Ruang Terbuka Hijau: Di mana?

Tidak semua ruang terbuka hijau. Kota memerlukan ruang terbuka hijau dan yang tidak hijau juga.

Sedang ruang terbuka hijau bukan hanya dan terutama tentang jumlahnya, tetapi kinerjanya.

Ada setidaknya dua kinerja ruang terbuka hijau yang penting: kinerja sosial dan kinerja ekologis.  Dan keduanya berkaitan dengan pertanyaan lokasi: di mana sebaiknya ruang terbuka hijau?

Untuk memenuhi kinerja sosial, ruang terbuka hijau perlu memiliki hirarki: untuk lingkungan ketetanggaan, di tengah-tengah lingkungan perumahan; untuk lingkungan lebih luas di antara beberapa lingkungan perumahan; untuk lingkungan lebih luas di antara berbagai fungsi perkotaan seperti perkantoran, sekolah, dan lain-lain; dan untuk keseluruhan kota tempat orang merayakan dan merasakan diri sebagai anggota suatu masyarakat perkotaan.

Distribusi ruang terbuka hijau juga penting memperhatikan keperluan untuk keselamatan dari bencana. Ketika gempa, orang perlu keluar dan menjauh dari bangunan-bangunan agar tidak tertimpa serpihan kaca atau bagian bangunan lain yang jatuh. Untuk soal ini sebenarnya agak mengerikan membayangkan Jalan Thamrin-Sudirman dan Rasuna Said di Jakarta, yang sama sekali tidak memiliki ruang terbuka yang cukup luas dan pada jarak aman dari kemungkinan terkena jatuhnya serpihan dari bangunan-bangunan tinggi di sana. Melarikan diri ke ruang jalan adalah suatu tindakan yang berbahaya, karena dalam keadaan panik gempa misalnya, maka lalu lintaspun akan mengalami kekacauan yang berbahaya.

Terkait dengan lokasi, ada keharusan kemudahan mencapai ruang terbuka hijau. Yang untuk lingkungan perumahan, ia harus dapat dengan mudah, nyaman dan aman dicapai dengan berjalan kaki, mungkin dengan sepatu roda dan kereta bayi. Misalnya dalam lima menit. Untuk yang antar-lingkungan perumahan dan fungsi lain, alangkah baik bila dapat dicapai dengan jalan kaki juga dan/atau sepeda, misalnya dalam sepuluh menit. Untuk yang lain, harus ada kemudahan pencapaian dengan angkutan umum, dan tegas bukan untuk kendaraan pribadi. Kehadiran kendaraan pribadi akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang bertentangan dengan tujuan sosial dan ekologis dari ruang terbuka hijau itu sendiri. Dapat juga ruang terbuka hijau di antarara berbagai lingkungan permukiman dan lainnya (misalnya perkantoran) sekaligus merangkap sebagai titik simpul angkutan umum.

Selanjutnya rancangan ruang terbuka hijau itu—yaitu jenis tanamannya, fasilitas yang tersedia, bahan dan komposisi antara perkerasan dan rerumputan, dan lain-lain—disesuaikan dengan kinerja sosial dan lokasinya tersebut.

Sedangkan kinerja ekologis seharusnya mewarnai seluruh ruang terbuka hijau di semua kota kita, karena pada dasarnya semua kota kita, bukan hanya Jakarta, sedang menempuh jalan yang menghancurkan ekologi, dank arena itu perlu dibalikkan arahnya, antara lain dengan ruang terbuka hijau. (Ada banyak hal lain dan lebih mendasar yang harus dilakukan juga).

Kinerja ekologis ini adalah: penyerapan air, penyerapan polusi udara, dan mungkin sekali pengolahan sampah. Untuk menyerap air, ruang terbuka hijau harus digemburkan, atau/dan mengandung pasir yang cukup dibandingkan dengan lempung. Kalau hal itu tidak mungkin, maka perlu ada sumur, kolam atau danau buatan (tergantung luasnya) yang di dasarnya disambungkan dengan pipa-pipa ke lapisan pasir yang menyerap air. Komposisi tanaman besar dan kecil perlu memperhitungkan keperluan tersebut juga. Pohon besar dengan akar yang banyak akan membantu penggemburan tanah. Untuk menyerap polusi udara pun, komposisi tanaman dapat mempengaruhi kinerjanya. Khusus untuk menampung (sementara) dan menyerapkan air (kemudian) di kota-kota yang sangat rawan banjir seperti Jakarta, satu gagasan perlu dipertimbangkan: manfaatkan semua ruang yang tidak fungsional sejauh ini, misalnya sebagian kolong jalan layang.

Akhirnya suatu catatan, bahwa bagaimana pun juga ruang terbuka hijau di dalam suatu kota memiliki kemampuan ekologis yang terbatas. Suatu studi menunjukkan bahwa semua pohon di Central Park, New York, dapat mengkompensasi emisi C02 hanya empat orang penduduk New York City saja. Dalam hal pengurangan banjir, jauh lebih efektif mengurangi debit air-permukaan (run-off) yang turun ke kota dengan melestarikan air (menyerapkannya ke dalam tanah) di hulu, dengan sebanyak mungkin hutan lebat (bukan kebun teh atau lapangan golf) di wilayah ini, yaitu lereng-lereng gunung dan dataran sepanjang sungai-sungai sebelum mereka memasuki kota. Pertanian kota, dalam keadaan yang ekstrim, seperti misalnya pada saat Perang Dunia II, dapat memenuhi kebutuhan sayuran dan buah-buahan kota-kota di Amerika Utara dan Inggeris antara 40% dan 60%. Tetapi di masa damai, dengan kebutuhan lahan bagi fungi-fungsi lain juga, pertanian kota perlu juga mengenal bentuk-bentuk lain, semisal hidrofonik. Secara umum, ruang terbuka hijau luas yang berupa hutan di luar kota, terutama di kawasan hulu, jauh lebih berguna untuk memulihkan ekologi, daripada ruang terbuka hijau kecil-kecil di dalam kota. Membuat ruang-ruang terbuka hijau yang terlalu besar dan banyak dapat membuat jarak dari satu kegiatan ke yang lainnya menjadi terlalu jauh, yang akan mengakibatkan angkutan umum tidak efisien.

Integrasi hutan dan kota, karena itu, tidak serta merta harus mengambil bentuk hutan-kota. Integrasi hutan dan kota perlu dimaknai sebagai integrasi metabolisme kewilayahan, antara hulu dan hilir, serta antara pertanian dan non-pertanian–suatu topik untuk tulisan terpisah. Itu semua perlu punya orientasi jelas yang dapat dihitung: kinerja ekologis menyeluruh yang efektif.

This entry was posted in Architecture, Jakarta, Nature and Environment, Urban Planning. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s