KAMPUNG PULO

MENGAPA TIDAK ETIS MENGGUSUR ORANG KAMPUNGPULO UNTUK URUSAN BANJIR?

Karena mereka bukan penyebab banjir. Mereka korban banjir.

Kampungpulo adalah salah satu kampung tertua di Jakarta, jauh sebelum Jakarta dibangun seperti sekarang, jauh sebelum bagian-bagian lain Jakarta terisi. (Silakan lihat peta-peta kuno yang banyak di google).

Tentu sepanjang sejarah beberapa ratus tahun ada genangan di sana-sini. Tapi orang tetap menghuninya, meskipun atau bahkan ketika Jakarta masih cukup kosong untuk pindah ke tempat lain. Berarti genangan-genangan itu tidak parah dan tidak lama.

Banjir baru meningkat makin parah kekerapannya sejak tahun 1990an. Tapi kepadatan Kampungpulo segitu-segitu saja. Paling dua sampai tiga lantai. Yang meningkat pembangunan lahannya adalah di sekitarnya, dan di seluruh Jakarta.

Banjir meningkat karena run-off (air permukaan) meningkat drastis karena pembangunan DI LUAR Kampungpulo yang meningkat drastis. Dan ini karena kelalaian pemerintah mengendalikannya, karena godaan korupsi pada tiap penerbitan ijin bangunan dan pengembangan.

Jadi kalau hunian Kampungpulo yang digusur demi alasan mengatasi banjir itu berarti tidak tepat sasaran, dan tidak fair: korban banjir disuruh menyingkir untuk penyebab banjir.

Tidak etis juga karena mereka dipaksa meninggalkan asetnya (ekonomi, sosial, budaya) hasil akumulasi puluhan tahun. (Demi orang-orang yang baru saja menumpuk aset yang menyebabkan banjir). Ini berarti malah menimbulkan kemiskinan, menghapus kekayaan mereka di Kampungpulo agar orang lain dapat menumpuk aset terus sambil menambah air permukaan yang sebabkan banjir.

Ini membuat kita perlu berpikir ulang tentang “notion” tentang “kepentingan umum”.

(Ditulis setelah baca Evi Mariani Sofian yang mengutip Jo Santoso).

KAMPUNGPULO DAN HUBUNGAN MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN

Kampungpulo bermula sebagai hunian manusia yang memanfaatkan air sungai secara langsung untuk berbagai keperluan hidup.

Semua kota dibangun di dekat air tawar.

Juga Los Angeles.

Masalah datang ketika sungai menjadi kotor dan tata ruang menjadi kacau. Yang gagal bukan orang yang menghuni tepian sungai itu. Bukan juga salah mereka ketika air sungai tak dapat dimanfaatkan lagi secara langsung. Salah kita dan pendekatan kita dalam membangun kota selama 30 tahun terakhir.

Lalu Jakarta malah bikin saluran (Kali Malang) untuk mendatangkan air dari jauh, Waduk Jatiluhur. Lalu Los Angeles membuat saluran sepanjang 200 mil untuk mendatangkan air baku dari pegunungan. Dan sekarang sedang krisis karena musim kering.

Kampungpulo itu semacam pengingat terakhir tentang firdaus pertama yang sedang hilang, dan para pengabdi pembangunan mau menggantikannya dengan firdaus kedua yang sepenuhnya artifisial (dan superfisial).

Tapi dunia sedang berusaha mengembangkan “firdaus ketiga”: alam dan kota yang bersahabat. Dan itulah yang sedang diupayakan melalui pendekatan komunitas oleh teman-teman di Kampungpulo (Rita Padawangi Yu SingSandyawan, Edwin Sutanudjaja dkk) , Kalijawi (Yogya, Yuli Kusworo Mayang Elvira Joan Nayoan Amalia Nur Indah Sari Tomo Hendrawan Lilik Rohmad Ahmadi dkk) dan lain-lain, yang melanjutkan renungan, tindakan dan komuni (contemplatio, actio, communio) Romo Mangunwijaya di Kali Code.

Kita tak boleh membiarkan itu terhenti tanpa jejak, sebab itu mungkin jalan yang benar untuk kelestarian kehidupan.

RUSUN BAGUS

Belakangan ini ada argumen bahwa “Rusun bagus itu sudah seharusnya diterima oleh orang gusuran dari ‪#‎KampungPulo‬.”

Atau yang semacam itu. Dan sering ditambahi, “Tidak tahu diri dan tidak rasional kalau tidak mau terima.”

Saya kira argumen demikian itu sangat “patronising” (ke-ayah-an) bergaya orde baru, bias kelas menengah.

Apakah kelas menengah kota-kota kita mau menerima rumah yang dibuat tanpa konsultasi dengannya, dan tak dapat diubah sama sekali sesuai dengan kebutuhan sosial dan budaya-nya?

Semua arsitek (yang berpraktek) tahu betapa repot melayani client yang mau bikin rumah, dengan segala keterbatasan yang ada sekalipun, karena banyak mau-nya. Tapi itu memang layak. Sebab rumah adalah tempat orang hidup dengan harapan lama, dan dapat mewujudkan berbagai keperluan sosial budayanya, selain ekonomi dan lain-lain. Arsitek bermanfaat untuk menolong orang, bukan mendiktekan seleranya sendiri.

Suatu rumah yang “bagus” bukan hanya tampak dan fasilitasnya yang standar. Tapi juga: lokasi,lokasi, lokasi-nya. Begitu juga hubungan dengan tetangganya, dengan pekerjaan penghuninya, dengan sejarah bersama para tetangganya.

Menganggap rusun yang bagus tanpa menghargai semua pertimbangan spesifik para calon penghuninya adalah suatu sikap fasisme modernis, atau modernitas yang fasistis.

Apakah mungkin sebaliknya?
Kemarin saya ditunjukkan gambar-gambar rancangan dari tim pendamping yang dipimpin Pak Sandyawan Sumardi, antara lain terdiri dari asritek ternama yang sangat kreatif Yu Sing dan beberapa Doktor dalam berbagai bidang seperti Rita Padawangi dan Edwin Sutanudjaja, serta beberapa profesor dalam bidang arsitektur dan hukum, untuk seluruh Kampung Pulo. Rancangan itu untuk “in-situ resettlement”, untuk lokasi sekarang, bukan untuk di tempat lain. Dan dibuat dengan konsultasi mendalam dan panjang dengan penduduk. Jelas lebih kaya dan sarat dengan ide-ide sosial budaya dan ekologis yang matang. Mereka merasa memiliki. Semua masalah ekologis yang dikhawatirkan, termasuk banjir, dipecahkan.

Dan itu siap disumbangkan gratis kepada pemerintah kalau mau digunakan.

Semoga mereka mendapatkan ganjaran baik dari semesta.

Tapi mengapa pemerintah tidak mau memakai rancangan yang baik ini? Justru karena gratis? Tidak ada kemungkinan kick-backs?
Saya bahkan tidak tahu siapa dan bagaimana caranya rusun yang sekarang ada itu telah dibuat. Apakah mereka punya aset intelektual seperti tim Sandyawan dll?

SI MARCO DAN SI AHOK

Kalau yang dimaksud dengan “si Marco” di berita di bawah ini adalah saya, maka ini tidak benar.

Saya belum pernah ketemu Gub Basuki tentang Kampungpulo.

Mohon rekan-rekan wartawan tidak serta merta percaya apa saja yang dikatakan oleh Gub Basuki.

Periksanya kan gampang: Minta lihat video yang katanya ada itu.

Selain itu saya belum pernah diwawancara oleh Metro.
Saya tidak “ngomong”, saya menulis di The Jakarta Post dan di Facebook.

Cc. Evi Mariani Sofian

Marco Kusumawijaya's photo.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s