NEGARA, MODAL, ALAM makin cepat dan sering berubah.

Kota kita akan makin banyak dan sering mengalami “disruption” dan “precarity” (gangguan dan kegentingan).

Waspada selalu. Makin sulit mencapai pencerahan.

Foto: Jalan Purworejo, Menteng, 23 Maret 2016.

10399943_10154063470413708_5887989639111471398_n.jpg

Posted in Uncategorized | 1 Comment

“Jangan sekali-kali menganggap Uber, Grab Car, Gojek dan Grab Bike di Jakarta sebagai sharing economy….” oleh Elisa Sutanudjaja

(Saya mengutip tulisan Elisa Sutanudjaja ini karena ini tulisan lebih baik dari yang lain-lainnya, karena lebih banyak mengandung informasi dan lebih benar mendudukkan perkaranya. Tulisan diambil dari status FB Elisa Sutanudjaja. Klik di sini.)

‪#‎KenaliJakarta‬ edisi ‪#‎sharingwashing‬

Jangan sekali-kali menganggap praktik Uber, Grab Car, Gojek dan Grab Bike di Jakarta sebagai sharing economy apalagi ride-sharing (makin jauh kelaut lagi untuk kasus Jakarta).
Sharing economy adalah prinsip penggunaan aset yang tidak sedang digunakan, tanpa harus bergantung 100% pada utilisasi aset tersebut. Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments

KEDATANGAN MARCO*

12144661_10154056838243708_4421972645886705268_n

Oleh Ka Bati, dari Leiden.

Laki-laki itu datang tengah hari, pada jam makan siang. Postur tubuhnya kecil. Memakai jas warna gelap dengan kancing terbuka, jins coklat muda  dan syal tipis, yang kemudian saya tahu kalau itu tenun ikat Manggarai. Pakaiannya masih terlalu tipis untuk suhu 5 derajat. Hari itu, minggu pertama musim semi di Leiden.

Terlihat penampilannya santai. Kepalanya dipenuhi uban, mungkin tinggal dua puluh lima  persen helai rambutnya yang hitam. Tetapi dia tidak nampak tua dan lelah. Umurnya sekitar lima puluhan. Kabarnya dia datang ke Eropa untuk menghadiri sebuah seminar juga diskusi dengan mahasiswa Indonesia di kota para (calon) teknokrat kuliah, Delft.

“Saya Marco,”ujarnya sambil mengulurkan tangan pada Aditya yang menunggunya di pintu. Suaranya terdengar berwibawa dan ramah.

Sebentar saya berhenti membalik-balik lumpia di penggorengan dan beranjak pula ke depan pintu.

“Hai!”saya menyapa sambil mengulurkan tangan.

Dia melongok melihat ke arah dapur. Wajahnya menyiratkan rasa lapar yang ditahan-tahan. Saya mengerti, bagaimana rasa lapar disembunyikan oleh orang-orang dan bagaimana persembunyian rasa itu bisa saya tangkap dengan baik. Saya membiarkannya melirik sekilas ke arah wajan berisi kuah soto yang menggelegak. Sebagai juru masak, hal yang paling membahagiakan saya adalah bertemu orang yang sedang lapar. Apa lagi yang lapar itu adalah Marco Kusumawijaya.

Tentu tidak perlu saya jelaskan panjang lebar siapa Marco. Google atau mesin pencari ‘info’lainnya sudah bicara banyak tentang itu. Seorang aktifis, jurnalis, penulis, urbanis dan yang terhangat adalah bakal calon gubernur DKI dari jalur independen, musuh Ahok!

“Mana ini tuan rumah,”ujarnya sambil terus berjalan masuk ke ruang tamu. Saya diam saja. Tetap di dapur. Saya pikir, saya tidak perlu menjelaskan apapun padanya, juga untuk menjawab pertanyaannya soal tuan rumah. Dia seorang arsitek yang jeli. Saya tahu, dia akan segera paham siapa tuan, siapa tamu dan siapa pembantu di rumah ini.

Di ruang tamu ada Gamal yang sedang gelisah. Dengan potongan rambut yang semrawut, ketua PPI Leiden itu, tetap kelihatan gagah, itu pula berkat tuhan buat dia. Masalahnya memang agak berat, tim futsal PPI Leiden sore sebelumnya baru saja kalah bertanding di laga Eindhoven Cup, padahal ini tim andalan dan kebanggaan kami. Selain itu, bapak kami semua, Ibrahim Isa, seorang eksil dan senior di Perhimpunan Persaudaraan baru meninggal empat hari yang lalu (16/3/2016), untuk ini duka masih kuat menyelimuti.   Tadinya Gamal yang menjemput Marco ke stasiun. Tapi, karena pada jam yang sama dia ada janji menghadiri acara alumni AFS di Den Haag, dia ingin segera pergi. Itulah yang membuatnya resah dan gelisah.

Selain Gamal ada seorang lain yang sedang gelisah, Andri, mahasiswa kedokteran yang sedang magang di LUMC. Dia tidak suka perkumpulan, apa lagi pembicaraan soal politik. Dan Aditya, seorang peneliti hewan laut yang sibuk bolak balik dari dapur ke ruang tamu. Saya tahu dia tidak begitu mengerti apa dan siapa Marco, dia hanya berperan sebagai penyambut tamu. Selebihnya adalah tiga orang pakar linguistic, Nazar, Jermy, dan Arum. Seorang sosiolog, Kang Hari. Calon ahli hukum tata Negara, Fakhrizal. Dua orang analis media Zamzam dan Julia. Seorang peneliti lingkungan, Mbak Raini. Julinta, seorang arsiparis. Dian seorang dokter dari Makassar.

Sambil terus melihat kuah soto yang bergejolak– tanpa isi, hanya kuah—saya diam-diam menyimak, apa yang diperbincangkan orang di ruang tamu.

Ya, tentu saja selalu ada basa basi soal cuaca, kesehatan yang agak terganggu pada saat perubahan musim dan kisah-kisah lucu seputar rasa kaget pada musim yang berubah. Kisah-kisah lucu orang Indonesia yang salah kostum atau tentang salju yang semakin langka. Walaupun sebetulnya Eropa bagi Marco bukan daerah baru, karena dia pernah sekolah arsitektur dan tinggal beberapa lama di Belgia pada awal tahun 1990-an.

Saya tahu, waktunya untuk singgah di rumah ini tidak lama. Jam tiga siang, dia akan berangkat ke bandara dan terbang ke Indonesia. Mestinya saya segera menghidangkan makanan. Tapi, entah mengapa, saya enggan mengakhiri kerja dapur. Saya ingin soto itu ada di tungku lebih lama. Dan lumpia di penggorengan juga tidak cepat menyuning. Sesungguhnya saya hanya  ingin dia lebih lama ngobrol di ruang tamu. Lebih banyak bercerita soal kekinian di Indonesia, soal gagasannya tentang kota dan masyarakat urban.

Belasan tahun sebelumnya saya sudah mengenal Marco. Saya membaca tulisannya di Koran-koran, juga membeli bukunya. Bagi saya idenya menawarkan pencerahan, semisal mempertahankan ke-kuno-an dalam ke-modern-an. Ini semacam pengakuan akan eksistensi, menerima yang baru tanpa mengabaikan yang usang. Tidak egosi, tidak fasis.

Tentu saja Marco bukan orang pertama yang menulis dan berbicara soal toleransi, pluralisme dan HAM di Indonesia. Sebelum Marco sudah ada Romo Mangunwijaya yang juga seorang arsitek humanis. Romo Mangun sepertinya banyak mempengaruhi pemikiran mantan ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) periode 2006-2010 ini. Sekali lagi, Marco hanya salah seorang saja dari sedikit arsitek/budayawan Indonesi yang ada saat ini. Istimewanya, sekarang Marco berada di pusaran kekuasaan. Dia dikenal oleh Jokowi, presiden kita. Katanya ia pernah membawa Jokowi, yang waktu itu baru setahun menjadi walikota Solo, untuk bicara di depan ketua-ketua dewan kesenian se-Indonesia.

Setelah meneguk kopi Sumatra yang saya hidangkan dan mencomot sebiji goreng tempe yang dibawa Arum, Marco mulai bicara tentang Indonesia dengan hati-hati. Tentu saja dia sadar kalau yang ada di ruangan itu bukan orang-orang yang biasa dan bisa dikibuli. Tapi dia tidak bisa menutupi kegelisahannya tentang kondisi Negara yang terancam oleh sikap-sikap oportunistik dan masa bodoh kaum menengah, sikap fasisme para pemimpin politik, pragmatism   dan ancaman kapitalisme dan liberalisme. Sepertinya hidup penuh ancaman, tapi pembawaan Marco tidak seperti orang yang sedang terancam. Dia terlalu kuat untuk mengalah. Dia orang kota, dia orang Jakarta.

“Saya 25 tahun tinggal di Jakarta dan telah 27 tahun mempelajari kota itu. Saya bisa jamin kalau saya sangat mengerti bagaimana Jakarta. Saya khawatir kita tidak berhasil membawa negara ini ke keadaan yang lebih baik. Mungkin akan berbalik ke kondisi orde baru dulu lagi…”ujarnya. Sekilas juga dia mengajukan kritikan soal pekerja, kaum menengah baru yang tidak peduli dan mengejar kenyamanan pribadi, soal komunisme, soal kepemilikan bersama dan bahayanya. Sekali-kali dia memandang ke luar jendela, melihat ranting-ranting pohon yang masih meranggas diterpa musim dingin.

Saat obrolan semakin hangat, saat ZamZam mulai mengajukan hasil-hasil analisisnya tentang pola Pilkada di media, Fakhrizal yang mempertanyakan kemungkinan dan peluang calon independen untuk menang dan Koko Sudarmoko yang muncul dengan gagasan humanisnya untuk memberikan dukungan pada yang lemah (baca: yang bakal kalah), Andri saya lihat beringsut keluar. Dokter yang sedang mendalami masalah orthopedic ini kelihatannya semakin tidak tahan.

“Saya mau jalan ke Amsterdam Kak,”ujarnya berbisik pada saya waktu pamit.

Dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan dia tidak sedang tersinggung karena Marco bicara tentang kelas menengah yang kehilangan kepekaan.

Pertemuan siang itu bukan pertemuan politik. Di ruangan sederhana housing kami itu hanya ada tiga orang yang ber-KTP DKI, itupun belum tentu bisa memberikan suaranya buat memilih Marco. Bagi kami, Marco hanyalah seorang sahabat yang sedang dalam perjalanan. Seorang musafir dengan ide-ide kemanusiaan yang kuat tentu harus ditemani. Dan siapa teman musafir itu kalau bukan musafir yang lain juga? Ya, kami-kami ini, kumpulan orang Indonesia yang sedang mencari ilmu di rantau orang. Yang kalau pulang nanti mungkin akan dikandangkan sebagai kaum kelas menengah. Tapi Marco tidak perlu risau kami akan menjadi kaum menengah ‘kapiran’yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi. Bahkan sekarangpun, saat beasiswa DIKTI yang kami terima tersendat-sendat, kita masih bisa tersenyum bersama.

Adakah konsep yang lebih baik yang bisa Marco tawarkan untuk keadaan Indonesia sekarang? Apakah dengan maju sebagai calon independen gubernur DKI dia bisa memberi warna lebih ‘biru’ buat Indonesia secara rata? Ataukah hasratnya hanya sekedar ingin menentang ambisi kekuasaan Ahok? Tidakkah ini hanya akan menjadi panggung sandiwara, perang Baratyuda saja? saya bertanya-tanya dalam hati. Tetapi kemudian saya terkejut sendiri, adakah keadaan yang lebih baik yang bisa saya tawarkan buat Marco? Bukankah saya tahu dia lapar? Akhirnya, setelah sedikit lewat dari jadwal makan siang, saya putuskan untuk menghidangkan soto yang bergejolak panas itu. Dan dia memang lapar,”Semenjak Rabu hanya makan roti, roti dan keju,”ujarnya setengah berkelakar.

Jam tiga lebih sedikit, Marco berangkat ke stasiun. Ia harus berangkat pukul enam sore, dengan penerbangan Turkish Airlines, yang terbilang nyaman. Di tangannya sudah ada tiket kereta api, yang dibeli di Delft. “Kereta api dan angkatan laut Belanda, adalah dua hal yang menjadi modal besar negara ini yang berhasil dibangun oleh Belanda dari penjajahannya di Indonesia,” begitu gumam terakhirnya.

Sesampai di Jakarta mungkin, ya mungkin, Marco akan teringat diskusi siang itu. Ia akan memikirkan kembali, apakah pencalonannya sebagai gubernur DKI akan dilanjutkan. Ia cukup memiliki pengetahuan dan pengalaman bagaimana menciptakan kota sebagai sebuah arena untuk berbaur, inklusif, akomodatif, sebuah kata kunci: Tanpa ada yang menjadi tumbal pembangunan.

Sampai bertemu kembali Bung Marco, kami senang berkenalan dengan Anda.

*Sebuah catatan ringan tentang kunjungan Marco Kusumawijaya ke Boerhavelaan 144 Leiden Belanda 20/3/2016.

“Padusi” karya Ka Bati: Sebuah novel tentang perempuan di dalam dunia Minangkabau masa kini, diceritakan oleh dua hati dari dua sahabat perempuan.

IMG_4747.JPG

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menanggapi Unjuk-rasa Supir Angkutan Umum pada 14 Maret 2016

Akhirnya memang harus ada yang melakukan unjuk rasa soal angkutan umum online itu. Sebab memang ada soal mendasar di balik penampilan.

Justru karena itu, kita hargai para supir angkutan umum yang unjuk rasa. Kita berterima kasih malah. Melalui unjuk rasa itu demokrasi berpeluang menghasilkan kebijakan yang makin baik, karena berbagai argumen dari berbagai pihak terungkap ke publik.

Pemicu dari unjuk rasa itu adalah soal penggunaan teknologi informasi pada angkutan umum tertentu. Tapi kericuhan ini sebenarnya adalah akibat saja dari akar masalah, yaitu kegagalan kota kita Jakarta membangun sistem angkutan umum yang layak serta berkualitas bagi mayoritas penduduk kota kita Jakarta. Petunjuk paling nyata dari kegagalan itu adalah mahalnya biaya mobilitas yang harus ditanggung oleh warga kota kita Jakarta yang rata-rata berkisar di antara 15% hingga 35% dari pendapatan bulanan. Di kota-kota dunia yang baik, misalnya Hong Kong, Taipei dan Tokyo, biaya itu hanya berkisar antara 3% hingga 8%.

Selain itu, pemerintah juga ternyata gagal mengantisipasi dengan cepat kemunculan teknologi informasi. Seharusnya sudah dibuatkan peraturan-peraturan yang relevan, karena ada jarak waktu cukup panjang antara mulai munculnya masalah ini di perbincangan publik dan sekarang, ketika para supir angkutan itu memutuskan untuk akhirnya unjuk rasa.

Persoalannya mudah dilihat dengan jelas. Ada dua isu dasar yang jelas berbeda, yaitu pemanfaatan teknologi di satu sisi, dan masalah persaingan bisnis di sisi lain.

Tidak dapat dibantah bahwa aplikasi teknologi informasi telah membuat angkutan umum menjadi lebih efisien, antara lain dengan menyingkat idle time. Hal ini harus diakui dan didorong agar pemanfaatannya bahkan diperluas untuk juga diterapkan pada komponen-komponen lain dalam seluruh sistem angkutan umum kita. Ini tak dapat dikeluhkan, tapi harus dielu-elukan untuk justru mendorong efisiensi di kalangan angkutan umum yang masih konvensional. Ini juga dapat dianggap sebagai   kritik konstruktif: Wahai pengusaha taksi konvensional, mungkin Anda mengambil untung terlalu banyak dan/atau tidak efisien, sehingga tersaingi oleh yang memanfaatkan teknologi informasi ini.

Persoalan pajak dan perijinan memang harus diatur. Ini adalah masalah persaingan bisnis biasa. Pemerintah memang harus segera mengatur dengan adil. Juga harus diperhatikan kepentingan warga akan keselamatan serta keamanan. Justru kita heran, mengapa sesudah ada pelarangan yang memiliki dasar hukum yang kuat, tapi lalu kemudian dicabut lagi, pemerintah tidak memanfaatkan waktu sela itu untuk membuat peraturan yang masuk akal.

Sambil pemerintah menyikapi unjuk rasa itu dengan bekerja cepat melakukan pengaturan yang adil, kota kita harus terus dan tetap fokus pada pengadaan sistem angkutan umum yang melayani seluruh wilayah Jakarta dengan layak. Yang paling mungkin dilaksanakan karena pertimbangan pendanaan dan teknis adalah melipatgandakan pelayanan sistem busway (Trans Jakarta). Jalur-jalur utama harus didukung juga oleh jalur-jalur cabang agar makin luas wilayah-wilayah berpenduduk yang dapat dilayani. Berbagai jenis angkutan umum yang sudah ada dapat disertakan secara terpadu untuk menciptakan keseluruhan sistem yang handal dan sesuai konteks bagian-bagian kota yang berbeda. Pada dasarnya tiap modus angkutan memiliki kekuatan dan keterbatasan yang terkait dengan jenis dan wilayah serta jarak pelayanannya. Yang pasti harus ditingkatkan juga adalah fasilitas pejalan kaki, sepeda dan kendaraan alamiah (tak-bermotor) lainnya. Apapun sistem angkutan umum yang kita buat, pejalan kaki dan kendaraan alamiah (tak bermotor) adalah perekat yang harus selalu terakomodasi terbaik dan dinomorsatukan.

Akhirnya, sebagaimana ditunjukkan oleh semua kota dengan mobilitas yang efisien, sistem angkutan umum harus tertata terpadu dengan pengaturan ruang, terutama menyangkut tata guna lahan (land-use) dan kepadatan. Titik-titik henti angkutan umum harus saling mendukung dengan kepadatan pemanfaatan ruang yang sesuai. Tanpa keberanian mengendalikan tata ruang agar saling mendukung dengan sistem angkutan umum, mustahil mobilitas dan kenyamanan umum kota kita dapat tercapai. Di masa Ali Sadikin, sistem “terminal bus” sebenarnya telah mengupayakan keterpaduan itu. Sayangnya hal ini akhirnya rusak oleh birokrasi tidak disiplin, yang bersama dengan politisi, sibuk mencari rente. Penataan ruang yang tidak transparan telah memudahkan korupsi yang makin menjauhkan kota dari potensi baiknya.

Kita perlu terus menerus berharap dan meminta Jakarta lebih cepat, cerdas dan tanggap mengerahkan sumber daya yang cukup untuk membangun sistem angkutan umum yang makin baik dan luas jangkauannya. Suatu pengabaian luar biasa, bahwa apa yang sudah dimulai oleh pemerintah sebelumnya, yaitu sistem busway dan MRT, tidak mendapatkan inisiatif baru yang signifikan dari pemerintahan sekarang.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Reklamasi PELINDO di Depan Kampung Nelayan Kalibaru Merugikan

Kalibaru.jpgKemarin bertemu para nelayan di Kalibaru.

Menurut mereka perluasan Pelindo di depan kampung mereka itu merugikan:
– Mengambil tempat di mana dulu mereka menangkap ikan
– Menghalangi akses langsung mereka ke laut (lihat petanya jelas), karena reklamasi itu persis di depan suatu muara kecil tempat perahu-perahu mreka bertambat.
– Tidak ada perundingan atau akomodasi apapun atas kepentingan mereka. (Pejabat yang diajak berbicara sering/cepat diganti)

Kalibaru adalah asal usul banyak kelompok nelayan di tempat-tempat lain, misalnya Muara Angke yang di pantai barat Jakarta.

Saya heran:
– Ini BUMN. Seharusnya alat negara untuk memakmurkan seluruh rakyat.
– Apa iya lokasinya harus di situ? Inilah terkait proses partisipatif seharusnya. Tiap warga negara yang terdampak langsung seharusnya boleh memberikan pendapat, meminta akomodasi, bahkan menolak suatu proyek yang merugikan mereka.
– Apa iya perluasan itu perlu (dan di situ)? Mengingat seringnya kita dengar BUMN yang tidak efisien, kita perlu menanyakan hal tersebut. Ini lagi soal partisipasi. Bila suatu proyek berdampak kritis terhadap masyarakat, suatu proses patisipatif akan menjadi cara penting untuk kritik dan memangkas inefisiensi (dan mungkin juga korupsi).
– Kalaupun benar itu diperlukan, dan merupakan “kepentingan nasional”, seharusnya juga memperlakukan para nelayan sebagai kepentingan nasional. Apa kepentingan nasional yang lebih penting daripada memakmurkan rakyat dan tidak mempersulit mereka mencari nafkah? Ada banyak cara untuk memenuhi kedua “kepentingan nasional” tersebut secara sekaligus, asal mau repot.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KELAS MENENGAH BARU

Menguatnya (jumlah) kelas menengah baru Indonesia (dan Asia) itu dapat menjadi kekuatan luar biasa:
1. Menjadi bagian dari kekuatan masyarakat sipil, bila punya kesadaran kritis dan luas.
2. Menjadikan kota baik dan nyaman, bila menjadi perantara (intermediary) untuk keadilan dan solidaritas bagi semua.
3. Membantu dunia mendukung kehidupan lestari, bila berkonsumsi dan berproduksi yang ekologis.

Untuk itu mereka perlu didukung dengan kemudahan-kemudahan yang‪#‎RayakanJakarta‬ secara bersama-sama, ekologis dan memberdayakan:
1. Infrastruktur, pelayanan dan fasilitas umum yang menekankan kebersamaan, bukan individual. (Misalnya: angkutan umum, bukan jalan untuk mobil pribadi)
2. Tempat tinggal terjangkau di pusat-pusat kota.
3. Akses ke angkutan umum yang mendekatkan tempat tinggal dan tempat kerja, dan kota (dan segala fasilitasnya) secara keseluruhan.
4. Air minum terolah dalam pipa, bukan sedotan langsung dari dalam tanah.
5. Akses ke pendanaan jangka panjang untuk perumahan dan usaha mandiri.

Apalagi ya?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KAMPUNG KUNIR SEBELUM DAN SESUDAH PENGGUSURAN

 

Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.

12745949_10153961916103708_53894818362065214_n.jpg

Posted in Uncategorized | Leave a comment