Mas Slamet Abdul Sjukur dan Kebisingan Kota

Saya mengenal beliau dalam hubungan yang mulainya “agak resmi,” yaitu beliau sebagai anggota Akademi Jakarta dan saya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 2006-2010). Beliau bersama-sama dengan sebagian anggota Akademi Jakarta juga mewawancarai para calon anggota DKJ ketika itu.
Di kemudian hari baru hubungan kami mengunci pada satu kegiatan bersama. Kami dan beberapa teman lain yang beliau ajak ke DKJ ketika itu — antara lain saya ingat Dr. Soe Tjen Marching, Dr. Bulantrisna Djelantik– membentuk “Masyarakat Bebas Bising.”
Beliau mulai dengan memaparkan berbagai fakta ilmiah tentang telinga dan bunyi. Saya sangat tidak menyangka bahwa beliau menyiapkan semua data itu dengan rapi. Saya tidak menyangka hal itu, karena bagi saya sebelumnya Mas Slamet adalah (hanya) seorang seniman musik kontemporer. Saya sempat menonton pertunjukannya yang menyajikan “hanya” tiga nada piano di rumah duta besar Perancis pada kesempatan pemberian penghargaan kepada Goenawan Mohammad.
Tapi tentu saja musik adalah seni yang sangat dekat dengan matematika. Nada-nada dapat dihitung, diukur dan dipatok dengan sangat tepat secara matematis. Adalah suatu keajaiban bahwa ketepatan itu dengan mudah dapat dirasakan oleh indera manusia secara langsung. Ketepatan itu juga dapat dibayangkannya dan, karena itu, nada-nada dapat dikomposisikan.
Tentu saja itu mengandaikan telinga yang sehat dan peka, yang tergantung pada keadaan fisiologis di dalam indera itu, dan kehadiran suara-suara di sekelilingnya, yang juga dapat menyebabkan kerusakan fisiologis di dalamnya. Kebisingan dapat merusak kesehatan dan kepekaan indera pendengaran.
Mas Slamet ketika itu mengajak membuat suatu gerakan agar masyarakat Indonesia sadar akan kualitas bunyi, sadar tentang betapa penting indera pendengaran (antara lain sebenarnya sebagai alat peringatan dini pertama akan bahaya bagi manusia), tentang betapa bahaya kebisingan terhadap bukan saja kesehatan jiwa kita (melalui gangguan tekanan pada indera pendengaran), tetapi juga terhadap kehilangan suatu karunia kita yang penting, yaitu kemampuan merasakan keindahan suara. Tentu saja yang dilawan mendasar ada dua: volume suara yang tidak tepat dan kualitas suara yang buruk,
Kota-kota kita makin penuh sesak dengan keduanya. Suara-suara mesin makin banyak dan dominan, tak henti-henti. Di dalam ruangan, karena banyak yang tidak dirancang dengan baik, suara-suara bergema dan sulit dipahami. Di bangunan-bangunan umum pengumuman yang terus-menerus pun demikian. Bagi yang pernah mengalami bandar udara Hasanuddin di Makassar, dapat membayangkan yang saya maksud. Namun di bandar udara Juanda Surabaya ada perkembangan menarik. Mulai tanggal 1 Juni 2014, tidak akan ada lagi pengumuman yang bersifat umum ke seluruh bandara tentang keberangkatan/kedatangan dan panggilan masuk ruang tunggu. Pengumuman hanya ada di masing-masing ruang tunggu. Ini persis yang sudah diterapkan di banyak bandara internasional di luar negeri. Pengumuman hanya akan diberikan secara visual. Dan, tentu saja: bacalah boarding pass Anda!
Salah satu soal kontroversial tentang bising di kota-kota kita tentu saja menyangkut suara dari mesjid. Kita pernah mendengar suara adzan yang bagus, dengan volume yang pas. Tapi banyak yang tidak bagus dengan volume yang sangat besar, dan yang menjadi tidak fungsional karena saling tindih antara suara yang berasal dari satu mesjid dan yang lainnya. Adzan adalah untuk memanggil orang menjalankan ibadat, jadi sejauh satu terdengar, maka tidak perlu ada dua suara yang bersaing memperdengarkan diri kepada ruang yang sama. Di beberapa negara, pelantun adzan itu bersertifikat, dan ada yang digaji oleh negara agar terjamin suaranya bagus, indah, dan tidak terlalu keras. Di Indonesia ada tradisi perlombaan melantunkan Al Quran. Bagus kalau hasilnya diteruskan kepada peningkatan kualitas pelantun adzan di mesjid-mesjid.
Kebisingan manusia, dan sebenarnya juga cahaya yang dihasilkan manusia, juga telah mengganggu spesies-spesies lain. Di beberapa tempat di dunia, kalau tidak salah di Canada misalnya, cahaya yang keluar rumah dibatasi agar serangga dan spesies lain tidak terganggu orientasinya. Pada dasarnya kebisingan adalah antitesis kesunyian yang diperlukan untuk kita menjadi pendengar yang baik, yang peka. Pendengar yang baik adalah pelengkap bagi pengujar yang baik dalam proses komunikasi yang bebas dari kesalah-pahaman, yang mendalam serta memperkaya saling memahami.
Bagi Mas Slamet, kepekaan pendengaran itu suatu karunia. Karena itu manusia bermusik. Kebisingan yang ngawur adalah musuh Nomor Satu bagi perkembangan musik, yang bukan saja dalam pengertian para profesional (pencipta musik), tapi bagi siapa saja, dalam pengertian seluas-luas dan semendasar-dasarnya.
Hal pentingnya adalah: kebisingan itu bukan saja buruk, tapi sebenarnya tidak diperlukan dan dapat dicegah dengan berbagai upaya. Para arsitek dapat merancang ruangan dengan pantulan suara yang sesuai. Perencana kota dapat mengatur jarak-jarak sumber suara, atau mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Para pemuka agama dapat menyadarkan umatnya, bahwa keindahan (suara) adalah bagian dari karunia Tuhannya juga. Mengupayakan keindahan suara melalui volume yang tepat serta nada yang bagus adalah suatu upaya menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam kisah Gilgamesh (Persia kuno) para dewa mengirimkan air bah karena mereka terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh manusia di kota-kota besarnya. Kebisingan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas dan jumawa. Kalau kita membanding-bandingkan beberapa kebudayaan, kesenyapan di ruang khalayak menjadi salah satu ukuran yang sangat penting. Budaya Jawa sangat menghargai kesenyapan, hampir serupa dengan di Jepang. Tapi belakangan ini di mana-mana kita mendapatkan ruang khalayak yang penuh dengan kebisingan yang tidak perlu, over-acting, dan dapat dicegah dengan upaya-upaya teknis, selain kesadaran untuk menghargai kesenyapan.
Masayarakat Bebas Bising belum selesai berkarya. Dan selayaknya dilanjutkan dengan antusiasme setinggi-tingginya. Mari kita mulai lagi pada hari baik ulang tahun Mas Slamet ini?
Selamat ulang tahun yang ke-79, Mas Slamet!
This entry was posted in Arts, Language and Culture, Urban Life and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s