SETIAP (ARSITEKTUR) BANGUNAN ADALAH PROYEK PERKOTAAN

Maksudnya, setiap bangunan (atau apa saja) yang baru di dalam kota seharusnya membuat kota lebih baik.

Siapa ya yang pernah bilang begitu dulu? Aldo Rossi?

Tapi yang terjadi sekarang adalah setiap bangunan hanya menambah beban kota, menggerogoti kota. Ini kerakusan kapitalisme? Kalau menurut para sejarahwan arsitektur Marxist seperti Manfredo Tafuri, itu berarti kegagalan arsitektur di masa modern ini. Kegagalan membuat dunia atau hidup lebih baik.

Kegagalan itu bukan semata kegagalan estetik, tapi juga kegagalan etik dan politik.
Kegagalan estetik: arsitek(tur) gagal menawarkan keindahan yang melampaui selera burjuasi dan kelas menengah ngehek.
Kegagalan etik: arsitek(tur) gagal melayani masyarakat secara adil. Lebih dari 80% arsitek melayani kurang dari 20% manusia. (Angka perkiraan saya. Silakan diteliti)
Kegagalan politik: arsitek(tur) gagal membangun lebih banyak bebrayan (commons), dan lebih banyak mengabdi pada pecahan-pecahan properti privat, yang malah –itu tadi– menggerogoti kota sebagai bebrayan/commons peradaban terbesar manusia.

‪#‎gegara‬ Yogya tergenang air karena hujan lebat tapi juga sekaligus asat karena hotel dan apartemen baru menyedot air sembari menutupi tanahnya yang sejatinya berdaya-serap tinggi karena berupa pasir.
‪#‎tapi‬ bukan hanya di Yogya kan?
‪#‎buat‬ para arsitek yang bekerja untuk yang 80% dan berusaha membangun bebrayan: Yuli Kusworo Amalia Nur Indah Sari Lintang Rembulan Mayang Elvira Joan Nayoan

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s