Bahas Banjir di antara Maret dan Desember Saja

Selama beberapa hari ini saya menolak total 5 stasiun televisi untuk “dialog” langsung tentang banjir, dan beberapa media cetak dan online yang meminta komentar melalui telepon. Saya telah menolak dengan berbagai alasan yang santun. Tapi alasan sesungguhnya adalah saya merasa ini bukan waktu yang tepat. Ini waktu untuk menolong orang. Menggalang solidaritas. Lagipula, apa yang disebut “dialog” itu biasanya menjadi debat soundbites yang tidak cukup produktif, menurut hemat saya. Lebih baik arahkan kekuatan media untuk membantu penyaluran pertolongan. Yang mungkin masih baik dilakukan adalah wawancara di tempat kerja saya, karena lebih bebas dar tekanan menghasilkan soundbites. Selain itu, sebenarnya saya khawatir, saya ingin berada di dekat-dekat rumah saja minggu ini.

Lagipula pandangan pokok saya tentang solusi banjir secara ringkas dapat dibaca di sini , sudah tersebar sejak lama.

Bagi yang mau mengutip saya persilakan.

Di FB dan Twitter saya terutama bahas banjir bahkan seminggu sebelum banjir, bahkan pada saat malam tahun baru. Dua hari lalu saya merasa harus berhenti, meskipun terkadang ada beberapa tweet yang keceplosan, tidak lain karena salah satu sumber banjir sangat dekat dengan rumah saya, dan saya kunjungi hampir tiap hari, termasuk tadi. Sebenarnya ini lebih mengherankan: hampir setahun waktu di antara tanggul jebol Latuharhary tahun lalu, tanggal 17 February 2013, dengan banjir sekarang, tanggul itu masih dalam keadaan belum selesai diperbaiki.

Saya berharap, kita bicara solusi banjir sesudah bulan Februari nanti. Kita punya waktu 10 bulan setiap tahunnya. Saya ingin mendesak justru supaya 10 bulan yang bukan Januari-Februari itu yang digunakan untuk membahas habis-habisan. Ini untuk melawan godaan malas pada diri kita sendiri, sebagai warga kota dan negara, sebagai manusia. Saya tahu ini akan kedengaran tdak sesuai dengan dalil jurnalisme. Tapi apa salahnya mendesak supaya dalil itu diubah, atau setidaknya tidak usah selalui diikuti?

This entry was posted in Jakarta, Nature and Environment, Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s