Catatan untuk Konsumsi Ruang

Belakangan ini saya sering menggunakan kata-kata “konsumsi ruang”. Sehingga beberapa orang mulai bertanya, apa maksudnya?

Kemarin, seorang koreografer Jerman yang meneliti gerak (dalam) kota, Sebastian Mathias, mengingatkan cara yang mudah untuk menjelaskan.

Ruang, meskipun bukan barang konsumsi dalam arti sesuatu yang “habis” kalau dipakai (seperti misalnya makanan), dikonsumsi melalui tindakan menikmatinya tanpa menghidupinya, tanpa inhabitasi. Misalnya pada car-free day orang datang dari Bekasi dengan mobil, parkir di Jalan Sumenep, lalu bersepeda, ber-skate-board, atau berjalan kaki serta berlari-lari di Jalan Thamrin-Sudirman. Konsumsi ruang ini berbeda dengan “konsumsi di dalam ruang”, yang memang berkaitan, tapi berbeda, namun juga merupakan gejala yang makin menyangat bersamaan dengan menjamurnya kelas menengah baru perkotaan.

Bahwa ruang telah menjadi komoditi, yang juga berarti dikonsumsi, tentu hal yang sudah lebih dahulu dikemukakan. Pada hal ini, ada kaitan dengan kepemilikan.

Pada konsumsi ruang yang saya maksudkan, justru tidak ada kepemilikan. Atau: kepemilikan itu bersifat sementara belaka, persis seperti sesaat sebelum makanan disantap – hap! Ketika telah disantap, hubungan kepemilikan itu telah berubah atau bahkan sirna.

Bedanya dengan konsumsi ruang: Konsumsi yang lain menghasilkan residu sampah, konsumsi ruang meninggalkan sampah di dalamnya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s