Finansialisasi Tanah dan Bangunan dan Akibatnya pada Perumahan

Uang dari RRC itu bukan hanya masuk lewat program G-to-G, tapi juga lewat B-to-B.

Sudah ada tanah dan bangunan yg dijual ke investor swasta dari RRC.

Pemain RRC yang sudah aktif di Indonesia antara lain adalah China Harbor, China Communication Construction Group (CCCG), Sonangol, Country Garden, Prosperity, CFDL, China Railway…

Perhatikan pula mobil produk RRC juga sudah mulai masuk, sementara Korea Selatan sedang mencoba usaha kedua sesudah kegagalan dengan mobnas Timor  di masa akhir orba.

10 tahun lalu Berlin (dan mungkin kota-kota lain di Eropa) juga banyak jual tanah dan bangunan ke investor RRC dan Rusia. Sekarang Berlin kriris hunian terjangkau, sementara banyak rusun kosong. Baca berita demo beberapa minggu lalu kan?

Ketika investor/pemilik lokal kekurangan dana, maka cari yg punya. Kebetukan di abad ini yg punya banyak uang adalah RRC. Money rules!

Apakah ada bedanya uang itu dari mana?

Di abad ke-14 hingga ke-16 uang yang beredar di kepulauan Asia Tenggara berasal dari pedagang Arab, India, Melayu dan Cina; di abad ke-17 hingga ke-19 uang berasal dari kapitalis merkantilis Eropa; dan di abad ke-20 uang dari AS, Jepang, Taiwan dan Korea…

Di tahun 1922, pada kongres perumahan, Kadis PU Bandung, Heetjans, sudah mengingatkan bahwa kalau tak tersedia tanah yg harganya moderat bebas spekulasi, masalah perumahan rakyat tak akan maju. Pada 1952, pidato Hatta panjang lebar di Kongres Perumahan, tak menyebut masalah tanah sama sekali.

Sekarang keluhan soal keterjangkauan hunian makin meluas, terutama di kota-kota besar. Ketersedian tanah kembali jadi pokok soal. Narasi yang masih dominan: kekurangan tanah bebas. Menurut saya kuncinya bukan menambah tanah bebas dengan cara pengembangan seperti sekarang, yang makin meningkatkan nilai tukar dan spekulasi atas tanah. Kuncinya di membebaskan cukup tanah dari spekulasi, dari nilai tukar, mengedepankan nilai guna/manfaatnya. Lalu dimanfaatkan untuk perumahan sosial sampai mencapai secara bertahap 5, 10, 15, 20, hingga 25% dari cadangan total perumahan. Tanpa reforma agraria perkotaan, perumahan rakyat tak akan maju. Tanpa menerapkan konsep perumahan sosial, hunian akan terus tak terjangkau.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s