Rupa Belanja, Rupa Kota

(For English translation, please scroll down)

Pengantar kuratorial pameran senirupa di Galeri Salihara,  14 – 30 Januari 2012.

Kita hidup di dalam dunia yang, melalui kota, makin tidak pernah puas dan henti mengkonsumsi apa saja. Makin menuntut banyak dan beragam pula.

Sementara konsumsi memberikan kita satu cara “menikmati hidup”—bukan hanya sekedar untuk hidup—ia bukan satu-satunya cara. Kita juga menjadi sadar, bahwa senyampang makin besar keragaman dan jumlah konsumsi yang kini dapat kita nikmati, semakin besar dan menekan pula pertanyaan-pertanyaan etis yang menghantui kita. Belakangan ini, pertanyaan-pertanyaan itu bertambah kuantitas maupun kualitasnya antara lain karena kesadaran yang meningkat tentang pemanasan global dan keterbatasan sumber daya alam.

Sebagai “yang sadar”, manusia juga terkutuk untuk terus menerus mempertanyakan tindakannya. Karena itu ia juga terus menerus membutuhkan kritik-diri.

Desain dalam artinya yang sempit adalah rancangan benda-benda yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam arti ini ia berbeda dengan seni, yang tak harus berpikir tentang guna dalam arti tersebut. Dalam arti ini pula desain terkait sangat erat dengan (benda-benda) konsumsi dan, melalui itu, dengan gaya hidup. Gaya hidup adalah lapisan peradaban yang diidentifikasikan dengan pola konsumsi. “Siapa seseorang” ditentukan oleh “apa” yang dikonsumsinya.

Produksi barang-barang konsumsi modern secara industrial memerlukan desain untuk mendamaikan dua hal: keseragaman untuk memungkinkan produksi massal, dan identitas keunikan. Branding adalah semacam jalan tengah. Melalui brand, meskipun produk dalam satu brand sebenarnya sepenuhnya identikal, ada rasa identitas khusus karena citra desain dan stratifikasi melalui harga dan pembentukan komunitas konsumen yang mendapat perlakuan khusus melalui keanggotaan dan bentuk-bentuk pelayanan lainnya, serta upaya-upaya eksklusif untuk melindungi “kemurnian” keunikan desain produk, misalnya dengan rezim hak-cipta dan penetapan ciri-ciri “kepribadian” desain.

Di kota, proses produksi dan konsumsi mengalami intensitas industrial yang dramatis: barang selalu beragam-ragam dan berlebihan. Selalu ada pilihan dan jumlah yang dijaga melebihi kebutuhan sehari-hari. Selalu ada stok. Tetapi, stok saja tidak cukup. Perlu ada yang baru terus menerus. Karena itu, harus selalu ada model atau seri produk baru yang akan ditunggu-tunggu, diperkenalkan sebagai sesuatu yang baru tetapi sekaligus “berkepribadian” yang sama dalam brand tersebut. Dengan sendirinya kota menjadi tempat persaingan yang ramai, hiruk-pikuk dalam hal jumlah maupun keragaman “kepribadian” benda-benda konsumsi.

Keramaian ini bukan hanya mengambil tempat di pasar, tetapi makin merambah ke seluruh ruang kota dan ke dalam berbagai ruang pribadi melalui media dan teknologi informasi. Ruang kota dan ruang pribadi diramaikan bukan saja oleh produk itu sendiri, tetapi juga oleh berbagai bentuk dan cara komunikasi tentang mereka, yang disebut juga “iklan” yang juga kemudian menjadi “produk” tersendiri yang bahkan diletakkan di atas pedestal melalui berbagai pengkhidmatan dan penghargaan. Kapitalisme menghasilkan lapisan demi lapisan produk yang berusaha menjadi makna yang makin abstrak sekaligus makin menggoda.

Sementara ini, kita merasa media sosial adalah ruang yang relatif aman dari persaingan produk. Padahal di sana sudah terjadi persaingan ide-ide idealis maupun banal, juga citra serta kuasa. Tidak lama lagi, melalui teknologi apps—yang mengemas informasi sesuai dengan kebutuhan konsumtif untuk menjadi ringkas, “menggoda/keren” dan siap-saji—mungkin sekali media sosial akan juga dibuat pekak oleh peningkatan intensitas komunikasi produk.

Bagaimana kesesakan dunia benda-benda ini sebenarnya memengaruhi orang per orang, kehidupannya dan kepribadiannya, pandangannya tentang dunia sekeliling dan tentang dirinya sendiri? Adakah orang kota berbeda dengan orang desa karena keadaannya yang dikelilingi oleh hiruk-pikuk benda-benda yang bersaing menonjolkan kepribadiannya sendiri ini? Bagaimana persaingan antara kepribadian plastik dan kepribadian sejati ini sebenarnya terjadi di dalam ruang-ruang publik maupun privat?

Kota itu sendiri adalah juga sebuah benda desain yang luar biasa, sangat besar dan sangat menyeluruh. Kalau dilihat sebagai suatu keseluruhan, orang mengatakan bahwa kota itu sendiri adalah mahakarya bendawi terbesar peradaban manusia. Ia bukan sekedar kumpulan arsitektur-arsitektur gedung-gedung, melainkan suatu arsitektur tersendiri yang terdiri dari bangunan-bangunan dan ruang-ruang yang berhubungan satu sama lain dalam keeratan yang berbeda-beda dan dalam tatanan tertentu. Tatanan itu bermakna, setidaknya mencerminkan nilai-nilai, kemampuan, perseteruan, dan ironi kolektif masyarakat.

Bagaimana kota ini, sebagai suatu desain, berhubungan dengan benda-benda konsumsi lain, dalam berhubungan dengan orang per orang? Bagaimana sebenarnya (ruang-) kota dikonsumsi? Bagaimana kota mempermudah konsumsi barang-barang dan jasa lainnya, yang industrial maupun yang tidak? Apakah orang per orang itu mengidentifikasikan dirinya dengan benda kota ini pada lapisan guna, makna, dan kepribadian? Apakah (ruang-) kota juga telah menjadi barang konsumsi yang diproduksi secara massal? Bukankah beberapa kota memang telah dengan sengaja di-brand juga, melalui berbagai usaha pemasaran kepariwisataan dan perancanaan kota ekonomis yang bersifat tematik seperti “kota kreatif” dan lain lain?

Teknik merencanakan kota modernis melalui pemerian fungsi yang diperkenalkan oleh Le Corbusier tak dinyana malah merasuk ke dalam benak orang awam sedemikian rupa sehingga kota juga diidentikkan dengan hanya satu dua fungsinya sehingga orang lupa bahwa pada dasarnya kota adalah sebuah ruang untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Dan, lupa itu sedemikan terlembaganya di dalam proses dan praktik pembangunan kota, sehingga malah menyulitkan para perancangnya, para arsitek, sekarang untuk memberitahu bahwa pada hakekatnya ruang kota adalah lebih daripada sekedar fungsi dan bahkan tidak dapat dibentuk apabila hanya atas dasar tersebut.

Penekanan pada kota sebagai mesin ekonomi juga menyebabkan identifikasi kota dengan suatu unggulan tertentu saja. Kota menjadi suatu brand juga, disamping menjadi lokasi yang padanya suatu brand, atau setidaknya asal usulnya, tergantung.

Istilah gaya-hidup atau lifestyle kelihatannya muncul dari dominasi benda-benda dan layanan terancang (designed goods and services) ini. Dan, mereka itu makin dominan, seolah akan menggantikan keseluruhan kebudayaan, setidaknya terutama budaya material, tetapi tidak hanya terbatas padanya, sebab jasa-jasa pelayanan kesehatan, asuransi, hiburan (“entertainment“, salah satu wujud budaya “bermain”) juga makin menjadi dasar lain bagi terbentuknya identitas, simbol-simbol dan struktur makna baru.

Bagaimana praktik berkesenian dan hasilnya berada di antara barang-barang desain ini, dan di dalam ruang-ruang kota yang juga makin didesain secara industrial?

Dalam godaan benda-benda desain ini, tubuh orang per orang telah berada di antara dua ekstrim. Ekstrim pertama adalah keadaan trance, yang di dalamnya orang per orang hanyut, mengidentifikasikan dirinya dengan benda-benda ini, menilai dirinya, atau setidaknya membiarkan orang lain menilai dirinya atas dasar hubungannya dengan benda-benda itu, bahkan membiarkan dirinya “dimiliki” oleh benda-benda tersebut, sehingga lupa ruang dan waktu, tak tahu harus berhenti kapan, dan tak merasa perlu berhenti atau keluar dari arus tersebut. Ini adalah ekstrim ketika warga kota menjadi semata-mata konsumen, bukan lagi warga yang kritis. Ekstrim lain adalah keadaan meditatif, yang di dalamnya orang hanya menonton, menghayatinya, tetapi sepenuhnya berjarak, melepaskan diri, melihat benda-benda datang dan pergi, seperti menonton sebuah arus sungai—suatu metafor yang sering digunakan oleh Buddhisme. Mungkin, pada akhirnya kebanyakan orang berada di antara kedua ekstrim itu, atau berganti-ganti berada pada salah satu ekstrim itu, atau terombang-ambing, terbetot- betot di antara kedua ekstrim tersebut.

Bagaimana mempraktikkan kesenian dalam keadaan itu? Apakah praktik berkesenian harus berperan heroik menyelamatkan orang per orang? Ataukah berperan sebagai badut bertopeng yang bijak, mengganggu keadaan trance maupun meditatif? Apakah praktik berkesenian masih dapat berguna memberikan inspirasi, entah pada lapisan terdalam yang kritis, atau sekedar terus menerus memperbaharui dan mengindah-indahkan desain demi berlangsungnya gaya-hidup terus menerus, mematahkan kebosanan atau malah meneruskan kebosanan sampai ke batas yang tidak terbayangkan?

Konsumsi mewujudkan sisi riang, bermain manusia; tetapi juga bisa memancing keluar sisi irasional manusia, bahkan yang cenderung menuju kepada penghancuran diri dan lingkungannya. Mudahnya orang tertipu, misalnya oleh “operator konten” bulan lalu, menunjukkan bagaimana orang menjadi irasional menghadapi galau kemilau berlimpah barang dan jasa dari modernisasi mendadak.

Zaman kita ini juga ditandai dengan meningkatnya apa yang saya sementara sebut “konsumsi inspirasi”. Kitab-kitab suci agama dipenggal-penggal, dikutip sepotong-sepotong dan dikemas untuk mudah dikonsumsi sebagai “inspirasi”. Zaman ini juga dipenuhi dengan kegemaran talkshow yang makin mencapai intensitas industrialisasi. Kapitalisme mutakhir, yang makin menumpukan diri pada gagasan, inovasi dan penemuan terus-menerus guna mengatasi persaingan, mendorong lahirnya “industrialisasi inspirasi” demikian. Persaingan menjual produk dan jasa kepada pasar yang makin sesak jenuh, memaksa kreativitas yang malah “menipu” dan banal. Tentu saja dunia tidak sepenuhnya gelap penuh dengan persaingan demikian. Ada berbagai bentuk gerakan “solidaritas” terus muncul, termasuk pada tinggal global.

Kami mengundang Wiyoga “Yoga” Muhardanto (Bandung), Irwan “Iwang” Ahmett (Jakarta) dan Indieguerillas (terdiri dari Dyatmiko “Miko” Bawono dan Santi Ariestyowanti, Yogyakarta) untuk berbicara tentang konsumsi di dan atas ruang kota. Ketiganya bergerak di ruang-tegang antara desain dan senirupa. Mereka juga berasal dan hidup sehari-hari di tiga kota dengan tingkat urbanisasi dan konsumsi yang berbeda. Mereka adalah generasi yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi informasi dan media, dan tumbuh dalam lingkungan “pasar modern” Indonesia yang terbentuk sejak tahun 1970an. Rekam jejak mereka juga menunjukkan perhatian pada isu-isu di atas. Tujuan kami adalah mengajak berpikir dengan memanfaatkan karya-karya mereka sebagai cermin kritis.

Consume and Live the City.

We live in a world that, through cities, is never sated and never rests from consuming all things. If any, it demands even more, and for more varieties.

While consumption provides us with a way to “enjoy life”—not just a way to “live”, it is not the only way. We are also aware that, as the variety and number of consumption goods that we can enjoy increase, the greater and more pressing are the ethical questions that haunt us. Recently, these questions grew in number and depth due to, among others, an increasing awareness of global warming and depleting finite natural resources.

As the “conscious ones”, humans are cursed to always question their every action. As such, he or she will always require self-criticism.

***

Design in its narrow sense is the sophistication of goods for daily use. In this sense, it is different from art, which does not concern itself with “use” in the way design should. As such, design is also closely related to consumption (of goods) and, through them, with life style. Life style is a layer of civilization identified with consumption patterns. “Who-one-is” is determined by “what” one consumes. 

The industrial production of modern consumer goods requires design to reconcile two things: uniformity to enable mass production, and unique identity. Branding serves as a middle ground. By branding, even identical products within a brand can retain their own unique identity thanks to design styles, price stratification, establishment of various consumer communities with privileges in the forms of membership and other services, and other exclusive attempts to protect the “purity” of the uniqueness of the designed products, such as through copyright regimes and application of certain design “personality”.

In cities, the process of production and consumption takes place in dramatic industrial intensity: goods are always available in great variety and excessive quantity. Choices and amounts are well maintained above the level of daily needs. Something is always in stock. But, just something in stock is not enough. There must be something new all the time. Thus, there must always be new models or new product series that people keep expecting, and are to be introduced as something both new and familiar due to their known branded characteristics. Cities becomes loci of noisy competitions, teeming with abundant quantities and varieties of product personalities.

Such hustling and bustling do not just occur in markets, but also expand into all urban spaces and into various private spaces through media and information technology. Urban and private spaces are packed not only with the products themselves, but also with various forms and ways of communication about them. These later ones are known as “advertisements,” and they have become products in their own rights, oftentimes placed upon pedestals through various awards and ceremonies. Capitalism has managed to create layers upon layers of products that attempt to become meaningful in increasingly abstract sense as well as ever more tempting.

Meanwhile, we feel that social media are safe spaces, relatively free from products competition. In reality, there are already competitions taking place between ideas that are either idealistic or banal, as well as competitions of images and powers. Soon enough, through apps technology—that packages information to satisfy consumers’ requirements of being streamlined, alluring, cool, and ready-to-use—social media will become spaces deafened by the increasing intensity of product communication.

How does this crowded world of products actually influence all individuals, their lives, their personalities, and their view about their surroundings, and about themselves? Do city-dwellers differ from village-dwellers due to the fact that the formers are being surrounded by the obsessively competitive products that want to speak as loud as possible to their ears, and appear as much so to their eyes? How does this competition between plastic and true personalities actually happens in both private and public spaces?

The city itself is a magnificent designed product, very large and all-encompassing. Seen as a whole, people will say that cities are the greatest man-made material masterpieces. A city is not just a agglomeration of architectures of buildings. Instead, it is itself an architecture comprising of buildings and spaces that interlock each other at various levels of strength and order. Every level of order has meaning. At least it reflects a society’s collective values, abilities, conflicts, and ironies.

How does this city, as a design, relate to other consumer products in connecting with each individual living in it? How are cities or city-spaces actually consumed? How does a city make easy the consumption of goods and services, industrial or otherwise? Can a person identify her- or himself with this gigantic object named city at the levels of use, meaning, and personality? Is it not true that some cities are already deliberately branded, through various touristic marketing and thematic economic town planning attempts such as those seen in “creative cities”, etc?

The functionalist modern town-planning practices introduced by Le Corbusier have unexpectedly entered so deeply into public consciousness, so much so that a city is too conveniently identified with one or two of its functions, making people forget that a city is basically a space to gain a better life. And that forgetfulness is so institutionalised in the processes and practices of city building, that it has caused problems for city designers and architects to communicate that urban spaces are essentially more than just particular functions, and cannot be rightly created if based merely on functions.

The emphasis on cities as economic engines has also caused identification of cities with certain core traits only. The city is pushed and limited to become a brand, in addition to becoming a locus where a brand, or at least its origin, depends on.

The term lifestyle seems to emerge from the domination of designed goods and services. And, they have become ever more dominant, as if poised to take the whole cultures over, at least especially their material layers, although not limited to them, as medical services, insurance, entertainment (as a manifestation of a “play” culture) are also becoming building blocks in the formation of identities, symbols, and new structures of meanings.

How do art practices and their results position themselves in the midst of these design products, and within urban spaces that are also designed in increasingly industrial ways?

Faced with the temptation of these designed products, bodies stand between two extremes. The first extreme is a trance-like condition where individuals are carried adrift, identifying themselves with these products, valuing themselves, or at the very least allowing other people to value them based on their relationship to these products, thus allowing themselves to be “owned” by these products. They then seem to forget either time or space, unable to know when to stop, does not feel the need to stop or exit this crippling current. This is an extreme that places city-dwellers as mere consumers, no longer a critical citizens. The other extreme is a meditative condition, where one only watches and perceives, but completely maintains a distance, detaching her-or himself, seeing things come and go, as though watching a river flowing by—a metaphor widely used in Buddhism. Maybe, in the end, most people find themselves occupying a point between these two extremes, or oscillating between one extreme and another, confused, pulled apart by these two ends.

How can one practice art in such a condition? Should art practices play a heroic role in saving people? Or must it play the role of a wise clown, disturbing both the trance and the meditation? Can art practices still inspire either at the deepest critical layer or just to continuously renew and sophisticate designs so that lifestyle may prevail, subduing boredom, or maybe extend boredom to unknown heights?

***

Consumption manifests the playful side of humans. However, it can also lure out a one’s irrational sides, even those that tend to lead to destruction of the self and the environment. How easy it is for a person to fall victim to a trick or a trap. We take the example of “content providers” from a month or so ago that shows how one can become irrational when confronted with the glam and glimmer of goods and services emerging from sudden modernization.

Our time is also marked by an increase of what I provisionally call “the consumption of inspiration”. Holy religious texts are quoted in fragments, taken in parts, and packaged in such a way that they may be easily consumed as “inspiration”. This is also an era filled with a penchant for talk shows that is increasingly climbing to industrialized intensity. Cutting-edge capitalism has made itself increasingly dependent upon continuous ideas, innovations, and discoveries to win in competition, all the more leading to the “industrialization of inspiration”. The competition involved in selling products and services to an increasingly saturated market has pushed creativity into the realm of deceit and banality. Of course, the world is not all dark and sinister, only filled with such competitions. There are many solidarity movements emerging, including even those at global scale.

We have invited Wiyoga “Yoga” Muhardanto (Bandung), Irwan “Iwang” Ahmett (Jakarta) and Indieguerillas (Dyatmiko “Miko” Bawono and Santi Ariestyowanti, Yogyakarta) to say something about consumption in and over urban spaces. The three of them move in the tension-space between design and art. They also come from and live their daily lives in three cities with different levels of urbanization and consumption. They are born into a generation that is already familiar with media and information technology, and grew up in an Indonesian “modern market” being shaped since the Seventies. Their records also show their concerns on the aforementioned issues. Thus, our aim is to invite a cognitive process, a think-over, by using their works as a critical mirror.

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Urban Life. Bookmark the permalink.

3 Responses to Rupa Belanja, Rupa Kota

  1. Jeni says:

    You cannot regulate consumerism if you want capitalism thrives. However there could be a balance, if consumerism brings forth more humanity and solidarity, the good doers to save the poor who always exists in the urban cities.

    Like

  2. ALy says:

    Produktifnya mereka adalah konsumtifnya kita, serta kebalikannya. Bisakah; suatu produktifitas akan memicu produktifitas lainnya TANPA memicu-besarkan sifat/pola konsumtif?

    Kebersenian identik dengan kreatifitas, dan/yang ada di pola pikir keseharian.
    Memposisikan berkesenian sebagai sebab dari wajah kota hanya berujung pada pertanyaan ketimbang memposisikannya sebagai akibat dari pola pikir manusia.
    Yang hidup memenuhi kebutuhan kesehariannya, antara kualitas dan kuantitas.

    Berkesenian seharus-baiknya untuk ‘membunuh’ waktu, bukan manusianya.

    Semoga terjawab ditanggal tersebut..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s