Joko Widodo Gubernur Baru Ditunggu Masalah Jakarta

Juga di: http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/masalah-jakarta-menunggu-joko-widodo.html

Joko Widodo menang antara lain karena membawa beberapa hal yang kontras terhadap Fauzi Bowo. Pertama adalah watak dan teknik komunikasinya yang membuat orang merasa nyaman berdialog dengan dia. Ini disertai hal penting lainnya: kesediaan mendengar. Harapannya, dengan itu ia akan mampu menggalang partisipasi dalam berbagai tingkat: dukungan warga untuk kebijakannya nanti, keterlibatan kongkrit warga dalam memperbaiki Jakarta, dan gagasan serta inovasi yang sangat diperlukan untuk membuat terobosan. Sejauh ini, penampilan Joko Widodo selalu sebagai “one of us”, yang juga sangat kontras dengan Fauzi Bowo. Pak Tamrin A. Tomagala mengatakan ia memiliki karisma “kejelataan”. Seorang sarjana asing yang mengikuti dia mengatakan ia memiliki “kampungness.”

Keraguan terhadap Joko Widodo tentu saja setidaknya ada dua. Pertama “investor” (istilah yang saya ambil dari seorang tweep) bernama Prabowo Subianto di belakangnya. Tetapi, bukankah saham rakyat lebih besar pada diri Joko Widodo? Hubungan dengan Prabowo Subianto dapat nanti menjadi positif atau negatif, tergantung Joko Widodo sendiri, PDIP, dan rakyat. Demikian juga tentang seberapa besar keuntungan Prabowo Subianto terhadap “investasi”nya pada Joko Widodo, sangat tergantung pada investor lainnya, yaitu pendukung lainnya, PDIP dan Jusuf Kalla.

Keraguan lain menyangkut kemampuannya menangani Jakarta, yang dianggap berkali-lipat lebih besar dan kompleks. Apakah pengalamannya di Solo cukup untuk itu? Masalah Jakarta memang jauh lebih rumit dan berskala raksasa. Tetapi, tiga hal padanya jauh lebih besar dan berkualitas dibandingkan dengan pada Solo. Tiga hal ini adalah: uang (APBD), wewenang, dan orang (mesin birokrasi). Jadi, tantangan seimbang besarnya dengan sumber daya yang tersedia. Pengelolaannya sangat tergantung bukan hanya pada pengalaman manajerial, tetapi juga pada integritas dan kepemimpinan.

Pada kampanye dan janji-janji Joko Widodo terlihat beberapa hal yang secara teknis belum matang dan/atau tidak akurat. (Misalnya soal transportasi dengan rel dan “penggeseran” penduduk tepi Sungai Ciliwung). Tetapi pendekatannya jelas dan inovatif: pro rakyat dan mencari solusi out-of-the-box. Akankah berhasil? Masih perlu dilihat dalam beberapa bulan atau setahun ke depan.

Yang jelas, warga Jakarta telah terlalu lama menderita dan sudah sangat kuat ingin perubahan. Itulah sebabnya mereka membuat pilihan yang progresif. Gubernur lama tidak juga berhasil sesudah sekian lama, mengapa tidak mencoba yang baru? Dengan yang baru setidaknya ada ruang dan kemungkinan baru.

Keberhasilan Joko Widodo juga akan tergantung pada kemampuan negosiasinya dengan DPRD, pemerintah pusat, kalangan busnis, dan lembaga-lembaga internasional.

Bagi saya, akhirnya yang paling penting itu adalah aktivisme warga. Joko Widodo terpilih karena selama sepuluh tahun terakhir warga Jakarta menjadi sangat aktif, setidaknya artikulatif, dan berpengetahuan, sehingga siap memilih yang tidak-biasa. Aktivisme ini perlu dilanjutkan terus dalam bekerja sama secara kritis dengan gubernur baru. Dalam era sekarang, hampir tidak mungkin seorang pemimpin berhasil tanpa warga yang aktif, apalagi pada sebuah metropolis Jakarta.

Warga perlu membuat cara dan alat untuk terus menyalurkan aktivismenya. Ini barangkali salah satu yang berguna: http://www.klikjkt.or.id.

This entry was posted in governance, Jakarta, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s