Korupsi di Bidang Penataan Ruang.

(Dari status FB saya beberapa waktu yang lalu)

Saya ceritakan suatu rahasia umum.

Hari ini di Semarang saya bertemu para perencana tata-ruang generasi muda. Mereka ceritakan bagaimana imbalan jasa para perencana untuk pekerjaan tata-ruang “dipotong” antara 17.5 % (di daerah) hingga 30 % (di pemerintah pusat). E, ada juga yang sampai 50% di suatu provinsi di Kalimantan. Akibatany ada suatu RDTRK (tata ruang tingkat Kecamatan) yang sampai dikerjakan hanya dengan biaya Rp. 15 juta (yang sampai ke tangan mereka yang benar-benar mengerjakannya). Bahkan di Jakarta pun (!!) hal ini masih terjadi. Di suatu provinsi, dikatakan polisi dan jaksa kebagian, sekitar 2 % setiap pihak.

Modus penyerahan dana potongan ini macam-macam. 

Di Kementerian tertentu, “serah terima” ini berlangsung di kantin, di warung, dengan antara lain bertukar tas kosong dan tas yang sudah “diisi”. Biasanya warna hitam. Waktu? Biasanya antara akhir November dan awal Desember.

Ada juga yang minta “laptop” nya diperbaiki, lalu diberikan tasnya, yang ternyata kosong. Maksudnya agar diisi uang.
Seorang adik salah satu dirjen pada kementerian, yang bekerja di salah satu kementerian lain yang mengurusi tata-ruang, pernah suatu ketika menolak, tapi akhirnya menerima ketika diberitahu bahwa jumlahnya “tidak sedikit” loh, sekitar 300-400 juta.
Akhirnya dibayarkan di tempat parkir, supaya langsung masuk mobilnya.

Selain itu, pernah di Surabaya transaksinya dilakukan di tengah-tengah jembatan Suramadu.
Selain itu, ada semacam pengaturan, semacam arisan di antara para konsultan. Ada yang disebut “kelurahan” dengan “lurah”nya.

Rahasia umum bukan?

Herannya tidak ada yang mempermasalahkannya. KPK juga mungkin tidak, karena jumlah yang terlibat per-proyek umumnya kecil saja, tidak sampai 1 m.
Biaya perencanaan tata ruang maksimum cuma 1.5 M.

Tapi coba hitung. RDTRK itu per kecamatan. Di Jakarta saja ada 44 kecamatan. Seluruh Indonesia? Mungkin ada sekitar 1,250 kecamatan. Dan itu harus dibuat (ditinjau) setiap 5 tahun.

Bukan hanya jumlah total besar yang harusnya jadi perhatian kita. Tapi, dampaknya: Tidak ada produk tata ruang yang bermutu. Ini hanya jadi suatu kompleks industri untuk cari makan masing-masing, tanpa memperbaiki kehidupan publik.

Saya tidak punya cara membuktikan apa yang saya sering dengar ini benar atau tidak. Tapi ada satu dua kasus yang saya tahu persis sumber ceritanya, meskipun ybs belum bersedia menyerahkan bukti-bukti. 
Tapi ini rahasia umum yang akan dibenarkan semua konsultan tata-ruang, bukan?
Apakah kalau saya dituntut oleh Kementerian tertentu karena status ini, ada di antara teman-teman yang akan maju membela saya?

Saya berharap pada generasi muda untuk memulai perubahan. Generasi tua sudah terlalu nyaman berakar dalam kompleks industri itu. Tapi saya yakin yang tua ini tetap ada yang punya komitmen mengubah keadaan, meskipun terlalu riskan bagi mereka untuk tampil. Jadi mereka ditanyai saja.

Saya tidak tahu bagaimana cara mengubah ini. Tapi saya berharap generasi muda bisa mulai konsultasi di antara sesama, dan mungkin dengan ICW dan lain-lain?

Kalau tidak sekarang, kapan?

Apakah kita mau begini terus?

 

 
 
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Korupsi di Bidang Penataan Ruang.

  1. Reblogged this on ARSITEKS and commented:
    Koruptor Tata Ruang.

    Like

  2. sas says:

    Reblogged this on Imaji(s)asi.

    Like

  3. aighaaa says:

    Saya rasa sulit pak, banyak faktor yang mendasari, terutama kelonggaran pihak dinas, asal perut kenyang kerjaan asal2an pun tidak perlu dipertanyakan. Juga pihak konsultan yang membagi fee amat tidak rata dengan pekerja, pekerja yang merasa masih pemula dan mencari pengalaman tentu akan menerima. Kebobrokan yang sudah membudaya, miris sekali masyarakat dan wilayah obyek perencanaan yang menjadi imbasnya.

    Like

  4. Bagimana caranya supaya para “pekerja” muda bisa menolak pekerjaan-pekerjaan seperti itu ya? Bersatu kita dapat mengubah keadaan.

    Like

  5. aighaaa says:

    Itulah yang membuat saya hengkang dari analis pembuat dokumen dari pihak konsultan, bahkan ada yang hanya mendapat 5-6 juta untuk si anak yang mengerjakan rdtrk. Tentu dengan fee tsb, yang mengerjakan akan membuat analisa bahkan data yang “seenaknya” sehingga keluaran dari dokumen tidak akan pernah bisa diaplikasikan di wilayah tersebut.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s