Melewati Kebayoran Baru

 

Melewati Kebayoran Baru membayangkan apa yang akan hilang dan muncul.

 

Bangunan tinggi mulai muncul satu demi satu sepanjang jalan Senopati. Pertama di sisi Utara. Tapi, apakah nanti juga akan di sisi Selatan juga, yang berarti akan membelakangi rumah-rumah yang menghadap ke dalam/selatan blok Kota Kebayoran Baru? Lalu apakah rumah-rumah ini, yang nanti pasti tidak nyaman karena tertutup bayangan bangunan tinggi akan berubah pula menjadi bangunan tinggi? Dan seterusnya…

 

Duta Besar Italia pernah mengundang saya makan-siang mengeluhkan soal Jalan Senopati ini. Kediaman resminya ada di sana. Sudah lebih dari 40 tahun. Tahun 2009, kantor Perdana Menteri mengirim tim membuat rencana keamaan kediamannya itu. Resmi sudah disetujui. Tahun 2010 rencana itu gugur, karena tiba-tiba muncul sebuah gedung apartemen tinggi, lebih dari 20 lantai, hanya beberapa kavling di sebelah Baratnya. Halaman belakangnya yang luas serta merta terancam. Gedung tinggi ini tidak ada dalam rencana kota yang resmi terdahulu. Entah kalau sekarang sudah di”revisi”.

Di blok dalam, di seberang Selatan jalan Senopati itu juga terdapat rumah Duta Besar Jerman.

 

Kita juga layak ingat dulu ada keluhan Ibu Rahmi Hatta yang berumah di Jalan Diponegoro, Menteng, ketika di belakang rumahnya dibangun gedung tinggi yang jendela-jendelanya dengan mudah bisa mengintip ke halaman belakangnya. Tidak bisakah seorang janda pendiri Republik hidup tenang di rumah bersejarah yang setahu saya masih menyimpan koleksi buku Bung Hatta itu?

 

Kembali ke Kebayoran Baru, Jalan Sisingamangaraja kini makin dipenuhi rumah-rumah bergaya baru, yang umumnya dibangun penuh dari tepi ke tepi, tidak seperti rumah-rumah asli dulu yang menyisakan halaman samping, atau setidaknya beratap pelana sehingga sisi miring atap juga turun ke samping. Bersamaan itu, terjadi perubahan fungsi. Satu demi satu rumah-rumah itu tidak lagi ditinggali, dan menjadi kantor ini dan itu.

 

Apa keistimewaan Kebayoran Baru, selain rumah-rumah yang berhalaman samping sehingga udara bergerak leluasa ?

 

Kebayoran Baru adalah karya seorang perancang kota pertama bangsa Indonesia, Muh. Soesilo, dan arsitek Belanda Jac Thijse yang di tahun 1940an akhir menjabat kepala dinas tata kota Jakarta. Muh. Soesilo adalah murid langsung, pernah bekerja dengan Thomas Karsten, yang dapat disebut “Bapak Tata Kota Indonesia”.

 

Kebayoran Baru menerapkan beberapa prinsip dari Thomas Karsten: blok yang terdiri dari lapisan rumah besar di luar, dan makin kecil di dalam. Integrasi kelas sosial-ekonomi diupayakan dengan cara demikian, yang pada masanya suatu terobosan terhadap segregasi etnis dan feodal sebelumnya. Ruang terbuka dan beberapa fasilitas umum ditempatkan di dalam blok. Jalan utamanya memencar ke empat penjuru. Kebayoran Baru duduk manis pada bumi Jakarta: diapit dua sungai di Timur dan Barat, pada suatu punggung yang cukup tinggi. Ia dirancang sebenarnya atas dasar keyakinan bahwa “Belanda akan kembali”. Pembangunan diteruskan sesudah kemerdekaan. Dan ia terbukti berjasa menampung beberapa kantor dan perumahan pegawai tinggi Pemerintahan Republik Indonesia. Birokrasi bekerja baik:  mengantisipasi kebutuhan, menyiapkan sesuatu untuk menghadapi pertumbuhan kota yang niscaya, melanjutkan pembangunannya, terlepas siapapun pemerintahnya.

 

Sampai kapan akan tersisa?

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Melewati Kebayoran Baru

  1. Noni Gustami says:

    Salam kenal, Bung Marco!

    Kebetulan hari ini saya bertemu seorang sahabat lama yang konon sering berjumpa Bung Marco di KUK. Karena saya tahu bahwa dia bekerja lepas pada media, maka saya utarakan keluh kesah saya soal perkembangan jalan Senopati; karena kebetulan [juga] saya tinggal di sekitar situ. Berkaitan dengan tulisan Bung Marco di atas, secara kebetulan pula [lagi!] saya pernah menjadi bagian kecil dari misi diplomatik RI di sebuah negara Asia beberapa tahun lalu, maka ketika pemerintah perwakilan asing di kawasan Senopati berkeluh kesah soal keamanan kediaman Dubes mereka, saya paham keluhan itu. Tapi sahabat saya bilang, percuma kalo curhat lewat dia; lebih baik curhat sama Marco saja. Dan akhirnya saya teringat kembali dengan RUJAK dan ‘bertemu’ dengan Bung Marco di sini.

    Karena saya telah tinggal di Senopati sejak lahir 37th lalu, saya paham dan mengetahui seluk beluk perkembangan jalan itu hingga sekarang. Saya tidak benci pembangunan, tetapi pembangunan yang bagaimana dulu? Yang saya benci adalah perubahan izin guna bangunan yang sejak zaman Meneer Muh. Susilo & Meneer Jac Thijse Kebayoran Baru menjadi daerah hijau dan perumahan, sekarang ini malah berubah menjadi satu dari sekian banyak tempat usaha yang prestisius tetapi TIDAK TERURUS dan MACET! Kalau saja perubahan ini dikelola dengan baik, saya yakin Senopati tidak akan berubah banyak, walaupun tetap menjadi prestisius. Satu kekurangan pengelolaan bangunan di Kebayoran Baru dan di tempat-tempat usaha lainnya adalah…pihak regulator/pemerintah tidak memperhitungkan rasio antara LAHAN PARKIR dengan lahan bangunan utama & taman (ruang terbuka). Dan saya pesimis soal ini, karena peraturan pembuatan ruang terbuka (taman) di lahan mereka saja banyak dilanggar; apa iya si pemilik/pengusaha mau repot-repot memikirkan lahan parkir untuk usaha mereka?

    Terima kasih!
    ~ NG ~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s