CILIWUNG YANG MANIS

Ciliwung mengalir
dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
kerna tiada bagai kota yang papa itu
ia tahu siapa bundanya.

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Dan Jakarta kecapaian
dalam bisingnya yang tawar
dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
hati yang berteriak karena sunyinya.
Maka segala sajak
adalah terlahir karena nestapa
kalaupun bukan
adalah dari yang sia-sia
ataupun ria yang berarti karena papa.

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.

Ia ada hati di kandungnya
ia ada nyanyi di hidupnya.
Hoi, geleparnya anak manja!

Dan bulan bagai perempuan tua
letih dan tak diindahkan
menyeret langkahnya atas kota.
Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung
Kali yang manis membalas menatapnya!
Hoi! Hoi!

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.

Teman segala orang miskin
timbunan rindu yang terperam
bukan bunga tapi bunga.
Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk
dan Jakarta disinggung dengan pantatnya.

W.S. Rendra, 1955 (Djakarta dalam Pusi Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta, 1972)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to CILIWUNG YANG MANIS

  1. memang susah jadi orang miskin mas………… bener saja salah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s