HIMBAUAN KEPADA SEMUA ARSITEK DAN PERENCANA

Kita semua tahu diam-diam bahwa hampir semua proyek properti (besar) di Jakarta (dan kota besar lain) itu korup. Begitu juga bahwa setiap gubernur (dan walikota besar) punya kedekatan dengan pengembang tertentu yang berbeda-beda.
Itulah salah sebab terbesar pengrusakan kota kita Jakarta terus menerus.
Terbukanya kasus reklamasi teluk Jakarta ini perlu kita sikapi sebagai titik balik bagi profesi kita:
1. Yang pernah dan sedang terlibat, baik sebagai penasehat dan pejabat di lingkungan pemprov Jakarta maupun di lingkungan pengembang, mari refleksi dan berhenti serta mundur dari praktik-praktik korup secara langsung maupun sebagai pembantu. Jangan malu dan jangan takut tidak bisa dapat rejeki.
2. Mari bantu KPK-RI dengan semua informasi yang kita miliki.
3. Mari beritahu dan ajak teman-teman se-profesi dan nasehati para pengembang. Mari bersaing dengan baik dan ail. Pasar kita besar sekarang: ASEAN.

Ini waktunya kita berperan menyelamatkan kota-kota kita, setidaknya dalam profesi arsitek dan perencana.

Sebaiknya asosiasi profesi seperti Ikatan Arsitek Indonesia dan Ikatan Ahli Perencana bukan hanya tahu dan mawas diri tapi juga melakukan program nyata untuk turut serta membangun bangsa dan negara RI melalui pendidikan dan pencegahan anti-korupsi pada para anggotanya.

Dalam jeratan lingkaran setan, justru tidak mungkin setiap orang menunggu yang lain untuk menjadi yang pertama mengguntingnya. Jadilah yang pertama!

Terima kasih. Semoga kita semua kuat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JAKARTA TIDAK PADAT. TAPI MACET.

 

Density compared to other cities 20140509 - presentation.jpg

Jakarta tidak padat. Gambar di atas menunjukkan luas Jakarta bisa diperkecil bila kepadatannya disamakan dengan kepadatan di berbagai kota yang berbeda. Jakarta tidak sepadat kota-kota itu.

Tapi mengapa kita merasa kok Jakarta padat banget? Bukankah macet tiap saat? Jalan selalu penuh?

Yang dimaksud kepadatan di gambar di atas tentu kepadatan manusia yang tinggal di dalam wilayah kota Jakarta. Yang kita lihat sehari-hari di jalan adalah kepadatan kendaraan di jalan. Jumlah kendaraan bermotor, terutama mobil, di Jakarta juga tidak banyak sebenarnya. Pada tahun 2014 ada 3.226.009 mobil pribadi di Jakarta, atau 327 mobil per 1,000 penduduk, suatu ratio yang hampir sama dengan Singapura. Jangan bandingkan dengan kota-kota di AS, di mana terdapat 700 HINGGA  800 mobil per 1,000 penduduk. Bedanya adalah di Jakarta tiap mobil itu tiap hari jalan terus karena tidak ada angkutan umum yang baik (dan antara lain dipermudah oleh banyak keluarga kelas menengah punya supir). Jadi kepemilikan rendah, tetapi penggunaan tinggi sekali.

Density drop in CBD 20140509 - presentation.jpg

Sesungguhnya kepadatan di pusat kota Jakarta menurun terus karena perubahan penggunaan lahan menjadi komersial. Gambar kedua menunjukkan hal tersebut. Ini juga faktor penambah “kepadatan” kendaraan yang lalu lalang untuk keperluan commuting dari hunian yang makin jauh dari pusat kota, di mana banyak lapangan pekerjaan berada.

Gambar-gambar dari “A Dream for Jakarta” oleh Sander Bakker, Rik Lambers, Mark van den Ouden, Jonathan de Veen (TU Delft, 2013?)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AFTER THE SHARING ECONOMY

https://2016.transmediale.de/content/after-the-sharing-economy

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TUJUAN “SOCIAL ENTREPRENEUR” ADALAH PERUBAHAN SOSIAL, BUKAN BIKIN UNIT USAHA ATAUPUN PERTUMBUHAN EKONOMI.

Tujuan social entrepreneurship (wiraupaya sosial) adalah membuat perubahan sosial, bukan bikin unit usaha, meskipun kadang yang terakhir itu diperlukan sebagai alat.
Social entrepreneurship bukan melakukan kapitalisasi atas modal sosial untuk perubahan (pendapatan) ekonomi, melainkan memanfaatkan teknik bisnis untuk mencari solusi atas masalah sosial.
Social entrepreneurship is the attempt to draw upon business techniques to find solutions to social problems.[1] This concept may be applied to a variety of organizations with different sizes, aims, and beliefs.[2]
Pada tahun 2006 saya menerjemahkan buku David Bornstein, “How to Change the World, Social Entrepreneurs and the Power of New Ideas”, menjadi “Mengubah Dunia, Kewiraushaan Sosial dan Kekuatan Gagasan Baru”.
Waktu itu saya mengusulkan kata “kewiraupayaan” bukan “kewirausahaan”. Tetapi penerbit akhirnya menggunakan kata yang terakhir.
Paling mudah memahami konsep wiraupaya sosial adalah dengan melihat 10 contoh yang dikemukakan oleh David Bornstein. (https://en.wikipedia.org/wiki/David_Bornstein_(author))
1. Fabio Rosa, Brazil: Listrik masuk desa.
2. Florence Nightingale, Inggeris: Sistem keperawatan dan rumah sakit.
3. Bill Drayton, Amerika Serikat: “The bubble”, sistem insentif dan penurunan biaya untuk pengurangan polusi, pendiri Ashoka Foundation.
4. Jeroo Billiomoria, India: Perlindungan anak.
5. Erzsebet Szekeres, Hungaria: “Hidup berbantuan” bagi penyandang kemampuan berbeda.
6. Vera Cordeiro, Brasil: Reformasi pelayanan kesehatan.
7. J.B. Schram, Amerika Serikat: Hak masuk perguruan tinggi.
8. Veronica Khosa, Afrika Selatan: Perawatan bagi penderita AIDS
9. Javed Abdi, India: Undang-undang tentang hak penyandang kemampuan berbeda.
10. James Grant, mantan kepala UNICEF, Amerika Serikat: Vaksinasi universal.
Saya merasa perlu menyampaikan hal di atas karena membaca belakangan ini ada penyimpangan makna social entrepreneur oleh penggiat ekonomi, mirip penyimpangan pada konsep sharing economy.
Kata entrepreneur itu sendiri berasal dari kata kerja entreprendre (Perancis) yang secara jenerik berarti “(berinisiatif) memulai sesuatu”.
IMG_4768.jpg
Posted in Uncategorized | Leave a comment

NEGARA, MODAL, ALAM makin cepat dan sering berubah.

Kota kita akan makin banyak dan sering mengalami “disruption” dan “precarity” (gangguan dan kegentingan).

Waspada selalu. Makin sulit mencapai pencerahan.

Foto: Jalan Purworejo, Menteng, 23 Maret 2016.

10399943_10154063470413708_5887989639111471398_n.jpg

Posted in Uncategorized | 1 Comment

“Jangan sekali-kali menganggap Uber, Grab Car, Gojek dan Grab Bike di Jakarta sebagai sharing economy….” oleh Elisa Sutanudjaja

(Saya mengutip tulisan Elisa Sutanudjaja ini karena ini tulisan lebih baik dari yang lain-lainnya, karena lebih banyak mengandung informasi dan lebih benar mendudukkan perkaranya. Tulisan diambil dari status FB Elisa Sutanudjaja. Klik di sini.)

‪#‎KenaliJakarta‬ edisi ‪#‎sharingwashing‬

Jangan sekali-kali menganggap praktik Uber, Grab Car, Gojek dan Grab Bike di Jakarta sebagai sharing economy apalagi ride-sharing (makin jauh kelaut lagi untuk kasus Jakarta).
Sharing economy adalah prinsip penggunaan aset yang tidak sedang digunakan, tanpa harus bergantung 100% pada utilisasi aset tersebut. Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments

KEDATANGAN MARCO*

12144661_10154056838243708_4421972645886705268_n

Oleh Ka Bati, dari Leiden.

Laki-laki itu datang tengah hari, pada jam makan siang. Postur tubuhnya kecil. Memakai jas warna gelap dengan kancing terbuka, jins coklat muda  dan syal tipis, yang kemudian saya tahu kalau itu tenun ikat Manggarai. Pakaiannya masih terlalu tipis untuk suhu 5 derajat. Hari itu, minggu pertama musim semi di Leiden.

Terlihat penampilannya santai. Kepalanya dipenuhi uban, mungkin tinggal dua puluh lima  persen helai rambutnya yang hitam. Tetapi dia tidak nampak tua dan lelah. Umurnya sekitar lima puluhan. Kabarnya dia datang ke Eropa untuk menghadiri sebuah seminar juga diskusi dengan mahasiswa Indonesia di kota para (calon) teknokrat kuliah, Delft.

“Saya Marco,”ujarnya sambil mengulurkan tangan pada Aditya yang menunggunya di pintu. Suaranya terdengar berwibawa dan ramah.

Sebentar saya berhenti membalik-balik lumpia di penggorengan dan beranjak pula ke depan pintu.

“Hai!”saya menyapa sambil mengulurkan tangan.

Dia melongok melihat ke arah dapur. Wajahnya menyiratkan rasa lapar yang ditahan-tahan. Saya mengerti, bagaimana rasa lapar disembunyikan oleh orang-orang dan bagaimana persembunyian rasa itu bisa saya tangkap dengan baik. Saya membiarkannya melirik sekilas ke arah wajan berisi kuah soto yang menggelegak. Sebagai juru masak, hal yang paling membahagiakan saya adalah bertemu orang yang sedang lapar. Apa lagi yang lapar itu adalah Marco Kusumawijaya.

Tentu tidak perlu saya jelaskan panjang lebar siapa Marco. Google atau mesin pencari ‘info’lainnya sudah bicara banyak tentang itu. Seorang aktifis, jurnalis, penulis, urbanis dan yang terhangat adalah bakal calon gubernur DKI dari jalur independen, musuh Ahok!

“Mana ini tuan rumah,”ujarnya sambil terus berjalan masuk ke ruang tamu. Saya diam saja. Tetap di dapur. Saya pikir, saya tidak perlu menjelaskan apapun padanya, juga untuk menjawab pertanyaannya soal tuan rumah. Dia seorang arsitek yang jeli. Saya tahu, dia akan segera paham siapa tuan, siapa tamu dan siapa pembantu di rumah ini.

Di ruang tamu ada Gamal yang sedang gelisah. Dengan potongan rambut yang semrawut, ketua PPI Leiden itu, tetap kelihatan gagah, itu pula berkat tuhan buat dia. Masalahnya memang agak berat, tim futsal PPI Leiden sore sebelumnya baru saja kalah bertanding di laga Eindhoven Cup, padahal ini tim andalan dan kebanggaan kami. Selain itu, bapak kami semua, Ibrahim Isa, seorang eksil dan senior di Perhimpunan Persaudaraan baru meninggal empat hari yang lalu (16/3/2016), untuk ini duka masih kuat menyelimuti.   Tadinya Gamal yang menjemput Marco ke stasiun. Tapi, karena pada jam yang sama dia ada janji menghadiri acara alumni AFS di Den Haag, dia ingin segera pergi. Itulah yang membuatnya resah dan gelisah.

Selain Gamal ada seorang lain yang sedang gelisah, Andri, mahasiswa kedokteran yang sedang magang di LUMC. Dia tidak suka perkumpulan, apa lagi pembicaraan soal politik. Dan Aditya, seorang peneliti hewan laut yang sibuk bolak balik dari dapur ke ruang tamu. Saya tahu dia tidak begitu mengerti apa dan siapa Marco, dia hanya berperan sebagai penyambut tamu. Selebihnya adalah tiga orang pakar linguistic, Nazar, Jermy, dan Arum. Seorang sosiolog, Kang Hari. Calon ahli hukum tata Negara, Fakhrizal. Dua orang analis media Zamzam dan Julia. Seorang peneliti lingkungan, Mbak Raini. Julinta, seorang arsiparis. Dian seorang dokter dari Makassar.

Sambil terus melihat kuah soto yang bergejolak– tanpa isi, hanya kuah—saya diam-diam menyimak, apa yang diperbincangkan orang di ruang tamu.

Ya, tentu saja selalu ada basa basi soal cuaca, kesehatan yang agak terganggu pada saat perubahan musim dan kisah-kisah lucu seputar rasa kaget pada musim yang berubah. Kisah-kisah lucu orang Indonesia yang salah kostum atau tentang salju yang semakin langka. Walaupun sebetulnya Eropa bagi Marco bukan daerah baru, karena dia pernah sekolah arsitektur dan tinggal beberapa lama di Belgia pada awal tahun 1990-an.

Saya tahu, waktunya untuk singgah di rumah ini tidak lama. Jam tiga siang, dia akan berangkat ke bandara dan terbang ke Indonesia. Mestinya saya segera menghidangkan makanan. Tapi, entah mengapa, saya enggan mengakhiri kerja dapur. Saya ingin soto itu ada di tungku lebih lama. Dan lumpia di penggorengan juga tidak cepat menyuning. Sesungguhnya saya hanya  ingin dia lebih lama ngobrol di ruang tamu. Lebih banyak bercerita soal kekinian di Indonesia, soal gagasannya tentang kota dan masyarakat urban.

Belasan tahun sebelumnya saya sudah mengenal Marco. Saya membaca tulisannya di Koran-koran, juga membeli bukunya. Bagi saya idenya menawarkan pencerahan, semisal mempertahankan ke-kuno-an dalam ke-modern-an. Ini semacam pengakuan akan eksistensi, menerima yang baru tanpa mengabaikan yang usang. Tidak egosi, tidak fasis.

Tentu saja Marco bukan orang pertama yang menulis dan berbicara soal toleransi, pluralisme dan HAM di Indonesia. Sebelum Marco sudah ada Romo Mangunwijaya yang juga seorang arsitek humanis. Romo Mangun sepertinya banyak mempengaruhi pemikiran mantan ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) periode 2006-2010 ini. Sekali lagi, Marco hanya salah seorang saja dari sedikit arsitek/budayawan Indonesi yang ada saat ini. Istimewanya, sekarang Marco berada di pusaran kekuasaan. Dia dikenal oleh Jokowi, presiden kita. Katanya ia pernah membawa Jokowi, yang waktu itu baru setahun menjadi walikota Solo, untuk bicara di depan ketua-ketua dewan kesenian se-Indonesia.

Setelah meneguk kopi Sumatra yang saya hidangkan dan mencomot sebiji goreng tempe yang dibawa Arum, Marco mulai bicara tentang Indonesia dengan hati-hati. Tentu saja dia sadar kalau yang ada di ruangan itu bukan orang-orang yang biasa dan bisa dikibuli. Tapi dia tidak bisa menutupi kegelisahannya tentang kondisi Negara yang terancam oleh sikap-sikap oportunistik dan masa bodoh kaum menengah, sikap fasisme para pemimpin politik, pragmatism   dan ancaman kapitalisme dan liberalisme. Sepertinya hidup penuh ancaman, tapi pembawaan Marco tidak seperti orang yang sedang terancam. Dia terlalu kuat untuk mengalah. Dia orang kota, dia orang Jakarta.

“Saya 25 tahun tinggal di Jakarta dan telah 27 tahun mempelajari kota itu. Saya bisa jamin kalau saya sangat mengerti bagaimana Jakarta. Saya khawatir kita tidak berhasil membawa negara ini ke keadaan yang lebih baik. Mungkin akan berbalik ke kondisi orde baru dulu lagi…”ujarnya. Sekilas juga dia mengajukan kritikan soal pekerja, kaum menengah baru yang tidak peduli dan mengejar kenyamanan pribadi, soal komunisme, soal kepemilikan bersama dan bahayanya. Sekali-kali dia memandang ke luar jendela, melihat ranting-ranting pohon yang masih meranggas diterpa musim dingin.

Saat obrolan semakin hangat, saat ZamZam mulai mengajukan hasil-hasil analisisnya tentang pola Pilkada di media, Fakhrizal yang mempertanyakan kemungkinan dan peluang calon independen untuk menang dan Koko Sudarmoko yang muncul dengan gagasan humanisnya untuk memberikan dukungan pada yang lemah (baca: yang bakal kalah), Andri saya lihat beringsut keluar. Dokter yang sedang mendalami masalah orthopedic ini kelihatannya semakin tidak tahan.

“Saya mau jalan ke Amsterdam Kak,”ujarnya berbisik pada saya waktu pamit.

Dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan dia tidak sedang tersinggung karena Marco bicara tentang kelas menengah yang kehilangan kepekaan.

Pertemuan siang itu bukan pertemuan politik. Di ruangan sederhana housing kami itu hanya ada tiga orang yang ber-KTP DKI, itupun belum tentu bisa memberikan suaranya buat memilih Marco. Bagi kami, Marco hanyalah seorang sahabat yang sedang dalam perjalanan. Seorang musafir dengan ide-ide kemanusiaan yang kuat tentu harus ditemani. Dan siapa teman musafir itu kalau bukan musafir yang lain juga? Ya, kami-kami ini, kumpulan orang Indonesia yang sedang mencari ilmu di rantau orang. Yang kalau pulang nanti mungkin akan dikandangkan sebagai kaum kelas menengah. Tapi Marco tidak perlu risau kami akan menjadi kaum menengah ‘kapiran’yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi. Bahkan sekarangpun, saat beasiswa DIKTI yang kami terima tersendat-sendat, kita masih bisa tersenyum bersama.

Adakah konsep yang lebih baik yang bisa Marco tawarkan untuk keadaan Indonesia sekarang? Apakah dengan maju sebagai calon independen gubernur DKI dia bisa memberi warna lebih ‘biru’ buat Indonesia secara rata? Ataukah hasratnya hanya sekedar ingin menentang ambisi kekuasaan Ahok? Tidakkah ini hanya akan menjadi panggung sandiwara, perang Baratyuda saja? saya bertanya-tanya dalam hati. Tetapi kemudian saya terkejut sendiri, adakah keadaan yang lebih baik yang bisa saya tawarkan buat Marco? Bukankah saya tahu dia lapar? Akhirnya, setelah sedikit lewat dari jadwal makan siang, saya putuskan untuk menghidangkan soto yang bergejolak panas itu. Dan dia memang lapar,”Semenjak Rabu hanya makan roti, roti dan keju,”ujarnya setengah berkelakar.

Jam tiga lebih sedikit, Marco berangkat ke stasiun. Ia harus berangkat pukul enam sore, dengan penerbangan Turkish Airlines, yang terbilang nyaman. Di tangannya sudah ada tiket kereta api, yang dibeli di Delft. “Kereta api dan angkatan laut Belanda, adalah dua hal yang menjadi modal besar negara ini yang berhasil dibangun oleh Belanda dari penjajahannya di Indonesia,” begitu gumam terakhirnya.

Sesampai di Jakarta mungkin, ya mungkin, Marco akan teringat diskusi siang itu. Ia akan memikirkan kembali, apakah pencalonannya sebagai gubernur DKI akan dilanjutkan. Ia cukup memiliki pengetahuan dan pengalaman bagaimana menciptakan kota sebagai sebuah arena untuk berbaur, inklusif, akomodatif, sebuah kata kunci: Tanpa ada yang menjadi tumbal pembangunan.

Sampai bertemu kembali Bung Marco, kami senang berkenalan dengan Anda.

*Sebuah catatan ringan tentang kunjungan Marco Kusumawijaya ke Boerhavelaan 144 Leiden Belanda 20/3/2016.

“Padusi” karya Ka Bati: Sebuah novel tentang perempuan di dalam dunia Minangkabau masa kini, diceritakan oleh dua hati dari dua sahabat perempuan.

IMG_4747.JPG

Posted in Uncategorized | Leave a comment