Kedesaan Kita

Membaca kutipan ini, saya tercenung, seberapa masih tersisa dalam sikap hidup kita?
Nyatanya UU Desa yang dibuat dulu. UU Kota belum.
Semua orang ingin punya tanah, atau rumah di atas tanah.

Claude Guillot, Pola Perkotan dan Pemerintahan di Kota-kota Perdagangan Dunia Melayu (Abad ke-15 – ke-17):

“…Menurut hemat saya, hubungan erat antara masyarakat dan tanah merupakan salah satu unsur utama pemahaman tentang kerajaan Melayu.”

“…manfaat kehidupan masyarakat kota tidak menembus ke dalam kota-kota besar ini. Masayarakat-masyarakat ini tidak memberikan banyak keuntungan selain dari apa yang dapat diberikan oleh pedesaan untuk meningkatkan kehidupan dan perkembangan perorangan. Pendidikan terbatas pada pengajaran doa, dan pembahasan keagamaan sebagian besar sekedar mengulang yang sudah tertulis dalam buku-buku. Anehnya tidak ada lembaga yang diperuntukkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat: tidak ada rumah sakit, panti asuhan, atau panti jompo Melayu, meskipun lembaga-lembaga ini sudah ada di Sri Langka atau China, misalnya, meskipun pendatang dari negeri-negeri ini tinggal di kota-kota Melayu. Ternyata pandangan masyarakat pertanian di masing-masing kota, yang ditonjolkan oleh penguasa dan pembagian masyarakat berdasarkan suku bangsa banyak berperan dalam menghalangi evolusi bertahap”

This entry was posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life. Bookmark the permalink.

One Response to Kedesaan Kita

  1. Reblogged this on Blog Mas Azam and commented:
    Mer-DESA

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s