Catatan untuk Konsumsi Ruang

Belakangan ini saya sering menggunakan kata-kata “konsumsi ruang”. Sehingga beberapa orang mulai bertanya, apa maksudnya?

Kemarin, seorang koreografer Jerman yang meneliti gerak (dalam) kota, Sebastian Mathias, mengingatkan cara yang mudah untuk menjelaskan.

Ruang, meskipun bukan barang konsumsi dalam arti sesuatu yang “habis” kalau dipakai (seperti misalnya makanan), dikonsumsi melalui tindakan menikmatinya tanpa menghidupinya, tanpa inhabitasi. Misalnya pada car-free day orang datang dari Bekasi dengan mobil, parkir di Jalan Sumenep, lalu bersepeda, ber-skate-board, atau berjalan kaki serta berlari-lari di Jalan Thamrin-Sudirman. Konsumsi ruang ini berbeda dengan “konsumsi di dalam ruang”, yang memang berkaitan, tapi berbeda, namun juga merupakan gejala yang makin menyangat bersamaan dengan menjamurnya kelas menengah baru perkotaan.

Bahwa ruang telah menjadi komoditi, yang juga berarti dikonsumsi, tentu hal yang sudah lebih dahulu dikemukakan. Pada hal ini, ada kaitan dengan kepemilikan.

Pada konsumsi ruang yang saya maksudkan, justru tidak ada kepemilikan. Atau: kepemilikan itu bersifat sementara belaka, persis seperti sesaat sebelum makanan disantap – hap! Ketika telah disantap, hubungan kepemilikan itu telah berubah atau bahkan sirna.

Bedanya dengan konsumsi ruang: Konsumsi yang lain menghasilkan residu sampah, konsumsi ruang meninggalkan sampah di dalamnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Notes on the Consumption of Palm Cooking Oil

Consumption of industrial products and scale not only introduces  many bad things, but also destroys many good things. Most fundamentally it destroys good taste and dignity.

Palm cooking oil destroys the taste of natural freshness and rich flavours of food. In the final destruction it changes our tongues  to be no longer sensitive and appreciative of thousands of fine flavours. Think, for example, of the fried bananas.

In traditional cultures it destroys their dignity in serving good fresh food. In some villages it is said that it is considered rude to serve fresh bananas in bunches without frying them, as if the hosts were lazy and poor. The new norm is fried bananas.

Many other ways of preparing food — such as baking, grilling, steaming and boiling —  got dis-appreciated. Those are often the best ways to bring out the real, uniquely distinct, natural flavours of various fresh materials, which I believe is the fundamental of the art of cooking.

Palm cooking oil caters to a modern desire for quick and decisive taste, but in acquiring so it homogenizes and impersonalizes our taste. It coopts our tongue to belong no longer to our unique selves, but to a system that remote-controlly dictates what is approved and not.   It alienates our tongues from ourselves and from nature. It destroys our relationship with other species.

In urban context this distancing of our bodies from nature corresponds perfectly with the general setting that there is. Outside the city it creates a powerful sense of discomforting contradiction as one feels being in nature while it is slowly creeping out from the inside of kitchens into many common and public spaces.

Posted in Communities, Nature and Environment, Urban Life | Tagged | Leave a comment

UNDANGAN

IMG_1914.JPG

Image | Posted on by | Leave a comment

SEBELUM BAHAGIA

Sebelum bangsa Indonesia bahagia, kritiklah diri sendiri sebanyak-banyaknya, sedasar-dasarnya,setuntas-tuntasnya.

Kalau tidak salah, sebentar lagi kita akan bahagia, karena kemakmuran yang merata akan tercapai di bawah pemerintahan Jokowi-JK dengan Kabinet Kerja yang Hebat. Lagipula semangat kelas menengah dan kaum muda begitu tinggi. Kaum kreatif merasa dapat membuat produk apa saja yang unggulan. Hanya soal mau atau tidak saja. Hasrat akan kemakmuran menggebu-gebu. Tersembur juga cita-cita menjadi bangsa dan negara yang kompetitif, menjadi Indonesia Ichiban, meskipun mungkin hanya se-Asia Tenggara.

Karena itu, beberapa tahun ke depan adalah kesempatan terakhir untuk kritis pada diri sendiri. Manfaatkanlah ini sebaik-baiknya, sebelum terlambat, karena ia mungkin tidak akan kembali. Sebab, ketika kita sudah bahagia, kita tidak lagi akan sanggup menjadi kritis.

Para budayawan, cerdik-dendekia dan seniman perlu kerja keras mengingatkan. Lebih menantang lagi: bagaimana caranya supaya seluruh bangsa sanggup melakukan secara bersama-sama?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ekspedisi Liwuto Pasi

poster liwuto pasi landscape kecil-1

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membaca Arah Pengembangan Seni Budaya di Indonesia

Catatan percikan pikiran untuk diskusi yang diselenggarakan oleh Koalisi Seni Indonesia + Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 15 Oktober 2014

1. Kelas menengah muda kota akan menjadi konsumen utama kesenian.

Sekarang pun sudah. Dan mereka mengoleksi karcis, bukan karya. Maksudnya, mereka mampu menikmati kesenian secara bersama-sama, tidak secara sendiri-sendiri, atau memiliki suatu karya seni. Sebab itu seni pertunjukan memiliki kemungkinan lebih besar. Kalaupun senirupa dinikmati, itu melalui pameran, bukan melalui kepemilikan/mengoleksi. Continue reading

Posted in Arts, Language and Culture, Communities, governance, Jakarta, Urban Life | Tagged , , | 2 Comments

Dewan Kesenian Jakarta di Mata Didier Kusumawijaya

Dewan Kesenian Jakarta (proxy: Galeri Cipta) di mata Didier Kusumawijaya yang berumur 11 tahun pada tahun 2006.

6 5 4 3 2 1

Posted in Arts, Language and Culture | Leave a comment