Yogya: Kuasa Warga Istimewa.

“Pidato” pada karya Arief Yudi “Bergantung pada Kata-kata” pada Biennale Yogya 2015, 13 November 2015 di Jogja National Museum (JNM).

Keistimewaan Yogyakarta mulai pada tanggal hari ini, 13 November, 68 tahun yang lalu. Sebab, kata sejarahwan JJ Rizal, pada tanggal 13 November tahun 1947 Sukarno-Hatta memindahkan pemerintahan ke Yogyakarta. Yogyakarta menjadi ibukota sementara Republik Indonesia. Keistimewaaan itu tentu tidak hanya terkait dengan peristiwa tersebut, melainkan karena berbagai hal, termasuk peran sangat besar dari Sultan Hammengku Buwono IX dalam tiap masa kritis Republik Indonesia.

Entah sejak kapan, tapi sepertinya ada suatu keinginan tiap orang Indonesia mengunjungi Yogyakarta, suatu ibukota dalam makna yang lain: Ibukota kebudayaan Jawa, suatu prestise yang melampaui pusat-pusat kebudayaan manapun di Indonesia. Aura-nya pun melampaui batas-batas administrasinya sekarang sebagai suatu kota dan kabupaten-kabupatennya, bahkan samar-samar terasa menjangkau kembali batas-batas kuno yang kabur dari kerajaan Mataram.

Maka saya pun datang ke Yogya pertama kali untuk sekolah SMA pada tahun 1977. Saya mengalami tiga “guncangan budaya” yang rasanya relevan untuk diceritakan pada hari ini.

Sebelumnya saya berterima kasih telah mendapat kesempatan “berpidato” tentang Yogya ini pada saat ini, yaitu ketika saya memang selama beberapa tahun terakhir telah berada dalam proses “kembali ke Yogya” dengan tinggal di kota ini selama kurang-lebih seminggu dalam setiap bulannya.

Guncangan budaya pertama yang saya alami adalah ketika saya diminta membacakan naskah Pancasila pada upacara 17 Agustus 1977. Upacara seperti ini tak pernah diadakan sebelumnya di SMA Joanes de Britto, dan karena itu ia sering dikritik. Maka pada tahun 1977 diselenggarakanlah upacara itu dengan cara yang unik. Setiap orang berpakaian kostum apa saja: daerah asal masing-masing, setelan jas barat, dan sebagainya. Saya ditugaskan membaca naskah Pancasila. Sesudah tiga bulan baru saya menyadari mengapa orang-orang cengar-cengir ketika saya membaca teks itu, dan hingga beberapa bulan berikutnya. Saya membaca “Ketuhanan yang Maha Esa menjadi “KéTuhanan yang Maha Ésa” dst. Inilah pertama kalinya saya menyadari kemelayuan saya. Kesadaran akan bahasa adalah sesuatu yang sangat kuat menyadarkan akan keseluruhan identitas.

Namun anehnya selama di SMA de Britto saya malah mengurus majalah dinding dan sekaligus majalah bulanan, pada posisi pemimpin redaksi dan wakil pemimpin redaksi bergantian dengan seorang rekan yang juga berasal dari Pangkalpinang, Bangka. Melalui “ruang” majalah dinding dan majalah bulanan itulah kami merasakan kebebasan ekspresi, semacam ruang kecil untuk identitas kami di dalam ruang besar budaya Jawa di sekitar saya. Bersama dengan beberapa penulis lain yang juga berasal dari Sumatera, antara lain seorang almarhum Victor Zebua dari Medan, kami menguasai ruang itu dengan “Bahasa Kami”, merasa meledek orang-orang Jawa di sekitar kami, dan bertanya-tanya di dalam hati apakah sebenarnya mereka paham taburan kata-kata melayu yang kami tiupkan ke dalam teks-teks kami, sekaligus sebenarnya diam-diam merasa sangat bersyukur, bahwa mereka menerima dan membiarkan kami. Barangkali ini pulalah yang dirasakan sebagian besar pendatang yang betah di Yogyakarta ini. Ada kerangka Yogya yang khas, yang semua orang perlu menyesuaikan diri, tapi di dalamnya terdapat ruang-ruang yang bebas untuk identitas apa saja, bahkan untuk eksperimentasi identitas.

Guncangan kedua adalah ketika bersepeda menuju sekolah melihat turis kulit putih bersepada juga hampir ditabrak mobil dari belakang, ketika berhenti untuk orang menyeberang di zebra-cross di dekat Pasar Demangan yang sekarang sudah tidak ada. Ketika itu hampir semua orang bersepeda. Sedikit sekali orang bersepeda motor. Di SMA de Britto mayoritas orang, baik guru, siswa maupun karyawan, bersepeda, hanya beberapa siswa yang bersepeda motor. Salah satu yang saya ingat yang bersepeda motor adalah Agus Suwage, yang angkatannya satu atau dua tahun di atas saya.

Apa pentingnya peristiwa itu?

Peristiwa itu mengguncangkan keyakinan saya pada budaya Jawa yang katanya lebih tinggi daripada budaya kami di Sumatera, apalagi di kota kecil saya, Pangkalpinang, di pulau kecil saya, Pulau Bangka (bukan Belitung!). Mengapa mereka tidak berhenti untuk orang menyeberang? Bahkan hampir menabrak orang lain yang berhenti untuk keperluan itu. Bukankah zebra-cross untuk orang menyeberang yang harus didahulukan?

Sejak sepuluh tahun kemudian, ketika saya mulai memahami modernisasi dan kajian perkotaan, saya sering menggunakan guncangan itu untuk menjelaskan apa itu “budaya berkota dan meng-kota”. Anehnya hingga kini masih tetap jarang, atau makin jarang orang Jawa ini berhenti untuk orang menyeberang jalan. Hanya saja bedanya adalah kini saya pun mengetahui bahwa bukan hanya orang Jawa, melainkan semua orang Indonesia demikian, kecuali barangkali penghuni lama kota Balikpapan. Dengan demikian saya lolos dari pandangan esensialisme. Semoga saya juga akan segera lolos dari pandangan yang melihat modernitas, terutama yang mewujud pada kota, sebagai sesuatu yang harus dipelajari, diniatkan untuk dihayati serta disikapi dengan kritis.

Guncangan ketiga adalah ketika semua orang menggunakan mata angin, bukan kiri-kanan, sebagai petunjuk arah. Sesuatu yang aneh bagi saya pada awalnya. tetapi kemudian saya menyadari keunggulannya: mata angin itu bersifat absolut, sedang kiri-kanan tergantung pada kemana orang menghadap.

Waktu itu saya belum dan tidak paham arsitektur dan tata kota, apalagi kosmologi. Tapi kini saya memahami tata kota Yogyakarta yang sepenuhnya terpaku pada bumi. Utara: Gunung merapi, ke Selatan membentang dataran rendah hingga ke Laut Selatan. Di Timur (Kabupaten Gunung Kidul) dan Barat (Kabupaten Kulon Progo) terdapat perbukitan. Keraton dan kedua alun-alunnya terletak pada garis lurus Selatan-Utara hingga Puncak Merapi, melalui “Tugu”. Konsekuensinya, pada hampir semua jalan kita akan melihat bayangan yang jelas, tegak lurus dari kiri ke kanan atau sebaliknya, atau dari depan atau belakang Anda. Kesadaran pada lingkungan ditancapkan permanen dan setiap saat sepanjang hari. Kota Denpasar hanya secara umum terletak di Selatan Gunung Agung, tetapi pola di dalamnya tidak memiliki arah yang jelas. Kesadaran akan arah dibangun dan diingat terus melalui kewajiban meletakkan banten pada pagi dan sore hari, pada tempat dan arah tertentu. Ada banten untuk arah tertentu, dan tiap banten harus diletakkan dengan arah tertentu, untuk dewa-dewa tertentu. Dewa-dewa yang berlainan datang (“masuk” atau bayangkan saja: terbang lalu mendarat) ke ruang percandian dari arah tertentu.

Saudara-saudara, saya menganggap kesadaran lingkungan itu penting. Juga karena keadaan kita sekarang: Yogya asat!

Membangun kota yang ekologis itu bukan menanam lebih banyak pohon saja, tetapi utamanya adalah menghormati dan saling merawat semua unsur alam, species atau pun bukan. Mengapa kota Yogya yang begitu memaku pada bumi bisa diurus sedemikian sehingga men-zalim-i buminya sendiri, dan dengan sendirinya berarti menzalimi warganya sendiri. Bagaimana dengan hal-hal lainnya?

Sudah pasti selalu ada kesenjangan antara kemampuan para pengurus kota dengan perubahan yang sedang dialami oleh kota tersebut. Saya tidak khawatir dengan birokrasi yang selalu terlambat. Saya khawatir tentang ada tidaknya kuasa warga istimewa yang ada di kota ini mendorong pengurus kotanya untuk meningkatkan diri, dan/atau secara langsung mengisi, atau bahkan mengambil alih, kesenjangan itu.

Keistimewaan kota ini bukan pada kesenjangan itu tentu saja, sebab hal yang sama ada saja di mana-mana. Kota-kota kita memang aneh: jumlah keseluruhan penduduknya tidak lebih baik dari masing-masing penduduknya. Bandung, yang memiliki setidaknya dua universitas dengan jurusan arsitektur yang katanya terbaik di seluruh Indonesia, menghasilkan kota yang begitu-begitu saja. Jakarta bahkan dikerubuti ahli-ahli dari seluruh dunia, terutama Belanda belakangan ini, sejauh menyangkut air dan reklamasi.

Keistimewaan Yogyakarta ada pada kemungkinan warga istimewa kota ini membuat Yogyakarta menjadi berbeda dari gejala umum itu.

Tapi apa keistimewaan warga kota ini?

Yogyakarta memiliki kepadatan dan kedekatan banyak bakat dan kebolehan yang beragam. Lebih penting lagi adalah hubungan-hubungan yang aktif dan terus-menerus berbuah keragaman di antara ragam bakat dan kebolehan itu. Hakekat suatu kota memang kepadatan dan kedekatan. Tetapi produktifitas hubungan-hubungan yang ada tidaklah sama, dan bahkan tidak selalu membuahkan hasil. Yogyakarta dari waktu ke waktu menyaksikan munculnya bakat dan hubungan baru, yang melahirkan pula hal-hal baru.

Orang umumnya tahu bahwa Yogyakarta merumahi banyak seniman dan budayawan. Ini tentu saja tidak dapat dibantah dan penting sekali. Tetapi yang lain yang tidak semenonjol para seniman dan budayawan adalah juga para pemikir sosial, para praktisi berbagai eksperimen sosial, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain, yang ditandai dengan banyaknya organisasi-organisasi atau komunitas-komunitas teritorial serta yang berdasarkan bidang kerja. Keistimewaan produktifitas hubungan-hubungan itu nampak pada makin banyaknya pemikiran, praktik dan produk-produk yang melintasi batas-batas bidang yang konvensional. Keganderungan pada lintas-batas dan dialog serta dialektika antar bidang itu sendiri adalah indikasi dari produktifitas hubungan kreatif.

Kawan-kawan seperti Yustina Neni, Elanto Wijoyono, Agung Kurniawan, Yuli Kusworo dan banyak lain yang tak saya sanggup sebut satu-satu telah berupaya dari waktu ke waktu menggerakkan keistimewaan itu untuk hal-hal yang bersifat commons. Saya berharap itu disadari sebagai upaya yang memanggil, yang mengumpulkan, bukan mencerai beraikan warga-warga istimewa. Saya berharap itu terus-menerus menjadi dan mewujud pada tiap detik perubahan pada Yogyakarta.

Semua itu bukan tanpa tantangan. Yang mengancam negeri kita biasanya mulai dari mengancam kota-kota kita: anti-toleransi, kebenaran tunggal yang dipaksakan bahkan tanpa boleh dibahas, kebijakan yang lebih besar pasak daripada tiang, kekeringan, ketidaktepatan skala, ketidakseimbangan kesempatan pada semua sektor yang berperan, penonjolan dan ketergantungan berlebihan pada satu dua bidang atau sumber penghidupan, adalah yang antara lain selalu mengintai di tikungan tiap arah perubahan yang diambil kota ini. Sekali dua kali kota ini, sebagai suatu kolektif, boleh mengambil langkah yang salah dalam mengelola dirinya dan membangun suasana yang mengayomi pertukaran dan perbincangan serta kolaborasi berbagai pikiran, mungkin tidak apa. Tetapi secara keseluruhan haruslah lebih banyak kebijakan yang mencerminkan kecerdasan keseluruhan warga istimewanya yang melebihi jumlah dari masing-masingnya.

Kuasa warga istimewa harus dirasakan bukan hanya oleh pendatang, tetapi juga oleh para pengurus kota dan kabupaten-kabupatennya. Kuasa budaya itu baik. Tetapi tidak salah juga bila bersifat struktural dan setidaknya fungsional. Kepekaan berupa keengganan berkuasa adalah suatu kelebihan dan perlu menjadi penjaga yang baik, agar siapapun bebas dari godaan kuasa yang mengerogoti integritas, tetapi tidak perlu mencegah mengemukanya hasrat akan kota yang baik, yang lestari, yang tidak bisa lain kecuali berarti membangun dan memajukan sebanyak mungkin commons, milik bersama yang baik: udara yang baik, air yang baik, angkutan umum yang baik, wajah-wajah jalan yang baik, kerangka keragaman yang baik, dan seterusnya.

Hanya demikian keistimewaan Yogyakarta akan bermakna istimewa dan langgeng. Keistimewaan itu adalah keistimewaan warganya yang berusaha tetap istimewa.

This entry was posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s