Pakat Pusaka Rakyat (PAPURA)

Pusaka Rakyat
Pusaka Warga
Vernacular Heritage

 

  1. Pusaka rakyat diwarisi dari alam dan leluhur yang hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat.
  2. Pusaka rakyat menjawab kebutuhan akan konsep pusaka yang lebuh luas dalam melampaui kegelisahan atas paradoks bahwa, sementara pusaka yang antik, jauh dari kehidupan sehari-hari rakyat dan telah kehilangan aura terus dielus-elus dan dirawat dengan biaya mahal, pusaka yang sehari-hari hadir dalam kehidupan nyata rakyat tidak mendapatkan perhatian, bahkan makin rusak, bahkan terkadang disingkirkan serta ditiadakan demi yang elit dan antik. Contoh-contoh terakhir meliputi antara lain kampung-kampung, pasar rakyat, pedagang kaki lima, pegunungan Kendeng, hutan Orang Rimba, dan lain-lain.
  3. Banyak sekali hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari rakyat yang sangat berharga luput dari penghargaan, perhatian dan perawatan, bahkan terancam oleh cara-cara penyelenggaraan kehidupan bersama yang serampangan dan cenderung mengabaikan keragaman. Misalnya: kedai kopi yang telah menjadi kebanggaan rakyat setempat, tokoh kampung yang dihormati dan dibanggakan semua tetangga, menu sehari-hari rakyat yang sejak leluhur telah memberikan gizi kepada rakyat serta melestarikan species pangan, dan sebaiknya. Semuanya itu cenderung disepelekan dibandingkan dengan pusaka yang megah dan elitis namun jauh dari kehidupan masa kini dan masa depan rakyat. Padahal, mereka tidak sepele meskipun berskala kepemilikan kecil setempat, sebab telah menyimpan pengetahuan yang terakumulasi lama, telah diwarisi berbagai generasi, telah merasuk dalam kehidupan sehari-hari rakyat sebagai sumber inspirasi, gizi, identitas dan aikon.
  4. Pusaka Rakyat memperluas pemahaman dan pelingkupan apa-apa yang perlu dirawat, dijaga, diperhatikan, sebagai sumber kekayaan kehidupan yang beragam. Pelestarian bermakna bukan saja pada masing-masing monumen atau pusaka yang mengkilap, tetapi lebih-lebih bermakna penjagaan dan pengayaan terus-menerus keragaman yang akumulatif dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Subyektivitas rakyat layak diakui, karena mereka pemilik sah segala warisan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mereka berhak dan selayaknya menentukan apa yang bagi mereka berharga untuk diteruskan kepada genersi-generasi berikut sambil berterima kasih dan bertanggung-jawab kepada generasi pendahulu.
  6. Pusaka rakyat menekankan pada kepemilikan dan makna aktualnya yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya masing-masing, lebih daripada usianya maupun pengakuan dunia di luarnya.
  7. Pusaka rakyat dapat merupakan commons dalam berbagai lapisan: secara makna, secara pemakaian, ataupun secara kepemilikan simbolik maupun aktual legal.
  8. Pengakuan akan pusaka rakyat oleh masyarakat atau komunitas tempatannya dapat ditawarkan kepada dunia lebih luas.
  9. Pusaka rakyat sebagaimana banyak kekayaan alam dan leluhur lainnya perlu terus menerus dikenali, dipetakan, dan disiarkan kepada pertama-tama masyarakat tempatannya, lalu kepada seluas-luasnya dunia.
Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s