Warna Hari Ini: Hijau?

Mana lebih mudah: Mengurangi, atau mengganti konsumsi Anda?

Keduanya punya insentif: jalan menuju ke hidup sehat. Dan perlu, meskipun merupakan pilihan sulit yang harus kita hadapi sehari-hari sejak belakangan ini. Sebab, masalah yang kita hadapi sebenarnya bukan hanya pemanasan bumi, tetapi juga menipisnya persedian sumber daya alam yang tak terbarukan, misalnya mineral dan bahan bakar fosil.

Memang ada tanda decoupling antara pertumbuhan ekonomi dan pemakaian sumber daya alam dan dampak lingkungan. Tingkat pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat pemakaian sumber daya alam dan kerusakan lingkungan. Di beberapa negara, produksi tiap satuan barang terbukti menggunakan makin sedikit bahan alam dan makin sedikit berdampak pada lingkungan.

Namun, bagaimana pun juga total penggunaan sumber daya alam tak terbarukan makin besar karena pertumbuhan penduduk, sehingga persedian yang terbatas tetap terus terkuras.

Meskipun sejumlah sumber daya alam, seperti emas atau aluminum pada smartphone kita misalnya, dapat didaur-ulang, jumlah yang dapat dimanfaatkan kembali pasti lebih sedikit daripada yang semula diambil dari alam.

Sedangkan selama 80 tahun sejak 1950 hingga 2030 nanti jumlah manusia sedang bertambah 3 milyar. Padahal selama dua abad sebelumnya, 1750 -1950,  jumlah manusia “hanya” bertambah 400 juta. Kota-kota di Asia akan menjadi soal utama. Kelas menengahnya sedang tumbuh pesat dalam jumlah sangat besar, dan sedang berbulan-madu dengan konsumptifisme. Bagaimana mengajak mereka mengubah pola konsumsi menjadi berorientasi kelestarian?

Kesulitan itulah antara lain yang telah mendorong terjadinya beberapa kontradiksi, misalnya di Jakarta. Retorikanya mau menjadi kota “hijau”. Tetapi enam jalan layang non-tol dibangun dengan proses yang merusak dan hasilnya nanti pasti hanya memanjakan mobil selama 6 bulan pertama. Juga, pom bensin tumbuh seperti jamur. Sebagiannya, ternyata tidak memiliki ijin masyarakat sekitar yang diwajibkan undang-undang, sehingga ditolak dan dituntut di pengadilan.

Karena “mengurangi” konsumsi saja akan tetap berakibat kepada kepunahan, maka yang sekarang sibuk dipikirkan para ahli adalah substitutsi. Kita bukan harus mengurangi pemakaian bahan dan energi yang tidak terbarukan, melainkan pindah ke bahan dan energi terbarukan, yang seharusnya dapat dibuat berlimpah, sehingga persoalan tentang (mengurangi) jumlah menjadi tidak relevan.

Seharusnya atas dasar di atas lah kita menilai kata kunci “hijau”.

“Green” adalah kata tunggal yang paling banyak didaftarkan dalam merek dagang pada tahun 2007, menurut kantor paten dan merek dagang Amerika Serikat. Tetapi apakah barang-barang yang kita konsumsi, yang diberi label “hijau” sungguh merupakan “substitusi” dari ketergantungan pada bahan dan energi tak terbarukan?

Apakah sayuran yang kita makan ditanam secara organik, dan pengangkutannya bukan saja minimal tetapi menggunakan alat transportasi dengan setidaknya energi terbarukan?

Apakah daging yang kita makan berasal dari peternakan-pertanian dengan metabolisme sirkuler? Di alam, metabolisme sirkuler terjadi ketika setiap asupan mampu memperbaharui dan mendukung lingkungan dengan mendaur-ulang keluarannya. Misalnya: rumput alam yang disantap kerbau keluar sebagai kotoran yang memperbaharui kesuburan tanah dan menumbuhkan rumput kembali.

Apakah kita mau menggunakan carpet tile dari serat alami yang dapat diganti per keping, sehingga efisien dan ramah lingkungan? Apakah kita sudah ikut program sewa-pakai (bukan membeli putus) barang yang produsernya bertanggung-jawab menampung “sampah” barang bekas dan dapat mendaur-ulangnya?

Barangkali hal ini dapat dianggap bonus: konsumsi berorientasi kelestarian mendorong kita mencari tahu lebih rinci tentang apa yang kita konsumsi. Kita bisa jadi lebih berilmu akan diri kita sendiri dan dunia kita.

This entry was posted in Nature and Environment, Urban Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s