Jayapura, dan Kota Lain Juga

Di Yahoo! Indonesia

Jayapura itu berbukit- bukit. Bagian bagiannya terpisah-pisah di lembah-lembah. Karena itu, setiap saat bagian-bagian kota yang berbangunan dapat terlihat dari dari ketinggian 50an, 100an atau 300an meter. Dan, itu indah, sebab terasa mereka menyerahkan diri kepada alam. Manusia, bahkan pada ciptaan kolektif terbesarnya, kota, tunduk mengikuti arahan alam. Kota, laut, pantai, danau, lembah, bukit, membentuk kesatuan bentang-alam harmonis.

Tetapi, seketika juga Jayapura mengingatkan saya akan kata-kata penulis Linda Christanty di Aceh, “Saya tidak mau melihat kota dari mata burung.” Maksud dia, kehidupan sehari-hari yang sejati lah yang dia ingin alami, yang hanya mungkin bila orang memandang kota dari dalam, dari ketinggian pejalan kaki biasa di dalamnya, dari ketinggian 1.55 m.

Pada ketinggian itu, pandangan danau yang mengkilap, jalan-jalan yang hitam meliuk indah, segera berubah. Sampah di tepian danau, laut dan jalan. Kaki-lima terputus-putus, berlobang, bergenangan air. Hotel yang lerengan ke pintu masuknya curam tidak memenuhi syarat dan mengambil ruang kaki-lima pula. Pohon bercerabang liar tidak dipangkas, apalagi membentuk deretan yang teratur satu bersama dengan lainnya. Angkutan umum tidak memiliki lajur dan naungan penurunan penumpang.

Ada memang dua bangunan indah yang wajib dipelajari: Kantor Yayasan Pendidikan Kristen (YPK, gedung pertama berlantai dua di Tanah Papua, 1956), Katedral Katolik Kristus Raja. Tetapi banyak bangunan tidak memiliki karakter yang dapat digambarkan. Mungkin sebagian dibangun dengan maksud sementara.

Tetapi, bukankah Bandung, dan beberapa kota lain di Indonesia juga demikian?

Kisah ini menerangkan beda antara arsitektur dan perencanaan kota. Melihat dari atas hanya berlaku untuk para perencana. Sistem dan kedudukan terlihat. Selebihnya tidak. Sedang arsitek harus menemani masyarakat bersama “membangun” kota dalam tiga dimensi, dengan materialitas, dan sehari hari bergelut dengan rincian sambungan-sambungan antara beragam bagian serta unsur kota: bangunan-halaman-kaki-lima-jalan-ruang terbuka.  Ia juga harus menemani seluruh proses, mencari solusi dari waktu ke waktu, bukan cuma menarik garis besar sekali jadi dan membiarkannya terlantar. Keberantakan visual seharusnya juga tidaklah dianggap sepele dan dibiarkan, sama seperti kita sebenarnya bisa juga mengurangi kesaruan bising suara. Kalau mau beradab, tidak ada yang terlalu sepele untuk diperbaiki.

Kota kota kita tidak diurus rinci sehari hari. Padahal tidak ada cara lain. Seperti sebuah rumah, ia harus dibersihkan, diperbaiki, dirawat, setiap hari. Tidak ada yang sekali jadi, dan tidak akan ada keajaiban—misalnya proyek besar—yang dapat membuatnya tiba-tiba baik tanpa rutinitas di atas. Kota juga tidak akan membaik bila tiap unsur baru—bangunan, sepotong jalan, mall, sebuah hotel—tidak menyumbang pada perbaikan kota, dan malah membebani.

Di kota seperti ini, juga Bandung, kita bertanya, apatah ada beda kalau walikota tidak ada.

This entry was posted in Architecture, governance, Nature and Environment, Urban Planning and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s