Sampah Bukan Sampah

Fakta sampah:
6000 Ton sampah Jakarta tiap hari diangkut grobak dari sumbernya, yaitu rumah-rumah tangga dan lain-lain, ke 267 TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di tiap kelurahan.
Dari TPS itu lalu diangkut truk ke Tempat Pembuangan Akhir di Bantargebang, Bekasi, untuk proses akhir.
Di seluruh Jakarta ada 267 Kelurahan, sekitar 4.000 RW, 40.000 RT. Diperkirakan ada sekitar 80.000 gerobak sampah. Bayangkan ada berapa banyak petugas?

(angka dari @ernieness )

Apakah pemilahan dan pengurangan bukan pilihan yang lebih tepat? 

Sampah organik mungkin masih 60-70%. Composting sudah banyak dikenal. Hanya perlu industri keranjang composting secara berkelanjutan. Takakura Magic Box suatu pilihan yang sudah dibuat banyak orang, misalnya oleh (Yayasan?) Kebun Karinda Djamaludin Suryohadikusumo (mantan Menteri Kehutanan). Namanya Takakura karena dibuat pertama kali oleh Prof. Takakura dari Kitakyushu, Jepang, dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan sehari-hari dalam kehidupan kampung di Surabaya, yaitu keranjang pakaian kotor, kardus, dan lain-lain.

Yang anorganik bisa didaur ulang. Juga bukan teknologi yang asing.

Jadi yang diperlukan apa? Pertama perubahan mindset, lalu perubahan pendekatan, dan menyusul cara-cara teknis bekerja. Intinya: pemerintah tidak lagi sibuk mengurus sampah secara langsung dengan tiap tahun beli truk dan sewa tanah di kabupaten sekitar. Tapi, mendorong industri komposting (atau keranjangnya), mencetak pamflet, menyelengarakan program pelatihan yang rutin profesional (sudah banyak yang bisa dicontoh), mendorong industri daur ulang plastik, logam, dan lain-lain. Saya tidak melihat hal yang mustahil, asal mau dan dengan ketekunan, tidak mengharapkan keajaiban seperti membalikkan telapak tangan.

Dengan pendekatan lestari itu jumlah residu sampah bisa berkurang 80%, menurut perkiraan kasar saya. Yang perlu dibuang tinggal 20%. Selain itu, dengan sistem pemilahan bertanggung-jawab di tingkat rumah tangga, ada potensi untuk mengubah pola prilaku untuk mengurangi jumlah total sampah. Penanganan khusus bisa dikelola di pasar-pasar, rumah sakit, dan lain-lain pusat produksi sampah berjumlah besar. Yang diperlukan hanya kepemimpinan dan cara kerja yang lebih cerdas. Contoh? Nagoya selama 10 tahun terakhir berhasil mengurangi 70% sampah. Sahabat saya, pasangan suami isteri Hasegawa, pelopornya, masih aktif hingga sekarang.

This entry was posted in Communities, governance, Nature and Environment, Urban Planning and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s