MEDIA SOSIAL = RUANG KHALAYAK

Judul di atas tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian media sosial yang bersifat seperti ruang khalayak. Sebagian bersifat “potensial” saja, dan baru menjadi benar-benar khalayak ketika disaling-hubungkan. (Lihat blog saya sebelumnya). Atau, dapat juga dikatakan bahwa hanya sebagian sifat ruang khalayak yang melekat pada media sosial.

Namun, pada media sosial itu dapat melekat berbagai sifat buruk ruang khalayak: kekerasan, ketidak-adilan, voyeurism, dominasi kejantanan, penghakiman sepihak, ketenaran seketika (dalam dua arti: cepat dan singkat), dan lain-lain.

Sifat-sifat baik tentu ada. Tapi sebaiknya sadar akan yang buruk di atas. Pandangan ideal tentang ruang khalayak ada, dan mungkin layak menjadi cita-cita. Namun ini topik tersendiri.

O ya, yang paling penting peringatan ini: Sejak dulu ruang khalayak itu menuntut perilaku tertentu. Anak kecil sebaiknya ditemani orang dewasa. Kalau belum dewasa, harap hati-hati saja belajar menjadi dewasa di dalamnya, tanpa harus menjadi agorafobik.

This entry was posted in Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s