Kampung, Pasar dan Ruang Bersama

Yahoo!

Orang sering bertanya-tanya: Apa kekhususan kota-kota Indonesia?

Rupanya, makin banyak kelas menengah baru melancong ke perbagai negeri dan kota lain, makin banyak juga yang memikirkan ulang kota kampung halamannya masing-masing di tanah-air Indonesia. Seolah-olah Indonesia itu satu, padahal sebelum 1945 tidak ada persatuan yang bernama Indonesia.

Kini pun, meskipun ada kesatuan dalam sistem politik dan ekonomi, kesatuan budaya jauh dari kenyataan. Dan memang tidak perlu ada kesatuan budaya itu.

Republik Indonesia adalah sebuah negara dengan banyak budaya, yang masing-masingnya, dari Merauke sampai Sabang, berkembang dalam pusaran sejarah dan keadaan yang berbeda-beda, dengan kenyataan perkembangan Republik Indonesia sebagai salah satu irisan bersama saja. Kota-kota Indonesia terletak dalam ketegangan antara kesatuan kenegaraan itu dan keanekaragaman budaya tersebut.

Karena itu, hanya dengan syarat beberapa catatan kita dapat mengatakan bahwa beberapa sifat-sifat kota-kota di Indonesia mungkin dapat dicari di kampung, pasar dam ruang bersama. Mengapa kampung, pasar, dan ruang bersama?

Pengalaman Rujak Center for Urban Studies (RCUS) mengajak masyarakat menggali pengetahuan tentang kotanya masing-masing di Surabaya, Makassar dan Semarang, menunjukkan ketertarikan yang seketika kepada tiga ruang itu: kampung, pasar, dan ruang bersama. Hingga kini opini, ekspresi dan kegiatan di ketiga ruang di ketiga kota itu dapat diikuti terus di ayorek.org (untuk Surabaya) dan di MakassarNolKm.com (untuk Makassar) atau di rujak.org. Sementara website untuk Semarang masih dalam perbaikan.

Ajakan berbagi pengetahuan itu adalah bagian dari program yang disebut “Dinamika Pengetahuan Perkotaan.” Di Surabaya motornya adalah C20 Library bekerjasama dengan banyak komunitas dan akademisi. Di Makassar RCUS dan masyarakat bekerja dengan Ininnawa dan Kampung Buku Makassar. Sedang di Semarang terdapat teman-teman Hysteria beserta berbagai komunitas lainnya, termasuk Kampung Bustaman dan Kampung Tugu.

Barangkali karena di Kampung tersimpan kehidupan sehari-hari yang masih relatif terlindung dari lalu-lalang proses modernisasi di jalan-jalan besar. Di kampung masih segar kebudayaan yang mengakar pada ruang hidup dan hati masing-masing warga. Ketika membayangkan kota yang wajahnya tidak sama saja di mana-mana, maka pikiran kita seketika berkelana ke dunia di balik lapisan gemerlap sepanjang jalan-jalan besar, ke dalam lingkungan-lingkungan besar yang dikelilingi jalan-jalan itu. Perubahan tentu saja meresap juga ke dalamnya. Tetapi di dalam Kampung ini ada pergumulan yang lebih sangat dan panjang.

Memang sebagian kampung seketika lenyap tergusur, tanpa sisa. Tapi, di banyak yang lainnya, negosiasi berjalan lebih kencang dan menghasilkan pencampuran antara yang lama dan yang baru, ketimbang penggantian yang kalah oleh yang menang. Justru karena kampung menyerap juga pergumulan yang terjadi di seluruh kota, tetapi dengan cara yang lebih merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari, maka peneliti seperti Robbie Peters, misalnya, meneliti Kampung Dinoyo di Surabaya untuk memahami kedalaman perubahan di seluruh Surabaya, dan menghasilkan buku: Surabaya, 1945-2010: Neighbourhood, State and Economy in Indonesia’s City of Struggle.

Sementara kampung menyimpan sejarah pergaulan di dalam komunitas-komunitas mayoritas penduduk kota, pasar menyimpan sejarah hubungan antara kota dan desa, antara masyarakat kota dengan dunia melalui perdagangan dan pengaturan oleh negara. Di pasar kita mendapat pengetahuan tentang apa yang membentuk tubuh dan salah satu basis material budaya setempat. Di pasar kita memandang barang-barang mengalir masuk dan keluar, dari dan ke tempat-tempat yang seringkali tidak terbayangkan.

Jeruk nipis di Pasar Terong, Makassar, dalam jumlah yang fantastis, dapat mencapai Hongkong. Banyak juga konflik di pasar. Dan di seluruh Indonesia kita sering menemukan pedagang pasar tidak berkenan dengan bentuk-bentuk baru pasar yang dibuat sembarangan. Esensi arsitektur–kemampuan manusia memberi bentuk ruang bagi kegiatannya–dipertaruhkan di sini. Sepertinya kita masih akan terus melihat proses percobaan-percobaan memberi bentuk itu gagal bila tidak ada kreativitas dalam menafsirkan kegiatan yang setua peradaban kota itu ke dalam konteks masa kini secara dialogis.

Ruang bersama–bukan hanya ruang publik yang cenderung mengandaikan kehidupan bernegara–terasa ingin dipeluk erat-erat belakangan ini, karena ada kerisauan bahwa ia akan berkurang terus, kalaupun bukan karena jumlahnya, mungkin sekali karena perubahan keterbukaan, kualitas dan fungsinya.

Kesadaran akan ruang bersama mungkin terdorong juga oleh meningkatnya upaya mencari ruang konsumsi dan ruang variatif untuk melakukan konsumsi. Namun, bagaimanapun juga ruang bersama juga setua peradaban manusia menjadi masyarakat yang ingin sehat dan saling percaya. Sambil berupaya memeluk kembali ruang-ruang bersama yang sebelumnya terbengkalai, di seluruh Indonesia kita sedang menyaksikan kelompok-kelompok membentuk tempat bersama baru. Ruang hanya menjadi tempat yang asyik bila ada kegiatan di dalamnya.

Kampung, pasar dan ruang bersama adalah tiga sumbu kota yang penting, yang menentukan perasaan nyaman sehari-hari oleh warga masing-masing kota. Perubahan padanya akan menentukan setidaknya bagaimana kota dihidupi, bila bukan dibentuk, di masa depan. Sifat kota tampil dengan jujur pada ketiganya. Apakah kota berubah menjadi lebih baik atau buruk serta merta, tanpa dapat ditutup-tutupi, akan nampak pada mereka.

Karena itu, untuk mengetahui sifat kota-kota di Indonesia dan kemungkinan masa depannya, marilah kita simak apa dan bagaimana kampung, pasar dan ruang bersama di dalam kota-kota kita. Mari berbagi cerita tentangnya dari masing-masing kota tempat Anda berada. Kalau Anda ada cerita, mari berbagi, kirim ke Yahoo melalui kolom komentar di bawah ini. Siapa tahu, para caleg tahu bahwa ini soal penting.

 

This entry was posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Life, Urban Planning and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kampung, Pasar dan Ruang Bersama

  1. Reblogged this on Blog Mas Azam and commented:
    bagaimana jika kampung, pasar dan ruang bersama ini semakin tergerus oleh modernisasi, bagaimana bentuk peradaban kota bila terjadi demikian.

    Like

  2. bagaimana jika kampung, pasar dan ruang bersama ini semakin tergerus oleh modernisasi, bagaimana bentuk peradaban kota bila terjadi demikian. ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s