KOTA SERBA SALAH

Dari kawan Adin (Hysteria, Semarang) kemarin mendapatkan ekspresi “kota serba salah.”

Rasanya ini agak tepat menggambarkan situasi kita, selain kata “tunggang-langgang” yang dulu menjadi bagian judul buku saya, “Jakarta Metropolis Tunggang-langgang.”
Dulu seorang teman Itali yang tinggal di Jakarta merasa repot, karena tiap mau pergi ke mana, harus terlebih dahulu sibuk dan pusing memikirkan banyak sekali faktor: lewat mana, ada macet di mana, ada genangan air di mana, ada demonstrasi di mana, naik apa, jam berapa sebaiknya berangkat, dst.nya. Selalu ada kekhawatiran tentang yang tak terduga, yang bisa tiba-tiba menjadi kesalahan fatal yang dapat menyebabkan keterlambatan 1 hingga 2 jam.
Serba salah.

Sampai baru-baru ini saya selalu kesal karena hadir lebih awal di pertemuan, karena memberikan “sparing” waktu yang berlebih untuk perjalanan. Sementara hampir semua orang lain terlambat antara setengah hingga dua jam.
Serba salah.

Segala sesuatu akhirnya berdampak pada waktu. Keadaan yang tidak cocok di ruang, menyebabkan waktu gelisah. Dengan waktu pun kita bertukar tangkap dengan lepas. Waktu yang dulu masih menentukan di mana yang mudah dan yang susah, sekarang tidak lagi. Kapan saja, di mana saja, energi habis untuk bersiasat di ruang-waktu kehidupan kota ini.
Serba salah

This entry was posted in Jakarta, Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s