Kondisi Manusia dalam Persoalan Lingkungan

Dari “Taring Padi, Seni Membongkar Tirani“, Lumbung Press, Juni 2011, hal. 297-316

 

Dengan popularitas perubahan iklim bersamaan dengan figur Al Gore, orang mudah melupakan bahwa ada banyak masalah lingkungan lain yang tidak berkaitan dengan perubahan iklim. Misalnya: terancamnya dan menurunnya keanekaragaman-hayati, kelangkaan air, dan sebagainya. Masalah-masalah ini memang diperburuk oleh perubahan iklim, tetapi telah ada relatif tanpa disebabkan atau menyebabkan secara langsung perubahan iklim.

Sementara itu, dalam pengertian “kelestarian” (sustainability) sendiri tercakup bukan hanya kelestarian dalam hal lingkungan, tetapi juga dalam hal sosial dan ekonomi. Kini kita menyadari bahwa masalah lingkungan sangat terkait dengan masalah ketidakadilan sosial dan ekonomi.

Dalam konteks itu, perhatian Taring Padi pada masalah petani dan pertanian bahkan makin penting sekarang dan di masa mendatang. Sebab, yang menonjol dalam perhatian Taring Padi adalah kondisi manusia itu sendiri. Masalah lingkungan bukan “masalah lingkungan”, melainkan “masalah manusia”. Kita tidak perlu “menyelamatkan” alam, melainkan menyelamatkan manusia itu sendiri. Dan manusia adalah satu satunya spesies yang bisa membuat keputusan dengan sadar (bukan hanya berdasarkan insting atau kebiasaan) dengan mempertimbangkan yang lain di waktu dan ruang yang berbeda. Keputusan ada di tangan manusia. Bahkan kalau sumber energi matahari gratis sepanjang sehari pun, manusia masih harus memutuskan mau berjemur di pagi hari atau sepanjang hari.

Pada jantung persoalan lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi berlebihan dan sembarangan atas sumber daya alam selama dua setengah abad terakhir, terdapat ketidak-adilan dalam banyak hal dan bentuk yang mengorbankan banyak manusia. Itulah sebabnya pemwacaan masalah lingkungan oleh Taring Padi yang menonjolkan keadaan manusia memiliki makna dan kritik tersendiri.

Sehubungan dengan perubahan iklim, pangan sendiri menjadi sangat penting karena menjadi salah sumber besar CO2, dan karena berkaitan dengan banyak masalah lain. Baru-baru ini dihitung, misalnya, di Swedia 25 % dari emisi CO2 yang berasal dari gaya hidup pribadi berasal dari pangan, sama banyaknya dengan yang berasal dari hunian dan transportasi. Dan dari 25 % itu, 50%nya berasal dari konsumsi daging yang besar oleh masyarakat Swedia.[1]

Pangan makin menjadi satu-satunya mata rantai yang masih menghubungkan manusia secara langsung dengan alam. Tetapi, hubungan ini pun makin terancam oleh pengemasan, pengolahan dan komodifikasi yang berlebihan. Setidaknya, kita makin tidak tahu asal-usul makanan kita, apalagi cara-cara ia ditanam dan dipelihara, apalagi tentang orang per orang yang melakukan semua itu, ialah para petani.

Oleh sebab itu, perkembangan upaya pertanian organik kini membersitkan juga sesuatu yang sangat penting: hubungan yang intim antara petani dan pelanggannya.  Karena kebetulan yang menguntungkan, yaitu penetrasi pangan organik ke dalam jaringan distribusi arus-utama masih lemah, maka umumnya pangan organik mencapai pelanggan melalui hubungan pendek, bahkan langsung dari tangan petaninya sendiri.  Pelanggan tahu nama petaninya. Begitu juga sebaliknya. Pelanggan tahu bagaimana pangannya diproses. Petani tahu mengapa pembelinya menginginkan pangannya. Karena itu sering terjadi hubungan intim yang terbuka dan saling menghormati. Pangan menjadi berperan vital kembali dalam hubungan antara sesama manusia dan antara manusia dan alam. Petani dan pelanggan tidak ter-reduksi hanya menjadi “produsen” dan “konsumen” yang abstrak, melainkan menjadi makhluk sosial yang saling kenal nasib masing-masing. Melalui pertanian organik, terbuka kembali hubungan yang mengalir dua arah antara kota dan desa, antara alam-budaya dan alam-lingkungan. Apalagi kalau pertanian itu ada di dalam kota, yang kini menjadi aspirasi yang meningkat penting: hubungan antara kota dan desa menjadi cair lagi, dengan masing-masing tidak lagi menjadi kategori yang ekslusif.

Taring Padi melalui karya dan kegiatan keseniannya juga melihat cukup beragam masalah yang berputar di sekitar petani dan pertanian. Mereka melihat antara lain masalah kelangkaan lahan di pedesaan dan perkotaan. Isu ini kini penting juga karena perlunya mengembangkan pertanian di dalam wilayah perkotaan sebagai bagian dari kelestarian. Urban agriculture (pertanian perkotaan) kini telah menjadi salah satu program penting untuk kota yang lestari dan terus diperjuangkan.

Masalah pestisida dan rekayasa genetika, yang juga disinggung oleh Taring Padi, terangkum dalam penolakan oleh gerakan pertanian organik, yang sebenarnya sudah dimulai pada awal tahun 1970an, setidaknya di Jepang (di Takahata, Prefektur Yamagata). Perjalanan masih panjang untuk menjadikan pertanian organik sebagai arus-utama.

Ada kenaifan dalam presentasi pihak elit, yang digambarkan dalam figur-figur besar individualistik dengan setelan jas, dan pihak petani atau masyarakat, yang digambarkan berupa massa terdiri dari figur-figur kecil papah dengan pakaian compang camping. Tetapi, kenaifan ini terjadi karena karya-karya ini ditujukan kepada para petani, dan untuk membangun kesadaran tentang perlunya perjuangan melawan ketidak-adilan eksploitasi.

Taring Padi juga mengangkat masalah-masalah limbah industri, nuklir dan soal-soal lingkungan lain yang lebih rumit seperti “Efek Rumah Kaca” dan “Hijaukan Hutan”. Tetapi, kelihatannya dalam hal petani dan pertanian karya-karya Taring Padi lebih hidup karena adanya tubuh petani yang nyata dan dihayati secara interaktif.

Yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa Taring Padi mempraktekkan performance arts secara partisipatif dengan masyarakat (petani). Bahan-bahan yang akrab di kalangan petani—daun, jerami, padi—juga diangkat sebagai material proses kreatif. Ini punya setidaknya dua kepentingan. Pertama, mengajak petani berkesenian dengan bahan-bahan yang diakrabinya. Kedua, mengangkat bahan-bahan itu menjadi memiliki makna simbolik yang dapat dikomunikasikan, baik sebagai representasi diri, maupun sebagai suatu bahasa yang terkodifikasi untuk menyampaikan pesan kepada ruang publik yang lebih luas.

Sedangkan dunia petani itu sendiri menjadi panggung, tempat terjadinya kesenian. Ini punya potensi formal (alam sebagai latar artistik) maupun potensi simbolik (sebagai sumber pesan dan pesan itu sendiri). Selain itu, dunia petani dan para petani nampaknya dimaksudkan juga sebagai potensi (re)genesis kesenian yang otentik dan orisinal.

Format (banner, tukilan kayu, instalasi di alam terbuka, mural, poster) adalah medium untuk orang banyak, serta untuk aksi.

Secara menyeluruh, ada konsistensi antara bentuk, format dan cara-cara representasi pada karya dan praktek kesenian Taring Padi dengan tujuannya mengangkat soal-soal sosial melalui kehadiran manusia yang berada pada sisi yang sementara terkalahkan dalam pegelolaan lingkungan.

Kita sekarang memasuki awal dari suatu “jaman ekologis”. Seluruh kemanusiaan sedang bergerak bersama untuk menyelamatkan diri dari bencana perubahan iklim. Bersamaan dengan itu, sebenarnya lebih penting dan mendasar lagi adalah sedang terbukanya sebuah kesempatan untuk membangun suatu kehidupan alternatif yang lain sama sekali, yang lestari, yang mencakup keadilan sosial dan ekonomi.  Perubahan yang diperlukan terdiri dari yang di permukaan, seperti prilaku, sampai ke yang mendalam, seperti pada nilai-nilai. Praktik kesenian dapat membantu proses perubahan itu bukan sebagai cermin dari masyarakat, tetapi sebagai antithesis dialektisnya yang kritis.[2] Apa yang telah dirintis oleh Taring Padi dapat berkembang dalam perspektif yang lebih luas tersebut, dengan tetap kritis terhadap ancaman instrumentalisasi kesenian yang pragmatis.

 


[2] Lihat Pidato Kebudayaan Ignas Kleden, Seni dan Civil Society (Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra), Dewan Kesenian Jakarta, 10 November 2009.

This entry was posted in Arts, Language and Culture, Nature and Environment and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kondisi Manusia dalam Persoalan Lingkungan

  1. tongkrongan says:

    Terlampau banyak persoalan petani, dan persoalan petani sepertinya memang dibiarkan terlantar. saya kagum dengan ketabahan dan kerja keras petani

    Like

  2. AL says:

    Menghargai, bersabar dan bersyukur.

    -.Menghargai Tuhan, alam, sesama, dan diri sendiri akan anugrah talenta dariNya.
    -. Bersabar diprosesnya, bersabar saat menghadapi rintangan.
    -. Bersyukur akan apa yang telah didapat, apapun itu hasilnya.

    Dalam menghargai, perlu disertai kesabaran dan bersyukur.
    Dalam bersabar, perlu disertai menghargai dan bersyukur.
    Dalam bersyukur, perlu disertai kesabaran dan menghargai.

    jika tujuannya baik, maka lakukanlah sebaik mungkin, dan percayalah ujungnya akan menjadi baik.

    Oia, saya mengagumi sosok petani dalam ulasan diatas, sebagai sosok yang mengerti filosofi kehidupan.
    Akankah nantinya kan seperti itu?
    Semoga iya🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s