Firdaus Ketiga

Bumi lestari masa depan akan terdiri dari “Firdaus-firdaus Ketiga”. Firdaus-firdaus ini tidak akan berupa alam aseli yang hegemonik, yaitu Firdaus Pertama yang adalah Eden yang dihuni oleh Hawa dan Adam yang tak tercela. Mereka pun tidak akan berupa Firdaus Kedua, yaitu kota sempurna yang dihuni oleh manusia dan Tuhan dalam kesatuan, yang di dalamnya tiada lagi yang alamiah dan semua hal bersifat transendental. Firdaus ketiga akan berdiri di atas dasar hubungan yang dijalin kembali antara Homo sapiens dan alam (dengan mencatat paradoks bahwa sebenarnya Homo sapiensadalah alam juga, adalah makhluk biologis selain historis). Di dalam tiap-tiap Firdaus ini akan hidup komunitas-komunitas wujud ketiga, yang bukan tradisional maupun modern. Mereka akan berupa komunitas-komunitas yang kritis terhadap negara, pasar dan hasrat.

 

Masa depan akan menyaksikan Homo sapiens yang berdamai kembali dengan alam. Permukiman-permukiman mereka tidak akan bersifat perkotaan maupun pedesaan, melainkan persekutuan desa-kota. Cara-cara setepatnya persekutuan ini terselenggara akan terus menerus berubah, tetapi mereka akan mengarah kepada menjadikan keduanya lebih bersepakat satu terhadap yang lainnya. Mereka akan berevolusi dalam kesatuan, bersama-sama. Homo sapiens akan menjadi makin paham dan menemukan makin banyak pengetahuan-pengetahuan, sehingga meningkatkan kemampuannya membentuk Firdaus Ketiga sebagaimana digambarkan di atas. Ekonomi (norma rumah bersama) akan ditaklukkan untuk mengabdi kepada ecologics (“nalar rumah”).

 

Kita tidak akan menciptakan kembali Eden. Dengan apa yang tersisa bersama kita –yaitu alam yang kerontang dan kota yang terkoyak—kita akan bersama-sama pulih kepada suatu keadaan dengan irama dan ketukan yang dimiliki bersama. Nampaknya, Homo sapiens lah yang akan mengaah kepada alam, dan menggunakan kreativitas (suatu bakat khas Homo sapiens) untuk mengembangkan sikap-sikap dan solusi-solusi baru di dalam batas-batas nalarNya (Alam)

 

Keadilan

 

Karena perkembangan kita ke luar batas-batas nalarNya tersebut, kita kini berhadapan tidak saja dengan tantangan perubahan iklim, tetapi juga keterbatasan sumber daya material tak terbarukan. Keadilan adalah masalah pembagian sumber daya. Ini tergantung kepada bagaimana masyarakat diorganisasikan. Keadilan menjadi makin penting tidak saja karena terbatasnya sumber daya tidak terbaharukan yang diketahui, tetapi juga karena perubahan-perubahan yang perlu kita laksanakan dalam rangka meorganisasikan kembali masyarakat kita untuk menuju kepada kelestarian, yang tidak mungkin dicapai tanpa merancangnya sedemikian rupa untuk pada saat bersamaan menghasilkan keadilan yang sudah lama tertunda. Tanpa keadilan yang nyata terasa, perubahan tidak akan menggerakan semua. Kita juga bisa merenungkan, bahwa tujuan kelestarian lingkungan sebenarnya sedang memberikan kita semacam “kesempatan kedua”, bilapun bukan yang terakhir, untuk menghasilkan keadilan.

 

Saya ingin membayangkan bahwa komunitas-komunitas bahkan akan makin penting di dalam masyarakat global masa depan kita, karena ia dapat mendorong keadilan kritis.

 

Komunitas

 

Komunitas dalam maksud saya adalah sekelompok orang yang hidup bersama di dalam suatu teritori, dan berbagi sejumlah milik bersama (commons) dalam cara yang kongkrit/nyata, dengan batas dan keterikatan serta konsekuensi yang akan dengan segera dirasakan setiap hari. Ukuran dan batas-batas ruang atau teritorial adalah mendasar betul agar batas-batas dan konsekuensi dapat seketika dirasakan. Karena itu saya tidak memasukkan penggunaan kata komunitas yang telah diubah-ubah seperti misalnya community of practice. Kecuali mereka bergerak menuju hidup ersama dalam ukuran dan ruang terikat batas. Saya juga tidak memasukkan imagined communities dan institutional communities seperti European community, ASEAN community, international community dan bahkan “negara bangsa”. 

 

Sebagai cara hidup alternatif menuju kelestarian ekologis, komunitas dengan sendirinya akan memiliki potensi kritik terhadap negara, pasar, dan bahkan lebih penting lagi: hasrat.

Komunitas dengan demikian memiliki posisi kritis dan progresif untuk melampaui perlakuan terhadapnya semata sebagai subyek dalam pendekatan pembangunan, yang nampak pada, antara lain, kalimat-kalimat seperti “pembangunan berbasis komunitas”, “rekonstruksi pasca-bencana dipimpin komunitas”, “pemetaan komunitas”, dll.

Suatu kehidupan di dalam komunitas (sebagaimana dimaknai seperti di atas) dapat dijalani dengan kesadaran setinggi-tingginya tentang ketidaksempurnaan negara, pasar dan hasrat, sebagaimana juga ketidaksempurnaan komunitas itu sendiri. Suatu ambisi akan tampil untuk menunjukkan bahwa komunitas bukan sekedar pengisi celah di dalam negara-bangsa dan sistem kapitalis. Ia juga suatu sumber potensial untuk menghasilkan alternatif-alternatif (kalaupun bukan pengganti-pengganti) dan, sama pentingnya, kritik-kritik yang terus berkembang.

Sedangkan terhadap hasrat, suatu komunitas dapat berperan bukan saja sebagai “cek” atas konsumsi berlebihan, tetapi juga sebagai sumber konsep-konsep dan praktik-praktik konsumsi dan produksi yang memulihkan dan melestarikan alam, setidaknya mencegah kita semua jatuh kedalam tragedy of the commons sebagai capaian minimal. Komunitas adalah suatu ideologi fungsional untuk menghasilkan lebih banyak commons (bebrayan, sabaratan, babarayaan,…) sebagai tujuan dalam bermasyarakat. Komunitas dapat menjadi suatu sumber untuk menghasilkan hubungan-hubungan baru dalam hidup bersama, dalam suatu sistem konsumsi dan produksi kolaboratif, dan dalam memberi memaknai eksistensi bersama dengan yang lain.

 

Apa yang perlu ditekankan lebih lagi adalah bahwa komunitas dapat menjadi kritik terhadap hasrat.

 

Kita belum tahu pasti bagaimana hasil akhir dari perjuangan melawan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya. Ada berbagai skenario. Saya berpandangan, bagaimana pun juga, bahwa bagaimana kita meng-kritik hasrat kita akan mengubah pertarungan yang sedang terjadi.

Bagaimanapun kita sekarang punya suatu konsensus bahwa ada keperluan untuk suatu transisi ekologis yang memang telah diprakarsai lebih awal lagi (misalnya oleh generasi hippies 1960an). Transisi ekologis adalah suatu proses yang dengannya kita mengubah sistem kehidupan agar berada di dalam batas-batas sistem bumi dan prinsip-prinsipnya sejalan dengan nalar rumah kita bersama, yaitu nalarnya bumi.

Perubahan pada tingkat perseorangan tidak pernah cukup, meskipun tentu saja imperatif. Perubahan perlu diuji, berakar pada praktik “hidup bersama”, yang merupakan tempat hubungan-hubungan yang lebih kompleks dan tak terhindarkan menjadi.  Modus kehidupan bersama yang lestari secara ekologis harus ditemukan atau dibangun pada besaran dan tingkatan komunitas yang layak.  

Dalam perspektif ekologis, konsumsi terletak pada inti hasrat. Terhubung dengannya terdapat lapisan-lapisan yang lebih temaram dan terkadang tersembunyi, misalnya: ambisi untuk kemakmuran universal, kekuasaan, kompleks dan vestedinterest industri, perluasan ruang hidup merambah alam dan teritori orang lain, dan seterusnya.

Komunitas-komunitas, melalaui proses dialog dan komunikasi terbuka, dapat memberikan batas-batas dan suara yang memoderasi. Mereka bisa mulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan bergerak ke penjelajahan alternatif-alternatif yang mungkin membatasi atau sebaliknya menawarkan kelimpahan baru.  “Apakah ada produksi dan konsumsi yang lestari?” Ini pertanyaan yang semestinya menghantar kita kepada penemuan ekonomi dan bentuk-bentuk baru negara karena mereka sejatinya dibangun untuk memenuhi hasrat kita. Memikirkan mereka tidak mungkin cukup mendasar bila tanpa memikirkan juga hasrat kita. Komunitas dapat menjadi kritik penuh makna atas (sistem) produksi dan konsumsi apabila ia membahas juga hasrat.

Apakah kota suatu komunitas?

 

Di kawasan Asia Tenggara di dalam rentang waktu abad ke-15 hingga abad ke-17 kekotaan (urbanity) mulai mewujud identik dengan modernitas. Demikianlah juga komunitas-komunitas perkotaan. Hal tersebut mengubah persepsi tentang dunia, tentang diri sendiri, dan tentang waktu dan ruang. Dua abad setelahnya kota-kota di Asia Tenggara telah menjadi sumber kritik terhadap negara kolonial. Semestinyalah kini mereka juga menjadi kritik terhadap bentuk-bentuk negara kiwari. Sebuah kota, sebagai bentuk kehidupan bersama yang paling canggih dalam kondisi yang terpadat-tumpat, menyediakan banyak bebrayan (commons), termasuk barang dan kisah. Namun, terdapat ancaman yang terus menerus terhadap kota itu sendiri sebagai suatu bebrayan. Karena itulah sangat mendesak bagi suatu kota, agar tetap menjadi suatu komunitas, untuk juga menkritik dirinya sendiri. Kota dala sejarah panjangnya telag mengubah orang perorang dan peradaban-peradaban. Ia dapat diubah secara mendasar, juga, dalam caranya menggunakan energi dan material.

 

Jadi, iya, kota dapat menjadi suatu komunitas, yaitu komunitas yang lebih nyata daripada suatu negara-bangsa, selama ia terus menciptakan dan merawat bebrayan (commons), bersikap kritis terhadap dirinya dan yang lain (pasar, negara, perseorangan). Waspada, kebanyakan transformasi dan penggerusan bebrayan (commons) menjadimilik “publik” (dengan perantaraan negara) atau swasta terjadi meningkat dan menumpat umumnya di dalam proses urbanisasi.  

Optimisme

 

Sejatinya visi di atas tak semestinya nampak jauh sekali. Sudah bermunculan pemikiran, teori, ilmu pengetahuan, teknik dan praktik yang sedang menciptakan jalan-jalan baru untuk kita berhubungan kembali dengan alam. Pencarian cepat di internet akan memunculkan Deep Ecology pada tingkat filosofis. Di tingkat ilmu ekonom  ada ekonomi lingkungan, ekonomi hijau, ekonomi ekologis dan Econmy for the Common Good (Christian Felber). Pada tingkat produksi ada Ekonomi Biru dan ekonomi sirkular yang berdasarkan ilmu pengetahuan metabolisme sirkuler. Ada banyak bermunculan praktik-praktik pemulihan ekologis seperti misanya (re-)naturalisasi aliran air, dan pertanian organik serta sirkuler.  Dalam pembentukan kota ada pendekatan peka-air. Banyak hal mendapat label “hijau” sekarang ini: bangunan hijau, bahan hijau, etc. Meskipun kita memang harus mewaspadai green washing, pelabelan hijau bagaimanapun menunjukkan suatu kehendak baik (good will) yang merupakan green will dan pemikiran tak sempurna yang di dalamnya sendiri terkandung kesempatan untuk perbaikan.

 

Di beberapa kota politik solidaritas kembali beredar (Paris, Barcelona, New York, Jakarta….) untuk membangun kembali komunitas-komunitas perkotaan. Banyak seniman telah lama bekerja sama dengan komunitas-komunitas dalam rangka membangun semacam kesadaran bersama baru menuju produksi-bersama bebrayan (per)kota(an).

Berhadap-hadapan dengan negara, yang kuasanya berdasarkan pada rasionalitas hegemonik, terdapat di ujung lain komunitas-komunitas adat yang masih (sangat) hidup dengan norma-normanya sendiri (yang lebih sejalan dengan nalar alam/rumah). Banyak program konservasi kelautan dan kehutanan di Indonesia yang didasarkan pada, dan menggunakan, aturan-aturan yang masih tersedia dan efektif di komunitas-komunitas tempatan. Rekonstruksi Aceh setelah tsunami 2014 melibatkan banyak prakarsa otonom komunitas-komuniras. (Saya duga juga sekarang di Lombok dan Palu). Upaya-upaya terus dilakukan untuk mencari cara menerapkan logika majemuk yang terdapat di dalam norma, prinsip, aturan (sasi, awik-awik,…) dan praktik sehari-hari mereka ke luar batas-batas konteks mereka. Semoga ini cukup cepat membuahkan hasil, namun membebaskan kita dari hegemoni fasistis satu cara untuk semua orang

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s