Tempat Tinggal, Tempat Kerja: Kota

Saya punya suatu cerita.

Seorang kenalan perempuan mencapai impiannya. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai pemandu pendaki gunung di kawasan Himalaya, ia memutuskan harus tinggal di dekat pantai dengan udara yang sejuk-hangat: California. Ia mendapatkan tempat tinggal di Santa Monica, dan mendapatkan pekerjaan sebagai kepala bagian program lingkungan di Kota Santa Monica, yang kantornya hanya berjarak beberapa kilometer dari apartemennya, dan menatap ke pantai!

Dan, karena itu, ia sehari-hari naik sepeda saja dari apartemennya ke kantornya. Dia ini pegawai negeri (PNS). Jadi penghasilannya biasa-biasa saja.

Saya pun, karena keberuntungan yang tidak biasa–saya sangat bersyukur–mendapatkan tempat tinggal yang dekat dengan kantor isteri, dekat dengan sekolah anak, dan dekat dengan tempat kerja saya sekarang (entah sampai kapan bisa bertahan). Mobil kami rusak, dan saya tidak punya motivasi memperbaikinya. Anak saya naik bis umum lima belas menit ke sekolah. Isteri naik taksi sepuluh menit. Saya naik sepeda tujuh menit. PRT naik sepeda tiga menit ke pasar.

Seorang teman dosen di sebuah universitas di Grogol, Jakarta, hampir dua puluh tahun kontrak rumah di kawasan Slipi, dengan prioritas dekat tempat kerja. Setahu saya sejauh ini ia tidak punya ambisi memiliki rumah (di lokasi lebih jauh).

Menjadi ekologis, bagi sebuah kota dan masyarakatnya, adalah menyediakan pilihan seperti yang dimiliki kami bertiga di atas bagi  sebanyak-banyaknya penduduk kota secara terjangkau. Dalam jangka panjang, ini jauh akan lebih efektif menghapuskan macet, daripada sekedar menyediakan angkutan umum dan (apalagi) cuma rekayasa lalu lintas.

Bagaimana mencapai tujuan itu? Dengan program perumahan dan tata-ruang yang juga sekalian terpadu dengan sistem angkutan umum, yang karenanya akan menjadi lebih terjangkau dan efisien. Kota-kota yang tersukses sistem angkutan umumnya, tidak ada yang hanya mengandalkan angkutan umum tanpa keterpaduan dengan tata-ruang. Hong Kong, Singapura dan Tokyo adalah contoh yang baik.

Apakah Jakarta sudah terlambat untuk itu? Kalau mau mencapainya besok, dan secara total, tentu sudah terlambat. Kalau secara bertahap dalam 5, 10 dan 20 tahun, banyak hal bisa dicapai. Tokh investasi sistem angkutan umum sedang besar-besaran ditanam. Sayang sekali kalau ini nanti tidak efektif.

Baru-baru ini ada instruksi Gubernur Jakarta agar PNS-nya tidak menggunakan kendaraan pribadi pada setiap hari Jumat pertama setiap bulan. Saya kira akan lebih efektif kalau dibuatkan program agar mereka dapat bertempat tinggal lebih dekat dengan kantornya masing-masing. Ada 80 ribu PNS Jakarta. Pembangunan sistem angkutan umum di Jakarta sekarang, termasuk investasi bawah tanah jalur MRT, akan menimbulkan perubahan tata-guna tanah (land-use) yang akan menghasilkan nilai-tambah. Sebaiknya publik juga mendapat keuntungan dari perubahan ini. Pemerintah dapat mengelola tata-guna lahan yang menguntungkan rakyat, dan sekaligus membuat Jakarta menjadi ekologis, dengan antara lain membuat perumahan terjangkau di pusat kota, dekat tempat kerja, sepanjang jalur MRT.

Praktik penataan kota kita terlalu obsesif mengurus kendaraan, padahal kuncinya ada di hubungan antara tempat tinggal dan tempat kerja, melalui tata-ruang.

Lihat juga: Roads Beget Roads

This entry was posted in Architecture, Jakarta, Urban Development, Urban Planning. Bookmark the permalink.

2 Responses to Tempat Tinggal, Tempat Kerja: Kota

  1. karda says:

    Reblogged this on Transportasi Jawa Barat and commented:
    Bagus ceritanya.. Hehe

    Like

  2. Membuat perumahan terjangkau dekat tempat kerja memang kunci idealnya dan saya rasa pemerintah belakangan ini melakukan hal tersebut walaupun sudah terlambat, tapi lebih baik lagi dari pada tidak dimulai. Boleh dibilang pemerintah tidak memiliki land bank jika dibandingkan negara tetangga lainnya seperti Thailand, Taiwan dsbnya sehingga dengan mahalnya tanah , bangunan Rusun sangat dianjurkan utk di tengah kota dengan penataan yang baik dan terencana dan menjadi ekologis.

    PP Gubenur tidak mengendarai kendaraan pribadi di jumat minggu pertama dirasakan oleh suami saya sehingga jarak kemanggisan – Sunter dengan memanfaatkan Busway dan membawa sepeda lipat cukup berkesan bagi kami ada baiknya bapak gubenur dalam menempatkan karyawannya jika mungkin memperhitungkan tempat tinggal sehingga 80 ribu PNS sedapat mungkin ada pengaturan yang tepat ( bisa 10 %) saja sudah ada kontribusinya terhadap kemacetan di jalan disamping melakukan kebijaksanaan yang lain, misalnyan pembanguan rusan susun didaerah padat dan dekat dengan tempat pekerjaan seperti yang sudah dilakukan negara lain dengan memperhitungkan ekologis dan daya dukung tanah yang sangat memprihatinkan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s