KOMUNITAS ANAK KALI CILIWUNG

 Kampung di sebelah satu-satunya sisa tembok kota tua Batavia ini mengingatkan Kampung yang pernah ada di Kunir yang saya kunjungi kemarin, dan telah post-kan.

Ini masih ada. Masyarakat dengan sukarela telah memundurkan rumahnya hingga di antara kali dan depan rumahnya ada cukup lebar jalan untuk keperluan perawatan kali. Rumah-rumah itu juga permanen. Mereka punya kegiatan memilah sampah. Mereka punya rakit sendiri untuk membersihkan kali (dari sampah orang lain seluruh Jakarta yang sampai ke hilir sungai ini).

Mereka telah mampu berbuat begitu banyak tanpa bantuan, bahkan dengan banyak kebijakan yang mempersulitnya.
Mereka dapat berbuat lebih banyak bila di belakangnya ada pemerintah yang mendukung. Syaratnya: Pemerintah yang paham keragaman kota dan kemampuan warga, serta tidak ditunggangi swasta.

Saya tadi hadir di sana untuk selamatan rumah keluarga sahabat Gugun yang direnovasi dengan arsitektur bambu. Warga bersyukur dan berdoa bahwa ini lagi contoh keberdayaan mereka.

Pada sisi lain, kampung deret ini berhadapan dengan satu-satunya sisa tembok kota tua Batavia. Umurnya lebih dari 400 tahun. Selama ini tak ada yang merawat kecuali warga di sana. Para ahli UNESCO yang belum lama ini mengunjunginya mengatakan, bahwa pendekatan modern dalam perawatan pusaka sejarah begini yang terbaik adalah melibatkan warga yang tetap tinggal di sana.

Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
Marco Kusumawijaya's photo.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s