Ngupi

Di Yahoo! Indonesia

Almarhum Rosihan Anwar pernah mengatakan, bahwa masalah di Pulau Jawa (dibandingan dengan Sumatera) adalah tidaknya adanya budaya kedai kupi. Yang ada tentu saja warung Tegal. Kalau Anda pernah kunjungi kedai kupi di Banda Aceh, Bukittinggi atau Tanjungpinang, Anda akan paham maksud Rosihan Anwar. Di kota-kota ini orang-orang betah berjam-jam di kedai kupi yang selalu ramai, membahas apa saja. Suatu pertanda baik bahwa perempuan kini makin bertambah jumlahnya di kedai-kedai ini.

Nah, sekarang memang Jakarta seperti bukan Jawa.

Kedai kupi, atau disebut orang tertentu “kofisyop”, sekarang bertebaran di mana-mana di seluruh metropolis ini.

Satu gejala yang makin menonjol adalah makin sering saya bertemu orang secara kebetulan di kedai-kedai ini. Pada setiap kunjungan saya berjumpa setidaknya dengan tiga sampai lima orang kenalan tanpa janjian. Tentu saja umumnya saya pergi ke kedai kupi ini memang untuk bertemu juga dengan orang yang sudah melalui janji. Saya duga, banyak orang lain juga demikian, sering bertemu kenalan tanpa janjian. Sebab, mudah terlihat, setiap saat ada pula orang-orang lain di kedai itu yang berseru menyapa orang yang baru masuk, jelas tanpa janjian terlebih dahulu. Pernah pula, pada suatu hari yang penuh berkah, separuh lebih orang di kedai ternyata saya kenal. Yang menyenangkan lagi pada perjumpaan-perjumpaan ini adalah bahwa sering saya berkesempatan memperkenalkan orang-orang yang sudah saya kenal, tetapi belum saling kenal di antara mereka sendiri. Dan, tidak jarang, saya lalu menyaksikan orang-orang ini menjadi asyik mengobrol dan merancang tindak lanjut hubungan mereka, entah untuk urusan pekerjaan atau lainnya. J

Di kedai-kedai ini tiba-tiba saya merasa metropolis kita Jakarta menjadi masyarakat, menjadi kota, menjadi kesempatan untuk mekarnya hubungan-hubungan baru. Ini mengurangi rasa fragmentasi, bahkan menyelamatakan metropolis. Rasanya cukup masuk akal juga untuk berharap bahwa hubungan-hubungan itu akan berkembang menjadi kreatif dan produktif.

Saya tinggal di Jakarta Pusat. Maka kedai kupi yang saya kunjungi yang di kawasan ini saja: Jalan Cikini, Jalan Sabang, Jalan Kendal. Tapi orang-orang yang saya jumpa di kedai-kedai itu rupanya tidak terbatas pada orang yang tinggal atau bekerja di kawasan ini. Ada yang tinggalnya di Kemang, kerjanya di pusat sini. Ada juga yang kerjanya di Sudirman, dan tinggalnya di Bintaro.

Apakah Anda mengamati hal serupa juga di Jakarta Barat, Timur, Utara dan Selatan? Dan mungkin juga di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu? (Jangan dilupakan: wilayah laut DKI Jakarta itu sebenarnya sangat luas). Atau di kota-kota lain di Indonesia?

This entry was posted in Communities, Urban Life. Bookmark the permalink.

3 Responses to Ngupi

  1. Hmm…warung kopi? jika anda anda kebetulan bepergian ke jawa timur, cobalah untuk bertandang ke kota Tulungagung tepatnya di daerah Kauman-Kalangbret Tulungagung, itupun jika destinasi anda agak dekat pesisir selatan…
    Kebiasaan “nyete” , (seni membatik -membatik, bukan melabur- batang rokok dengan endapan kopi seduh, sebagai gambaran simbolis betapa mereka suka ngopi -sekaligus merokok-..) satu kebiasaan khas tulungagung yang tidak terdapat di tempat lain manapun, sudah membudaya di sini sejak puluhan tahun pada hampir seluruh pria terutama para remajanya. “Seni Nyete” ini sendiri saja sudah menggambarkan betapa tinggi kebiasaan ngupi warganya melihat betapa tidak ada “fanatis kopi” yang se-fanatis itu di wilayah lain manapun !
    Warung kopi bak toko kelontong bertebaran -dalam satu kampung bisa dijumpai lebih dari 10 warkop (di desa kauman dan bolorejo SAJA sebagai sentra warkop Tulungagung terdapat sekitar LEBIH DARI 150 warkop, belum termasuk desa desa sekitar di seantero kota)- dan tak ada yang sepi pengunjung yang datang dari segenap penjuru kabupaten dan bahkan beberapa banyak juga dari luar kota seperti Kediri, Blitar, dan Trenggalek.
    Konon, warga Tulungagung mengatakan “jangan mengaku suka ngopi jika belum merasakan suasana ngopi di Kauman-Kalangbret tulungagung” saking bangga mereka dengan kebiasaan ngopi yang begitu membudaya dalam masyarakatnya yang diyakini tak tertandingkan dengan daerah manapun sesama pembudaya ngopi.
    Dan, “kopi cethe” sebagai produk kopi khas Tulungagung, (karena tidak sembarangan kopi bisa dipakai membatik -endapan kopi biasa akan rontok / tidak bisa menempel pada batang rokok, apalagi kopi ekstrak yang tanpa endapan), dari dulu sampai sekarang hanya terdapat/diproduksi di tulungagung saja !
    Bagi orang Tulungagung, fanatisme pada kopi-cethe tak bisa digeser oleh “sekedar” kopi-rollaz, starbuck, bahkan kopi luwak sekalipun. Kopi cethe sebagai kopi asli khas Tulungagung, bukan “sekedar rasa kopi” namun sudah benar benar meng-kultur pada pengupi-nya. Walau secara rasa-jujur kopi cethe bukanlah kopi dengan rasa ter-enak, namun kata orang Tulungagung ” it’s our very-own coffe -and nothing could compare- ! ”
    Kopi di Tulungagung, secara rasa, dibuat dan diseduh dengan “sense” dan bukan sekedar “taste” , inilah yang membedakan “rasa” dikala mengupi kopi cethe Tulungagung dengan kopi manapun -bahkan bubuk kopi yang sama akan berasa berbeda antara diseduh ditempat dengan dibungkus !-
    So, jika anda penyuka kopi dan memiliki waktu dan kesempatan untuk singgah di jawa timur, sempatkan ber-kuliner kopi di Tulungagung ^_^ !

    Like

  2. Di Kalimantan Barat juga kenceng budaya WK (warung kopi)-nya. Serunya, di tengah keragaman etnis di Kalbar (ada Tionghoa, Dayak, Melayu, juga Madura), WK jadi salah satu wadah lebur. Dengar-dengar, Gubernur Kalbar pun suka begadang di WK. haha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s