KEDATANGAN MARCO*

12144661_10154056838243708_4421972645886705268_n

Oleh Ka Bati, dari Leiden.

Laki-laki itu datang tengah hari, pada jam makan siang. Postur tubuhnya kecil. Memakai jas warna gelap dengan kancing terbuka, jins coklat muda  dan syal tipis, yang kemudian saya tahu kalau itu tenun ikat Manggarai. Pakaiannya masih terlalu tipis untuk suhu 5 derajat. Hari itu, minggu pertama musim semi di Leiden.

Terlihat penampilannya santai. Kepalanya dipenuhi uban, mungkin tinggal dua puluh lima  persen helai rambutnya yang hitam. Tetapi dia tidak nampak tua dan lelah. Umurnya sekitar lima puluhan. Kabarnya dia datang ke Eropa untuk menghadiri sebuah seminar juga diskusi dengan mahasiswa Indonesia di kota para (calon) teknokrat kuliah, Delft.

“Saya Marco,”ujarnya sambil mengulurkan tangan pada Aditya yang menunggunya di pintu. Suaranya terdengar berwibawa dan ramah.

Sebentar saya berhenti membalik-balik lumpia di penggorengan dan beranjak pula ke depan pintu.

“Hai!”saya menyapa sambil mengulurkan tangan.

Dia melongok melihat ke arah dapur. Wajahnya menyiratkan rasa lapar yang ditahan-tahan. Saya mengerti, bagaimana rasa lapar disembunyikan oleh orang-orang dan bagaimana persembunyian rasa itu bisa saya tangkap dengan baik. Saya membiarkannya melirik sekilas ke arah wajan berisi kuah soto yang menggelegak. Sebagai juru masak, hal yang paling membahagiakan saya adalah bertemu orang yang sedang lapar. Apa lagi yang lapar itu adalah Marco Kusumawijaya.

Tentu tidak perlu saya jelaskan panjang lebar siapa Marco. Google atau mesin pencari ‘info’lainnya sudah bicara banyak tentang itu. Seorang aktifis, jurnalis, penulis, urbanis dan yang terhangat adalah bakal calon gubernur DKI dari jalur independen, musuh Ahok!

“Mana ini tuan rumah,”ujarnya sambil terus berjalan masuk ke ruang tamu. Saya diam saja. Tetap di dapur. Saya pikir, saya tidak perlu menjelaskan apapun padanya, juga untuk menjawab pertanyaannya soal tuan rumah. Dia seorang arsitek yang jeli. Saya tahu, dia akan segera paham siapa tuan, siapa tamu dan siapa pembantu di rumah ini.

Di ruang tamu ada Gamal yang sedang gelisah. Dengan potongan rambut yang semrawut, ketua PPI Leiden itu, tetap kelihatan gagah, itu pula berkat tuhan buat dia. Masalahnya memang agak berat, tim futsal PPI Leiden sore sebelumnya baru saja kalah bertanding di laga Eindhoven Cup, padahal ini tim andalan dan kebanggaan kami. Selain itu, bapak kami semua, Ibrahim Isa, seorang eksil dan senior di Perhimpunan Persaudaraan baru meninggal empat hari yang lalu (16/3/2016), untuk ini duka masih kuat menyelimuti.   Tadinya Gamal yang menjemput Marco ke stasiun. Tapi, karena pada jam yang sama dia ada janji menghadiri acara alumni AFS di Den Haag, dia ingin segera pergi. Itulah yang membuatnya resah dan gelisah.

Selain Gamal ada seorang lain yang sedang gelisah, Andri, mahasiswa kedokteran yang sedang magang di LUMC. Dia tidak suka perkumpulan, apa lagi pembicaraan soal politik. Dan Aditya, seorang peneliti hewan laut yang sibuk bolak balik dari dapur ke ruang tamu. Saya tahu dia tidak begitu mengerti apa dan siapa Marco, dia hanya berperan sebagai penyambut tamu. Selebihnya adalah tiga orang pakar linguistic, Nazar, Jermy, dan Arum. Seorang sosiolog, Kang Hari. Calon ahli hukum tata Negara, Fakhrizal. Dua orang analis media Zamzam dan Julia. Seorang peneliti lingkungan, Mbak Raini. Julinta, seorang arsiparis. Dian seorang dokter dari Makassar.

Sambil terus melihat kuah soto yang bergejolak– tanpa isi, hanya kuah—saya diam-diam menyimak, apa yang diperbincangkan orang di ruang tamu.

Ya, tentu saja selalu ada basa basi soal cuaca, kesehatan yang agak terganggu pada saat perubahan musim dan kisah-kisah lucu seputar rasa kaget pada musim yang berubah. Kisah-kisah lucu orang Indonesia yang salah kostum atau tentang salju yang semakin langka. Walaupun sebetulnya Eropa bagi Marco bukan daerah baru, karena dia pernah sekolah arsitektur dan tinggal beberapa lama di Belgia pada awal tahun 1990-an.

Saya tahu, waktunya untuk singgah di rumah ini tidak lama. Jam tiga siang, dia akan berangkat ke bandara dan terbang ke Indonesia. Mestinya saya segera menghidangkan makanan. Tapi, entah mengapa, saya enggan mengakhiri kerja dapur. Saya ingin soto itu ada di tungku lebih lama. Dan lumpia di penggorengan juga tidak cepat menyuning. Sesungguhnya saya hanya  ingin dia lebih lama ngobrol di ruang tamu. Lebih banyak bercerita soal kekinian di Indonesia, soal gagasannya tentang kota dan masyarakat urban.

Belasan tahun sebelumnya saya sudah mengenal Marco. Saya membaca tulisannya di Koran-koran, juga membeli bukunya. Bagi saya idenya menawarkan pencerahan, semisal mempertahankan ke-kuno-an dalam ke-modern-an. Ini semacam pengakuan akan eksistensi, menerima yang baru tanpa mengabaikan yang usang. Tidak egosi, tidak fasis.

Tentu saja Marco bukan orang pertama yang menulis dan berbicara soal toleransi, pluralisme dan HAM di Indonesia. Sebelum Marco sudah ada Romo Mangunwijaya yang juga seorang arsitek humanis. Romo Mangun sepertinya banyak mempengaruhi pemikiran mantan ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) periode 2006-2010 ini. Sekali lagi, Marco hanya salah seorang saja dari sedikit arsitek/budayawan Indonesi yang ada saat ini. Istimewanya, sekarang Marco berada di pusaran kekuasaan. Dia dikenal oleh Jokowi, presiden kita. Katanya ia pernah membawa Jokowi, yang waktu itu baru setahun menjadi walikota Solo, untuk bicara di depan ketua-ketua dewan kesenian se-Indonesia.

Setelah meneguk kopi Sumatra yang saya hidangkan dan mencomot sebiji goreng tempe yang dibawa Arum, Marco mulai bicara tentang Indonesia dengan hati-hati. Tentu saja dia sadar kalau yang ada di ruangan itu bukan orang-orang yang biasa dan bisa dikibuli. Tapi dia tidak bisa menutupi kegelisahannya tentang kondisi Negara yang terancam oleh sikap-sikap oportunistik dan masa bodoh kaum menengah, sikap fasisme para pemimpin politik, pragmatism   dan ancaman kapitalisme dan liberalisme. Sepertinya hidup penuh ancaman, tapi pembawaan Marco tidak seperti orang yang sedang terancam. Dia terlalu kuat untuk mengalah. Dia orang kota, dia orang Jakarta.

“Saya 25 tahun tinggal di Jakarta dan telah 27 tahun mempelajari kota itu. Saya bisa jamin kalau saya sangat mengerti bagaimana Jakarta. Saya khawatir kita tidak berhasil membawa negara ini ke keadaan yang lebih baik. Mungkin akan berbalik ke kondisi orde baru dulu lagi…”ujarnya. Sekilas juga dia mengajukan kritikan soal pekerja, kaum menengah baru yang tidak peduli dan mengejar kenyamanan pribadi, soal komunisme, soal kepemilikan bersama dan bahayanya. Sekali-kali dia memandang ke luar jendela, melihat ranting-ranting pohon yang masih meranggas diterpa musim dingin.

Saat obrolan semakin hangat, saat ZamZam mulai mengajukan hasil-hasil analisisnya tentang pola Pilkada di media, Fakhrizal yang mempertanyakan kemungkinan dan peluang calon independen untuk menang dan Koko Sudarmoko yang muncul dengan gagasan humanisnya untuk memberikan dukungan pada yang lemah (baca: yang bakal kalah), Andri saya lihat beringsut keluar. Dokter yang sedang mendalami masalah orthopedic ini kelihatannya semakin tidak tahan.

“Saya mau jalan ke Amsterdam Kak,”ujarnya berbisik pada saya waktu pamit.

Dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan dia tidak sedang tersinggung karena Marco bicara tentang kelas menengah yang kehilangan kepekaan.

Pertemuan siang itu bukan pertemuan politik. Di ruangan sederhana housing kami itu hanya ada tiga orang yang ber-KTP DKI, itupun belum tentu bisa memberikan suaranya buat memilih Marco. Bagi kami, Marco hanyalah seorang sahabat yang sedang dalam perjalanan. Seorang musafir dengan ide-ide kemanusiaan yang kuat tentu harus ditemani. Dan siapa teman musafir itu kalau bukan musafir yang lain juga? Ya, kami-kami ini, kumpulan orang Indonesia yang sedang mencari ilmu di rantau orang. Yang kalau pulang nanti mungkin akan dikandangkan sebagai kaum kelas menengah. Tapi Marco tidak perlu risau kami akan menjadi kaum menengah ‘kapiran’yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi. Bahkan sekarangpun, saat beasiswa DIKTI yang kami terima tersendat-sendat, kita masih bisa tersenyum bersama.

Adakah konsep yang lebih baik yang bisa Marco tawarkan untuk keadaan Indonesia sekarang? Apakah dengan maju sebagai calon independen gubernur DKI dia bisa memberi warna lebih ‘biru’ buat Indonesia secara rata? Ataukah hasratnya hanya sekedar ingin menentang ambisi kekuasaan Ahok? Tidakkah ini hanya akan menjadi panggung sandiwara, perang Baratyuda saja? saya bertanya-tanya dalam hati. Tetapi kemudian saya terkejut sendiri, adakah keadaan yang lebih baik yang bisa saya tawarkan buat Marco? Bukankah saya tahu dia lapar? Akhirnya, setelah sedikit lewat dari jadwal makan siang, saya putuskan untuk menghidangkan soto yang bergejolak panas itu. Dan dia memang lapar,”Semenjak Rabu hanya makan roti, roti dan keju,”ujarnya setengah berkelakar.

Jam tiga lebih sedikit, Marco berangkat ke stasiun. Ia harus berangkat pukul enam sore, dengan penerbangan Turkish Airlines, yang terbilang nyaman. Di tangannya sudah ada tiket kereta api, yang dibeli di Delft. “Kereta api dan angkatan laut Belanda, adalah dua hal yang menjadi modal besar negara ini yang berhasil dibangun oleh Belanda dari penjajahannya di Indonesia,” begitu gumam terakhirnya.

Sesampai di Jakarta mungkin, ya mungkin, Marco akan teringat diskusi siang itu. Ia akan memikirkan kembali, apakah pencalonannya sebagai gubernur DKI akan dilanjutkan. Ia cukup memiliki pengetahuan dan pengalaman bagaimana menciptakan kota sebagai sebuah arena untuk berbaur, inklusif, akomodatif, sebuah kata kunci: Tanpa ada yang menjadi tumbal pembangunan.

Sampai bertemu kembali Bung Marco, kami senang berkenalan dengan Anda.

*Sebuah catatan ringan tentang kunjungan Marco Kusumawijaya ke Boerhavelaan 144 Leiden Belanda 20/3/2016.

“Padusi” karya Ka Bati: Sebuah novel tentang perempuan di dalam dunia Minangkabau masa kini, diceritakan oleh dua hati dari dua sahabat perempuan.

IMG_4747.JPG

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s