PILKADA LANGSUNG

Ini sekedar nostalgia. Saya dan Mbak Nursyahbani Katjasungkana ternyata adalah salah satu pasangan cagub-cawagub pertama dari jalur independen-langsung di Jakarta pada tahun 2001. Azas Tigor Nainggolan tadi di twitter mengingatkan hal ini. Selain kami, ada pasangan-pasangan lain juga.

Tentu saja, ketika itu UU belum mengijinkan pilkada langsung, apalagi dari jalur independen. Itulah sebabnya saya mau saja dicalonkan oleh teman-teman LSM ketika itu. Kan pasti tidak akan menang, jadi tidak ada beban.

Lawannya ketika itu adalah petahana Jenderal Sutyoso.

Karena perlawanan rakyat, beliau ketika mau menghadiri sidang paripurna DPRD harus naik helikopter untuk menghindari masyarakat yang mengepung gedung DPRD di Jalan Kebonsirih. Banyak teman-teman yang mengepung itu basah kuyub dengan mata merah karena polisi menggunakan meriam air dan gas air mata.

Meskipun tahu tidak akan punya peluang, kami waktu itu “bermain” serius. Saya dan Mbak Nursyahbani benar-benar mendaftar. Saya ingat diberi kesempatan presentasi dan berdialog dengan Fraksi Golkar. Kami mendekati semua fraksi dan parpol, sebenarnya, tapi hanya Golkar yang memberi kesempatan.
Kami juga serius bertemu dengan berbagai komponen masyarakat di tempat-tempat mereka. Ini yang mungkin sekarang disebut “blusukan”. Proses ini yang bagi saya paling berharga: menghimpun tenaga dan aspirasi rakyat untuk hak demokrasi memilih pemimpin secara langsung, dan untuk memahami bahwa kota yang lebih baik itu mungkin!

Yang asyik, pada masa-masa sulit yang disebut “perjuangan” itu, saya lalu kehilangan mobil (!) dan segala isinya, karena sopir baru belum sempat saya mintai fotokopi KTP, tersebab terlalu sibuk. Isi yang paling berharga adalah dokumen tata ruang Jakarta 1985-2005, yang kini tentu saja sangat bersejarah, karena padanya kita sekarang dapat melihat apa yang “hilang” dan “berubah”.

Pada waktu itu jelas skali: Pilkada harus langsung DONK! Dan calon independen harus BOLEH!

Beberapa tahun kemudian wacana itu bergulir dan dijadikan UU. Dan rakyat telah menikmati hasilnya.

Sekarang mereka mau membalikkannya menjadi “tidak langsung” dan mungkin nanti calon independen tidak boleh? TIDAK RELA.

#PERTAHANKAN-PILKADA-LANGSUNG.

This entry was posted in governance, Jakarta, Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s