SOLUSI MASALAH AIR JAKARTA

Andesha Hermintomo 07:23:2016

Foto oleh Andesha Hermintomo, 23 Juli 2016

Banjir bukan satu-satunya masalah air Jakarta.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah keterbatasan air bersih dalam pipa. Hanya sekitar 50% penduduk Jakarta yang terlayani air bersih dalam pipa. Akibatnya warga miskin, di kampung-kampung yang tidak mendapatkan pelayanan air bersih terpipa, justru membayar mahal untuk membeli air secara eceran, sampai mencapai Rp. 20,000 per hari. Sedangkan seorang bujangan di apartemen mewah di pusat Jakarta hanya membayar 120,000 per bulan untuk air bersih terpipa.

Kesulitan meningkatkan jumlah air bersih terpipa ini ada pada ketidakpastian ketersedian air baku yang datang antara lain dari Bendungan Jatiluhur, yang diantar ke Jakarta melalui Kali Malang.

Hal tersebut menyebabkan penyedotan air tanah besar-besaran yang pada gilirannya menyebabkan penurunan muka tanah di sebagian kawasan Jakarta. Turunnya muka tanah secara tidak merata di beberapa tempat ini merupakan faktor penambah titik banjir dan dapat merusak berbagai prasarana bawah tanah. Maka ada kaitan antara masalah banjir dan terbatasnya pelayanan air bersih terpipa. Selain itu Jakarta memiliki masalah yang makin buruk dalam hal pencemaran air bawah tanah, sungai dan badan-badan air lainnya.

Karena itu kita membutuhkan solusi yang memecahkan berbagai masalah itu sekaligus. Kita harus melakukan pendekatan yang disebut Konservasi Air.

Di kawasan hulu kita perlu bekerja sama dengan Jawa Barat untuk menghijaukan kembali hutan. Tujuannya adalah menyerapkan makin banyak air ke dalam tanah. Ini akan meningkatkan cadangan air baku di Jatiluhur dan lain-lain, sambil sekaligus mengurangi debet/jumlah air permukaan yang sampai ke Jakarta menjadi banjir.

Di kawasan hilir, ialah di dalam kota Jakarta sendiri, kita menerapkan kebijakan zero run-off.

  • Semua air yang jatuh di tiap lahan harus dimasukkan ke dalam tanah, bukan dialirkan ke saluran. Teknologi sederhana seperti sumur resapan dapat disempurnakan dan disesuaikan dengan data yang makin rinci tentang geologi Jakarta yang kini kita miliki, misalnya mengenai dalamnya lapisan pasir yang harus dicapai oleh air serapan itu di kawasan-kawasan berbeda.
  • Air hujan yang jatuh di ruang-ruang publik seperti jalan, taman, dan lain-lain, oleh pemerintah ditampung untuk kemudian diserapkan ke dalam tanah. Ini secara perlahan tapi pasti akan mengisi kembali air tanah Jakarta untuk pertama-tama menghentikan pernurunan muka tanah di sejumlah kawasan, dan kemudian menangkal intrusi air laut.
  • Air limbah yang keluar dari kegiatan manusia dan industri harus diolah di dalam masing-masing lahan, sehingga air yang akhirnya keluar dari sistem ini menjadi cukup bersih dan layak untuk juga diseapkan ke dalam tanah atau digunakan kembali.

Dengan demikian pendekatan konservasi air sekaligus menyelesaikan tiga masalah air Jakarta: banjir, pasokan air baku, dan pencemaran air tanah maupun air permukaan.

Solusi ini memang perlu perombakan dan peningkatan kapasitas birokrasi dan seluruh warga Jakarta. Namun semua teknologi telah tersedia. Anggaran ada. Hanya perlu kerja keras menyusun dan mengawasi pelaksanaan peraturan dan termasuk mengubah kebiasaan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s