Timor Timur, 1987

Ternyata saya pernah menulis seperti ini. Tentang Timor Timur, pada tahun 1987, pada koran Prioritas yang lalu berganti nama menjadi Media Indonesia. Sebelum pristiwa Santa Cruz, 1991. Pada waktu itu Timor Timur belum menarik perhatian banyak orang. Masih “tertutup” sebagai wilayah operasi militer. Untuk masuk ke sana, perlu ijin panglima operasi. Saya mendapatkan ijin dengan alasan mengunjungi seorang mahasiswa saya (saya mengajar di Kupang). Mahasiswa saya itu kini seorang menteri muda di Timor Leste.Saya naik motor boncengan dengannya dari Dili hingga Los Palos, tempat ketika itu kontak bersenjata rutin terjadi antara TNI dan Fretilin.
Saya ingat surat jalan/ijin saya itu harus dicap di setiap pos militer, kira-kira tiap 60 km jarak. Saya berpikir untuk menyimpan dan membingkainya setelah kembali ke Kupang, tapi kenyataannya terlanjur rusak karena begitu sering dibuka-lipat untuk dicap.Sebelum sampai Los Palos, kami menginap di sebuah kampung. Ada sepeleton tentara. Ada pos polisi yang baru mulai ditegakkan di sana. Anggotanta cuma tiga orang.

Saya tegang: mau menginap di pos polisi/tentara atau di rumah penduduk saudara mahasiswa saya?

Saya kunjungi pos tentara, lalu polisi. Mereka bilang jangan dekat-dekat dengan penduduk setempat. Saya minum kopi sebentar. (Mungkin ini pertama kali saya minum kopi, pada usia 26). Ngobrol sebentar. Ternyata salah satu anggota polisi itu adalah saudara salah satu mahasiswa saya yang lain. Aman! Lalu saya ijin makan malam di rumah penduduk, dan mengatakan akan menginap di sana, supaya mereka tidak tersinggung.
Di rumah penduduk itu saya diberitahu agar jangan dekat-dekat dengan tentara ataupun polisi, lebih baik tidur dengan mereka saja. Malam yang meneganggkan.

Esok harinya kampung itu kelihatan indah sekali.

Katanya waktu itu orang sipil susah masuk ke sana. Saya menulis di Prioritas ternyata tidak pernah ditegur. Mungkin karena tidak kritis, bersembunyi di balik tema arsitektur yang aman.

Mahasiswa saya itu– yang sekarang seorang menteri muda di kabinet Timor Leste– ketika itu bahkan takut melewati jalan di depan rumah dinas panglima militer dan gubernur, di sebelah barat kantor gubernur, sepanjang pantai. Rumah-rumah tua itu indah sekali, dengan pantai di depannya, di seberang jalan. Saya memaksa jalan dan duduk di bangku tanaman di situ. Hanya tidak berani memotret, juga agar mahasiswa saya itu tidak panik.

Ketika saya kembali ke Jakarta dan menceritakan segala ketegangan itu, orang-orang tidak memperhatikan, dan hanya mendengar sambil lalu. 1987, di benak kebanyakan orang Indonesia, Timor Timur baik-baik saja, pemerintah sedang membangun sebaik-baiknya di sana. Jalan sedang diaspal semua. Sesudah peristiwa Santa Cruz (tahun…?) beberapa teman yang ke sana dan kembali bercerita kepada saya, gantian saya yang bengong: “Kan gue udah cerita ke lu dulu begitu….”

Ah, ini tulisan hanya karena menemukan kliping lama ini. Semoga di tahun 2014 segala hal menjadi lebih baik di sana.

di sini ada larosae

This entry was posted in Architecture, Arts, Language and Culture. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s