowded car
buzzing from Kamakura to Tokyo

And next
a listening dumb in a humming lobby in Roppongi.

(21 September 2009)

Read the rest of this entry »