Pahlawan

(10 November 2013)

Soal negara sebagai bebrayan, saya ingin bercerita agak panjang, yaitu sehubungan dengan pengalaman dua hari, tg 1 dan 2 November lalu, mewawancarai para calon “Pahlawan untuk Indonesia” yang diselenggarakan oleh MNC TV. (Jangan khawatir, ini tidak akan membuat pemilik stasiun itu menjadi wakil presiden dan jenderal pasangannya menjadi presiden).
Semoga teman-teman ada waktu.

Sedikit latar belakang:
Ini kali (tahun) kedua saya menjadi juri untuk acara itu. Tahun lalu bersama Imam Prasojo dan Pandji Pragiwaksono. Tahun ini bersama Imam Prasojo dan Anne Avanti. Awak MNC TV Ramdan Malik dkk selama setahun menampung usulan orang, lalu mengikuti kegiatan para pahlawan itu tanpa mereka sepenuhnya sadar untuk keperluan apa. Lalu mereka membuat tayangannya. Dengan menonton tayangan ini kami memilih 14 orang (untuk tahun ini) dan 12 orang (tahun lalu) untuk diwawancarai. Tujuannya memilih 10 orang yang diberi penghargaan sebagai “Pahlawan untuk Indonesia”. Angka 10 ini semena-mena saja (mungkin terbatas oleh ukuran panggung).
Lalu mereka masing-masing kami wawancarai selama lebih kurang 45 menit. Peristiwa wawancara inilah yang istimewa. Akan saya ceritakan serba terbatas.

Dalam proses wawancara, terbukalah bahwa hampir semua calon ternyata melakukan jauh lebih banyak dan ragam kegiatan daripada yang kami sebelumnya duga dan ketahui. Seorang yang kami ketahui sebagai kader posyandu di NTT, ternyata juga mendirikan PAUD dan membayar gaji gurunya dengan penghasilannya sendiri sebagai petani kebun, dan ia pun menjadi Ketua Kelompok Tani. Ia seorang perempuan yang tiap hari harus mengurus dua orang anak kecilnya. Memandikan mereka, menyiapkan makan, dan melepaskan mereka ke sekolah. Yang lainnya, seseorang yang kami ketahui sebelumnya sebagai pelopor pertanian organik yang dipadukan dengan peternakan (sehingga membentuk suatu metabolisme sirkular dalam pengetahuan ekologi sekarang) di Bedugul, ternyata juga mengurus pesantren, menegakkan koperasi serta membinanya hingga sukses, mengelola ambulan, menjadi pelatih di mana-mana, dan mengurus berbagai keperluan warga setempat yang meminta bantuannya. Seorang dokter hewan di pegunungan dekat Semarang ternyata juga mengurus kesehatan anak-anak dengan pengetahuannya tentang pengobatan tradisional, mengadvokasi kemurnian susu segar dan memotong mata-rantai perantara antara petani dan pabrik pengelola susu.

Mereka melakukan bukan apa yang mereka mau, melainkan apa yang diperlukan lingkungannya. Apa saja. Dan untuk itu mereka tidak ragu menyeberang batas-batas ilmu, kelompok sosial, dan sebagainya. Seorang sarjana agama dari Pondok Pesantren Situbondo, membangun BMT untuk melawan rentenir di Sumenep. Anggotanya sekarang 27 ribu lebih, dan kekayaannya 16 Milyar (!!). Sistem-nya sangat jelas, sistematis dan sistem manajemennya corruption-proof sejauh kami dapat menyelidikinya. Gajinya 2 juta/bulan. Gaji terendah di staffnya 600 ribu/bulan. Seorang sarjana matematika, kembali ke desanya sesudah 1998, lalu membangun “industri” pengumpulan dan pengolahan sampah plastik dari Waduk Saguling, dalam bentuk koperasi.

Mereka melakukan semuanya bukan karena terutama itu bidang dan keinginannya semata, tetapi karena mereka melihat, bahwa itulah yang dapat dan perlu dilakukan untuk lingkungannya.

Empat atau lima dari mereka menangis ketika kami sampai pada pertanyaan mengapa mereka melakukan semua itu. Mereka menangis bukan karena lebay, mengasihani diri sendiri, tetapi karena dua hal: 1) mereka terharu karena ada yang menghargai, karena mereka justru tidak pernah memikirkan dan mengharapkannya sebelumnya; 2) mereka teringat derita dan duka orang-orang yang mereka bantu, yang mereka tinggalkan untuk ke Jakarta untuk keperluan bertemu kami ini. Yang menangis itu antara lain dokter hewan yang sebelumnya riang gembira dan kelihatan “tough” (memang tampangnya seperti preman, dan memang harus berhadapan dengan preman dalam pekerjaannya memotong mata rantai susu segar). Dia menangis paling lama. Dia mengatakan, sambil terisak, bahwa bagi peternak yang cuma memiliki satu ekor sapi perah, bila sapi itu sakit (dan seringkali mati sebelum ada pertolongannya), itu sama kiamatnya dengan Bapak dipecat sebagai direktur MNC TV (sambil melihat ke ybs).

Saya adalah juri yang berperan sebagai “the skeptic.” Tapi akhirnya saya bisa menyimpulkan, mereka semua adalah orang-orang yang sungguh “selfless.” Dalam teori yang dipakai Imam Prasojo, mereka memiliki kepekaan “moral knowing”, “moral feeling” dan “moral action” yang sangat tinggi.

Mereka pembangun Indonesia yang sejati. Mereka juga luar biasa kreatif. (ingat pula kondisi yang harus mereka hadapi).

Tetapi, melalui mereka pula kita mengetahui, betapa hanya 14 km dari ibukota provinsi NTT, Kupang, beberapa tahun lalu 3-5 balita meninggal per tahun; sementara di jantung Sumatera Utara dokter merupakan kata yang asing, dan hanya ada bidan; di pelosok Lombok tenaga kerja Indonesia kembali dari luar negeri dalam keadaan jiwa terganggu, muka terbakar, kehilangan jari atau tangan, dan anak-anak di Pulau Mentawai tidak terjangkau pendidikan. Inikah “satu” Indonesia, dilihat dari Jakarta? Kalau saja para koruptor dan para pemimpin memiliki 10 % dari kepekaan mereka…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s