MENDEKATKAN KOTA (YANG MAKIN DIJAUHKAN DARI KITA)

Telinga-telinga di balai kota, yaitu kantor gubernur dan DPRD, makin jauh dari jangkauan suara kita. Suara-suara mereka kita dengar karena mereka berteriak dari kejauhan, diperantai oleh media yang dimiliki dan disunting oleh orang-orang yang makin jauh dari kebanyakan warga. Meja dan kursi meja mereka makin jauh dari jalan, makin tinggi di lantai-lantai gedung pencakar langit.

Presiden menjauhi kita. Ia menyingkir ke Bogor, ke istana peristirahatan musim panas, sedang musim-musim juga makin jauh dari perkiraan kita.

Keputusan-keputusan dibuat entah di mana. Pengetahuan yang digunakan datang dari tempat yang makin jauh dari pemahaman, pikiran sehat, dan kebutuhan-kebutuhan nyata kita. Pengetahuan yang dekat, yang ada di benak tiap-tiap warga, dijauhi para ahli, konsultan dan pembuat keputusan, karena bagi mereka tidak menyenangkan, merepotkan dan susah disederhanakan.

Alam makin dijauhkan dari kita. Pantai kota makin dijauhkan dari kita oleh reklamasi, oleh pasir-pasir asing yang didatangkan dari pulau-pulau, oleh kepemilikan orang perorang. Sungai dijauhkan dari pandangan oleh tembok-tembok. Air minum kita datang dari sumber-sumber yang makin jauh. Lebih dari 50% penduduk kota kita belum pernah dapat menjangkau air dalam pipa. Buah-buahan, sayur mayur dan bunga-bunga datang dari tempat yang makin jauh. Dulu dari Bogor dan Puncak, kini dari Malang. Hutan makin menjauh dan dijauhkan oleh bangunan-bangunan yang makin jauh dan mahal tak terjangkau.

Ruang dan tanah yang dulu milik kita dan dapat kita jangkau, masuki, manfaatkan bersama, makin banyak yang dipagari menjadi milik perorangan, dijauhkan dari kepemilikan bersama.

Makin banyak sesama warga tak dapat berhubungan karena tiap generasi harus tinggal makin jauh dari generasi sebelumnya, makin ke pinggir. Pusat kota makin jauh dari kelas menengah. Harga yang terjangkau makin jauh letaknya. Harga makin menjauh meninggi dari kemampuan. Kaum miskin makin diusir, dijauhkan dari pusat kota. Kampung-kampung makin dijauhkan satu sama lain oleh jalan tol yang tepi-tepinya tiap-tiap tahun makin saling menjauh, yang menyeberanginya menghadapi was-was diperkosa. Angkutan yang tersedia makin membuat kita merasa dapat menjangkau yang jauh, membuat kita terpaksa merasa dekat dengan keharusan mengarungi jarak yang makin besar.

Sampah-sampah kita makin jauh dipindahkan. Sebagian sampai ke tengah-tengah Lautan Pasifik. Makanan kita makin jauh dari pemahaman kita akan asal usulnya: Dari mana datangnya terigu ini? Dimana pabrik yang mengolahnya? Darimana bahan untuk membuat bungkusnya ini? Minyak kelapa sawit menjauhkan pohon-pohon, serangga dan orang hutan dari kita.

Orang-orang yang menginginkan keseragaman –karena memudahkan tugas mereka sebagai penyelenggara layanan umum, karena menenangkan hati mereka yang ingin mudah percaya pada satu hal saja– menjauhkan kita dari yang berbeda, dari kenyamanan berada bersebelahan untuk berbagi keunikan di antara sesama warga: Kita.

Sementara itu….sementara itu makin terasa melelahkan upaya kita sehari-hari mendekatkan kota: Mendekatkan suara kita ke telinga para pembuat keputusan, membangun kedekatan melalui solidaritas, berusaha mengenali sesama warga, berusaha memahami laut, sungai dan udara yang makin asing, membaca peta angkutan tersedia untuk menggapai sahabat lama, saudara dan orang tua, mengais-ngais ruang tersisa untuk membangun rumah bagi si kecil tumbuh, mencari-cari keberagaman dan menariknya sedekat mungkin ke hati.

Mendekatkan kota berarti mendekatkan peluang dan kesempatan mengembangkan hubungan-hubungan baru yang kreatif antara sesama warga. Mendekatkan kota berarti mendekatkan lembaga-lembaga kota yang ada–yang bekerja di bidang politik, pelayanan umum, memudahkan kehidupan bersama–kepada keterjangkauan semua warga, yang miskin maupun yang kaya, yaitu menariknya kembali ke ruang demokratis dari kungkungan kepentingan rakus sebagian kecil pihak.

Mendekatkan kota berarti membangun prasarana yang bermanfaat bagi semua orang berbarengan, prasarana yang melayani semua sebagai bebrayan, sebagai commons. Mendekatkan kota berarti membangun kedekatan sesama warga melalui tindakan solidaritas yang nyata. Mendekatkan kota berarti warga dapat ikut serta menentukan dan mengisi kehidupan di dekatnya, di sekitarnya, di RT, RW, di kampung-kampung.

Mendekatkan kota berarti membuat pelayanan umum terjangkau, dekat di hati maupun di kantong. Mendekatkan kota berarti tidak perlu berteriak untuk menyampaikan keberagaman solusi bagi keberagaman masalah. Juga: mendekatkan ide menjadi aksi yang tidak terhalang oleh sekat birokrasi, kepentingan korupsi.

Mendekatkan kota berarti mendekatkan masa depan yang panjang menjadi milik semua orang di dalam hatinya, melalui keterlibatan, sekarang! Tidak dicegat dan dijauhkan oleh kepentingan jangka pendek siklus politik.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to MENDEKATKAN KOTA (YANG MAKIN DIJAUHKAN DARI KITA)

  1. Antonio Ismael says:

    Sangat real dan sangat menggugah. Memang hal ini suatu masalah besar yg mungkin tdk terlalu nampak jelas… dan bagusnya, tulisan ini mengusulkan juga prinsip2 solusinya.

    Semoga kita tdk dibutakan dr sekat2 politik. Kalo benar, Marilah bilang benar dan kita dibenahi, kalo salah dinyatakan salah.

    Demi Kota, Bumi, …. Negara kita.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s