Mengurangi Kecelakaan Lalu Lintas dengan Penataan Kota

(untuk Buletin Palang Merah Indonesia)

Dalam penataan kota ada cara-cara fisik untuk mencegah kecelakaan. Misalnya ada tanda-tanda dan pembatas jalan, baik jalan kendaraan maupun jalan pejalan kaki.

Pohon besar biasa digunakan untuk membatasi ruang pejalan kaki dari jalan kendaraan, sekaligus untuk memberi keteduhan. Tanaman perdu juga digunakan untuk mengurangi silau yang dapat disebabkan oleh sorot lampu kendaraan dari arah sebaliknya.

Salah satu peninggalan pemerintah kolonial di Indonesia adalah pohon-pohon besar dan tua sepanjang jalan raya yang seumur. Pohon ditanam ketika jalan dibangun. Itulah sebab keduanya berumur sama.

Penataan hirarki jalan dan blok lingkungan dapat mengurangi jumlah kendaraan bermotor, terutama di dalam lingkungan perumahan. Prinsip jalan yang bercabang-cabang dan berlapis-lapis terdapat di dalam lingkungan perumahan kolonial seperti Menteng di Jakarta, Ijen di Malang, dan sekitar Gedung sate di Bandung. Hal ini menghindarkan lingkungan hunian dari laluan kendaraan yang tidak khusus bertujuan ke lingkungan tersebut, dan hanya perlu melintasinya untuk mencapai tempat lain.

Ada juga teknik dalam perencanaan kota untuk mengurangi keganasan kendaraan bermotor, antara lain melengkungkan jalan-jalan dalam jarak cukup pendek. Hal ini akan melambatkan laju kendaraan bermotor.

Mengurangi simpang empat (atau lebih), dan sebaliknya menggunakan simpang tiga, juga berarti mengurangi jumlah persilangan arus lalu lintas, dan ini berarti mengurangi kemungkinan kecelakaan tabrakan. Pada sudut-sudut persimpangan ini, bangunan-bangunan perlu dimundurkan dari tepi jalan, dan sudut-sudut persimpangan dibuat melengkung dengan radius cukup besar, sehingga pemakai jalan dari berbagai arah dapat saling melihat dari jarak cukup jauh. Meskipun ada lampu lalu-lintas, hal ini dapat tetap menambah kewaspadaan pengendara.

Perbedaan ketinggian antara trotoar dan jalur kendaraan adalah cara lain lagi dalam melindungi pejalan kaki. Tetapi di Indonesia hal ini sering salah kaprah. Perbedaan ketinggian itu sering keterlaluan, sehingga malah menyebabkan kecelakaan dalam bentuk lain. Seorang teman perempuan baru-baru ini tersandung pada tepi trotoar yang 25 cm tingginya ketika turun dari bus. Ia jatuh dengan hidungnya mencium totoar.

Trotoar yang sangat tinggi di Indonesia ini dimaksudkan untuk mencegah kendaraan bermotor untuk naik ke atasnya. Tapi ini ternyata tidak efektif. Kenyataannya, salah satu penyebab besar kecelakaan dan gangguan bagi pejalan kaki adalah sepeda motor yang naik ke trotoar. Ini sudah mencapai tingkat yang sangat parah sehingga menimbulkan rasa marah masyarakat. Ada beberapa kelompok masyarakat yang sekarang berkampanye menentang hal tersebut. Misalnya ada akun twitter @Jalankaki.

Teknik lain untuk memperlambat laju lalu lintas adalah memberikan permukaan yang tidak rata pada jalan kendaraan. Tetapi hal ini mempercepat rusak kendaraan dan juga menyebabkan ketidak-nyamanan, termasuk ketika kendaraan tidak bermesin seperti sepeda perlu melewatinya.

Yang perlu disadari adalah bahwa bagaimanapun juga tidak semua hal dapat dicegah atau dicapai secara fisik, karena dapat menimbulkan masalah lain, dan seringkali membuat ruang jalan menjadi buruk rupa. Hal-hal tertentu lebih baik dicapai dengan pengaturan dan perubahan perilaku pemakai jalan.

Cara paling efektif dan berdampak terbesar dalam mengurangi kecelakaan lalu lintas tentu saja adalah membangun sistem angkutan umum yang baik, sehingga masyarakat tidak tergantung pada kendaraan bermotor pribadi. Dapat dikatakan, di dunia ini tingkat kenyamanan sebuah kota ditentukan sangat besar oleh ketersediaan angkutan umum yang baik dan luas jangkauannya. Tentu saja angkutan umum juga tidak terlepas dari kecelakaan, tetapi jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang terjadi pada kendaraan-kendaraan pribadi, baik yang beroda empat maupun dua.

Sistem angkutan umum juga memudahkan pengendalian yang lebih sistematik atas kualitas kendaraan, pemeliharaan dan pengendaranya, karena jumlah yang terlibat lebih sedikit dan mudah teridentifikasi, bila dibandingkan dengan jumlah kendaraan dan pengendara pribadi yang berkali lipat lebih besar jumlahnya. Tentu saja ini mengandaikan tidak ada korupsi yang tokh akan berdampak negatif terhadap semua pengendalian mutu, pada sistem apapun.

Angkutan umum yang baik juga perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai supaya efektif dan tidak menimbulkan masalah lain. Misalnya untuk halte bus disediakan jalur tambahan setempat, sehingga ketika ia berhenti, arus di sampingnya tetap lancar dan pengendara di belakangnya tiak kaget harus mendadak berhenti dengan resiko menabraknya dari belakang.

Tetapi mengendarai dan memakai kendaraan umum pun memerlukan disiplin prilaku tertentu supaya tidak menimbulkan masalah. Maka, sama saja, sebaik-baiknya penyediaan dan penataan kota secara fisik, para penghuni kota perlu terus menerus waspada dengan prilakunya sendiri. Suatu system tidak dapat berjalan baik tanpa kerjasama para pemakainya.

This entry was posted in Communities, Urban Planning and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s