Apakah Tata Kota Dapat Bantu Kurangi Kejahatan Seksual?

Sejauh menyangkut ruang-ruang publik, dapat! Dan, seharusnya memang demikian. Dengan catatan: tentu saja ada banyak hal lain harus dlakukan serempak.

Tiga kata kunci untuk perancangan fasilitas umum terkait hal ini adalah: penerangan, keterlihatan, dan kedekatan (dengan keramaian).

Membaca kalimat di atas, serta merta kita sudah dapat membayangkan keadaan kota-kota kita yang jauh dari memadai: jembatan penyeberangan yang tidak berlampu, atau ada tapi mati, pojok-pojok bangunan dan halaman yang gelap dan tidak terlihat dari tempat orang lalu-lalang, dan lain-lain.

O ya, juga toilet di mall yang kadang blusuk berbelit-belit ke bagian belakang atau tersembunyi, jauh dari lalu-lalang orang. Taman-taman juga banyak yang jauh dari keramaian dan gelap, sehingga hampir tidak berguna di malam hari, bahkan kadang di siang hari sekalipun. Toilet, bila dirancang dengan baik, bukanlah sesuatu yang jorok. Karena itu tidak perlu disembunyikan jauh-jauh.

Para arsitek biasanya sudah tahu, betapa standar penerangan ruang-ruang umum kita rendah sekali. Misalnya ruang tangga di bangunan, sejak terjadinya hegemoni lift, menjadi gelap, tersembunyi. Kadang-kadang orang tidak menemukan tombol penyala lampu. Standar tertinggi yang pernah saya temukan ada di Tokyo dan kota-kota Jepang lainnya. Lampu di ruang tangga akan otomatis menyala ketika orang memasukinya atau membuka pintu. Terang sekali. Ini penting, karena tangga juga berfungsi sebagai sarana utama penyelamatan diri ketika sedang terjadi bencana dan karenanya lift tidak boleh digunakan.

Trotoar juga seringkali gelap karena letak tiang lampu yang terhalang oleh pepohonan. Hal-hal begini sebenarnya menjadi bagian dari “urban design” dan “landscape design”. Disamping, tentu saja, ketekunan memelihara (memangkas) pepohonan pada waktunya dengan baik. Begitulah lagi-lagi soal ini mencerminkan kemampuan kita “merancang” dan membangun kota serta sikap dalam memelihara.

Keterlihatan berarti “pengawasan” tidak-langsung oleh warga yang lalu lalang itu sendiri. Ini memerlukan lay-out yang cermat sehingga tidak ada sudut bangunan/ruangan/halaman yang tersembunyi dari pandangan para pelalu-lalang. Jarak juga penting. Toilet sebaiknya tidak boleh terlalu jauh dari tempat lalu-lalang orang, dan sebisanya terlihat dari banyak arah. Jembatan penyeberangan seharusnya tidak tertutup oleh bentangan iklan. Halte angkutan umum tidak tertutup oleh dinding masif/tidak-tembus-pandang agar dari jauh orang dapat melihat isinya.

Bangunan yang langsung menempel ke trotoar, dengan lantai bawah yang berkegiatan dan cukup transparan sehingga orang dari dalam dapat melihat ke trotoar, dapat membantu juga pengawasan itu.

Nah, mudah bukan?

Pemerinta perlu, dapat dan wajib memiliki “inspektur” yang memeriksa agar semua persyaratan yang digambarkan di atas terpenuhi. Para arsitek sebaiknya menyadari itu juga dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari profesionalitasnya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Apakah Tata Kota Dapat Bantu Kurangi Kejahatan Seksual?

  1. bhanua says:

    seperti konsep CPTED ya pak?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s