ROMO MANGUN dan Pembangunan Bertumbal

 

Hari ini, 17 tahun lampau, Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, meninggalkan kita secara badaniah.

Bagi saya, salah satu jasa terpenting Romo adalah kritik dan penyadaran fundamental akan betapa tidak etisnya “pembangunan bertumbal”.

Ketika beliau “menduduki” tepian Kali Code di Yogyakarta, dan memperbaikinya bersama-sama komunitas setempat, beliau sebenarnya melawan kehendak pemerintah yang mau menjadikannya taman.

Taman itu, klangenan kelas menengah, baik. Tapi, tidak etis kalau taman harus menumbalkan rakyat miskin, mencerabutnya dari hak azasi mereka: rumah, permukiman, komunitas yang berjejaring sosial.

Mungkin memang tidak estetis secara visual, ketika tepian yang nampak dari salah satu jalan dan jembatan utama Kota Yogya itu berhamparan rumah-rumah sederhana (yang disebut kumuh oleh sebagian orang). Tapi bagi mata yang berkesadaran, itulah etika: suatu tantangan akan kesadaran publik kota. Suatu dorongan agar mata kita berkesadaran.

Sayangnya, “pembangunan bertumbal” itu kini berulang di mana-mana: di Jakarta, di Bali, di Bandung dan lain-lain.

Mari mengenang Romo Mangun dengan air mata yang tulus untuk saudara-saudara kita yang menjadi tumbal, dan bekerja mau repot untuk menghindarinya terjadi lagi. Tidak seorangpun layak menjadi tumbal. Tidak 1,000 orang demi 10 juta orang. Menumbalkan seseorang berarti menumbalkan seluruh kemanusiaan.

Marco Kusumawijaya's photo.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s