Kota Beragama

Di Yahoo! Indonesia

Sebenarnya, ucapan Walikota Bogor yang melarang gereja dibangun di jalan yang menyandang nama tokoh Islam setempat tidak layak mendapatkan perhatian. Terlalu tidak masuk akal.

Tetapi yang kemudian menjadi menarik adalah time-line akun twitter saya yang sepanjang jumat malam hingga Sabtu dinihari dipenuhi berpuluh-puluh tweets berisi informasi tentang keberadaan bersama mesjid, pura, klenteng, dan gereja di berbagai kota di seluruh Indonesia. Ini kali saya retweet (RT) terbanyak, dan mendapat tambahan 48 followers dalam beberapa jam.

Selama puluhan, bahkan ratusan tahun, rumah ibadah di kota-kota Indonesia selalu berada dekat satu sama lain, sebagaimana juga sarana-sarana lainnya. Di negeri lain, hal itu sudah ribuan tahun. Sebab, demikianlah fitrah kehidupan kota: bertumpu pada kepadatan yang beragam. Orang ke kota untuk mengalami dan memperoleh manfaat dari itu.

Inilah sebagian informasi dari timeline Twitter saya. Mesjid Istiqlal beralamat, berada pada “Jalan Kathedral,” karena Gereja Kathedral Katolik yang lebih dulu berada pada jalan itu, yang kemudian diberi nama demikian. Tentu saja kita juga punya pengetahuan umum, bahwa arsitek perancang mesjid itu adalah Silaban, seorang Kristen. Mesjid Al Azhar di Kebayoran Baru terletak pada Jalan Sisingamangaraja, nama seseorang yang bukan muslim. Di Palu, Gereja Kristen Sulawesi Tengah beralamat “Jalan Mesjid Raya no 15”. Di Jogya, Mesjid Syuhada dan gereja katedral katolik berada pada Jalan I Dewa Nyoman Oka, dan Jalan Abu Bakar Ali ada di sisi selatan gereja.

Lebih penting, banyak rumah ibadah bukan sekedar beralamat pada jalan-jalan dengan beragam nama—yang secara indah mencerminkan kebesaran bangsa Indonesia—tetapi secara apa-adanya benar-benar berada berdekatan, bahkan bersebelahan. Di Manado dan Tanjungpriok, Jakarta, ada gereja dan mesjid yang dindingnya benar-benar menempel satu sama lain.

Timeline saya mencatat keadaan serupa di kota-kota Denpasar, Palu, Surabaya, Solo, Medan, Pekalongan, Nias, Kudus, Malang, Jogya, Palopo, Tangerang,  Palembang, Magetan, Muntok, Makassar, Ungaran, Padang, Batam, Palangkaraya, dan lain-lain.

Fakta ada begitu banyak orang mengetahui dan dengan kesungguhan hati mau memberitahu adanya informasi di atas bagi saya mencerminkan betapa bangsa kita biasa, bangga, dan menghargai keberagaman dan keberadaan bersama itu.

Yang menyesatkan adalah sikap Menteri Dalam Negeri yang nampak mendukung walikota Bogor ingin memindahkan GKI Yasmin ke tempat lain. Alasannya: menjaga ketertiban dan menghindari konflik. Ini selintas nampak rasional, tetapi sebenarnya tidak. Sebab, bila dilakukan maka akan berarti mengalah konyol kepada tekanan sekelompok kecil orang yang—nota bene—salah dan justru harus ditindak! Itu bukan solusi lestari, karena mengingkari fitrah (kehidupan) kota. Setiap orang, setiap kelompok, perlu dan harus belajar untuk hidup berdampingan dalam ruang dan waktu perkotaan yang terbatas. Kalau tidak, penduduk kota justru akan kehilangan nafas emansipasi, pertumbuhan dan kedewasaannya sendiri: keragaman itu.

Saya kira kita perlu himbau betul Menteri Dalam Negeri untuk melihat soal ini melampaui agama, dan bahwa fitrah kekotaan adalah dasar yang kokoh untuk masa depan. Terhadap Walikota Bogor, kita perlu mengingatkan agar tahu diri dalam mengeksploitasi agama.

This entry was posted in Architecture, Communities, governance, Urban Life and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Kota Beragama

  1. Halo pak Marco!
    Wah, ada juga ya pejabat yang kurang jalan-jalan. Apa perlu kita undang ke Malang ya? Yang sejak tahun 1870-an Alun-Alun-nya sudah mempersilakan gereja dan masjid bertetangga dengan damai [liat di http://archive.kaskus.us/thread/1048403/300%5D. Kalo perlu kita patungan, biar nginepnya sang pejabat bisa di hotel paling wenaaak…, hahaha,.. Barangkali juga bisa mempermudah meresapi bahwa bangsa nan majemuk ini bisa hidup damai.

    Btw, arsitek2 muda + mhs di Malang mulai bikin komunitas kejian dan kemitraan kampung. Ntar kalo udah siap, kita konek. Sampek jumpa lagi ya… Salam, Galih W Pangarsa.

    Like

  2. rivki says:

    Sekadar menambahkan mas. Di Bandung, ada gereja namanya GKI Maulana Yusuf. Demikian adanya karena gereja itu berlokasi di Jalan Maulana Yusuf. Gereja ini asik, terkadang suka buat diskusi/bedah buku. Disediakan tempat khusus untuk solat bagu yg muslim. Salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s