FETISHISME DAN KERJA

Kerja itu memang salah satu cara ampuh mengatasi festishisme. Ada harapan demikian.

Fetishisme dalam pengertian saya adalah: menggemari sesuatu tanpa memperdulikan proses dan konteks yang menghasilkannya, terutama menyangkut barang-barang yang dikonsumsi atau dijadikan barang konsumsi.

Belakangan ini saya khawatir dengan gejala fetishisme perkotaan. Taman kota digemari dan dikonsumsi dengan agresif. Segala hal mau dilakukan di taman. Kebersihan kota menjadi cita-cita, tanpa memikirkan akar masalah yang sesungguhnya: asal-usul sampah. Pokoknya mau selamat dari kenaikan muka air laut, bikin reklamasi, padahal tidak menyelesaikan akar masalahnya. Pantai, juga pantai waduk, dijadikan ruang tempat bersenda kelas menengah, tanpa peduli nasib mereka yang dipindahkan karenanya.

Jangan-jangan fetishisme negara pun sedang berlangsung? Semoga tidak. Yang jelas sedang ada kegandrungan yang luar biasa atas negara sebagai tempat menggantungkan harga diri, identitas, kemakmuran, kesejahteraan, dan lain-lain. Ini dalam bahasa yang lain disebut “harapan”. Untuk menghindari penyakit festishisme, kerja salah satu terapi yang manjur, kalau memang niatnya demikian. Tanpa niat emansipasi, kerja juga akan menghasilkan pendapatan lebih banyak, yang dapat dijadikan pembenaran konsumsi (dan festishisme) makin besar lagi.

Jadi ingat salah satu semboyan: merenung sambil bekerja. Keras!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s