Lapangan Monas dan Sayembara Perancangan

Kasus penataan (kembali) Lapangan Monumen Nasional (MONAS) belakangan ini menunjukkan bahwa sayembara perancangan bukanlah proses yang mencukupi untuk suatu ruang khalayak.

Proses sayembara adalah suatu jalan atau cara untuk mendapatkan gagasan dari para profesional, atau–saya ingin katakan–“para teknisi”. Ini sama sekali bukan proses partisipasi, kecuali di kalangan para teknisi itu sendiri. Dan memang suatu sayembara tidak perlu berpura-pura menjadi suatu proses partisipasi.

Proses partispasi dan kolaborasi ada pada apa yang seharusnya terjadi sebelumnya, sebelum sayembara diadakan (dan nanti sesudahnya). Khusus untuk ruang publik, kesertaan masyarakat itu bisa berupa memberikan saran pada perumusan “latar belakang” (yang menjadi pembenaran akan proyek penataan), “tujuan” dan “program” (kegiatan apa yang mau dimanjakan di dalamnya). Proses ini bisa dibuat berjenjang. Ia bisa dimulai dengan konsultasi dengan yang akan terkena dampak, misalnya para pejalan kaki dan pedagang yang biasa lewat atau bekerja di situ, para pemakai gedung-gedung di sekitar yang menikmatinya sehari-hari. Kemudian, tergantung skala-nya, ada yang disebut “konsultasi publik”, dengan “publik” di sini diartikan sebagai “siapa saja”, bukan hanya yang terkena dampak. Proses ini bukanlah tugas arsitek atau perancang (designer), melainkan tugas suatu panitia yang mencakup berbagai sisi dan latar belakang kehidupan.

Pada banyak kasus di dunia, sesudah sayembara pun, rancangan pemenang dipaparkan ke publik selama beberapa bulan, sehingga masyarakat dapat serta lagi memberi masukan, kritik, dan sebagainya.

Dalam hal Lapangan MONAS proses kesertaan publik juga mau tak mau harus melibatkan lembaga-lembaga negara yang terkait, baik yang secara formal terwakili di dalam Badan Pengarah sebagaimana tercantum di dalam Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, maupun yang tidak, tapi memiliki kepentingan besar. Selain itu ada lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi lain yang berkepentingan dan/atau berpengaruh juga, misalnya berbagai organisasi profesi seperti sejarawan, ahli lingkungan, dan sebagainya.

Sebagai salah satu perumus panduan sayembara Ikatan Arsitek Indonesia belasan tahun lalu, dari kasus ini saya belajar hal penting sekali:

Sayembara perancangan semata tidak mencukupi untuk penataan ruang publik.

(dan mungkin proyek-proyek lain yang merupakan kepentingan dan mempengaruhi serta dipengaruhi oleh banyak orang secara langsung dan tidak langsung)

Alangkah baik kalau panduan sayembara yang sekarang digunakan oleh Ikatan ARsitek Indonesia direvisi, terutama dengan mengaitkannya dengan konteks pentingnya kesertaan masyarakat dalam menentukan tujuan dan program perancangan, serta jenis proyek yang bersifat berdampak dan dipengaruhi oleh khalayak ramai.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s