SETIAP (ARSITEKTUR) BANGUNAN ADALAH PROYEK PERKOTAAN

Maksudnya, setiap bangunan (atau apa saja) yang baru di dalam kota seharusnya membuat kota lebih baik.

Siapa ya yang pernah bilang begitu dulu? Aldo Rossi?

Tapi yang terjadi sekarang adalah setiap bangunan hanya menambah beban kota, menggerogoti kota. Ini kerakusan kapitalisme? Kalau menurut para sejarahwan arsitektur Marxist seperti Manfredo Tafuri, itu berarti kegagalan arsitektur di masa modern ini. Kegagalan membuat dunia atau hidup lebih baik.

Kegagalan itu bukan semata kegagalan estetik, tapi juga kegagalan etik dan politik.
Kegagalan estetik: arsitek(tur) gagal menawarkan keindahan yang melampaui selera burjuasi dan kelas menengah ngehek.
Kegagalan etik: arsitek(tur) gagal melayani masyarakat secara adil. Lebih dari 80% arsitek melayani kurang dari 20% manusia. (Angka perkiraan saya. Silakan diteliti)
Kegagalan politik: arsitek(tur) gagal membangun lebih banyak bebrayan (commons), dan lebih banyak mengabdi pada pecahan-pecahan properti privat, yang malah –itu tadi– menggerogoti kota sebagai bebrayan/commons peradaban terbesar manusia.

‪#‎gegara‬ Yogya tergenang air karena hujan lebat tapi juga sekaligus asat karena hotel dan apartemen baru menyedot air sembari menutupi tanahnya yang sejatinya berdaya-serap tinggi karena berupa pasir.
‪#‎tapi‬ bukan hanya di Yogya kan?
‪#‎buat‬ para arsitek yang bekerja untuk yang 80% dan berusaha membangun bebrayan: Yuli Kusworo Amalia Nur Indah Sari Lintang Rembulan Mayang Elvira Joan Nayoan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

LAGU SURABAYA

 http://silampukau.com/2015/03/lagu-surabaya/

Kota-kota sedang menempuh hidup baru bersama kaum muda, yang jumlah dan sifatnya sedang tumpah dengan budaya indie (independent) serta keragaman prakarsa subyektif. Karena bantuan macam-macam hal (termasuk teknologi) prakarsa-prakarsa itu dapat mewujud kecil-kecil saja. Namun, ketika berhimpun, mereka membentuk dunia–bukan lagi kota–tersendiri. Apakah kota-kota juga akan berubah menyesuaikan diri dalam dinamika hidup baru ini? Bagaimana kota-kota bertemu dan berbincang dengan mereka?

Belum ada jawaban yang cukup. Justru itu, maka apa kata kaum muda tentang kota, misalnya yang tampil dalam lirik lagu-lagu ciptaan mereka, mungkin dapat menjadi petunjuk.

***

Tidak semua kota menyebabkan orang bikin lagu (atau karya seni lain) tentangnya. Tapi ada kota-kota yang selalu berulang dari masa ke masa mendorong orang menciptakan karya seni tentangnya. Surabaya rupanya termasuk yang demikian.

Surabaya disebut dalam “Surabaya Johnny” pada tahun 1929 dalam suatu musikal Happy End karya kerjasama Bertolt Brecht dan Kurt Weill yang ditampilkan di Berlin. Pada film King Kong, 1933, Surabaya juga tampil. Di awal abad ke-20, Surabaya memang kota yang makmur. Pada masa itu seolah-olah seluruh dunia memang nampak makmur, terutama buat pemilik perkebunan di tanah-tanah jajahan dan yang terkait bisnis dengannya. Ketika itu Surabaya kota terbesar di Hindia Belanda. Jawa Timur adalah lahan perkebunan besar yang mengirim hasilnya lewat Surabaya ke seluruh dunia, yang ketika itu menganggap tembakau, gula dan teh barang nikmat nan mewah. Kota Malang di pedalaman tiba-tiba membesar dan diperkuat menjadi kota kolonial yang mengurus perkebunan. Maka Surabaya Johnny adalah wajah pelaut petualang yang sepertinya cukup kaya untuk jalan-jalan ke Punjab bersama kekasihnya yang baru berumur 16 tahun (My God…). Seperti King Kong di New York, suatu kota yang sudah metropolis dengan puluhan pencakar langit pada tahun 1933, Surabaya Johnny di Berlin, suatu ibukota kesenian modernisme pada tahun 1929, membawa aura kekayaan, petualangan, eksploitasi, ancaman, bahaya dan terobosan-terobosan moral. Tentu saja juga patah hati, manipulasi, keberantakan hidup.

Itu khayalan saya tentang hubungan antara masa (awal abad ke-20) dan ruang (kota). Intensitas dan kepadatan bertautan. Demokrasi, kemakmuran (dan apa-apa saja) bergelut melahirkan inovasi-inovasi burjuasi di kota-kota besar.

Pada lirik lagu-lagu yang dibuat di awal abad ke-21 ini, saya tergoda untuk merasakan berulangnya perasaan yang mungkin juga terdapat di awal abad ke-20 itu. Semoga saya tidak terlalu tersesat ke dalam pembagian waktu menurut manusia modern ke dalam dasawarsa, abad dan milenium yang menjebak manusia melihat seolah pengulangan itu ada dan teratur. Setidaknya ini bukan dari Brecht, melainkan dari kaum muda yang sedang menelusuri masa-masa baru kehidupannya ketika pintu-pintunya baru mengelopak. Tapi ini masa bukan sembarang masa, tapi masa kota-kota besar, yang sambil berhubungan tak terbatas dengan ruang dunia, sekaligus dibatasi oleh gemuruh perubahan yang setiap saat makin cepat dan mengasingkan. Sebagiannya tak ada yang tahu pasti siapa atau apa yang mengendalikannya. Yang pasti, bagian terbesar penduduk kota, bersama kaum muda di dalamnya, bukan! Kaum muda hadir di dalamnya bukan sebagai yang paling beruntung dan berpelengkapan pula. Mereka sering kalah, karena itu. Misalnya dalam perebutan ruang, bahkan untuk kegiatan yang sepele seperti “Kami hanya ingin main bola”.

Namun, memang demikianlah, melalui narasi-narasi vernakuler (sehari-hari) tentang ruang-ruang kecil mereka, termasuk yang hitam, kita tahu ada yang tidak beres, tidak adil, tidak masuk akal, lalai, di kota-kota besar-besar kita. Dan kota-kota besar itu adalah perwujudan terbanal dari kapitalisme akhir-akhir ini.

Yang nampak di mata hati adalah dunia yang runtuh ke dalam, ke kampung-kampung dan ke dalam diri sendiri. Hidup muram dan meletihkan. Kota tumbuh menjadi makin asing. Makna lama, yang hanya sempat dikenal sebentar, gugur. Muncul yang asing, bukan hanya lain, di hadapan tiap langkah. Tapi kota goes on. “Pagi tak terhindarkan.” Betapa tak berarti tiap-tiap subyek yang dengan terpaksa bertukar rupa menyesuaikan diri di antara yang asing dan perkasa itu.

Keriangan? Ada, pada hiburan murah yang terjangkau atau cuma-cuma di taman-taman kota. “Taman Remaja Surabaya sajikan canda tepis gulana.”

Tapi keriangan adalah wanci-wanci yang serba singkat terputus-putus terjeda-jeda, sebab “malam jatuh” begitu cepat di Surabaya.

Malam Jatuh di Surabaya

 

Gelanggang ganas 5:15,

di Ahmad Yani yang beringas.

Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari.

Malam jatuh di Surabaya.

Maghrib mengambang lirih dan terabaikan,

Tuhan kalah di riuh jalan.

Orkes jahanam mesin dan umpatan,

malam jatuh di Surabaya.

Selama-lamanya, di gelanggang yang sama,

malam jatuh di Surabaya.

“Malam Jatuh di Surabaya” dapat dibaca sebagai suatu gambaran faktual yang tertentu: suatu senja di Jalan Akhmad Yani. Tetapi ia juga dapat menggambarkan sesuatu yang mungkin terjadi di seluruh Surabaya. Di setiap sudut dan di setiap saatnya “malam jatuh” pada Surabaya, membawa serta perasaan was-was, kelam mengkhawatirkan, “Tuhan kalah…” Perasaan yang sangat lazim di banyak kota besar ramai lainnya.

Menemui kota sendiri yang serba salah dan tunggang-langgang memang mudah menggoda membayangkan kota lain yang dikira lebih baik. Tetapi membanding-bandingkan kota sendiri (yaitu identitas diri sendiri juga) dengan kota-kota lain adalah juga suatu kecenderungan yang muncul dari meningkatnya akses informasi dan pariwisata kelas menengah Indonesia ke luar negeri. Membandingkan adalah sekaligus juga suatu panggung untuk pamer dan pelontaran impian. Kota lain adalah sekaligus bahan konsumsi dan acuan kepada konsumsi-konsumsi lain. Paris membawa gambar anggur dan fashion, misalnya, misalnya. Membayangkan kota lain, disertai perjumpaan dengan orang lain “Puan Kelana”, niscaya dihantui kegelisahan inferior “jangan tinggalkan hamba.” Faktanya, di dalam kota waktu kini memang hamba makin sering terlempar dalam perjumpaan yang makin sering tak terduga — entah yang baik ataupun yang buruk. Suatu hasrat keterhubungan dengan dunia bukanlah ngawur semata, tetapi berdasarkan banyak peristiwa nyata.

Waktu kota adalah waktu modernitas, yang dibagi-bagi menjadi satuan-satuan yang dapat “habis”. Kekurangan waktu di kota telah menjadi keselaluan. Meskipun “hari-hari berulang,” waktu modernitas bersifat linier. Kalau lewat ya lewat, kehilangan, kehabisan. Hari-hari, matahari terbit, berulang, tetapi berbeda. Waktu tidak kembali. “Waktu memang jahanam,” karena tak ada yang dapat mengalahkannya, sebab ia tidak peduli pada siapapun atau bahkan apapun. Ia tiran, ia absolut. Semua dilindasnya. “Hari-hari berulang, diriku kian hilang.” Mimpi terhempas. Harapan terbanting pecah. Ingin pulang, tapi tak ada rumah, dan malu kembali ke kampung. Uang menjauhkan rumah. Migrasi dimaksudkan untuk sementara dan lalu pulang, tetapi seringkali kemudian ia menjebak menjadi selamanya. Ada banyak cara menghabiskan apa yang telah ditumpuk ditabung untuk di bawah pulang, sebelum pulang. Berada di dalam waktu kota waktu modernitas itu seperti terjebak di dalam gerigi-gerigi roda di dalam mesin jam yang berputar terus, tidak sempat melompat keluar, bahkan seringkali untuk cinta sekalipun. “Cinta itu buat kapan-kapan, kala hidup tak banyak tuntutan.”

Lalu apakah tidak ada lagi heroisme yang katanya sepanjang sejarah merupakan ciri anak muda? Lagipula, ingat, ini Surabaya kota pahlawan. Ada, berupa seruan kepada anak muda untuk terus berkarya “selagi muda, taklukkanlah dunia,dengan percaya diri, untuk mensyukuri masa muda: “Tenang saja, kamu kan hebat. Akan terlihat jalan yang terang. Di mimpi yang tak kau beli.” Tetapi suara yang demikian ini tak lagi kedengaran sebagai suatu semangat yang merata di semua. Tidak meyakinkan. Ia hanya hadir memberi semangat, ing ngarsa mangun karsa mungkin, bukan bicara kepastian kebenaran atau keniscayaan dunia kaum muda. Jalani aja:

Siapkanlah pagi dengan senyuman.

Lekaslah berlari sebelum siang.

 

Kuharap malam ini indah bagi kita,

kuharap besok-besok tak kalah indahnya,

kuharap akhir kita bukanlah di sini.

 

 

Jakarta, 2 Maret 2015.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Urbanisme Warga

Formulir:

https://www.dropbox.com/sh/8va03vntzpixgcp/AABHgpHCE2_1TrSMldi-XBsMa?dl=0

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar Kria Bambu Bersama Takayuki Shimizu

1-2 Mei 2015.  

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pasar Santa 22 Maret 2015

http://prezi.com/xcey8ffq9op7/?utm_campaign=share&utm_medium=copy

Posted in Uncategorized | 1 Comment

APBD PARTISIPATIF: SOLUSI YANG SEHARUSNYA. 

Tiba-tiba rakyat disuruh bela itu bela ini karena tuduhan Ahok bahwa DPRD korup melalui penitipan mata anggaran ke dalam RAPBD, sementara sebaliknya DPRD menuduh Ahok tidak konstitusional karena mengajukan RAPBD versi-nya sendiri ke Kemendagri. (Nyata-nya memang lalu ditolak Kemendagri).

Lalu muncul kabar baru, Ahok melaporkan korupsi ke KPK, yang kemudian muncul kabar simpang siur lagi: Kalau yang dilaporkan itu yang 2014, kenapa baru sekarang? Sedangkan kalau yang 2015, kan baru rencana, mana bisa dilaporkan ke KPK?
Lagipula, bagaimana dengan peran birokrasi pada pihak eksekutif? Emangnya DPRD bisa manipulasi RAPBD tanpa kerjasama dengan birokrasi? 

APBD adalah suatu barang yang harus disepakati bersama oleh cabang eksekutif maupun legislatif sistem pemerintahan kita. Apa yang ada di situ tidak bisa dituduhkan “hanya” usulan salah satu pihak. Yang satu tidak bisa mengaku “tidak tahu” ada mata anggaran tertentu.

Kenyataannya itu terjadi: Ahok bilang dia tidak tahu ada anggaran bikin buku triologi dirinya. DPRD bilang tidak tahu mata anggaran lainnya.
Tapi ini semua tidak bisa diterima. Kalau eksekutif dan legislatif TIDAK BENAR-BENAR TAHU apa isi RAPBD, cilaka kota dan negeri ini.

Mungkin juga masalahnya manusiawi: RAPBD itu banyak sekali, ribuan, mata anggarannya. Tak seorang Ahok maupun 100an anggota DPRD dapat memahami semuanya. Karena itu justru perlu dipelototi bersama-sama. Ada dua pendekatan: pelototi anggaran yang menyangkut wilayah Anda (RT/RW/Kelurahan dst…) dan anggaran yang sektornya terkait Anda (pendidikan, kesenian,…dst.)

Saya tidak mau disuruh bela ini bela itu tanpa tahu proses dan isi dari awalnya uang kita bersama itu. Saya mau penyusunan RAPBD transparan dari awal, rakyat bisa ikut mengusulkan dan menelisik apa yang diusulkan eksekutif maupun legislatif dari awal sampai akhir. Dengan demikian kita bisa ikut “memiliki” dan tahu persis, dan yang kita bela lalu adalah yang kita tahu: RAPBD itu sendiri, kota itu sendiri.

APBD partisipatif bukanlah hal baru. Sudah lama diusulkan. Sudah diterapkan di berbagai negara. Yang penting partisipasi itu bukan hanya diminta kalau sudah terjadi krisis, apalagi hanya untuk minta bela ini bela itu.

Apakah rakyat mampu terlibat dalam partisipasi yang lebih sehari-hari dan dari awal sampai akhir? Tanya para ahli. Ada juga organisasi penelitian maupun LSM yang sudah lama memperjuangkan ini. Sekarang, dengan kemajuan teknologi informasi, saya yakin hal itu makin dimudahkan dan dimungkinkan.

Saya ingat, bahkan pada tahun 2001 (atau 2002), Urban Poor Consortium pernah memamerkan sebagian APBD Jakarta di sebuah banner raksasa di sudut Wisma Nusantara di Bunderan HI. Itulah awal dari gerakan penganggaran partisipatif. Tapi belum dilanjutkan lagi.

Mungkin sekarang baik dilanjutkan lagi? Mari kita bikin rame. smile emoticon tapi bukan untuk sesaat, namun untuk perbaikan jangka panjang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rujak Center for Urban Studies and Its Works

https://www.facebook.com/RujakRCUS/photos/a.403990569478.180359.92175674478/10153096586634479/?type=1&theater

Print

Posted in Uncategorized | Leave a comment