Desa Menurut Jokowi

Dari debat capres+cawapres semalam ada beberapa catatan penting tentang desa.

Tapi disclaimer dulu ya: Ini catatan seorang ahli kota, bukan desa, yang baru belajar tentang desa satu tahun saja, dari a.l. Lilik Rohmad Ahmadi dan Yuli Kusworo

Pertama, tidak benar orang Solo itu “ndeso”, sebab tidak benar Solo itu “desa” (dalam tanda petik sekalipun), bahkan dibandingkan Jakarta sekalipun. Ia salah satu kota terpadat di Indonesia. No. 8, karena Jakarta dianggap terdiri dari 5 kota. Ia bahkan lebih padat daripada “Jakarta Utara”.

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kota_di_Indonesia_menurut_kepadatan_penduduk

Dulu saya pernah menghitung tanpa menyertakan kawasan pinggirannya, Solo malah kota terpadat di Indonesia.

Kota Solo juga unik karena penduduk siangnya lebih dari dua kali lipat penduduk malamnya, karena penduduk kabupaten (pertanian) sekelilingnya sangat tergantung padanya. Dalam hubungan inilah Jokowi dibesarkan. Tidak jauh berbeda antara hubungan Kota Makassar dan Kabupaten Maros sebagai koteks JK dibesarkan.

Ia juga salah satu kota tertua yang memiliki kesinambungan eksistensial. Interupsi-interupsi yang ia alami tidak memunahkan jejak-jejak lama, seperti halnya Palembang, Mojokerto, dan lain-lain.

Desa tentu saja pertanian. Jokowi mengemukakan apa yang kini sedang “hot” di kalangan ahli lingkungan: pertanian dengan metabolisme sirkular. Bercocok tanam terpadu dengan beternak. Bukan hal baru kedengarannya. Kan di dalam Kementerian Pertanian juga terkandung urusan peternakan. Beternak adalah bertani (dalam arti memelihara dan memetik hasilnya, bukan “hunt-and-gather”). Yang baru: hal itu sekarang di-revitalisasi dengan hitungan-hitungan, pengetahuan yang lama dan baru, serta secara lebih terorganisasikan. Di samping itu, dihubungkannya dengan penyediaan energi. Ternak (yang makan tanaman) menghasilkan pupuk organik dan sekaligus energi (biogas). Intensifikasi dimungkinkan dengan menambah atau mengembalikan sesuatu yang hilang dalam maa rantai itu. Misalnya unggas yang makan cacing dari kotoran sapi.

Maka, kemandirian yang dimaksud Jokowi menyangkut pangan dan energi sekaligus! Sayangnya, potensi pupuk organik tidak disinggung mendalam, dan malah kembali kedua capres mengandalkan pupuk kimiawi yang telah menyebabkan ketergantungan yang kronis dan merusak tanah dan air. (Subak di Bali telah memisahkan air pertanian dari air rumah-tangga antara lain karena persoalan ini).

Tentu kita paham bahwa tidak serta merta secara sekaligus kita dapat berhenti menggunakan pupuk kimiawi. Namun, jelaslah (dari pengalaman-pengalaman kasus di berbagai tempat, yang makin banyak) suatu proses peralihan KEMBALI ke pupuk organik dapat diprogramkan secara sistematis. Ini bukan kembali ke masa lalu begitu saja, sebab ada pengetahuan-pengetahuan dan teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas dan, lebih penting lagi, keragaman produk pertanian pada tiap-tiap lahan.
(Ide tentang satu desa satu produk unggulan yang dikemukakan timses Prahara di diskusi pra-dan pasca-debat di Metro TV, bertentangan dengan kebaikan keragaman itu).

Saya berharap, ketika JK menyebutkan teknologi sebagai input untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan, ia juga memaksudkan teknologi yang tepat guna (suatu istilah lama pula: appropriate technology, small is beautiful, Schoemaker), bukan sekedar “asal teknologi” (yang, paradoksnya, mungkin memerlukan lebih banyak energi fosil).

Hal ketiga yang menarik dari Jokowi semalam adalah pemikiran tentang penguatan kelembagaan usaha pertanian desa. Di sinilah kelebihannya dibandingkan Prahara. Jokowi meletakkan koperasi dalam konteks upaya lebih mendasar, yaitu badan usaha milik desa, yang dapat dimodali dengan dana yang diperintahkan oleh UU Desa. Di sini memang ada persoalan teknis, misalnya: apakah benar dana dari UU Desa dapat dijadikan modal anggota koperasi? (Dana UU Desa disetorkan sebagai modal koperasi, dan diakui sebagai setoran anggota secara sama-rata). Tapi poin-nya adalah Jokowi (dan JK tentu saja) sudah memikirkan penguatan desa juga dari sisi pengorganisasian melalui usaha tani.

Di bagian lain, mereka juga menyebutkan “pengolahan” sebagai cara meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Pengolahan dalam jumlah yang efisin (economies of scale) mengandalkan pngorganisasian yang dikukuhkan dengan struktur permodalan, entah koperasi atau apapun bentuk-bentuk lainnya. (Jokowi mengatakan, tetap koperasi lebih baik)

Nah, di situ lah letak soal mengapa debat semalam seperti ada yang “gak nyambung”, ialah ketika Prabowo berkali-kali menegaskan pertanyaannya, “Apakah Pak Jokowi setuju cetak sawah baru, 1 atau 2 juta ha?” Sebab, sementara Prabowo mementingkan angka-angka itu, Jokowi dan JK sudah (atau sedang) memikirkan “how-to”nya, dan keluarlah masalah-masalah implementasi yang mereka sudah identifikasi dan perlu dipecahkan. Angka besar, ide besar, tanpa pengetahuan detail tentang masalah lapangan dan “how-to” akan menjadi bencana besar. Inilah kelebihan Jokowi dan JK. Mereka pengusaha, tetapi pengusaha yang mulai dari bawah. Inilah gunanya blusukan. Pak JK memang tidak blusukan, tapi, yang saya dengar, selalu mencari informasi langsung ke bawah (hilir) menurut caranya. Emmy Hafild punya cerita soal ini.

Kesimpulan: Saya memilih lebih mempercayakan nasib anak saya, para petani kita, dan masa depan ketahanan pangan kita kepada Pasangan Jokowi-JK (demikian meminjam istilah moderator semalam).
Dengan harapan, tentu saja: perlunya program sistematik memperbaharui pertanian kita dengan 100% pupuk organik, yang justru dasar-dasarnya sudah terkandung pada pertanian metabolisme sirkuler itu yang sudah disinggung, tapi mungkin masih belum disadari potensi lengkapnya.

This entry was posted in Communities, governance, Nature and Environment and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s