PRESTASI DAN KEGAGALAN DI BIDANG PERUMAHAN

Sesudah Konggres Perumahan pada tahun 1950 yang mendapat motivator utama Bung Hatta, pada tahun 1961 terbentuk 200 yayasan yang berhasil membangun 12,640 hunian untuk para anggota yang mencicil 20 tahun di bawah harga pasar.

Tapi kemudian sistem ini runtuh karena krisis ekonomi (super-inflasi), bukan karena sistem itu sendiri yang salah.

Kenyataan kita sekarang: Menurut data BPS 2016, sekitar 70% perumahan diadakan secara swadaya oleh masyarakat. Hanya 3,7 % jumlah hunian yang dibeli dari pengembang.

Namun?

Namun, subsidi sebesar Rp. 39,485,547,660,555 telah disalurkan melalui yang 3,7 % itu dalam kurun waktu 2010-2019. Sedangkan sebagian dari yang 70% itu mendapat yang semacam “bedah rumah” saja. 😢

Apakah ini bukan kesalahan kebijakan?

Lalu?

Lalu, apakah subsidi itu mempengaruhi keterjangkauan hunian?

Tidak, karena selain jumlahnya yang terlalu sedikit dibandingkan kebutuhan yang tidak elastis,subsidi hanya mengikuti atau bahkan mendukung pasar yang spekulaitf yang menganggap rumah sebagai komoditas.

Padahal?

Padahal rumah tidak berprilaku sebagai komoditas. Karena itu tidak seharusnya diperlakukan sebagai komoditas. Faktanya sederhana: komoditas itu harganya turun-naik. Harga rumah naik terus, tak pernah turun.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s