Membayangkan Kembali suatu Commons

Terjemahan dari Abdoumaliq Simone: Jakarta, Drawing the City Near (University of Minnesota Press, 2015), halaman 261-267. (Garis bawah dari penerjemah, Marco Kusumawijaya).

 

Kesimpulan
Membayangkan Kembali suatu Commons*

Pemikiran perkotaan akhir-akhir ini menempatkan tekanan besar pada gagasan commons perkotaan. Ketika segala jenis ruang dinilai terutama sebagai aset keuangan, tekanan pada commons ini mencoba membuka ruang agar dapat dimanfaatkan oleh rentang guna dan pelaku yang lebih beragam. Commons bukanlah sekedar kumpulan barang-barang, bukan hanya bangunan dan prasarana, dengan beragam gunanya, yang dipakai secara bersama-sama oleh semua penghuni, bukan pula hanya ruang khalayak spesifik dalam daftar kawasan hijau, alun-alun dan fasilitas. Commons bukanlah suatu kumpulan beragam barang publik yang dalam beberapa dasawarsa belakangan ini telah diswastakan atau dijadikan obyek pengawasan intensif dan sandi-sandi yang membatasi akses. Alih-alih, makna commons terletak pada penggunaan ruang, budaya masyarakat sipil, dan prasarana sebagai proses menyelaraskan beragam jalan hidup sehari-hari perkotaan yang sering bertentangan. Dengan kata lain, commons adalah semacam orkestra yang menjalin kecenderungan penghuni kota membedakan diri satu dari yang lainnya, mengembangkan cara berlaku dan aspirasi tertentu serta khusus, dan bersaing satu dengan yang lainnya dalam mendapatkan sumber daya, tetapi juga dalam menemukan cara untuk hidup bersama, memadukan perbedaan-perbedaan menjadi tujuan dan praktik yang saling melengkapi.

Kegiatan membina commons di tahun-tahun belakangan ini telah dicanangkan menjadi pendudukan kembali ruang-ruang perkotaan tertentu dan lalu memanfaatkan pendudukan itu sebagai eksperimen menghidupkan khalayak dengan berbagai cara, membangun mekanisme bagi terciptanya inklusivitas nyata bagi penghuni kota yang sudah lama terbiasakan dengan hirarki dan pertimbangan istimewa atas kebutuhan-kebutuhan tertentunya. Kadang ada anggapan bahwa semata-mata menduduki ruang akan menjadikan ruang itu commons. Meskipun pendudukan demikian itu suatu langkah penting dalam membina commons perkotaan, sering terlalu mudah menganggap solidaritas dengan sendirinya akan datang menyusul.

Sebagaimana kerap diulang oleh para pengeritik Indonesia, Jakarta itu suatu kota yang dengan menyedihkan kekurangan ruang khalayak. Namun, bagi suatu kota yang ditengarai tidak terbiasa dengan berkumpulnya khalayak ramai, Jakarta menunjukkan kelimpahan penampakannya tiap kali ada kesempatan. Saya telah mencoba menekankan dalam buku ini kemampuan penduduk Jakarta dalam membentuk modalitas kebersamaan yang berhasil dalam kondisi-kondisi yang sudah lama bercirikan hal-hal yang bertentangan dengan commons pekotaan. Melalui perjuangan keras take-and-give, adaptasi dan penyesuaian sedikit demi sedikit, dan melalui kecanggihan pemanfaatan lingkungan material, banyak penghuni Jakarta telah membangun hubungan kerja di antara sesama mereka. Semua ini kerap jauh dari solidaritas yang sempurna, tetapi tetap berhasil menjaga tampilnya kehidupan beragam latar belakang, membuat semuanya menjadi kepingan-kepingan kolaborasi yang lebih besar, jikapun kebanyakan bersifat sementara. Untuk keperluan memahaminya, saya telah menganggap penghuni kota ini sebagai suatu “mayoritas kota”–suatu kekuatan besar dalam membuat kota terus mengada di antara batas-batas konvensional ruang dan kuasa. Tak masalah betapapun tentatif dan tak sempurna, upaya-upaya itu bagaimanapun menyatakan sesuatu yang penting tentang commons perkotaan seagai suatu proses latihan terus menerus, sebagai sesuatu yang harus terus dipelihara dan dibentuk.

Pencapaian-pencapaian Jakarta ini penting terutama mengingat cara kerja kapitalisme finansial mencoba membentuk begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari melampaui keperluan-keperluan interaksi dan negosiasi sosial. Sebagaimana ditekankan berulang kali oleh teoris dan aktivis Franco Berardi (2009), modal finansial bukan semata tentang bentuk eksotik nilai tukar; ia juga tentang elaborasi bahasa matematis sebagai cara primer membaca dunia, menilai apa yang penting, dan membuat keputusan. Keteguhan efektivitas dikeluarkan dari dunia pertimbangan sehari-hari yang berantakan dan dijadikan sebagai kalkulasi probabilitas, penyaringan algoritmik atas kumpulan data makin masif yang meletakkan pelaku manusia sebagai sistem sandi dan profil yang dapat dioperasikan. Dalam keadaan demikian, kegentingan bukan saja sekedar peningkatan informalisasi tenaga kerja, tetapi juga pencerabutan kemampuan rakyat untuk menghendaki dan membayangkan cara-cara mengada bersama, cara-cara saling merasakan empati. Bagi Berardi, hal penting dari commons kota adalah kemampuannya untuk menghidupkan kembali cara-cara warga dapat membayangkan bertindak bersama, karena tindakan bekerja sama tidak mungkin terjadi kecuali peserta potensialnya dapat mencita-citakan kerjasama tersebut, membayangkannya, merasakan garis besarnya perlahan mulai terbentuk. Sebagian besar dari upaya ini, dengan demikian, adalah menjalani hidup di antara benda-benda, orang-orang, siituasi-situasi, dan bahan-bahan yang tidak nampak sejalan, menggunakan penghunian itu sendiri sebagai perangkat yang menjaga hal-hal tetap dalam kedekatan yang terjangkau. Unsur-unsur yang yang selaras tidak perlu dipadukan dalam satu perspektif menyeluruh, tetapi mereka harus cukup terhubungkan agar dapat saling memperhatikan, agar siap tersedia untuk penggunaan-penggunaan berbeda.

Praktik-praktik di Jakarta yang telah saya beri tekanan adalah upaya-upaya berkesinambungan dalam menghidupkan imajinasi sosial demikian di atas. Sementara dalam banyak kasus imajinasi demikian itu mungkin saja didorong semata-mata oleh fakta bahwa penghasilan dan kepastian hidup tidak mencukupi bagi rumah-tangga untuk mandiri, untuk hidup dalam dunia masing-masing yang terpisah, bahkan ketika kerjasama umumnya termotivasi oleh kepentingan masing-masing, hal itu hanya efektif bilamana orang membayangkan sebentuk kerja bersama. Kesimpulan yang saya ingin tarik adalah vital, jikapun tidak mencukupi. Warga kota dapat berbuat lebih banyak apabila ada pemerintah kota dan nasional yang mendukung di belakangnya. Meskipun memang mengherankan bahwa mereka telah mampu berbuat banyak, mengingat banyak contoh lembaga publik Indonesia telah bertindak bertentangan dengan tujuan kesejahteraan penduduk Jakarta, masa panjang pengabaian telah menjadi norma, menciptakan kekosongan-kekosongan tang dimanfaatkan dan diduduki warga dengan cara-cara yang tak terpikirkan oleh yang berwenang itu. Apa yang telah dilakukan warga mengikuti logika yang memang harus berbeda dari apa yang lembaga-lembaga pemerintah kota dapat pikirkan dan laksanakan atas dasar kewajibannya sebagai penyedia menyeluruh atas suatu kawasan yang ditentukan sendiri.

Walaupun proses swabangun dan swakelola masyarakat cenderung dilihat sebagai pengganti atas pengabaian tanggung-jawab negara, warga telah melakukan sangat banyak apa yang tidak mampu dilakukan oleh negara. Hal ini tidak berarti negara harus dilepaskan dari tanggung-jawab melakukan kewajiban yang menjadi tujuan pendiriannya. Sebagaimana telah saya tekankan berulang kali, upaya warga membangun hunian, prasarana, pelayanan, lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan umum sering tidak maju kemana-mana, tapi “kegagalan-kegagalan” ini tidak mencegah warga untuk terus mencoba. Proses mencoba ini, kadang dengan hasil terbatas, menunjukkan adanya keyakinan dari warga terhadap sesama warga lain, dan terutama sekali keyakinan warga terhadap kota. Kota adalah dunia yang selalu berubah bentuk dan tak terduga, sesuatu yang tidak akan selalu mendukung Anda atau melawan Anda; ia adalah sesuatu yang tidak bisa dijinakkan oleh pemahaman atau formula rutin atau tertentu. Karena itu, bahkan ketika hal-hal berjalan baik dan warga dengan satu atau lain cara berhasil membanggakan sejarah, perspektif, dan aset mereka masing-masing yang berbeda-beda, mereka tidak dapat berpuas diri. Sebaliknya pun dapat terjadi–kali berikut, mungkin, hal-hal akan berbeda. Kota ini sesuatu yang sulit dikenali, sulit dipegang, tetapi ia juga memberikan sesuatu untuk diolah terus oleh warga, meskipun dengan sumber daya terbatas.

Banyak analisis atas hubungan antara neoliberalisme dan kehidupan kota dalam dasawarsa terakhir telah dengan tajam menunjukkan bagaimana transformasi kota menjadi kepingan-kepingan kantong-kantong kawasan swasta premium telah dibantu oleh proses menguapnya kelenturan (flexibility) dan kelentingan (resilience). Kehidupan kota, mulai dari kerja hingga sekolah hingga ibadah hingga waktu senggang untuk melibatkan diri dalam masyarakat, telah direkayasa untuk mengalir bersama hentakan-hentakan dan berganti persneling terus menerus, tetapi alih-alih menegaskan keyakinan diri masing-masing, kemampuan ini menyebabkan munculnya rasa takut dan ketidakmampuan yang makin menjadi. Tanggung jawab mandiri untuk mengelola naik turun kehidupan yang pada dasarnya harus disiapkan untuk hal apapun telah melekat dalam benak kebanyakan penduduk kota, dan prakarsa kolektif yang padanya banyak penduduk kota bergantung untuk membuat kota berfungsi bagi mereka, telah ternoda dua kali. Sebagian besar lembaga-lembaga kota tidak mengerti apa yang sedang berkembang di masyarakat dan bahkan sering terancam oleh tindakan-tindakan mereka, dan semua usaha itu sekarang terlalu mudah dilihat sebagai tanda-tanda keterlibatan dalam peruntuhan barang publik dan nilai sosial.

Menekankan bahwa prakarsa warga adalah vital tapi tidak mencukupi berarti mengulang kembali kebutuhan akan keserempakan dalam mengembangkan berbagai ruang bagi berlangsungnya praktik-praktik yang menuruti cara pikir yang berbeda-beda. Sementara memang ada contoh program pemerintah kota berusaha menarik partisipasi luas warga kota dalam perencanaan dan pembuatan keputusan, yang saya maksud di sini bukanlah kemitraan yang megah, bukan pula dirangkulnya kegiatan-kegiatan masyarakat menjadi suatu kerangka kerja yang dirincikan dan dikelola oleh lembaga publik. Keterlibatan demikian dan upaya-upaya gabungan ini penting, tetapi sama pentingnya adalah juga cara-cara penghuni kota mampu mencoba berbagai skenario, cara berbeda-beda dalam saling mengkaitkan kehidupan, sumber daya, waktu, usaha, dan pengetahuannya yang memiliki atau tidak memiliki sasaran-sasaran yang jelas, yang bisa tahu atau tidak tahu arah tujuannya.

Yang terungkap di antara warga di berbagai tempat berbeda mungkin memiliki dampak yang sukar diperkirakan, tetapi sering menjadi mekanisme penting untuk menyaling-hubungkan ruang dan pelaku yang jauh berbeda. Kerapkali upaya-upaya lokal tetap lokal, dan di kali lain menyebar seperti api liar; pada tiap kasus, mereka mengungkapkan sesuatu yang penting tentang sirkuit arus informasi dan kekuatan daya tarik serta kendala. Sementara lembaga-lembaga kota harus melakukan survei demografis, analisis untung-rugi, dan perhitungan politiknya tentang kebijakan apa yang akan “lepas landas” atau ditolak, ada artikulasi pada lapisan lain yang mengarah kepada bidang-bidang yang mengandung keterhubungan yang membuahkan hasil atau keterputusan yang persisten. Memerintah dengan adil dan efisien tetaplah suatu keharusan, tetapi memerintah dengan baik berarti lebih daripada sekedar mewajibkan dan melarang. Memerintah dengan baik harus mencakup juga membantu menciptakan kesempatan-kesempatan untuk keseluruhan kota–penduduknya, kebutuhannya, problemnya, potensi dan sumber dayanya–memiliki keterkaitan nyata dengan kehidupan rakyat dan ruang-ruang yang diuliknya serta tempat mereka bekerja. Adanya kota berarti membuat ruang pertimbangan dan kesempatan lebih luas tersedia bagi mereka yang, melalui upayanya sendiri, mencoba menjadi bagian dari ruang yang lebih luas ini. Tanda “setengah jalan” bisa selalu bergeser, bahkan ketika struktur-struktur formal dirancang untuk mempertemukan upaya-upaya yang saling mendukung, dan lembaga-lembaga kota harus terus menerus memancarkan rasa keadilan yang tidak mudah diubah sesuai dengan acuan-acuan pasti namun dapat diterapkan di wilayah-wilayah berbeda di keseluruhan kota.

Kisah-kisah Jakarta yang disajikan di sini menggambarkan kesudian para warga untuk hidup di tengah perbedaan-perbedaan selama perbedaan dalam rupa tidak mengandaikan perbedaan dalam nilai. Ada yang secara luas dirasakan bersama, yaitu bahwa kota itu rumit dan bahwa, sebagaimana dalam Islam, keadilan terletak umumnya pada niat, pada proses untuk berjuang menjadi adil. Rakyat kadang mampu hidup dengan perbedaan status dan penghasilan selama kehadiran rumah tangga yang lebih kaya tidak menghalangi kehadiran yang lain. Dalam perbincangan kami dengan warga dengan banyak latar belakang berbeda, jelas bahwa Jakarta layak mendapatkan perhatian. Dengan kata lain, ada sesuatu dalam kehidupan sehari-hari kota ini yang penting untuk diikuti dan terlibat dengannya, dengan segala banting-tulang dan suara pekaknya yang tak tertandingi. Warga tidak keberatan beberapa langkah salah, sedikit waktu tersiakan, karena mereka dapat belajar banyak dari keterlibatan bolak-balik ke dalam dan keluar dari kejadian sehari-hari. Kota itu suatu dunia yang kaya pada dirinya sendiri, sekalipun dengan lapisan-lapisan tersembunyi dan tak tembus pandang, main kucing-kucingan dengan berbagai pihak berkuasa, dan semua manipulasi yang dimainkan. Perlahan-lahan minat ini telah surut pada banyak warga yang sekarang menemukan bahwa transaksi yang diperlukan untuk mengurus kehidupan sehari-hari dalam kawasan-kawasan yang sangat bercampur ternyata terlalu menyita waktu da tenaga. Dengan meningkatnya profesionalisasi angkatan kerja, kenaikan dalam daya beli, dan diterimanya imajinasi yang lebih baku atas status kelas menengah, beberapa warga yang mampu telah pindah ke lingkungan hunian yang lebih homogen. Mereka kerap mengaku bahwa mereka pindah agar dapat memberikan perhatian kepada dunia yang lebih luas, suatu dunia yang nampak lebih layak diperhitungkan daripada perilaku jorok, gosip yang terus menerus, performance yang makin bergaya, dan pembauran rumit antara hal rutin dan perhatian yang menjadi ciri kehidupan pusat-kota.

Sesungguhnya, penduduk kota makin terdorong untuk mengalihkan perhatian mereka ke dunia arus informasi, rantai komoditas, siaran media, tularan budaya, dan kekuatan-kekuatan yang melampaui kota, yang lebih luas. Karena ekonomi kota sendiri makin terbuka terhadap dunia transaksi dan peristiwa yang lebih luas, maka demikian jugalah rentang perhatian dari mereka yang hidup di dalamnya. Mereka akan mencari celah-celah dan spesialisasi dalam arena yang lebih luas ini; mereka akan makin fokus pada proses-proses yang terus menerus dalam memantaskan dan menyesuaikan diri. Pada akhirnya banyak yang akan mampu mengarungi berbagai belahan dunia dengan efektif. Tetapi, sesuatu juga hilang dalam proses memalingkan diri dari Jakarta sebagai sesuatu yang penting pada dan dalam dirinya. Meskipun kehidupan sehari-hari dalam suatu kawasan dapat menjadi terasa sesak, ada semacam rasa tidak lengkap, bahwa sesuatu yang lain dapat juga dibuat, dan warga sangat jauh terarahkan kepada kemungkinan ini. Demi kelangsungan hidup di suatu tempat, orang harus melatih kemampuan baru, versi baru dirinya, dan melakukan hal demikian tanpa peta jelas tentang kemana mereka mungkin menuju.

Mereka harus mempertahankan serentang lebar kenangan dan cara-cara melakukan hal-hal agar dekat kepada mereka, dan kedekatan ini terpateri ke dalam kota itu sendiri, yang menjadi sebab saya mengembangkan gagasan tentang suatu Selatan-dekat (near-South). Di sini setiap hal dijaga agar “dekat”: modernitas, kolonialisme, pasca-kolonialisme, neokolonialisme, informalitas, translokalitas, pembangunan dan keterbelakangan–semua label yang tidak benar-benar memadai untuk melibatkan perbedaan-perbedaan dan keserupaan-keserupaan antarkota. Mereka dibiarkan ternampak, tidak dibuang atau direndahkan, tetapi juga tidak sepenuhnya relevan atau dapat dimanfaatkan.

Makna dari kapasitas demikian untuk kajian perkotaan bukanlah terutama pengulangan konteks atau yang spesifik tempatan, bukanlah terutama pemahaman tentang bagaimana proses urbanisasi global meninggalkan jejak dalam lingkungan tertentu atau bagaimana bagian-bagian berbeda kota dapat dibandingkan dalam rangka dinamika perubahan tertentu. Melainkan, kemampuan melihat dunia kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar di dalam keterbatasan yang melingkupi kawasan-kawasan kota. Ini bukan penegasan kerangka teori tertentu atau bagaimana kapitalisme global menyusup ke dalam pori-pori dan metabolisme kerja sehari-hari. Meskipun semua ini merupakan titik-titik perhatian analisis yang penting, kisah-kisah Jakarta ini memiliki sesuatu yang lain untuk ditawarkan: suatu kepahaman tentang apa yang kota-kota masih dapat capai—yaitu suatu rasa akan vitalitas yang berdasarkan pada pengulikan ruang-ruang dan praktik-praktik yang dapat mengambil manfaat maksimal dari perbedaan-perbedaan dan sumber daya yang bersinggungan dengan mereka.

Kisah-kisah Jakarta yang disampaikan di sini tidak meminta orang kembali ke tekstur-tekstur setempat yang diperkaya atau fokus hanya pada kekinian dan kesinian tempat mereka berada. Melainkan, kisah-kisah ini mengarah kepada segala hal yang masih dapat diciptakan dari apa yang sudah ada, dan bagaimana apa yang sudah ada ini terbuka terhadap, dan siap untuk, masa depan. Mereka menunjukkan bagaimana para penghuni kawasan-kawasan di dalamnya tidak mencoba menstabilkan diri mereka sendiri dalam kerangka prosedur dan sandi-sandi yang spesifik, melainkan mendorong dirinya mengarahkan naik-turun dan ketidak-pastian yang tak terhindar dari suatu kemajemukan upaya-upaya perorangan serta rumah tangga dalam cara-cara yang memberi ruang untuk bergerak sambil tetap menjaga hubungan antar setiap orang, kalaupun tidak selalu berhubungan.

Penghuni kota dengan beragam latar-belakang mungkin makin terbebani oleh, makin tak pasti akan, makin membiarkan, atau makin disibukkan oleh kepentingan-kepentingan perorangan. tetapi kemendesakan Jakarta bukanlah semata tentang hal-hal yang tentu saja memerlukan perbaikan, dan bahwa itu mungkin sekali tak dapat diperbaiki lagi. Kemendesakannya adalah juga bahwa kemajemuan proposisi, keterampilan, kecenderungan, dugaan-dugaan, dan keyakinan-keyakinan tetap tak tersalurkan meskipun mereka digunakan setiap hari. Ini bukan soal merayakan informalitas, bukan soal mengangkat ke permukaan hal-hal yang tertekan. Ini adalah tentang menemukan kembali jalinan hubungan-hubungan yang canggih dari bagaimana hal-hal menjadi pembentukan kota baru yang sedang muncul, suatu kota yang lebih inklusif dan yang memaksimalkan keberdayaan penghuninya, yang menunjukkan cara-cara baru untuk lembaga-lembaga berhubungan secara kongkrit dengan konstituennya dan untuk praktik-praktik para warga agar dapat mencerdaskan kerja lembaga-lembaga itu. Pada akhirnya, ini hanyalah prosedur-prosedur kota ini, prosedur-prosedur suatu kota yang mencoba mewujudkan dirinya melalui tak lain kehidupan dari mereka yang menghidupinya, sehari-hari setiap hari.

*Commons. Saya belum menemukan kata Indonesia yang tepat untuk commons. Goenawan Mohamad pernah menggunakan kata “bebrayan” (Jawa).  Ada kata Sunda “babarayaan” yang bermakna “persaudaraan” yang bisa saja bermakna perluasan dari hubungan kedarahan (saudara). Mohon bantuan pembaca, kalau merasa menemukan kata yang lebih tepat.

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Good City Indicators

Here are my indicators to evaluate how good a city is: Continue reading

Posted in Arts, governance, Urban Life | Leave a comment

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 19,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 7 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

IRAMA POLITIK

Tiba-tiba menyadari sesuatu yang sederhana.

Suatu komunitas yang selama ini didampingi Rujak Center for Urban Studies meminta developer membangun saluran di kompleksnya, mendapat tanggapan kilat dari gubernur, sesudah perjuangan selama 5  tahun! Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

People-driven Reconstruction in post-tsunami Aceh

A documentary of our contribution.

https://m.youtube.com/watch?v=AWCyeJNChYA

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KJS, KJP dan Rusun Sewa atau Rusun Milik?

Dua hari berturut-turut mengunjungi warga Pluit, Warakas dan Kampung Duri mendapat kisah tentang masalah KJS, KJP dan rusunawa dari yang langsung mengalami. Rupa-rupanya sejauh ini identifikasi masalah benar, tapi solusinya salah.

Kata seorang warga: “Pendidikan itu semestinya memang gratis. Anak sekolah cukup bawah badan aja. Tak perlu diberi uang buat beli ini itu lagi. Yang penting sekolahnya, termasuk buku dll, benar-benar gratis. Kalau sekolah korupsi kan kepala sekolahnya bisa dipecat, karena ia suatu lembaga. Kalau warga perorangan salah, mana bisa dipecat? Cuma bisa dimarahi dan dihina-hina doang.”

Rusun Sewa juga tak masuk akal. Mau jadi seberapa besar Dinas Perumahan? Dinas yang makin besar karena harus mengurus makin banyak unit sewa tidak konsisten dengan keinginan berantas korupsi. Apalagi kalau cuma dua tahun, tak ada “security of tenure” yang disyaratkan hak ecosoc. Bagi yang suka mengikuti penelitian di bidang perumahan untuk kaum miskin kota, sudah jelas semua studi menunjukkan rusun sewa tak pernah sukses. Yang saya tak jelas juga apakah rusun-rusun itu dibangun dengan dana CSR? Kalau demikian, seharusnya menjadi milik masysrakat, bukan milik pemerintah yang disewakan kepada warga.

Rusun Milik memang menyaratkan kemampuan pengendalian dan pengelolaan oleh masyarakat sendiri. Tapi ini justru tujuan pembangunan yang sebenarnya: sekaligus memupuk modal sosial masyarakat dengan membantu mereka menjadi mampu mengelola huniannya secara kolektif. Memang akan bikin repot. Tapi sejauh pengalaman saya hal itu sangat mungkin dilakukan, dan harus, serta sudah dilakukan di banyak negara, karena merupakan solusi pada akarnya.

Kita memang perlu hati-hati dengan kebijakan populis. Kita juga harus mau repot bila ada solusi yang lebih tepat, karena membangun sebenarnya berarti membangun kemampuan warga.

Sedang dari Forum Warga Pluit yang menolak jalan layang non tol menuju pulau reklamasi saya belajar bahwa banyak prosedur pembangunan dilanggar. Ijin-ijin belum ada, pembangunan dilakukan. Warga juga dilecehkan karena meminta informasi (yang dimaksudkan untuk menjamin supaya bencana tidak terjadi atas mereka) tidak diberikan dengan hormat. Pengawas pemerintah yang paling baik itu ya warga yang terkena dampak langsung itu sendiri. Tak ada yang lebih baik. Maka sebenarnya partisipasi jangan hanya jadi pepesan kosong, tapi harus dilembagakan untuk membuat pembangunan lebih berkualitas, hidup lebih berkualitas.

Continue reading

Posted in Communities, governance, Urban Development | Leave a comment

Jakarta Berperingkat Lalulintas Terburuk Ke-2 Di Dunia: Stop Salahkan Warga, Perbaiki Angkutan Umum dan Tata Ruang.

Kita tak perlu kaget saat membaca kabar tentang pernyataan dikeluarkan oleh perusahaan teknologi aplikasi navigasi lalu lintas Waze bahwa Kota Jakarta berada di urutan kedua dengan ketidakpuasan berkendara terburuk di dunia.
Dalam rilis yang dikeluarkan Waze tersebut seperti dikutip dari Sindonews.com, Jakarta sebagai Ibu Kota negara menempati posisi kedua menjadi kota dengan tingkat kepuasan berkendara terburuk di dunia. Prestasi buruk ini dirilis berdasarkan hasil survei indeks kepuasan pengemudi global yang mereka lakukan. Rata-rata pengemudi di Jakarta menghabiskan waktu selama 42,1 menit ketika berpergian dari rumah atau tempat tinggalnya menuju kantor. Angka tersebut tidak berbeda jauh dengan Kota Manila, Filipina yang mendapat predikat paling buruk dari seluruh kota dunia selama 45,5 menit.
Penilaian Waze terhadap ketidakpuasan berkendara tak lepas dari persoalan polusi, kemacetan, kualitas jalan yang kurang baik, lahan parkir, serta harga bahan bakar minyak yang dinilai mahal oleh masyarakat. Buruknya infrastruktur di Jakarta dirasakan juga oleh para pebisnis lokal maupun asing saat berkunjung ke Jakarta.
Ini bukan pertama kalinya kota kita Jakarta mendapat peringkat terburuk tentang lalu lintas.
Di awal tahun 2015 Castrol Magnate survey juga mengatakan hal yang demikian berdasarkan data dan penelitian mereka, seperti dikutip dari Tempo.co. Menurut indeks Stop-Start Magnatec Castrol, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Indeks ini mengacu pada data navigasi pengguna Tom Tom, mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Jumlah tersebut lalu dikalikan dengan jarak rata-rata yang ditempuh setiap tahun di 78 negara.
Mobilitas di kota kita ini jelas sudah tidak dapat lagi ditampung dengan kendaraan pribadi, karena seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi akan mendorong pergerakan/mobilitas warga, namun lahan yang tersedia untuk bergerak tidak bertambah. Diperlukan sebuah pakem baru untuk memfasilitasi pergerakan warga. Angkutan massal sejatinya merupakan solusi yang paling efektif dan merupakan satu-satunya yang dapat diandalkan untuk masa depan. Tapi angkutan massal memerlukan integrasi dengan penataan ruang agar efektif. Karena itu penataan sistem angkutan dengan penekanan pada angkutan umum massal dan penataan ruang adalah satu nafas tindakan.
Pemerintah kota kita, Jakarta, perlu mencurahkan energi dan waktunya untuk fokus kepada pembenahan angkutan massal. Untuk MRT tidak ada lagi yang dapat dilakukan, sementara LRT masih menunggu komando pemerintah pusat. Satu-satunya yang dapat digerakkan langsung oleh pemprov Jakarta adalah sistem angkutan massal dengan bus, yaitu memberdayakan Transjakarta secara maksimal dan secepatnya. Transjakarta sangat perlu bahkan wajib mendapat perhatian khusus untuk dibenahi layanannya, ditingkatkan kapasitasnya, dan juga diperlukan edukasi kepada polisi dan masyarakat untuk menghargai eksklusifitas lajurnya.
Kebijakan parkir yang lebih ketat dan mahal perlu juga dilakukan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi, terutama yang digunakan untuk ulang-alik (commuting) dan diparkir di tengah kota. Inti dari penataan mobilitas di masa depan adalah pembatasan penggunaan kendaraa pribadi, dan memastikan kapasitas angkut secara massal dapat tersedia dalam waktu kurang dari 2 tahun.
Saat ini porsi biaya transportasi terhadap pendapatan rata-rata kita warga Jakarta juga termasuk yang tertinggi, yaitu sekitar 15-35 % dari penghasilan. Celakanya, makin miskin warga, makin besar pula porsi tersebut. Sementara di kota-kota maju, porsi itu hanya berkisar 3-8 %. Biaya transportasi yang tinggi adalah salah satu hambatan struktural utama bagi kaum miskin dan kelas menengah Indonesia, mayoritas penduduk kota kita Jakarta, untuk menabung dan produktif.
Sudah bukan waktunya pemerintah kota kita hanya menyalahkan disiplin masyarakat dalam berkendaraan, namun harus juga bekerja maksimal mengatasi masalah mobilitas secepat mungkin agar kota kita ini terhindar dari acute traffic clogging yang gejala-gejalanya sudah mulai nampak. Pengetahuan dan teknologi sudah cukup tersedia. Diperlukan kerja yang sungguh-sungguh tekun. Ini akan membuka lapangan pekerjaan yang cukup luas, produktivitas dan seluruh roda ekonomi Jakarta dan nasional.
Posted in Uncategorized | 1 Comment