Membaca Arah Pengembangan Seni Budaya di Indonesia

Catatan percikan pikiran untuk diskusi yang diselenggarakan oleh Koalisi Seni Indonesia + Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 15 Oktober 2014

1. Kelas menengah muda kota akan menjadi konsumen utama kesenian.

Sekarang pun sudah. Dan mereka mengoleksi karcis, bukan karya. Maksudnya, mereka mampu menikmati kesenian secara bersama-sama, tidak secara sendiri-sendiri, atau memiliki suatu karya seni. Sebab itu seni pertunjukan memiliki kemungkinan lebih besar. Kalaupun senirupa dinikmati, itu melalui pameran, bukan melalui kepemilikan/mengoleksi.

Tiap pameran seni rupa kita masih gratis, dengan harapan pendapatan diperoleh dari pembelian oleh kolektor, yang umurnya rata-rata di atas 40 tahun.

Jumlah yang muda dan mampu beli karcis jauh lebih banyak daripada yang tua dan mampu mengoleksi.

Karena itu perlu membuat benar-benar senirupa dapat dinikmati sepenuh-penuhnya melalui pameran (dengan karcis), sampai sedemikian rupa sehingga kalau tidak dibeli kolektor pun tidak apa-apa. Senirupa harus menjadi seni “pertunjukan”, bukan hanya dalam pengertian performance arts, tetapi juga proses dari bentuk-bentuk yang konvensioanal.

Pilihan lain: seniman perlu menghasilkan karya-karya yang terjangkau, kalau pun ingin bersifat material (seperti lukisan atau patung), oleh kaum muda menengah perkotaan.

Dugaan saya, karena harga rumah dan mobil makin tidak terjangkau dan kepemilikannya makin bermasalah, hasrat kelas menengah muda perkotaan akan kepemilikan keduannya akan menurun. Mereka akan menundanya ke masa usia 35-45 tahun. Karena itu, ada kemungkinan mereka akan mengalihkan expendable income (mulai usia 26, setelah beberapa tahun bekerja) untuk hal-hal lain, termasuk menikmati kesenian (dan perjalanan).

Sebagian orang mengatakan bahwa kaum muda itu tidak mempunyai syak-wasangka atau “prasangka buruk” terhadap masa depan, karena itu tidak negatif dan tidak takut, bahkan cenderung menggemari tanda-tanda ke arah masa depan.

Sedang seniman memang melihat masa depan sedikit lebih awal daripada orang lain (Mangunwijaya), karena kepekaan dan kekuatan imajinasi-nya. Maka orang muda senang dengan seni. Itu lah sebabnya banyak kelompok-kelompok rumah-bersama (kolektif) kesenian memiliki “fans” kaum muda. Seniman-seniman lain, dan bentuk-bentuk kesenian lain, dapat meniru mereka.

 

2. Batas-batas baru atau ketidakterbatasan?

Akan ada lebih banyak festival yang tidak berdasarkan disiplin (seperti IDF), tempat/penyelenggara (Salihara), atau batas entitas politik. Batas-batas negara akan diusik, karena ada hasrat untuk kembali kepada ketidak-terbatasan praktek-praktek budaya. Tidak membicarakan budaya dan seni dalam terminologi entitas politik (misalnya: Indonesia, Jawa Barat, Kota Bandung).

Budaya ada pada rana kehidupan, berlaku bagi siapa saja yang “menganut” dan mempraktekkannya, di mana pun ia berada, apapun kewargaan negaranya.

Selain itu akan muncul cara-cara pandang, perspektif, “framing” yang makin kreatif, yang mencerminkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menghubungkan yang sebelumnya tak terbayangkan dapat dihubungkan. (Ingat film “Babylon”) Ini antara lain terdorong atau terbentuk oleh TI yang merupakan hasil perkembangan pikiran manusia dan sekarang mulai mempengaruhi cara kita berpikir. Cara mencari (a.l. melalui Kata Kunci) pengetahuan lebih penting daripada pengetahuan apa yang dicari. Akan makin banyak, dan cepat serta sangat, pembongkaran-pembongkaran cara pandang, cara menghubungkan data dan fakta. (ref. big data dan open data).

 

3. Negara.

Negara, bersama dengan globalisasi persaingan dan kapitalisme, akan terus menyeragamkan peradaban melalui ekonomi dan norma-norma pergaulan sekuler, tetapi kebudayaan akan terus menghasilkan perbedaan dan keragaman.

Keseragaman muncul dari isolasi; keragaman lahir dari pergaulan dan banjir informasi (yang makin kencang dan sangat) karena hal ini mendorong lahirnya reaksi, seleksi dan pengolahan subyektif yang beragam.

Tentu saja negara mengelola uang kita yang berhak kita minta kembali.

Tetapi demikian juga uang yang dikumpulkan oleh Coca Cola dan Sabun Lux.

Dan bersama mereka datang batas-batas yang harus disadari. Tentu saja siasatnya adalah memperoleh cukup kebebasan sambil mendapatkan sebanyak mungkin dana.

Jangan khawatir dengan kebijakan negara. Ia akan mengikuti hasrat kelas menengah baru perkotaan, atau setidaknya memberikan porsi makin besar kepadanya, seriring dengan peningkatan jumlah dan kemampuan artikulasi kelas ini. Bahwa di sana sini selalu terasa dukungan negara kurang jumlah maupun kurang terarah, hal itu terjadi karena kesenian harus menghadapi saingan dari pelbagai “sektor” lain, misalnya kemiskinan dan masalah pedesaan atau infrastruktur. Lagipula, mandat negara kalau diperas-peras akhirnya adalah ekonomi: kesejahteraan warga sebesar-besarnya. Sekarang kurang banyak? Bandingkan saja dengan jaman-jaman sebelumnya. Tapi kini kita memang memasuki jaman baru. Artikulasi kelas menengah harus makin kuat menyadarkan itu, supaya kebijakan negara ter-beritahu. Tapi dukungan negara bukan tanpa string attached:

– Tata Cara/Prosedur.

– Korupsi

– Developmentalisme

Semuanya itu sulit dibantah karena didasarkan pada mandat negara.

 

4. Kesenian akan makin sulit.

Ialah kalau kita mengharapkan seni berperan sebagai “penangkap gejala” (yang seperti digambarkan oleh Romo Mangunwijaya, “Seniman adalah yang pertama mendengar suara ayam berkokok” meskipun bangunnya selalu paling siang/terlambat), karena gejalanya bergerak dan berubah begitu cepat. Ada gejala baru sebelum yang baru lalu berhasil dipahami. Ialah kalau kita berharap seni memberikan ketajaman penglihatan, pengungkapan dan pengusikan batin, karea dunia makin hiruk pikuk. Ialah kalau kita berharap kesenian memberikan momentum refleksi, melanggengkan pencerahan, karena dunia dan kota makin kompleks dan pelik untuk direfleksikan…

Kalau kesenian hanya untuk menghibur, mungkin tetap mudah. Atau tidak, karena manusia juga makin cepat bosan. Di sini dapat diperdebatkan makna kreativitas: apakah terus menerus menghasilkan yang baru, asal baru, atau yang baru yang mengubah sesuatu menuju yang lebih baik, setidaknya mendalam?

5. Keativitas untuk Perubahan Kelestarian

Kreativias makin diperlukan untuk memenuhi etika konsumsi dan produksi.

Jaman keberlimpahan sudah tidak perlu lagi. Ini jaman kualitas. Dan di dalam kualitas itu terkandung keperdulian etis yang dengan sendirinya indah.

Pengetahuan dan teknologi tentang bahan, energi, dan hal-hal lain terkait kelestarian makin banyak diproduksi.

Kesenian dapat ikut memproduksi dan mengubah dirinya juga, sambil mengubah dunia.

Setidaknya ada 4 cara melihat peran kebudayaan dalam perubahan menuju ke kelestarian ekologi[1]:

– terus menerus memikir-ulangkan paham tentang kelestarian: artikulasi dan pemahaman serta kesadaran

– kelestarian sebagai suatu cara hidup berbudaya

– kebudayaan sebagai jalan perubahan

– kebudayaan sebagai basis industri kreativ (yang lestari?)

 

6. Teknologi IK dan masalahnya.

Baru-baru ini Saskia Sassen[2] mengingatkan “masalah teknologi” pada kota. Saya kira ini berlaku juga untuk apa saja yang TERUTAMA hidup dan berkembang di dalamnya, antara lain kesenian, setidaknya kesenian yang terkesima dan bermuatan banyak teknologi.

Masalah dengan teknologi sekarang adalah makin cepat usang. Apa yang dibangun tergantung pada teknologi mutakhir akan makin cepat usang bersamanya. Usang berarti: sampah dan kehilangan relevansi. (Bayangkan kalau yang dbangun adalah suatu pencakar langit. Kita juga tahu ada contoh jalan layang yang dicopot di Seoul).

Sikap: selektif, benar-benar mencari yang mendasar.

Bahaya kedua teknologi menurut Saskia Sassen adalah de-urbanisasi. Ia pun melihat penangkal bahaya itu ada pada komunitas (neighbourhood, quartier,…), dengan memanfaatkan ICT untuk menghubungkan pusat-pusat pengetahuan spesialis dengannya. secara dua arah. Perubahan menuju kelestarian ekologis, misalnya, dapat sungguh tercapai dan mungkin cukup cepat apabila terjadi di tingkat komunitas secara cukup serempak. Ini dapat tercapai bila komunitas terhubungkan dengan pusat-pusat pengetahuan dan sekaligus ia juga memproduksi pengetahuan atau informasi untuk sesamanya dan pusat-pusat tersebut.

 

7. Komunitas

Seni (dan) komunitas merebak pesat sekali dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Bahkan tanggal 20 nanti saya ke Tokyo untuk diskusi dua hari tentang dengan topik seni dan komunitas ini atas undangan Mecenat (Asosiasi Korporasi Pendukung Kesenian).

Sedangkan minggu lalu, dari tanggal 8-10, dalam diskusi dengan topik yang lebih umum, yaitu Seni, Inovasi dan Kota, isu-isu komunitas juga muncul terus dengan kencang sebagai salah satu kata kunci yang penting.

Bahkan ada reaksi seorang peserta yang sedikit emosional, menggugat, mengapa begini banyak pembicaraan soal kota secara umum, padahal menurutnya kita harus bicara tentang komunitas.

Komunitas mendiami ruang-ruang kecil, yang seringkali tersembunyi terhadap orang-orang yang tidak mengenalnya, umum yang hanya mengetahui kota dari ruang-ruang besar jalan raya, taman besar, lapangan,…

Ini yang kita sebut neighbourhood, lingkungan, atau kampung (bahasa Indonesia agak bermasalah di sini. Saya rasa paling tepat kalau kita menggunakan kata kampung, dan memperkuat maknanya sedikit.).

Meskipun kecil-kecil, sebenarnya luas totalnya di dalam kota paling luas. Kita mengalami ruang komunitas sebagai kecil, karena kita mengalaminya dengan cara berjalan kaki atau naik sepeda, yang di luar jangkauan itu kita tidak rasakan sebagai “kampungku” karena mulai terjadi pembedaan-pembedaan yang disengaja maupun tidak, mungkin muncul secara organik karena fasilitas yang berkembang, orang-orang yang kita kenal, dan tanda-tana yang kita ingat terbatas pada jangkauan tertentu.

Kira-kira apa sebabnya?

Komunitas bisa didefinisikan secara sangat romantis, namun yang sangat rasional-fungsional berdasarkan kepentingan atau minat juga bermunculan. Ada kecenderungan menerapkan istilah komunitas lebih kerap pada yang terakhir itu belakangan ini. Sementara itu, komunitas yang terikat pada ruang dan nilai bersama (yang setidaknya terkait dengan ruang hidup itu) di wilayah perkotaan makin terfragmentasi (oleh kepentingan dan minat serta profesi). Kemunculan kelas menengah dalam jumlah besar dan masif belakangan ini mengubah struktur komunitas. Namun bagaimana juga masih ada komunitas yang mengakar pada ruang dan hidup dalam irama waktu yang sama di berbagai tempat. Yang lebih penting adalah bahwa kemunculkan komunitas adalah juga berarti kemuncualn PRAKARSA, keberdayaan masyarakat mewujudkan potensinya dan kepercayaan diri menunjukkan kepemilikan atas dirinya sendiri dan keinginan untuk menguasai ruang dan waktu, untuk mengambil alih banyak persoalan pemenuhan kebutuhan yang tidak terlaksana oleh pemerintah atau pasar, atau cara-cara kedua yang terakhir ini dianggap tidak dikehendaki, sehingga komunitas adalah dalam hal ini menjadi PRAKARSA MENGHADIRKAN ALTERNATIF. Mungkin ini suatu tanda juga dari meragamnya keberagaman dengan makin cepat dan sangat, sehingga pasar dan negara mungkin gagal menanggapinya, atau komunitas menganggapnya lebih baik mengurus dirinya sendiri. Komunitas seniman sebaiknya melihat dirinya dalam kesemestaan ini, bahwa mereka tidak unik, dan dalam ruang dan/atau waktu yang bersamaan dengan mereka ada komunitas-komunitas juga, yang juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang makin beragam spesifik dan tidak terlayani oleh negara maupun pasar.

Jaman kerjasama antar-komunitas sudah dimulai. Dan ini sebaiknya disadari dan dengan sengaja digalakkan. (Ini kadang lebih penting daripada bicara tentang “Strategi Kebudayaan” yang berusaha kongrit tapi tak pernah tercapai)

Kerjasama antar komunitas ini bisa mencakup saling menawarkan nilai dan pusaka dari satu kepada yang lainnya sebagai sesuatu yang dapat di-universalkan. Suatu pusaka, atau heritage, yang selalu mulai sebagai milik komunitas terbatas, dapat ditawarkan untuk dimiliki bersama oleh berbagai komunitas yang lebih banyak, sehingga berpeluang membentuk komunitas yang lebih luas atas dasar kepahaman dan kepemilikan atas suatu pusaka itu. Suatu pusaka adalah juga suatu rekaman terkodifikasi yang bila dibuka untuk kalangan lebih luas akan memperkaya pilihan-pilihan, termasuk dalam rangka perubahan menuju kekelestarian ekologis.

Komunitas lebih dari sekedar ide mempopulerkan kesenian dan mengkomunitaskan kesenian, tetapi juga suatu sikap ANTI-DISCIPLINE, bahwa siapapun, orang biasa, dapat melakukan sesuatu yang dulunya harus dilakukan oleh “profesional” dengan latar belakang studi tertentu (disiplin).

Di Tokyo minggu lalu ada presentasi oleh Andrew “Bunnie” Huang tentang ekosistem industri TI di Senzhen, di mana peralatan TI bisa dibuat dalam jumlah kecil, dan banyak orang biasa bisa bikin alat-alat yang tepat guna secara sederhana, tidak perlu serba canggih. Dia membuat laptop-nya sendiri.

Dalam pengertian itu lah, keadaan anti-disiplin, komunitas dan kesenian merebak ke segala bidang, juga science dan teknologi. Akan kemana? ???

Komunitas sebenarnya sangat produktif bukan saja sebagai kritik terhadap pasar, tetapi juga kritik terhadap negara yang efektif (karena dia menghadapkan negara dengan kenyataan dan ruang hidup sehari-hari pemegang daulat negara)

 

8. Strategi Kebudayaan

  1. Strategi pengembangan budaya dalam suatu negara
  2. Strategi pembangunan negara dengan berpanglima budaya
  3. Strategi pembangunan negara yang menyertakan kebudayaan

Yang pertama sama artinya dengan mendukung pengembangan pluralitas yang kebudayaan-kebudayaan di dalam suatu negara berinteraksi sebaik-baiknya tanpa hambatan.

Yang kedua tidak mungkin, sebab akan berhadapan dengan permasalahn pelik: Kebudayaan yang mana?

Yang ketiga mengandung bahaya membatasi kebudayaan pada: identitas entitas politik tertentu (kabupaten, provinsi, negara-bangsa), atau kebudayaan sebagai fungsi ekonomi.

Strategi kebudayaan yang paling penting:

– Mendukung kesenian, jangan mengendalikan kesenian. Untuk berguna bagi masyarakat, kesenian harus bebas penuh justru. Dari kebebasan itu lah masyarakat akan menikmati renungan-renungan dan peringatan-peringatannya yang paling kritis dan bermutu. Seni bukan hanya penghasil estetika, tetapi juga etika.

– Mendorong interaksi yang makin sangat di antara kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam suatu wilayah atau antar wilayah, apapun tingkatannya.

 

9. Kota dan Seni, KESEMPATAN pada ASIAN GAMES Jakarta 2018.

Minggu lalu saya di Tokyo menghadiri ICF. Antara lain dibahas tentang program kesenian apa yang layak untuk Tokyo? Arsitek Dominique Perrault, salah satu pionir dalam menggunakan big data dalam penataan kota (“Hotel Metropole” di Paris) mengatakan bahwa yang penting bukan mengubah fisik kota Tokyo, tetapi mengubah mentalitet urban kota itu, dengan memanfaatkan momentum Tokyo Olympics 2020. Memang kebetulan Tokyo telah memiliki semua perlengkapan/fasilitas yang diperlukan untuk menyelenggarakan Olimpiade 2020, adi tantangannya bukan di soal membangun fisik kota. Jakarta mungkin masih harus membangun (atau memperbaiki) beberapa fasilitas, tetapi tetap saja penting juga menekankan pentingnya memanfaatkan momentum Asian Games 2018 untuk “mengubah mentalitet urban” melalui kegiatan-kegiatan kesenian dan budaya.

Catatan: Pada Olimpiade London telah diselenggarakan sekitar 1,000 kegiatan kesenian. (Bagaimana kalau Jakarta 200 saja?)

Ada beberapa kemungkinan:

– Peristiwa pembukaan dan penutupan hendaknya menghadirkan kesenian yang kreatif, yang menjadikan seluruh ruang kota dan isinya (penduduknya) ikut serta.

– Sepanjang penyelenggaraan Asian Games (dua minggu) diadakan berbagai kegiatan kesenian indoor maupun outdoor. Kegiatan-kegiatan ini dapat menjadi kesempatan memperkenalkan ruang-ruang kota, komunitas-komunitas yang ada, dan cara–cara baru (kreatif) dalam mengenali atau mengalaminya.

– Dapatkah kesenian berperan meningkatkan pemahaman kritis atas ruang-ruang kotanya secara kreatif? Mungkin sebagai cara juga untuk perubahan perilaku?

Adakah yang mau menyampaikan ini kepada Ahok?

 

[1] https://theconversation.com/real-sustainable-development-requires-change-through-culture-32121

[2] http://www.moreno-web.net/parole-saskia-sassen-sociologue-specialiste-mondialisation-du-phenomene-urbain/

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Communities, governance, Jakarta, Urban Life and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Membaca Arah Pengembangan Seni Budaya di Indonesia

  1. Adolf Sinaga says:

    Kutipan Romo Mangun di atas menempel sekali di ingatan saya. Jadi ketika Mas Marco pertama mengutipnya saya bersemangat membaca terus walaupun awalnya malas-malasan. Dan akhirnya sangat tidak disesali. Banyak poin-poin yang dilengkapi dengan argumen jitu tentang arah kesenian dan budaya kita di tulisan ini.
    Ada satu pertanyaan. Ketika Anda menyinggung kata “kampung”, sebenarnya apa yang kurang (atau berlebihan) dengan kata ini sehingga Mas merasa kurang tepat? Sepertinya, penggunaannya sudah sesuai dan tidak ada alternatif lainnya di bahasa Indonesia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s