PENGUNGSI

PENGUNGSI

Dalam beberapa hari ini perasaan kita guncang karena pengungsi dari Timur Tengah ke Eropah.

Keadaan para pengungsi membuat pangkal hidung kita perih menahan air mata. Jemari kita gemetar membayangkan perasaan takut kanak-kanak tak berdaya dan tak tahu apa yang terjadi. Simpati kita kepada orang tua, yang berjuang sekuat tenaga menyelamatkan diri dan anak-anaknya, memaksa kita berlutut memohon segala kemudahan bagi mereka.

Geram kita membayangkan mereka yang menyebabkan semua ini.

Namun kita juga meneteskan air mata haru karena ada warga masyarakat biasa yang berkendaraan menempuh ratusan kilometer menjemput pengungsi di perbatasan, sementara yang lain menyambut mereka dengan senyum dan kata-kata hangat selamat datang di stasiun sambil menawarkan berbagai keperluan sederhana–air minum, kopi hangat, susu, dan lain-lain. Suatu pemimpin agama memerintahkan tiap satuan organisasinya menerima satu keluarga pengungsi. Ini berarti 50,000 keluarga sudah tertampung, mungkin sedikitnya total 150,000 jiwa, di seluruh Eropa.

Solidaritas membentuk dirinya, di luar perhitungan-perhitungan politis dan ekonomi yang terus dilakukan para pemimpin negara. Mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan pelik.

Tiba-tiba saya pun gentar pada suatu pertanyaan, “Apa yang saya sendiri dapat lakukan?”

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s