Thamrin(-Sudirman) sedang Menjadi Jalan Raya

 

Image-1 4.png

Foto dari Maulana Ichsan @maulanagituri

Image-1 3.png

Foto dari Maulana Ichsan @maulanagituri

39193497_1809323029104675_6639109099822776320_o.jpg

Foto dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jalan Raya (high street) adalah suatu kategori ruang kota yang hampir kita lupakan, gara-gara dominasi pandangan fungsional mengenai jalan, yang melihatnya hanya untuk melintas dan membagi-baginya menjadi “jalan arteri, jalan sekunder, ….dst.”.

Biasanya kita baru ingat “jalan raya” sebagai ruang kota kultural dan sosial ini kalau ke luar negeri, lalu bertanya-tanya mengapa ini tidak terjadi di Jakarta (atau kota-kota lain di Indonesia).

Apa yang sedang terjadi di Jalan Thamrin(-Sudirman) mudah-mudahan adalah suatu transformasi permanen untuk menjadi jalan raya. Kejadian ini dimungkinkan oleh kebijakan yang makin mewujud: “lebih banyak angkutan umum dan kurangi kendaraan pribadi”. MRT akan beroperasi tahun depan. Sistem bus TransJakarta makin mengakar dan meluas. Masyarakat makin sadar tentang pentingnya angkutan umum.

(Saya selalu ingat ketika koridor 1 TransJakarta baru dimulai pada tahun 2004, ada seorang yang sangat terdidik, kritikus seni terkenal, lulusan luar negeri, dari latar belakang keluarga terpandang, mempertanyakan mengapa jalur bus TransJakarta kok di jalur cepat. Dan banyak orang tidak percaya bahwa sistem bus yang menyeluruh bisa “mengalahkan” mobil pribadi. Sekarang “angkutan umum yang baik” telah menjadi aspirasi semua orang, rasanya).

Kalau perkiraan saya benar (atau harapan?) makan akan makin banyak outlet (toko, cafe, restoran) yang nanti meghadap langsung ke jalan, yang dapat dilihat dan dimasuki langsung dari trotoar. Ini akan mengakhiri jaman “mall” yang introvert itu, yang mematikan ruang jalan. Mall adalah suatu dunia tersendiri yang mengarah ke dalam, sedang dari luar ia hanya menunjukkan dinding yang dipenuhi billboard atau iklan berbentuk lain. Ia dirancang untuk akses mobil, sehingga selalu dikelilingi jalan internalnya sendiri, dan lalu menyebabkan macet di jalan-jalan di sekitarnya.

Makin banyak orang menggunakan angkutan umum akan berarti akan makin banyak orang berjalan-kaki di trotoar. Toko dan outlet lain akan makin ingin kelihatan dan langsung bisa dimasuki dari trotoar yang makin berisi khalayak ramai.

Mengapa saya masih memisahkan Thamrin-Sudirman dengan meletakkan Sudirman di dalam kurung? Karena saya tidak yakin keduanya punya karakteristik yang sama. Thamrin, sejauh saya dapat perhatikan, lebih mudah menjadi jalan raya. Namun, kita lihat lagi nanti…

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s