Dasar-dasar Bagi RUU Kebudayaan

Ringkasan:

  1. Suatu RUU Kebudayaan RI adalah suatu strategi dan wahana untuk mengembangkan kebudayaan-kebudayan dan tiap-tiap anggotanya di dalam wilayah Republik Indonesia, untuk mampu terus menerus menyikapi dan mengolah kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul di masa masa depan sebagai kesempatan yang bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia secara lestari.
  2. Kebudayaan nasional Indonesia terdiri dari semua dan setiap kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam wilayah RI, dan apa saja yang muncul dan terbentuk  dari pergaulan di antara kesemuanya tersebut dan antara sebagian atau seluruh dari kesemuanya itu dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di atau datang dari luar RI.
  3. Seni adalah dimensi ekspresif dan komunikatif kebudayaan yang menjembatani relung privat dan ruang khalayak.  Ia mengolah dan menawarkan nilai-nilai baru dan lama yang diperbaharui secara kritis.  Dalam keadaan dunia yang berubah cepat dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang makin cepat dan banyak bermunculan, seni perlu didukung untuk makin kerap bereksperimen pula. Untuk berfungsi maksimal, ia harus bekerja di dalam ruang kebebasan maksimal. Kebebasan dalam kesenian bukan sekedar kebebasan untuk mengemukakan pendapat, tetapi kebebasan untuk mencipta, yang memerlukan berbagai kondisi dan sarana-prasana pendukung.
  4. Kota akan merupakan lokasi utama manusia Indonesia di masa depan. Desa dan penduduk desa mungkin tidak berkurang, tetapi yang tinggal di desa sekarang akan mengalami desa-desanya mengota, paling tidak pada sebagian aspek-aspek kehidupannya. Kota atau kondisi perkotaan yang sangat saling terhubungkan akan merupakan konteks utama tempat produksi kebudayaan akan berlangsung.  Ini pun dapat menjadi kesempatan bagi banyaknya kearifan budaya dan kesenian yang sekarang terdapat di wilayah pedesaan untuk lebih berkembang atau memberikan kontribusi bagi kebudayaan baru yang akan bermunculan sebagai hasil dari pergaulan yang disangatkan antara desa dan kota.
  5. RUU Kebudayaan haruslah menjabarkan kewajiban negara dalam hal:
    1. Menjamin dan menyangatkan pertumbuhan masing-masing kebudayaan tersebut,
    2. Menjamin kebebasan anggota-anggota tiap-tiap kebudayaan untuk mempraktikkan kebudayaannya masing-masing.
    3. Menjamin dan menyangatkan pergaulan yang leluasa, setara dan damai di antara semua (anggota) kebudayaan-kebudayaan itu dan di antara mereka semua dengan kebudayaan-kebudayaan di luar RI.
    4. Negara harus membangun keadaan dan menyelenggarakan sarana dan prasarana yang mendukung proses-proses di atas.
    5. Negara perlu menjamin dan menegaskan ketersediaan beberapa sarana-prasana dan tata-cara membangun kota yang baik untuk mendukung proses pengembangan kebudayaan secara umum dan kesenian secara khusus.
    6. Negara perlu mendukung proses pembentukan kebudayaan berkota dan mengota yang adab, yang memenuhi syarat-syarat etik dan estetik.

Penjelasan

Untuk dapat menyusun suatu RUU Kebudayaan yang baik, kita perlu memiliki pandangan yang jelas yang menjawab pertanyaan-pertanyaan kunci ini:

  1. Bagaimana kita melihat kebudayaan?
  2. Bagaimana kita melihat masa depan?
  3. Bagaimana kita melihat seni?
  4. Bagaimana kita melihat kota ?
  5. Bagaimana kita melihat “fungsi” suatu UU dalam konteks semua yang di atas?

1. Bagaimana kita melihat kebudayaan?

Di masa Orde Baru kita telah terperangkap dalam pandangan budaya yang statis dan hirarkis. Taman Mini Indonesia Indah merupakan salah satu contoh yang menunjukkan hal tersebut. Kemudian ada definisi bahwa kebudayaan nasional Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, yang mengandaikan juga bahwa batas-batas entitas kebudayaan seolah berkenaan dengan batas-batas administrasi negara. Memang ada beberapa entitas kebudayaan yang batas-batasnya berkenaan dengan batas-batas administrasi daerah, tetapi tidak selalu demikian. Di samping itu ada berbagai kebudayaan yang merupakan pencampuran dari berbagai kebudayaan di sekitarnya, tetapi kemudian menghasilkan otentisitas dengan kadar yang berbeda-beda. Aspek statis pada pandangan demikian ada pada anggapan bahwa seolah batas-batas itu tetap atau dapat ditetapkan sekali jadi, dan unsur-unsurnya dideskripsikan secara baku sebagai acuan untuk banyak hal, seolah tidak akan berkembang lagi, padahal yang ada sekarang ini merupakan bentuk sementara saja dari hasil proses panjang sebelumnya.  Aspek hirarkis nampak pada pembagian kebudayaan menurut hirarki negara: nasional, provinsi, dan kabupaten. Yang di wilayah kabupaten dianggap “sub-” dari yang provinsi, dst.nya. Konsepsi tentang “puncak” tidak lagi dapat diterima justru karena berada dalam konteks hirarkis demikian. Pandangan kebudayaan yang statis dan hirarkis tidak sesuai dengan kenyataan, dan pemaksaannya menyebabkan perkembangan kebudayaan yang tidak mengayakan dan membebaskan (emasipatif), melainkan memiskinkan keragaman (sambil tidak juga memuncakkan atau memperdalam apa yang tinggal) dan menekan yang dianggap lebih “rendah.”

Sumpah Pemuda menyebutkan bertanah(-air) dan berbangsa satu, (tapi) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.[1] Tidak pernah dikatakan “bahasa yang satu”, apalagi kebudayaan yang satu. Para pendiri RI sadar bahwa tidak perlu ada cita-cita “berbahasa satu” dan “berkebudayaan satu” karena hal itu akan berarti suatu nasionalisme yang fasistis. Kita memerlukan, menjunjung suatu bahasa persatuan, tetapi tidak berarti yang lain diabaikan. Mereka tahu Indonesia terdiri dari “banyak kebudayaan”. Kebangsaan yang satu tidak harus mengandaikan “kebudayaan yang satu”. Sedangkan hubungan antar-budaya (interkulturalisme, bukan hanya multi-kulturalisme) sudah berlangsung sejak seribu tahun lebih di antara penduduk yang mendiami wilayah yang kini disebut Republik Indonesia.

Konsepsi kebudayaan Orde Baru dapat dikatakan bertentangan dengan cita-cita para pendiri RI.

Kritik pasca-modernisme membebaskan kebudayaan dari pandangan hirarkis dan statis. Ia menekankan kebebasan kebudayaan-kebudayaan untuk berkembang menurut kebutuhannya dan kekuatannya masing-masing. Kebudayaan selalu bergaul di antara satu dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan baru selalu terbentuk lagi dan lagi, sementara yang sudah terbentuk juga mengalami perubahan terus menerus. Tidak ada potret yang selesai dari suatu kebudayaan. Sikap yang realistis dan bijak serta menguntungkan adalah menyangatkan pergaulan itu dengan sadar, mendukungnya dengan keperluan-keperluan sarana-prasarana serta kondisi yang tepat atau subur. Ini realistis karena memang demikianlah sifat kebudayaan. Bijak, karena dengan demikian emansipasi dimungkinkan. Menguntungkan karena hal itu akan meningkatkan kemampuan kreativ para anggota setiap kebudayaan, dan membuatnya menjadi produktif.

Karena itu tawaran definisi kebudayaan (nasional) Indonesia adalah:

Kebudayaan nasional Indonesia terdiri dari semua dan setiap kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam wilayah RI, dan apa saja yang muncul dan terbentuk  dari pergaulan di antara kesemuanya tersebut dan antara sebagian atau seluruh dari kesemuanya itu dengan kebudayaan-kebudayaan yang datang dari luar RI, dengan memanfaatkan alam dan ruang Republik Indonesia.

Kebudayaan Indonesia adalah apa saja yang lahir dari pergaulan yang sangat antar budaya-budaya yang jamak secara damai dan organik. Melalui pergaulan ini maka mau tidak mau akan lahir hal-hal “baru” yang khas Indonesia, karena lahir di wilayah Indonesia dan berdasarkan apa-apa yang sudah ada di Indonesia dan yang dari luar. Namun, apa yang lahir baru ini tidak perlu secara ekslusif diakui sebagai Indonesia dengan mengabaikan yang lainnya, yaitu unsur-unsur pelahirnya. Apa yang Jawa, atau Sunda, atau Batak, adalah Indonesia, sebagaimana juga apa yang lahir dari pergaualan antara Sunda, Batak, Arab, Cina, India, Perancis, dan lainnya beralaskan tanah air Indonesia.

2. Masa Depan Bersifat Terbuka (dan Tidak Sepenuhnya Terduga)

Merencanakan masa depan memang memerlukan suatu perumusan cita-cita,  visi, atau tujuan yang ingin dicapai. Namun, akan merupakan kesalahan yang fatal apabila tujuan itu dirumuskan bersifat tetap dan statis selama proses mencapainya, apalagi bila rumusan itu sendiri tidak tepat dan tidak mencerminkan kepemilikan yang luas dari semua yang berkepentingan. Kenyataan yang akan dihadapi adalah bahwa: dalam masa kurun waktu ketika proses kerja untuk mencapai tujuan tersebut, biasanya akan terjadi perubahan-perubahan di dalam maupun di luar. Perubahan-perubahan itu dapat diolah menjadi kesempatan, atau bisa menjadi perusak kalau tidak diolah demikian.

Masa depan adalah suatu proses yang akan terus mengandung hal-hal yang tidak dapat terduga sepenuhnya sekarang. Hal-hal ini dapat menjadi ancaman atau kesempatan tergantung kesiapan kita. Tidak ada sesuatu yang dengan sendirinya menjadi kesempatan atau ancaman.

Di dalam cita-cita suatu masa depan, karena itu, haruslah terkandung kesiapan dan kemampuan yang setinggi-tingginya untuk secara cerdas menyikapi perubahan-perubahan kontekstual yang akan terjadi di masa depan. Sebenarnya inilah yang bersifat tetap. Selain ini, dapat ditambahkan cita-cita lain, yang harus diberi catatan: senantiasa harus ditinjau kembali setiap beberapa tahun berlalu. Suatu undang-undang yang berjangka waktu cukup panjang hendaknya menetapkan yang mendasar, yang relatif tiak akan berubah untuk waktu yang cukup panjang. Sedangkan peraturan-peraturan lain yang lebih mudah diubah hendaknya mencakup hal-hal yang akan berubah mengikuti perubahan jaman.

Dengan kemungkinan hal-hal lain yang makin banyak, pada saat ini setidaknya kita dapat memastikan bahwa pergaulan antar-budaya (bukan hanya antar bangsa) akan makin menyangat di masa mendatang. Inilah sesuatu yang harus mampu kita sikapi dan olah sebagai kesempatan untuk mengembangkan kreativitas pada tiap-tiap orang di dalam wilayah Indonesia, dan pada tiap-tiap kebudayaan (kolektif).

Kesangatan pergaulan itu akan meningkat setidaknya karena dua hal yang sekarang nampak: teknologi informasi yang bukan saja makin tersebar, tetapi juga makin menyebarkan secara egaliter berbagai pengetahuan dan persemaiannya; dan kemampuan penduduk Indonesia yang makin besar dalam menggapai pengetahuan dan keterhubungan dengan kebudayaan-kebudayaan lain di dalam maupun di luar RI.

Apakah kelengkapan budaya yang diperlukan untuk tujuan tersebut?

–       Kreativitas

–       Kekayaan keberagaman budaya yang hidup dan dihidupi terus sebagai dasar bagi kreativitas

–       Kecerdasan dan keterbukaan atas dasar pengenalan dan pengolahan keragaman budaya yang dimiliki

–       Kepercayaan diri yang kuat diserta keterbukaan serta keberanian yang bebas untuk bergaul dan menyerap serta mengolah berbagai kebudayaan lain, baik dari luar maupun dari dalam wilayah RI.

–       Keberagaman budaya di dalam wilayah RI sendiri sudah merupakan kesempatan yang sangat luas untuk melatih kemampuan pergaulan antar-budaya, hanya dengan syarat bahwa kita justru perlu memandang secara positif semua kebudayaan yang ada di Indonesia sebagai “yang lain”, bukan secara simplistik menganggap sama semuanya.

3. Kesenian

Kesenian adalah suatu dimensi kebudayaan dimana pergaulan itu diolah dan direnungi, dicoba-dicoba diberi bentuk dan dituturkan dengan segala kegagapan dan kefasihan yang silih berganti, yang kadang “bertukar tangkap dengan lepas,” sehingga akhirnya pada suatu saat diterima sebagai kelaziman yang khas. Bukankah Musik Keroncong demikian prosesnya, sehingga kini dengan besar hati dan bangga kita akui sebagai “Musik Indonesia” yang lahir dari pergaulan antara berbagai budaya dari dalam dan luar wilayah Republik Indonesia?

Seni adalah dimensi ekspresif dan komunikatif kebudayaan yang menjembatani relung privat dan ruang khalayak.  Ia mengolah dan menawarkan nilai-nilai baru dan lama yang diperbaharui secara kritis.  Dalam keadaan dunia yang berubah cepat dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang makin cepat dan banyak bermunculan, seni perlu didukung untuk makin kerap bereksperimen pula. Untuk berfungsi maksimal, ia harus bekerja di dalam ruang kebebasan maksimal. Kebebasan dalam kesenian bukan sekedar kebebasan untuk mengemukakan pendapat, tetapi kebebasan untuk mencipta, yang memerlukan berbagai kondisi dan sarana-prasana pendukung.

Mengapa kesenian (dan pemikiran yang berjalan seiring dengannya) memiliki kedudukan khusus di dalam kebudayaan? Karena ia adalah wajah terdepan kebudayaan yang menampakkan diri secara nyata dan terbuka kepada khalayak. Karena ia komunikatif dan ekspresif, ia menggugah dialog dan dialektika untuk mengolah dan memproduksi (kembali) bukan hanya bentuk-bentuk karya seni, tetapi juga pemikiran dan nilai-nilai terkait. Kebudayaan tanpa kesenian yang hidup adalah bisu-tuli; dan tentu saja kesenian tanpa pemikiran adalah buta.  Tanpa kesenian yang hidup, kebudayaan tidak dapat berpikir dan bersikap kritis terhadap dirinya sendiri dan terhadap yang lain.

Mendinamisasikan kebudayaan pertama-tama, dan tidak bisa tidak, adalah mendinamisasikan kesenian dengan cara mendukungnya. Kesenian tidak dapat diarahkan, tapi ia (dan sebagai konsekuensinya kebudayaan secara luas dan masyarakat yang memeluknya) dapat mendapat manfaat dari dukungan yang diberikan kepadanya.

Kreativitas hanyalah salah satu aspek dari kesenian. (kreativitas artistik adalah juga hanya salah satu bentuk kreativitas). Kreativitas (melalui kesenian) diperlukan bukan hanya untuk inovasi produk, tetapi juga untuk menggugah pemikiran dan inovasi di dalam organisasi sosial, pemahaman tentang diri sendiri dan harapan masa depan, yang semuanya penting untuk menjadi masyarakat yang tercerahkan.

4. Kota

Proses urbanisasi bersifat tidak-terbalikkan. Makin banyak orang, termasuk orang Indonesia, hidup di dalam kota, sebagian karena pindah ke kota, sebagian lagi karena “kondisi perkotaan” mendatangi mereka. Jumlah pekerjaan di dalam bidang pertanian berkurang prosentasenya. Selama produksi pangan masih mencukupi secara adil untuk semua, sebenarnya perubahan tersebut tidak apa-apa. Dengan kata lain, kehidupan kebudayaan masa depan yang akan muncul akan makin terbentuk oleh keadaan kekotaan. Secara umum kekotaan berarti kesangatan segala hal: kepadatan penduduk, kepadatan ideologi, dan kepadatan interaksi. Kekotaan juga berarti kehidupan yang makin menjauh dari hubungan langsung dengan alam, ketergantungan kepada prasarana dan sarana bersama yang menuntut antara lain kemampuan berbagi ruang dan waktu serta segala hal di dalamnya. Sebagian persoalan perkotaan kita muncul dari proses transisi budaya dari bukan-kota menjadi kota yang belum selesai atau tidak berpanduan.

Kota akan menjadi tempat terpenting dan tersangat untuk produksi dan reproduksi kebudayaan masa depan. Ia juga akan memiliki kemampuan untuk mendukung proses di pedesaan, bukan harus mengabaikannya. Kota juga akan menjadi simpul terpenting antara berbagai kebudayaan, yang dari mana saja, dari dalam maupun dari luar batas-batas wilayah negara serta kebangsaan. Kota menjadi krusial bagi perkembangan budaya masa depan.

Atas dasar itu, kota perlu menjadi baik untuk mendukung proses produksi dan reproduksi tersebut. Ia perlu memudahkan interaksi, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.  Sebaliknya, kebudayaan dapat membantu mengadabkan kehidupan perkotan, meningkatkan kepekaan, dan mendorong pemikiran-pemikiran kritis, memberikan kontribusi dalam perumusan acuan-acuan kehidupan yang baik dan membaik.

Pada saat ini pemerintah, melalui Kementerian Dalam Negeri, sedang menimbang suatu undang-undang perkotaan untuk dibahas parlemen di tahun 2015. Suatu irisan (interface) antara RUU Kebudayaan dan RUU Kota perlu dicari atas dasar pertimbangan di atas.

5. Fungsi UU Kebudayaan

Suatu undang-undang kebudayaan selayaknya dipandang sebagai strategi dan wahana untuk menyiapkan satu bangsa Indonesia dengan banyak budayanya yang jamak memanfaatkan apa yang akan muncul dalam proses masa depan sebagai kesempatan. Memanfaatkan sesuatu sebagai kesempatan dengan sendirinya mengalahkan kemungkinannya sebagai ancaman.

UU Kebudayaan hanya dapat memperkuat kemampuan kita mengolah kesempatan-kesempatan yang akan muncul di masa depan, yang sebagian tentu saja karena kehendak dan tindakan kita sendiri, jika ia membebaskan dan mendorong berkembangnya semua kebudayaan-kebudayaan yang ada melalui pergaulan antara mereka secara lancar, damai dan sangat. RI tidak memulai proses ini dengan kosong. Ia telah memiliki kekayaan keragaman budaya yang sangat besar, yang semuanya perlu di-revitalisasi dengan menyingkirkan cara pandang yang statis, hirarkis, fasistis dan ketakutan. Sebagian dari kebudayaan-kebudayaan yang pernah ada di wilayah RI telah hilang, mati suri atau tertekan. Semuanya harus diupayakan tumbuh kembang kembali secara aseli, tidak dibuat-buat, melalui penghormatan, penggalian dan pendukungan. Bahkan unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dihidupkan kembali, karena misalnya kehabisan komunitas pemeluknya, perlu disimpan dan terbuka untuk dimaknai dan dipelajari kembali. Yang pernah tertekan perlu diberi kesempatan tampil dan tumbuh kembali.

Namun kekayaan yang hidup kembali tidak akan bertahan kalau tidak terus menerus memperbaharui diri melalui pergaulan antar-budaya. Karena itu, selain menggali, mengakui, merawat dan mengembangkan masing-masing kebudayaan, perlu upaya-upaya mendorong dan memudahkan pergaulan antar berbagai budaya. Ini memerlukan penciptaan keadaan yang menyuburkan dan memudahkan, dan diwadahi saran dan prasarana yang tepat guna.

Tujuan-tujuan pragmatis memanfaatkan budaya melalui “industri-budaya” (Kulturindustrie) mungkin tidak dapat dihindari, TETAPI pengembangan budaya tidak boleh dikendalikan oleh tujuan-tujuan itu. Pemanfaatan harus mampu mengambil apa yang dapat diraup sebagai konsekuensi.


[1] Pertama:
 Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
 Kedoea: 
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
 Ketiga:
 Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

This entry was posted in Arts, Language and Culture, governance. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dasar-dasar Bagi RUU Kebudayaan

  1. ratna dewi says:

    Thank you masukannya until RUU Perkotaan. Hopefully be diskusi half INI next time kalau ada wkt yg match.

    Like

  2. Penjabaran yang baik dan perlu untuk ditindak lanjutkan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s