HAN AWAL, SANG MODERNIST TERAKHIR, TELAH PERGI DENGAN BERCAHAYA

Tentang Pak Han Awal, saya menulis di bawah ini pada ulang tahun ke 72 beliau, tahun 2002. (Dari buku “Kota Rumah Kita”).

Selain itu, mengantar kepergian beliau yang cemerlang, satu hal yang sangat ingin saya ingat pada bulan Mei reformasi ini adalah demikian:
Beberapa bulan (mungkin tahun, saya tak ingat betul persisnya) setelah Suharto lengser, kami bertemu. Beliau berbisik kepada saya, kira-kira begini: “Marco, itu ada teman-teman lama yang mengajak kembali berpolitik berdasarkan identitas Tionghoa, memanfaatkan perubahan dan kebebasan yang kini dimiliki orang Tionghoa, untuk menuntut apa-apa yang dulu kita ditekan.” Belum sempat saya tanya tentang jawaban beliau, beliau memegang lengan saya dan berbisik lebih halus lagi, “Saya bilang, ah, kita dan politik seperti itu sudah masa lalu, lihat anak-anak kita sekarang (sambil matanya mengarah ke Yori di kejauhan)…saya tak merasa mereka perlu dan perduli tentang identitas Tionghoa itu dibangun-bangunkan lagi. Biarlah mereka menjadi orang Indonesia baru secara alamiah, apa adanya.”
Saya belum pernah menceritakan itu kepada Yori.
***
72 Tahun Arsitek Han Awal:
Menuakah Modernisme?

Han Awal membuat pertanyaan di atas menjadi tidak relevan. Sebab ia sendiri terus relevan.

Han Awal merupakan produk pendidikan modern dengan dasar klasik, yang membuatnya mampu secara tepat memberi nilai pada kebaikan-kebaikan yang berbeda dalam banyak lingkungan dan masa, diluar gaya dan keterampilannya sendiri. Keseluruhan praktek profesional Han Awal menunjukkan dirinya seorang modernis yang sangat menghargai dan mencintai warisan masa lampau. Ia bahkan telah menunjukkan prestasi dalam melestarikan Gereja Katedral Jakarta di Lapangan Banteng dan Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada.

Memang kasus Kampus Universitas Katolik Atmajaya bukan saja tragis di akhir tahun 1980an — ketika menara baru dibangun dengan balutan postmodernist yang dangkal; tetapi juga tragis beberapa tahun belakangan ini, ketika Han Awal sudah “tidak dipakai” lagi untuk bangunan terbarunya. Bukan hanya estetika dari bangunan terakhir ini yang mencerminkan jaman baru, tetapi juga cara pengadaannya. Kampus Atmajaya mulai dibangun dengan modus ekonomi mutakhir: kerjasama dengan “pihak swasta”.

Namun ada paradoks yang menghibur modernisme belakangan ini. Anehnya, pada saat-saat ini, ketika Han Awal makin menjadi the last modernist yang masih aktif dalam profesinya, justru modernisme dibicarakan lagi, menjadi relevan lagi. Ini mengherankan bukan karena modernisme telah gagal, tetapi karena memang tidak banyak modernis yang lebih berhasil dari Han Awal di Indonesia. Namun mungkin tidak pula mengherankan, mengingat tidak juga ada non-modernis yang sungguh berhasil. Kenyataannya adalah justru post-modernisme telah memproduksi apa yang dicurigai dihasilkan oleh modernisme dan oleh Paul Ricoeur dikhawatirkan akan dihasilkan oleh “universalisation”, yaitu “mediocre civilisation”. Maka pada titik ini, mudah-mudahan pencarian kembali modernisme akan membawa kita menemukan nucleus kreativitas yang sesungguhnya dari peradaban, yaitu etika — hal yang telah ditemukan oleh Han Awal dalam karya dan prakteknya.

Saya meragukan di Indonesia ada karya arsitektur yang cemerlang –modern atau bukan– belakangan ini, terutama bila membandingkannya dengan pencapaian-pencapaian di negeri lain dan dengan apa yang seharusnya dapat dicapai. Saya juga makin percaya, bahwa salah satu letak masalah (dan karena itu: harapan) adalah pada pendidikan arsitektur itu sendiri.

Ketika rumah Han Awal di Jalan Tulodong sedang ditinggalkan (catatan: kini menjadi SCBD, contoh peminggiran pada awal tahun 1990an), suatu pertemuan terakhir di rumah itu diadakan oleh generasi berikutnya (yaitu yang kemudian dikenal sebagai AMI: Arsitek Muda Indonesia). Seisi rumah telah dikosongkan, demikian maksudnya. Tetapi saya menemukan sebuah buku oleh J. Huizinga, yaitu Homo Ludens (Manusia Bermain). Pada halaman judulnya yang di dalam, tertanda Han Ho Tjwan, Delft, Oct. ’52, yaitu tahun terbit cetakan ke empat buku tersebut, ketika Han Awal berusia 22 tahun. Han Awal memang tidak berkembang menjadi intelektual seperti beberapa sejawat seangkatan –misalnya Prof. Suwondo dan Prof. Bianpoen–, tetapi teranglah ia cukup intelektual sebagai seorang arsitek, jauh di atas rata-rata para arsitek sekarang. Bukankah ini ada urusannya dengan pendidikan? Mungkin menarik untuk mengetahui apa yang dibaca oleh mahasiswa arsitektur kita sekarang pada usianya yang ke-22.

Memang modernisme Han Awal bukanlah modernisme spektakular atau maha bintang. Secara umum tidak dapat ditunjukkan ciri-ciri yang membedakannya secara dramatis dari kaum modernis pada umumnya, kecuali adaptasi terhadap alam tropis dan kehematan negeri miskin. Modernisme Han Awal pada dasarnya adalah modernisme rata-rata yang dipraktekkan dengan baik, dengan keterampilan yang terlatih lengkap dengan perangkat etika-profesionalnya yang mendarah daging. Dapat dikatakan sikap esensial modernisme –yang justru utama dan relevan untuk keadaan negara-bangsa sedang berkembang — menonjol dengan kuatnya: kejujuran dan kesederhanaan. Kedua ciri semangat modernisme tersebut mendapat kesempatan besar dalam ortodoksi lembaga-lembaga katolik yang menjadi klien utama Han Awal di masa lalu. Di masa kini, rupa-rupanya Han Awal mulai tergeser oleh cara-cara yang lebih ‘protestan’ atau katolikisme yang telah mengambil jalan neo-konservativ sebagaimana terlihat dalam pembangunan gedung terbaru Universitas Katolik Atmajaya. Ataukah tergesernya Han Awal ini karena perubahan kantornya –meskipun bukan Han Awal sendiri– yang memang telah terlebih dahulu meninggalkan modernisme?

Karya-karya Han Awal sebenarnya cukup menunjukkan humanisme modernisme –meskipun tidak secara spektakuler– dan jauh dari “citra buruk” modernisme yang secara tidak seimbang telah digambarkan oleh para penyerangnya. Rancangannya untuk revitalisasi Kota Inti di Jl.Perniagaan-Petongkangan pada tahun 62-63, misalnya memberitahukan kita pemahaman mengenai mixed use yang sepuluh tahun terakhir ditawarkan sebagai obat mujarab untuk penyakit “monofungsionalisasi” yang dituduh diakibatkan oleh modernisme-fungsionalis. Cara Han Awal melapis-lapiskan fungsi komersial dan hunian sepenuhnya kontekstual. Ia menunjukkan bukan modernisme arsitektur yang mengingkari kebenaran mixed use, melainkan kooptasi kapitalisme atas perencanaan kota yang tidak memiliki imajinasi tiga-dimensi. Sedangkan komposisi Han Awal dengan blok perimeter dan menara-menara berketinggian sedang menciptakan variasi ruang-ruang yang kaya beragam, termasuk perspektif yang berbeda-beda terhadap bentuk detail dari berbagai arah. Ini suatu skala komunitas yang menawarkan kemungkinan interaksi sosial demokratis. Ini suatu bahasa yang dapat dilacak pada sisa-sisa idealisme modernisme di Eropah sesudah PD II, misalnya pada Bakema dan Van den Broek yang bekerja di Belanda, sebuah negeri “yang paling segera dengan mudah menyerap kecenderungan modern ke dalam praktek-praktek lembaga-lembaga publik, serta mengembangkan kecenderungan-kecenderungan ini dengan tingkat kesinambungan terbesar, dengan segala konsekuensi teknisnya”, tulis Leonardo Benevolo dalam A History of Modern Architecture.

Han Awal adalah kesempatan dalam bentuk “darah dan daging” bagi para arsitek dari generasi berikut untuk belajar mengenai modernisme yang benar — termasuki inti etikanya, bukan hanya prinsip estetikanya — ketika modernisme sedang ditilik kembali dan disadari relevansi kekal dan universalnya. Mereka perlu bergegas. Sebab hari makin senja. Sebab kearifan dari pengalaman tidak menanti dan tidak menjual dirinya. Ia juga tidak mengakui keturunan ragawi, yang terkadang mengkhianatinya.

Marco Kusumawijaya's photo.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s